The Journey

The Journey
Pulau Kecil



"Tulisan, pilihannya ada padamu. Pertanyaanya: dari mana kamu akan memulai? "


 


Duduk di lataran kota, perempatan teramai di salah satu kota besar di Indonesia. Bukan berarti perasaan ikut ramai seperti halnya lalu lalang kaki manusia kala itu. Raga termenung di tempat, tapi rindu memboyong jiwa mungil itu ke tempat lain. Tempat yang hampir bertahun- tahun ditinggalkan bukan tanpa tujuan. Orang lain menantikan hari raya untuk bisa bersama, tapi tidak dengan gadis itu. Dia hanya membutuhkan meski hanya sepekan untuk ada di tempat itu. Untuk memeluk dan melihat rona wajah-wajah kesayangan, untuk sekedar memandang riuh pepohonan, atau menyaksikan sang jingga berubah gelap di ujung luasnya laut. Ya. Rindunya akan Pulau Kecil, tempat keluarganya bersenda gurau, cangkul - cangkul kecil lihai membela tanah petani, nyanyian pria tua dari atas pohon arak. Seperti itulah rindu, sesederhana itu tapi menyesakkan.


 


Gadis itu masih saja melamun di samping teman-teman kosnya yang sedang bercerita mengenai banyak topik. Gosip adalah ilmu wajib dibagi diantara kumpulan geng tersebut. Mulai dari artis bukan internsional sampai artis lokal jadi breaking news. Dari yang "good looking" sampai yang porsi tabrak tembok juga masuk klasifikasi pembahasan. Akan tetapi, kata demi kata sepertinya berlalu begitu saja dari gadis tersebut. Usianya yang lebih diatas ketimbang kumpulannya, menjadi salah satu faktor malas untuk terjerumus dalam diskusi seru tersebut. Kerap kali, membayangkan penghuni pulau kecilnya menjadi alasan baik untuk menghindar. Entah apa yang sedang dilakukan pria dan wanita lanjut usia tercintanya di zona waktu lebih cepat satu jam itu. Seperti saat ini, senyam senyum sendiri dikala bayangan manis penghuni hhatinya terlintas. "Ah. Ingin sekali berada dipelukan mereka saat ini". Keluhnya di sela lamunan sambil meneguk se-cup kopi yang dipesan dari penjual keliling di tempat itu.


Gadis itu adalah Line Emero Pio, 28 tahun tapi belum menikah dan bukan jomblo. Hehe. Bukan karena tidak ingin menikah tapi karena keterbatasan yang membuatnya mempertimbangkan hal itu lebih lama. Line merupakan seorang gadis yang merantau jauh ke kota besar untuk melanjutkan studi di bangku perkuliahan. Dia berasal dari pulau kecil yang bernama Pulau Lua. Sebuah Pulau dengan isi satu kecamatan yang terdiri dari 8 desa. Pulau tersebut berada di tengah laut. Ya iyalah, masa Pulau di daratan. Dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa, dengan penghasilan utama datang dari sektor pertanian dan kelautan. Tidak ada yang besar untuk semua itu, penghasilan standar itu cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduk pulau.


Gedung tinggi dengan tulisan salah satu Bank ternama di negara, di pandanginya dari seberang perempatan. Tampilan yang megah, berbeda dengan tampilan di pulaunya. Kehidupanmu di kota besarnya berbanding terbalik dengan kehidupan di Pulau. Di kota besar ini, Line dengan bebas menikmati nyala lampu kota dan listrik selama 24 /7. Menggunakan fasilitas umum seperti bus dan "online drivers". Menjelajahi setiap sudut kota yang sudah disuguhkan tampilan indah hasil olahan tangan-tangan ajaib. Hal kecil seperti, memesan air minum ataupun masak nasi hanya dengan bantuan listrik. Ya, keputusaannya untuk berada jauh dari tanah kelahirannya memang patut disyukuri. Perbedaan dari berbagai macam segi menjadikan pemahaman yang luar biasa baginya. Namun tetap saja, rumah adalah rumah. Yang dirinduhkan selalu tentang kehangatan rumah.


Benar dikatakan, berbeda. Di Pulau itu, listrik hanya akan digunakan dari pukul 06.00 sampai pukul 10.00 malam. Itu pun hanya sebagai penerang setiap rumah dan untuk nonton TV, meski tidak semua rumah memiliki TV. Aktivitas nonton bersama hingga listrik padam, lalu terdengar "aaaahhhh cerita sinetronya belum bersambung" dengan nada kecewa ibu-ibu pecinta sinetron sangat lazim ditemukan disana. Di jaman yang serba "gadget" ini, beberapa penduduk yang memiliki alat komunikasi alias hand phone, beramai- ramai melakukan rutinitas cas HP dalam kurun waktu yang ada.


Dan jangan terkejut, Jaringan seluler yang berlaku di pulau tersebut hanya si ajaib Telk.... Dan signalanya pun hanya bisa tertangkap dari beberapa desa. Jadi tidak semua penduduk dapat menikmati serunya dunia maya, sama halnya desa Line. Untuk berkomunikasi dengan keluarganya, Line harus menitip pesan melalui sang Kakak yang kebetulan berdomisili di desa yang mendapatkan signal. Seperti biasa, pesan akan disalurkan melalui jasa ojek offline menuju desanya. Dan Line harus menunggu beberapa hari sesempatnya keluarganya pergi ke desa lain untuk menelpon. jika teman kos yang lain bebas bercengkrama lewat telepon dengan keluarga, Line harus menahan sabar sampai benda kecil digenggamannya berbunyi , bisa dalam jangka waktu bulanan. Sampai disini ngertikan? Kalau rindu itu berat ala Dilan. Itu sih, Line paham betul.


