
Tiba-Tiba.......
"ARDAAAN!" pekik Wawa sambil mendorong Ardan hingga Ardan jatuh ke tepi aspal dan ...
Bruuuukkkk
Tubuh Wawa terpental jauh, karena ada sebuah mobil sedan yang tiba-tuba melaju dengan kecepatan yang sangat kencang
"WAWAAA!" pekik Ardan shock,ia pun segera berhambur berlari ketempat Wawa terbaring tak sadarkan dengan bersimbah darah, mobil itu pun meninggalkan mereka
"Awalnya gue gak mau lo mati secepat ini Wa! Tapi lo yang maksa gue buat ngelakuin itu" ujar Tari yang tersenyum puas penuh kemenangan, benar sekali, mobil itu ternyata mobil yang dikendarai Tari, Tari yang baru saja kembali dari rumahnya, hendak pergi kegudang tempat penyekapan Wawa tak sengaja melihat mereka kejar-kejaran dengan orang suruhannya, dan saat Wawa dan Ardan menyebrang ia sengaja menancap gas mobil nya hingga menabrak Wawa.
"Wa, Wa bangun Wa!" tangis Ardan
"Wah gawat, dia kecelakaan" ujar si gondrong "lebih baik kita kabur sekarang!" lanjutnya, dan menarik lengan pria bertato itu dan berlari dari tempat kejadian, sedangkan Wawa masih tak sadarkan diri, sudut matanya sembab dan lebam, akibat terantuk aspal jalan, luka di kepala nya membuatnya terus mengucurkan darah segar, dan sayatan, sayatan, juga goresan akibat irisan tubuhnya dengan aspal memenuhu badannya, dalam hidung nya pulan mengalir darah, Ardan nampak terkurai lemas memangku kepala Wawa di pahanya, air matanya terus saja mengguyuri pipi nya, ia meraih ponsel nya dan segera menelpon ambulance, tak lama kemudian, ambulance pun datang bersamaan dengan polisi, disana juga sudah ada Tio, orang kepercayaan Ardan, yang selama ini membantunya, Petugas rumah sakit segera membawa Wawa, diikuti dengan Ardan disampingnya, sedangkam polisi, ditanganni oleh Tio, Ardan terus saja menggenggam tangan Wawa sambil terus menangis
"Kenapa Wa? Kenapa lo lakuin ini? Kenapa lo korbanin diri lo biat gue? Padahal selama ini gue selalu jahat sama lo Wa kenapa hiks, lo harus kuat Wa lo cinta kan sama gue? Lo harus bertahan Wa, demi mamsky lo, dan demi gue" lirihnya, sambil terus menatap Wawa yang sudah dipasang infus dan selamg alat bantu pernafasan
"Mas, apa mas keluarganya atau suaminya?" tanya salah satu perawat ambulance saat telah sampai dirumah sakit, tepat didepan ruang perawatan Wawa
"S-saya temannya" jawabnya lemas
"Mas, lebih baik anda menghubungi salah satu anggota keluarganya" usul perawat itu
"T-tapi sus" ucapnya terhenti
"Mas, pasien kehilangan banyak darah, dan dia sangat membutuhkan transfusi darah dari keluarganya, karena dari pihak PMI tidak ada stok darah yang cocok dengan pasien" jelas suster
"Apa golongan darahnya dok?" tanya Ardan
"A resus negatif, golongan darah seperti itu sangatlah langka mas" ujar Suster itu
"Ambil darah saya! Darah saya juga A resus negatif dok!" seru Ardan
"Baiklah mas, tapi sebelum itu anda harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, dan anda juga harus segera menghubungi orang tua pasien terlebih dahulu mas, karena kita juga membutuhkan persetujuan pasien untuk melakukan operasi, karena didalam otak pasien terdapat pendarahan yang cukup hebat mas" jelasnya lagi
"Baik lah dok, saya akan segera menghubungi keluarga pasien" lirihnya, ia pun segera menghubungi Fanni, Fanni yang kala itu sedang memeriksa dokumen hasil test pasien pun terkejut, dan segera menuju kerumah sakit tempat Wawa dirawat
"Mana WAWA! Mana anak tantee?" pekik Fanni histeris, sambil mencengkram dan mengguncangkan kerah Ardan
"Dia ada di sana tante" jawabnya, sambil menunjuk keruang UGD, Fanni pun segera melihat keberadaan putrinya yang terbaring lemas tak berdaya, dengan alat bantu pernafasan, dan infus di tangannya
"Wawa" lirihnya
"Tante, tante maafkan saya, karena tidak menjaga nya dengan baik" ujar Ardan sambil menyentuh bahu Fanni, tiba-tiba, Bevan, Jojo, dan Teman-teman dekat Wawa datang beriringan
"Gimana keadaan Wawa?" tanya Faldi panik
"Wawa masih kritis, sekarang dia ada diruang operasi" jawab Ardan lirih
"Dan lo gak papa kan?" tanya Bevan, dan Ardan hanya menggeleng lemah
"Wawa van, Wawa hiks" ujarnya tersedu
"Apa yang udah lo lakuin kedia hah?! Sampe Wawa terbaring lemah disana?!" pekik Caca histeris
"Ca lo tenang, lo gak bisa nyalahin Ardan kayak gitu" ujar Bevan menenangkan
"Heh! Caca bener ya! Wawa kayak gini pasti karena temen gob*ok lo ini!" seru Faldi sambil mencengkram kuat kerah Ardan "Kalo sampe terjadi sesuatu sama Wawa, gue gak akan segan buat ngehabisin lo!" ancamnya, sambil mengangkat tangannya hendak memukul Ardan, namun dicegah Yaya
"Tante" lirih Caca, sambil menyentuh bahu Fanni
"Caca hiks Wawa Ca" balasnya sambil menarik Caca kepelukannya, dan Caca pun membalas pelukannya
"Caca yakin tante, Caca yakin Wawa anak yang kuat" ujarnya menenangkan
"Tente tenang ya, kita tunggu hasil dari dokter" ujar Yaya, sambil menepuk pelan punggung Fanni, perlahan Fanni pun mulai tenang, mereka pun menunggu dokter keluar dari ruang operasi untuk menunggu hasilnya.
