The Journey

The Journey
Penolakan



"Terkadang lututmu perlu merasa lemas, agar kamu tahu siapa yang akan menopang mu. Kamu!"


Pukul sepuluh pagi, gadis remaja bertubuh mungil, dengan gaya jauh dari kesan feminim sedang duduk bersandar di bangku depan asrama.


Tampak sebuah telepon genggam kecil di tangannya. Terus dilihat benda itu dengan wajah masam.


"Katanya ujian selesai sebelum jam 9, ini sudah jam 10 belum muncul juga. Bahkan SMS saja tidak. " Gerutu kesal.


"Ah sudahlah, saya naik angkot saja. " Pikirnya.


Kembali ke kamar asrama, mengambil beberapa lembar uang eceran yang dihitung dapat membayar angkot sesampai di rumah kerabatnya.


Tok


Tok


Tok


"Permisi" Terdengar suara ketukan dan suara sapaan dari depan pintu asrama Line. Secuil senyum mengembang di bibirnya.


"Akhirnya. uangaku aman, hahaha". Menyimpan kembali uang yang tidak seberapa kedalam loker lemarinya dan berjalan menemui sang tamu. Line sendiri tidak pernah membawa uang jika berpergian bersama teman-temannya, karena keseringan ditraktir.


"Kira tidak datang, hampir saja Tigard ribu rupiah saya ke laut , " Gerutu Line sambil memasang wajah kesal palsu. Dalam hati sangat mensyukuri keselamatan tiga lembar uang seribuan tersebut.


"Ya ya, maaf. Tadi ujiannya menyita waktu, dan saya tidak sempat nyalakan hp untuk kabari. Nih! " sang lelaki menyodorkan benda kotak yang sedang mati ditangganya.


"Baiklah, dimaafkan. Tapi kita makan es campur dulu baru pergi, kak Tito yang traktir" Ajaknya sambil memasang wajah melas dengan mengedipkan mata berulang-ulang. Persis seperti anak ayam kelaparan.


"Ayok, kita ke pasar berarti. " Sambut Tito dengan antusias. Bagaimana tidak, ini adalah kesempatan pergi makan berdua tanpa si ekor Didi. Begitulah anggapan Tito.


Line pun segera berpamitan kepada bapak asrama dan pergi bersama Tito menuju pasar.


Jalanan begitu ramai, banyak motor lalu lalang, tampak pula angkotan kota dengan alunan musik seperti pesta nikahan merajai jalanan kala itu. Matahari pun tidak mau kalah saing, terik dengan tingkat aduh, menyengat kulit semua yang tidak memiliki tempat berteduh.


Mata Line sedang tidak pada tempatnya, sorot matanya sedang menikmati setiap inci jalan, seolah ini adalah kesempatan terakhir menikmati suasana kota kecil tempat bernaung beberapa bulan ini.


Tampak lampu hijau menyala dikejauhan dan berganti ke lampu kuning, lalu melompat dalam itungan detik menurun ke lampu merah. Sepeda motor yang dikendarai Tito berhenti tepat di depan sebuah pertigaan berhadapan dengan sasana olaragah di kota itu.


Kenangan awal mendaftarkan diri di sekolah ternama di kotanya kala itu terngiang kembali.


Bulir airmata tanpa sadar jatuh menyentuh wajah Line.


"Ehem" Tito yang menyadari dan memperhatikan dari balik kaca Spion sepeda motor berusaha membuyarkan lamunan Line.


Dengan cepat Line menyeka air matanya. Lalu mengalihkan pandangan ke sembarangan arah. Lampu hijau pun menyalah. Keduanya segera merapat ke pasar agar segera menyantap es campur kesukaan keduanya.


Letak pasar tidak jauh dari lampu merah, sekali belok kanan dan lurus dalam itungan meter hingga tikungan berikutnya, kemudian belok kiri dan pasar tepat bersebrangan dengan kantor polisi, serta berada di sisi barat salah satu bank yang merakyat.


Pasar itu tidak terlalu besar, terletak di pusat pertokoan kota. Banyak bangunan toko-toko kecil berjejer. Tito menggandeng tangan Line, melewati sebuah Toko sepatu kecil setelah menitipkan motornya di parkiaran milik Bank.


Pasar berada tepat dibelakang toko tersebut, dan penjual es campur kesayangan juga berada di salah satu warung makan tidak jauh dari lokasi toko sepatu.


Di kota Line, warung dan rumah makan sederhana hanya dapat ditemukan di pasar dan bukan di sepanjang jalan seperti kota besar lainnya.


