
Qin Sian balik ke istana nya dan mengurung dirinya,dia menjebak dirinya sendiri di alam mimpi nya.
Di istana -
"saudara ku.!! ini adalah Putra ku..!. Yang Lin.."ujar seorang pria yang seumuran dengan ayah nya Qin Sian.
mereka muncul di celah celah ruang dan menutup nya hanya dalam lambaian tangan, mungkin ada tiga pria yang seumuran dengan Qin Sian yang lebih mencolok diantara mereka adalah seorang pria dengan paras yang sungguh tampan, mungkin ketampanan nya tidak ada yang bisa menandingi nya dan ada wajah yang familiar.
"jadi,kapan putra ku dan Putri mu menikah?.."ujar ayah dari pria yang akan menikahi Qin Sian dengan raut wajah kekanak-kanakan."hei pak tua, ada banyak orang di sini,masuk lah ke istana ku dan besok malam aku akan mengundang semua orang di seluruh negeri ini,datang ke pesta yang aku lakukan."ujar nya.
yang Lin tidak tertarik dengan percakapan orang itu,dia hanya melirik sudut Istana itu serta menatap ke arah Utara.
ayah Qin Sian menyiapkan kamar terbaik untuk mereka semua, hubungan antara kedua orang tua itu sangat erat sampai menjodohkan anak mereka.
Satu hari sampai malam pesta di mulai,Qin Sian tidak keluar dari kamar nya,sang kaisar yang mengirim kan pelayan kembali dengan tangan kosong.
sampai pesta tiba-
Disisi lain Qin Sian membuka mata nya dan mendengar ketukan pintu."ada apa?".jawab Qin Sian Sedikit keras karena jarak nya dengan pintu cukup jauh.
."anu,tuan putri..izinkan kami untuk merias anda, k-karena malam ini yang mulia kaisar mengadakan pesta."ujar pelayan itu dengan nada yang bergetar.
Qin Sian menghela nafas nya dengan pendek dan berkata."masuklah."balas Qin Sian
sontak pelayan itu kaget dan segera membuka pintu dan mengangguk kan kepalanya dengan pelayan lain,Qin Sian dilayani, untuk membuka pakaian dia hanya merentangkan kedua tangannya dan pelayan yang akan melepaskan nya.
suara langkah kaki terdengar di istana Qin Sian,semua pelayan Melayani nya dan merias nya."jangan melepaskan topeng nya."balas Qin Sian menyentuh tangan pelayan yang ingin melepaskan nya.
sang pelayan tersentak dan pipi nya sedikit memerah karena dia sedang melayani Putri Kerajaan yang paling cantik dari antara semua kekaisaran, meskipun tidak ada yang tahu wajah nya
Qin Sian melirik nya dan berkata."cantik?heh..kalian semua minta kepada Kepala pelayan untuk mendapatkan hadiah kalian."ucap Qin Sian pergi ditemani oleh pelayan yang memang bertugas untuk mengantar nya sampai ke pintu aula
"t-terima kasih putri.!!."
Di aula-
di aula yang megah itu,semua bangsawan dari sudut negara datang ke pesta itu,bahkan rakyat rakyat merayakan hari besar itu, semua tawa terdengar di ruangan itu hanya saja mereka masing masing terbesit,siapa putri kekaisaran dari negara besar yang mewakili alam fana ini? secantik apa dia?dan seberapa berbakat dirinya?
"hei meng Qitian.. apakah kau datang kemari karena teman ku yang Lin itu?."ujar seseorang di samping nya.
Meng Qitian Menatap teman nya yang menyebalkan itu dan berkata."berhati hati lah berbicara,jangan lupa siapa pria itu."balas meng Qitian menikmati arak nya.
Sontak orang yang membuka pembicaraan itu terdiam ,dan seseorang menatap Qin Sian dengan kesal.
putri kekaisaran ya? seperti apa dia? bajingan ini, kenapa dia tiba tiba menerima perjodohan yang tidak dia sukai?apa rencana nya?atau itu hanya sebatas penasaran saja?
Siapa yang menyangka orang kuat nomor satu di alam langit akan menikah? tidak,apa yang dia pikirkan sekarang ini?
dan..jika yang Lin bertarung dengan wanita misterius beberapa waktu lalu ,siapa yang akan menang? Tunggu..! Apakah aku sedang berpikir bahwa dia bisa menyaingi yang Lin? sungguh lucu
Eh?
"Putri kekaisaran telah tiba.!!."teriakan pengawal yang menyebut Qin Sian membuat semua orang tertegun.
ada beberapa yang tertegun karena kecantikan Qin Sian,mata emas nya serta tampilan nya yang membuat semua pria akan jatuh kedalam tatapan nya namun ada dari segelintir mereka yang menyaksikan bahwa saat Qin Sian belum melangkahkan kaki di aula ,ada perasaan yang sangat menekan yang menggertakan jiwa mereka yang sadar akan tekanan aura Qin Sian.
banyak orang orang kuat yang menyaksikan itu tersenyum kecil seolah olah ingin bertarung dengan Qin Sian.