Sedangkan Ardan, pria itu kini tengah berada di lorong rumah sakit, ia terduduk lemah menangisi apa yang telah terjadi pada Wawa, bayang-bayang kesalahn yang pernah ia perbuat pada Wawa dulu menghantui fikirannya, kejadian dijalan raya tadi pun terlintas dibenaknya bagaimana Wawa mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Ardan, padahal selama ini pria itu bersikap jahat padanya, Bevan dan Jojo menghampiri Ardan, mereka sangat prihatin dengan keadaan Ardan yang seperti orang gila, baru pertama kali ini mereka melihat Ardan serapuh ini lagi hanya karena seorang perempuan
"Dan" lirih Bevan
"Tinggalin gue sendiri hiks hiks" ujarnya tersedu-sedu
"Dan lo gak bisa kayak gini!" tegas Jojo
"Bener apa yang dibilang Jojo dan, lo harus kuat, semua yang terjadi sama Wawa itu murni kecelakaan, bukan salah lo, lo gak bisa salahin diri lo sendiri Dan" ucap Bevan menimpali
"Lo, lo gak ngerti apa yang gue rasain! Gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri, gimana dia ngorbanin dirinya buat gue! Pergi kalian dari sini! Pergi!" tegas Ardan sambil terus menangis, akhirnya Bevan dan Jojo pun mengalah, mereka pun meninggalkan Ardan, membiarkan dia menenangkan dirinya.
"Maafin gue Wa, maaf, gara-gara gue, lo jadi kayak gini hiks" lirihnya, dan mencoba untuk bangkit
"Gue bodoh! Bodoh lo emang bodoh Ardan!" umpatnya sambil memukul-mukulkam tangannya ketembok "T-tari, gue, gue bakal bales segala perbuatan lo ke Wawa!" monolognya, lalu berlalu pergi keluar rumah sakit, untuk menemui Tio.
Kembali di perawatan Wawa, kini Aryan sudah ada diantara Fanni dan juga sahabat-sahabat Wawa, karena Fanni memang sudah menghubunginya tadi
"Tante Dimana Wawa?Gimana keadaan dia sekarang?" tanyanya
"Wa-Wawa, dia masih diruang operasi hiks" jawab Fanni "Dokter juga belum keluar dari ruang operasi" lanjutnya lirih
"Tante, tante tenang dulu ya, kalian ceritain gimana bisa Wawa ditemukan dalam keadaan kecelakaan?" tanyanya pada Yaya dkk
"Gua juga gak tau! Kita tau nya dia udah dilarikan kesini!" jawab Yaya
"Siapa yang bawa dia kesini?" tanyanya lagi, namun pertanyaan nya belum sempat terjawab, fokus mereka teralihkan pada pintu ruang operasi yang terbuka, nampak gadis itu terbaring diatas brangkar rumah sakit, dengan didorong oleh beberapa perawat, dan disusul oleh tiga dokter keluar dari sana, salah satu dokter itu menghampiri keluarga pasien.
"Keluarga pasien?" tanya dokter dengan nama Hendra di name tag nya
"Saya ibunya dok!" seru Fanni
"Dokter Fanni?" ujar dokter Hendra
"Iya Hen, gimana keadaan anak aku?" tanya Fanni panik
"Operasi nya berjalan dengan lancar, hanya saja ia belum sadarkan diri, dan kondisi nya juga masih dalam masa kritis" ujar Dokter Hendra
"Wawa" lirihnya, tubuhnya kembali melemas
"Tante, tante sabar ya" ujar Jejes sambil membantu pertahan tubuh Fanni
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter Hendra
"Baik dok terima kasih" ujar Faldi, dokter Hendra pun segera berlalu pergi.
Apa yang bakal terjadi pada Wawa selanjutnya? nantikan terus ya kisah nya uuuu, jangan lupa like, vote, and rate😊
Happy Reading sayangkuu😍