Keduanya menghampiri warung makan tersebut, dan memesan es campur dengan campuran yang sama. Mengambil tempat duduk paling pojok agar dapat mendapatkan cipratan angin dari kipas angin gantung adalah kebiasaan keduanya apabila datang berkunjung ke tempat itu. Wajar, suhu udara di kota itu lebih panas dari pada melihat pacar ditikung sahabat.


*Author: kegnya bucin.


*Author: au ah.


Keduanya berbincang dan merencanakan apa yang harus Line sampaikan ke mama kecilnya. Es campur yang di pesan pun tiba di atas meja. Duduk bersampingan, keduanya tersenyum bahagia melihat hidangan tersebut.


Es campur tersebut bukanlah sesuatu yang istimewah di mata banyak orang. Hanya berisikan susu, santan, roti, mutiara warna-warni, dan parutan es. Sesederhana itu, namun sangat menyusup ke dalam lidah bahkan hati keduanya. Entah kenapa, seperti Ada sihir yang mengikat Line dan teman-temannya untuk menikmati es campur tersebut.


Sehabis menikmati es campur, Tito kemudian membayar tagihan, lalu mengajak Line melihat-lihat toko toko kecil di sekitar area itu.


Sepasang topi sederhana bergantung di salah satu toko perlengkapan sederhana. Tanpa basa-basi Tito membelikan untuk Line dan juga dirinya.


Line yang seperti cuek bebek tidak ingin tahu-menahu mengenai maksut Tito. Baginya, kalau ada yang gratis kenapa ditolak. Yah. Itulah Line saat itu kepada semua sahabatnya.


Sehabis membeli, keduanya pun memutuskan untuk segera menuju tempat tujuan mereka di awal. Perjalanan menuju rumah kerabatnya memakan waktu 30 menit lamanya. Akan tetapi yang menjadi halangan terbesar bukanlah waktu, melainkan terik matahari. Jika kamu bisa bertahan dalam waktu 30 menit tanpa bergerak, bisa dipastikan kulit mu berubah mendekati arang tempurung.


"Permisi Ma," begitulah Line memanggil tantenya dengan panggilan akrab setiba di rumah tante Juli. Pintu rumah yang tertutup membuat Line harus mengetuk berulang-ulang. Jika saja terbuka, Line akan menyelonong masuk tanpa permisi.


"Kak Line, tumben tidak sama Kak Didi, " Sapa seorang anak kecil yang tidak lain adalah adik sepupu Line, sambil mempersilakan masuk Tito.


"Lagi sibuk dia," Jawab Line sambil mengacak rambut anak lelaki itu. Dan memperkenalkan Tito ke sepupunya.


"Dimana mama?" Tanya Line.


" Dibelakang, lagi menenun kain" Timpal sepupunya.


"Ayo Kak, kita temui mama kecil ku" Ajak Line sambil mengacak Tito.


Di sebuah baranda kecil, wanita berusia sekitar 40an sedang mengayunkan salah satu tanggannya yang memegang sebuah bambu berisi simpulan benang, lalu memasukan ke dalam cela kecil dari bentangan benang siap tenun akibat dianggat salah satu sisi benang menggunakan tanggannya yang lain.


Motif tenunan itu sekilas mirip seperti bunga mawar. Dan merupakan motif yang sangat disukai Line.


"Mama lagi buat tenun mawar? Cantik sekali' ucap Line ketika mendekati baranda tersebut.


"Minta teman mu duduk di kursi itu, jangan berdiri terus. Nanti keram kakinya." Balas tante Juli.


Line kemudian mencium tangan tantenya sebelum menarik Tito duduk di kursi di dekat baranda.


"Mama sudah tau, Didi semalam tidur di sini" Tidak ingin lama dan menunggu Line mulai, tante Line yang sudah memahami keadaan langsung mengatakan inti masalahnya.


Line hanya bisa menangis tanpa peduli ada Tito yang sedang menatapnya ibah.


"Sebaiknya pulang kampung dulu, jelaskan ke Kakak masalah mu, sa yakin Kakak akan mengerti" Ucap tante Juli lagi, namun kalo ini dengan nada lemas.


"Mama minta maaf tidak bisa bantu, Bapa kecil mu baru meninggal dan selama itu sakit. Jika tidak, mama pasti bisa bantu bayar uang sekolah mu. " Ucap tante Juli yang biasa di panggil mama oleh Line sambil tunduk menangis.


Line hanya bisa diam menangis. Dia tidak ingin menyusahkan saudari bapaknya itu dikarenakan kondisi suami sang tante. Line bahkan tidak merepotkan kedua orang tuanya karena Line tahun bahwa untuk masalah suami tantenya, kedua orang tuanya harus menjual sarung hasil tenunan dan bahkan meminjam.