Pulau line, merupakan pulau yang aktivitas taninya adalah berladang, dikarenakan di pulau itu tidak terdapat satu pun sawah. Umbi-umbian dan kacang-kacangan adalah hasil utama disana. Bukan berarti penduduk tidak memakan nasi, untuk mendapatkan panganan tersebut penduduk harus berbelanja di kota kabupaten yang harus ditempuh menggunakan kapal kayu selama empat jam. Dengan jadwal sehari ke kota, besok kembali ke pulau. Untuk lauk, tentu saja ternak dan hasil laut cukup untuk mereka. Di pulau tersebut, tanaman seperti sawi atau kangkung tidak ditemukan, jadi hanya mengonsumsi sayur seadanya yang ditanam di kebun. Sistem pertaniannya juga masih termasuk tidak moderen, cangkul-cangkul dan tual serta pupuk alami biasa digunakan penduduk. Entahlah, banyak anak muda dari Pulau tersebut yang sudah berpendidikan, namun belum ada yang mampu membawa perubahan di bidang tersebut.


Wangi kopi menyeka hidung Line. Menikmati kopi adalah bagian sepesial dari hidupnya. Sedari kecil, Line sudah biasa minum kopi. Maklum saja, di kampungnya harga susu lebih mahal dari pada harga kopi. Kebanyakan penduduk di desanya menikmati kopi atau teh berteman singkong dan "uwi" rebus diselingi ikan asin goreng dan sambal setiap pagi. Sarapan itu bukan sarapan biasa, namun tawa, cerita, bahkan sinetron semalam yang ditonton bersama bisa dicerita ulang oleh penikmat sarapan. Ada beberapa penduduk yang memiliki kebun kopi tapi bukan untuk dijual. Penghasilan itu hanya untuk konsumsi sendiri. Kopi buatan sendiri memang lebih nikmat dan nyaman di perut. Bahkan anak usia sekolah dasar sudah biasa meminumnya, sama halnya Line.


Untuk dapat menikmati kopi, Line sekeluarga harus membuat bubuk kopi sendiri. Belum teruji oleh pihak berwenang, tetapi kopi inilah yang dinikmati warga pulau. Sangat jarang melihat penduduk membeli kopi bubuk jadi sepert kopi kapal selam, kopi ABCD dan lain-lain. Proses pembuatan bubuk kopi bisa dibilang gampang-gampang susah. Biji kopi jadi didapat dari hasil kebun ataupun dibeli dikota akan di sangrai bersama beras, serpihan kecil kayu manis, dan juga jahe yang sudah diiris kecil. Tentu saja, biji kopi akan di sangrai terlebih dahulu, ketika sudah tercium hawa panas dari biji kopi, maka beras, pecahan kayu manis, dan irisan jahe di campurkan bersama biji kopi. Proses sangrai diibutuhkan beberapa saat sampai kopi campuran tersebut berubah menjadi itam pekat. Diangkat dan disimpan di wadah terbuka. Penduduk biasa menggunganakan "keka", sebuah hasil anyaman dari daun lontar yang mirip seperti baskom berukuran besar. Hasil sangrai akan digiling menggunakan mesin penggiling kopi di salah satu desa di daerah pantai. Tentu saja berbayar. Hasil gilingan akan diayak untuk dipisahkan bubuk halus dan kasar. Bubuk halus akan dipakai dalam membuat kopi sedangkan bubuk kasar akan kembali di tumbuk menggunakan alu untul diayak kembali menjadi bubuk kopi siap pakai. Seperti itu kira- kira prosesnya. Kopi tersebut bahkan dibuatkan dengan lebih banyak beras. Jadi saat meminumnya kita akan sedikit kekenyangan, hangat karena jahe dan wangi karena efek dari kayu manis. Sangat enak, meski hanya dengan membayangkannya. Begitu yang dirasakan Line sembari meneguk tetes terakhir dari kopi yang dijajani.


Pukul 11.30, salah satu teman Line mengajak pulang kembali ke kos-kosan 1185 yang mereka tempati. Butuh 15 menit untuk sampai di kos Line dengan menggunakan driver mobil online. Line memandang sekitar, lalu beranjak pergi. Keramaian kota masih sama meski sudah larut. Dalam diam, Line merindukan kesunyian malam di desanya, yang terdengar hanya angin pembawa hawa dingin, dikarenakan desa Line berada tepat di kaki gunung dan dikelilingi pepohonan. Dan diujung kampung akan nampak jelas lautan dari atas gunung tempat sang mentari kembali ke paraduannya.


"Gila! Aku pingin pulang, tapi kapan?" Pikirannya bertanya. Sekarang Line hidup di kota yang sedari awal adalah pilihannya. Namun langkahnya kembali terhenti di kota itu, untuk kembali sepertinya sulit. Harus menghidupi diri sendiri dan membiayai pendidikan keponakannya menjadikan tabungan untuk pulang sepertinya sirna setiap bulan. Dan disinilah dirinya, menikmati kota dalam kerinduan.


*Uwi: sejenis ubi khas Pulau. ( entahlah, mungkin tempat lain juga Ada)


*Pulau Lua ( dibaca Lu'a) adalah nama daerah dari salah satu pulau di Indonesia, diambil dari bahasa daerahnya. jadi maaf kalau di Peta tidak ada.


*mohon maaf bila banyak salah dalam penulisan.