The Journey

The Journey
Part 16



"siapa kau?!" ucap Alex yang sekarang ini telah berdiri didepan irene, menutupi badan irene dari pandangan orang didepannya dan jangan lupakan tatapan tajam yang dilontarkan  Alex kepada orang di depan mereka.


"oh chill boy, aku tidak akan menyakiti kalian" jawab orang didepannya dengan senyuman lebarnya


Alex mengerutkan dahinya saat melihat senyuman orang di depannya dan mulai melihat orang itu dari atas ke bawah. Rambut cokelat sepanjang dagu, senyuman lebarnya yang cukup membuat Alex berpikir jika bibirnya akan robek karena senyuman itu, pakaian t-shirt putih dengan celana jeans hitam dan sepatu sneakers putih. Terlihat biasa dan tidak berbahaya namun alex yakin jika orang di depan mereka ini bisa saja membuat hal yang tidak dapat di prediksikan.


"oh my, aku benar benar tidak akan melukaimu dan adikmu. Well at least I don't wanna die now" ucap pria di depannya seraya melihat sekitar mereka dimana banyak orang yang melihat mereka dan tidak tertinggal security sekolah yang sudah berada di sekitar mereka mengantisipasi tindakan yang mungkin terjadi


(yah setidaknya aku tidak mau mati sekarang)


Alex melihat sekitarnya untuk sesaat dan mengalihkan tatapannya kembali pada pria di depannya masih dengan tatapan waspadanya, walaupun ia tau jika para bodyguard yang menjaga mereka dari kejauhan sudah siap untuk menyergap orang didepannya ini namun posisi mereka masih cukup jauh dan memerlukan beberapa waktu untuk sampai ditempatnya.


"oh benar, kalian pasti mewaspadaiku karena belum mengetahui aku. Namaku kelvin, aku adalah tangan kanan paman kalian yang membantu menyelesaikan pekerjaannya" ucap  Kelvin dengan nada gembira dan senyumnya


Tidak ada tanggapan dari Alex maupun irene, mereka masih tetap diam dan memandang Kelvin dengan tatapan waspada mereka apalagi mereka menganggap Kelvin aneh. Mereka tentu saja tau arti dari 'pekerjaannya' yang kelvin katakan namun tidak menutup kemungkinan jika orang yang mengaku tangan kanan paman mereka itu adalah musuh sang paman.


Keadaan seketika sunyi setelah kelvin tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Alex dan irene, kelvin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal saat melihat tatapan intens Alex dan irene yang melihatnya seperti orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa.


Plak!


Bunyi tamparan itu terdengar cukup keras hingga membuat semua orang yang melihat ikut meringis kesakitan, senyuman manis muncul di wajah Alex dan irene saat melihat pelaku penampar itu.


"ouch! Hell itu sakit" kata kelvin setelah seseorang menampar bagian belakang kepalanya dengan keras bahkan Kelvin ragu orang itu menahan kekuatannya


"aku menyuruhmu menjemput mereka, tapi kenapa kau malah cari masalah?!" ucap Marcus yang merupakan pelaku penampar dan melihat Kelvin yang masih meringis kesakitan dengan tajam


"mana ku tau aku hanya mengikuti perintahmu tapi mereka sudah bersiap siap untuk membunuhku" ucap kelvin setelah melihat sekitarnya dimana security maupun bodyguard Alex dan irene sudah bersiap melumpuhkan pergerakannya


"hey kids, bagaimana sekolahnya Hm?" tanya Marcus kepada Alex dan Irene yang kini berlari kecil menuju arahnya.


"I love it, uncle tau tadi pelajarannya gampang gampang semua yang guru ajari tadi itu sudah aku pelajari saat di Italia jadi tadi aku agak bosan" kata Alex dengan semangat setibanya dia di depan sang paman


Marcus terkekeh kecil saat melihat Alex didepannya yang sangat semangat bercerita tentang betapa mudahnya pelajaran yang diajarkan membuat Marcus membatin 'tentu saja mudah karena pembelajaran kalian sudah sampai pembelajaran kelas junior' , lalu Marcus beralih menatap irene yang sedari tadi memandangnya tanpa berkedip.


"lalu bagaimana denganmu sweety?" tanya Marcus masih dengan senyumannya kepada irene yang masih menatapnya


Marcus dengan sigap mengendong irene seraya mengusap punggung irene dengan lembut membuat irene menjadi ngantuk kembali. Sedangkan Alex yang tau jika irene akan tertidur kembali menarik kaki irene hingga membuat irene terganggu dan mengerak - gerakan kakinya agar tangan Alex terlepas.


"ih.. lepas!" ucap irene yang berusaha melepaskan kakinya dari pegangan erat Alex


"jangan tidur! Kau tidur terus dari tadi! Jangan seperti kak brian!!" kata Alex dengan nada sebal


Marcus yang melihat jika Alex dan irene berdebat, tanpa pikir panjang menarik Alex dalam gendongannya jadi sekarang baik irene maupun Alex berada dalam gendongan Marcus.


'mereka pasti mengantuk' batin Marcus ini sudah siang biasanya mereka akan tertidur walaupun sejenak jika tidak mereka akan rewel begitulah Alex dan irene walaupun dibiasakan hidup dengan berat oleh keluarganya namun tidak menutup kemungkinan jika jiwa mereka adalah anak kecil yang akan merengek jika mengantuk dan kelelahan.


Marcus dengan Alex dan irene di gendongannya segera berjalan pergi menuju mobilnya yang dimana sang supir sudah menunggu di depan pintu untuk membukakan pintu mobil meninggalkan Kelvin di area sekolah dengan security yang melihat waspada padanya.


.


.


.


Kehidupan Alex dan irene terus berlanjut. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan sudah terlewati. Sekarang usia Alex 9 tahun lebih beberapa bulan dan usia irene 6 tahun lebih. Waktu berlalu dengan cepat dan kegiatan mereka masih sama yaitu sekolah dan berlatih bahkan mereka memiliki waktu bermain mereka sendiri. Seperti saat ini, baik Alex maupun irene sibuk dengan dunia mereka sendiri jika Alex memainkan lego untuk membangun rumah, berbeda dengan irene yang sibuk dengan puzzle di sebelah Alex.


Permainan mereka berlangsung dengan diam dan lama hingga mereka mendengar suara pintu yang terbuka diikuti suara percakapan orang dewasa, mereka saling melihat satu sama lain lalu kembali lagi pada aktivitas mereka tidak peduli siapa tamu yang datang bersama sang paman.


"Alex, irene kalian harus memberikan salam kepada tamu kita" ucap Marcus yang berhasil mengagetkan Alex dan irene karena mereka tidak menyadari kehadiran sang paman


Alex dan irene sontak melihat kearah sang paman yang berdiri di depan pintu ruang bermain mereka.


"ayo" ajak Marcus seraya menggandeng tangan Alex dan irene untuk berjalan bersama menuju ruang tamu


Setibanya di ruang tamu Alex dan irene akan mengucapkan salam namun saat melihat wajah para tamu baik Alex maupun irene terpatung di tempat saat mengetahui wajah mereka begitu juga dengan tamu yang terpaku di tempatnya melihat Alex dan irene


"kalian....."