"Dengar, bapakmu bukan orang yang berpendidikan, kakak mungkin tidak akan memahami semuda mama ini memahami masalahmu, tetapi Line harus bisa menjelaskan ke kakak masalah ini. " Tutur tante Juli menasehati Line.


Melihat Line menangis, tante Juli menyadari kesedihan keponakannya.


"Aduh, mama sampai lupa. Ada tamu tapi tidak disuguhkan minuman. Line, buatkan kopi buat teman mu, dan buat mama juga ya. Sepertinya kepala mama sakit karena belum minum kopi. " Ucap tante yang tahu kalau Line tidak akan berhenti menangis lagi jika sudah diminta melakukan sesuatu.


Dengan cepat Line menyekah air matanya, dan dalam sekejap tidak terdengar tangisan lagi.


"Kau ini, tidak pernah berubah" Ucap tante Juli.


"Namamu siapa nak? Tante lupa menanyakannya karena Line. Maafkan tante yang tidak sopan" Begitu pandangan tante berpaling menemui Tito yang masih diam dikursi.


"Tito, tante" Jawab Tito singkat. Raut wajah gugup seolah sedang diinterogasi polisi.


"Kenapa di situ terus, sana buatkan kopi" Perintah tante Juli yang melihat Line masih duduk di tempat.


Line bergegas ke dapur dan membiarkan Tito berbincang dengan tantenya. Banyak pertanyaan yang dicercah tante Juli, membuat Line tertawa kecil dari balik dapur ketika mendengar semua percakapan itu.


Tante Juli yang sudah berhenti menenun kini tersenyum melihat Line muncul dengan 3 gelas kopi di atas nampan.


"Minum dulu kak," Pintah Line ke Tito sambil menyodorkan segelas kopi. Lalu mendekati mama kecilnya dan duduk di samping tante Juli.


"Nih ma" Ucap Line


Sambil menikmati kopi, ketiganya berbincang banyak hal. Tante Juli bahkan menanyakan hubungan Line dan Tito. Namun hanya disambut senyum oleh keduanya.


"Ma, Line sebenarnya mau menanyakan cara menjelaskan ke bapak soal ini. Mama tahu kan, bapak dulu tidak ingin saya sekolah karena kecewa dengan kakak Sufi." Line berusaha meminta saran ke tante Juli menimbang sikap bapaknya.


Bapak Line memang tidak mempercayai Line di awal karena masalah kakaknya yang menikah tanpa restu di usia mudah. Bagi bapak Line, perempuan itu tidak berguna, dan hanya mendatangkan malu bagi keluarga. Begitulah bapak Line sebelum Line membuktikan kalau dirinya berbeda dan bisa membanggakan keluarga.


Sejak Line membuktikan dengan prestasi, bapak Line menyetujui Line untuk lanjut sekolah dengan harapan sama. Bisa terbantu melalui prestasi. Kini, semua berbeda. Line bahkan ragu akan bagaimana menjelaskan ke bapaknya.


"Line, pulanglah kamis ini. Jangan kelamaan di sini. Biar masalah ini cepat sampai ke rumah. Jangan sampai ada orang yang sampaikan duluan dan semua lebih parah" Tante Juli kini mengelus- elus rambut Line.


"Ya ma," Jawab Line.


"Saya akan pulang" Ucap Line sambil melihat kopi di genggamannya.


Suasana hening, Tito hanya bisa memperhatikan tingakah kedua perempuan di depannya.


"Kalau begitu, kita ketemu ibu Mia hari ini saja sekalian. Karena besok kamu harus siapkan barang-barang mu dan pulang. Tidak Ada waktu lagi kan? " Ucap Tito mencairkan suasana. Menghabiskan waktu meski hanya dengan mengantarkan Line kemana-mana sudah cukup setidaknya saat ini baginya.


"Bener itu Line, sehabis dari rumah Ibu Mia, tidur di sini ew. " Pintah tante Juli.


"Ya ma, sebentar Line pulang ke sini. " Jawab Line sambil senyum ke arah tante Juli.


Waktu sudah menunjukan pukul tiga dan tanpa terasa ketiganya berbincang begitu lama.


"Ma, Boy dimana? Tadi hanya buka pintu habis hilang, " Line menanyakan keberadaan sepupu kecilnya itu.


"Paling di kamar, sejak ayahnya pergi, dia kebanyakan di kamar. " Raut wajah tante Juli menjadi sedih kembali.


" Ya sudahlah, kalian pergi saja dulu ke rumah gurumu. Pulang baru main dengan dia. Mungkin dia kesepihan. Kalau ada teman dia pasti main juga. " Tante Juli berkata sambil menunjuk ke arah gelas kosong di hadapannya sebagai kode agar Line menyimpan ke dapur.


Tito mengekori Line dari belakang setelah berpamitan dan mereka pun pergi menuju ke rumah guru Line.


Line yang bertamu bersama Tito ke rumah gurunya disambut baik sesampainya di sana.


Ibu wali kelas tentu saja menyayangkan keputusan Line, namun tidak mampu berbuat apa-apa lagi.


Selepas menjelaskan perihal keputusanya kepada gurunya. Line menitipkan salam maaf buat teman-teman kelas Line melalui ibu Mia. Ibu Mia hanya bisa menerima dengan wajah sedih, karena baginya Line anak yang berpotensi baik bagi kelasnya.


Pertemuan tidak berlangsung lama, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah tante Juli. Dalam perjalanan pulang, sepeda motor supri x tersebut berlari menuju arah yang tidak seharusnya.


"Kak, kita mau pi mana? " Tanya line setelah menyadari jalur tersebut.


"Ini baru mau jam 4, jadi kita jalan-jalan." Jawab Tito sambil tertawa kecil.


"Baiklah, tidak buruk, kita mau ke arah mana ini? " Line yang penasaran mendesak jawaban Tito. Karena jalur tersebut pertama kali dilewatinya.


"Sebentar lagi kita sampai" Jawab Tito cuek.


Tidak jauh didepan, tampak lautan lepas dengan jalan menanjak di salah satu bukit di dekat laut tersebut.


"Tunggu! Kita mau ke bukit golgota? " Tanya Line sumringah.


"Ayok cepat sedikit " Perinta Line seolah Tito sedang mengendari sepeda motor berjenis keong. Kecepatan sudah di atas kemampuan masih diminta cepat.


"Yuhu sampe akhirnya" Teriak Line selepas turun dari motor beberpa menit setelah cerewet sepanjang jalan.


"Dasar la'i" Ucap Tito judes.


"Apa! " Jawab line dengan nada tinggi.


"Ah sudahlah, ayok kita ke atas bukit" Ajak Tito sambil jalan mendahului Line mendaki anak tanggaa di bukit tersebut.


Bukit golgota salah satu lokasi wisata dekat pantai yang kerap dikunjungi kaum muda baik berpasangan maupun gerombolan, ada juga yang sendirian. Wisatawan lokal maupun asing sering ke tempat ini.


Bukit itu tampak hijau, beribu anak tangga menghiasi dari dasar hingga puncak bukit. Tampak beberapa perhentian dengan sebuat baranda kecil untuk istirahat pengunjung yang merasa capek. Di atas bukit tampak sebuah salib tertancap menjulang tinggi menambah indah tempat wisata itu.


Sesampainya di atas puncak, Line berbalik menatap laut, dan wah. Matanya hanya bisa memuja indahnya alam. Betapa ajaib tangan Tuhan, manusia dapat diciptakan dengan bentuk yang bahkan sangat banyak dikomentari kurangnya oleh nitizen seolah super sempurna, tetapi tidak dengan alam.


Alam adalah yang paling susah untuk di kometari negatif akan penampakannya.


Bahkan mungkin karena irih, manusia kerap merusak keindahan mutlak tersebut dengan berbagai cara.


"Ah, andai saja ini rumah ku, Saya tidak ingin berpinda tempat duduk" Line mulai membayangkan membangun sebuah rumah di bukit indah tersebut.


Hamparan laut yang biru, lekukan tanjung, teluk serta hamparan pasir putih panjang dapat disaksikan dari atas bukit. Hingga pulau-pulau kecil di sekitar dapat terlihat begitu indah berenang di tengah laut.


Line sangat menikmati, bahkan melupakan kegundahannya dan juga Tito yang menatapnya bingung dari tadi.


Tito mulai menyesali keputusanya membawa Line ke tempat itu. Line kelihatan lebih tertarik berbincang sendiri dengan alam melalui pikirannya dari pada dirinya.


"Ah sial, harusnya kami ke tempat lain saja."


"Bagaimana saya memulainya, dia saja hanya pelongo melihat pemandangan"


"Ya sudah, jujur saja sekarang"


Pikiran Tito berunding sendiri. Namun, semua niat tersebut hilang ketika melihat raut wajah Line yang kembali berubah.


"Ini anak kenapa sedih lagi" Pikir Tito sambil melihat Line.


"Lamen, ko kenapa lagi?" Tanya Tito.


"Lihat pulau itu. Pulau saya sekecil itu." Tutur Line sambil menunjuk ke arah pulau tersebut dan menunduk.


Tito yang sedari tadi berdiri di dekat Line, merangkul bahu Line dan membimbing Line ke salah satu kursi dari bambu.


"Duduklah" Tito mengajak Line untuk duduk di kursi tersebut.


Tampak beberapa pasangan sedang menikmati pemandangan menanti terbenamnya matahari dari tempat itu. Ada juga yang sibuk mengabadikan moment dengan Hp seadanya.


Tito yang melihat ekspresi Line penuh kesedihan, hanya bisa membiarkan Line bersandar di bahunya.


"Saya akan kembali ke Pulau itu. Sa akan kembali ke rumah " Ucap Line sambil menahan tangisannya.


"Bagaimana rumahku setelah ini, bagaimana tatapan mereka setelah tahu semuanya? " Sambungnya lagi sambil menyembunyikan mukanya di balik bahu Tito.


"Dan bapak, kecewanya, apa mungkin dia menerima Line lagi? Sama seperti setiap sambutan hangatnya sebelum ini?"


"Bagaiman jika bapak tidak menerima saya? Sa takut. " Ucapya kini berbalik menatap Tito.


"Kak, sa pernah lihat bapak tidak menerima kaka Sufi karena kecewa, Bagaiman dengan Line? " Tanya Line ke Tito sambil air matanya mengalir.


Tidak kuat melihat Line menangis, Tito menyeka air mata Line dengan tangannya. Kembali memegang tangan Line untuk seolah menenangkan Line atau menenangkan diri sendiri.


"Lamen, masalah mu dengan kakakmu berbeda. Bapakmu pasti mengerti. " Tito menatap penuh arti ke Line. Namun, yang ditatap hanya menunduk diam.


"Bagaimanan jika bapak membenci Line?" Bisik Line pelan.


"Dan bagaimana jika ko juga membenci sa, jika tahu saya menyukaimu, dan malah berencana menyatakan semua padamu disaat kamu dalam masalah begini"


"Bagaiman jika kau menolak saya karena keegoisan saya yang memikirkan perasaan sendiri? "


Semua pertanyaan ini tidak terlontar, hanya hatinya yang mendengarkan.


"Sudahlah, jangan pikiran buruk dulu. Semua akan baik-baik saja." ucap Tito menenangkan Line.


"Ayok kita pulang, matahari hampir hilang. Nanti tante Juli marah." Ajak Tito sambil menggandeng tangan Line.


"Sa harap masih bisa menggandeng tanganmu lagi setelah ini, bukan sebagai sahabat mu. Ketika nanti saya menemui mu lagi. " Pikir Tito dalam hati.


Line hanya menuruti Tito dan berjalan menuruni anak tangga sambil sesekali senyum palsu ke arah Tito.


"Saat ini, masih ada orang yang menenangkan saya, berada disamping saya, berusaha memberikan semangat untuk saya. Tapi nanti, saat saya berada di sana. Siapa yang akan mendukung saya. Bapak? Mama? Atau saya lagi yang harus menopang diri sendiri"


Line berjalan menuruni tangga sambil memikirkan dirinya. Kini mata Line menatap pria yang sedang menggandeng tanggannya lekat.


"Kak, terima kasih sudah mengajak saya ke tempat ini. Kaka yang terbaik." Line sangat bahagia dengan dukungan sederhana dari Tito.


"Ah kirain bilang yang lain, kamu juga sering bilang Didi yang terbaik" Gerutu Tito.


"Tidak. Kalian berdua memang terbaik. Namun dengan cara masing-masing. Terima kasih" Ucap Line sambil melepaskan tangan dari Tito.


"Line, tunggu! " Tito meraih tangan Line. Bersiap mengatakan segalanya.


"Persetan dengan egois dan penolakan, saya akan mengatakan kali ini" Tekad Tito.


"Ah tidak, lain kali saja. Ayok kita ambil motor." Ajak Tito sambil berlari kecil menuruni tangga mendahului Line.


"Ya kak, saya harap masih ada lain kali" Ucap Line ketika Tito sudah menjauh menuju parkiran.


Line berjalan mendekati Tito dan keduanya pun begegas pulang menuju rumah tante Juli.


***************


[dear Readers,


Terima kasih atas dukungannya,


terima kasih sudah sempat membaca


karyanya ini.


Mohon maaf, bila terjadi kesalahan dalam


menulis.


masih banyak kurangnya Author dalam


menulis cerita ini.


mohon kritik dan saran, agar penulis


bisa memperbaikinya.


mohon maaf karena kelamaan up


semoga semua menyukai karyaku.🤗


 


Salam sayang,


\[ **MARRI LINE** \]


Â