
"Ketika tersudut, ubah polamu bukan tujuanmu. Tersendat bukan artinya BERHENTI. "
*****
**Cause girls like you
Run around with guys like me
'Til sundown, when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Girls like you
Love fun, yeah me too
What I want when I come through
I need a girl like you, yeah yeah
Yeah yeah yeah
Yeah yeah yeah
I need a girl like you, yeah yeah**
🎵🎵🎵🎵
Alunan lagu Marion Five terdengar di balik radio kota. Meliuk-liuk tubuh mungilnya sambil mengayunkan sapu kesana kemari. Terhanyut dalam nada suara yang lebih buruk dari suara gendang pecah, mencoba melantunkan lirik demi lirik tanpa peduli umpatan tentangga akan suara terburuk sepanjang masa miliknya. Entahlah, proses menyapu kamar tidak akan sesimple orang lain. Line membutuhkn sekurangnya 1 jam. 45 menit menggila, sisanya bersih-bersih.
Lima belas menit berlalu. Suara radio yang tadinya berdendang berhenti seketika.
kring kring kring.
"Selamat pagi, halo bapa. Selamat hari minggu"
Line menjawab telepon dari salah satu om kesayangannya. Dalam keluarganya semua om dipanggil Bapa. Terutama yang sudah menikah.
"Pagi nak, tidak gereja? " Kebiasaan eks-frater yang sulit dilupakan. Selalu mendikte ponaan serta anak-anaknya mengenai urusan Iman.
"Hehe, Line ikut gereja Sore. Bagaimana bapa, ada hal penting? " Mengetahui tabiat sang om yang akan menelpon apabila ada hal yang penting, Line langsung menanyakan. Cara tercepat menghindari topik gereja pikir Line.
"O yah. Bapa hampir lupa. Dari SMA menawarkan posisi guru bahasa Inggris. Lagi butuh dua guru. menggantikan Bu Sensi dan Pak Petrus. Pak Anton meminta untuk menanyakan Line".Jawab om Tella dari balik telepon.
" Bukannya bapa mau saya kerja di dinas pariwisata?, Pak Deny juga sudah hubungi soal ini. Dan Line sudah kasih lampu ijo. Bagaimana menurut bapa?" Kembali bingung dan menanyakan pendapat om Tella.
"Kamu pikir saja dulu, lagian kamu masih ada kontrak dari pihak kampus kan? Jadi setelah urusan selesai, pulang, baru bahas disini. Line juga lagi di kejar ibu Gabi untuk mengajar di SMA pulo." Om Tella memberi saran. Memang untuk urusan pekerjaan, Line selalu bertukar saran dan tanya pada om Tella yang dianggap sebagai om idola bagi line dan sepupu-sepupunya.
"Baik bapa. Line akan pertimbangkan. Lagian masih lama pulangnya. Yang jelas dari dinas tetap mau Line disana. Mana Puta, Line mau bicara. " Sehabis membahas masalah pekerjaan, Line meminta berbicara dengan Putra, sepupu kesayangannya.
"Kaka." Teriak dari balik telepon. Melengking kencang sampai Line harus menjauhkan Hp miliknya dari telinga.
"Eh boca, telinga kaka bisa pecah. Bemana kabar? " (eh boca, telinga kakak bisa pecah, kamu bagaimana kabar?) Nanya Line dalam dialek Flores.
"Sa baik, sa su sekolah kaka. Sa dapat teman baru te. Kaka line tau tidak? Sa....... "
(Kabar Saya baik, saya sudah masuk sekolah, saya dapat teman baru, kakak tau tidak? Saya....) Mulailah satu file cerita terlontar. Dari A sampe Z kehidupan baru di TK sang sepupu diceritakn.
Hmm.
Ham.
Iya.
Bagus.
Ih. Puta hebat.
Hahaha
Hmm.
Emmm.
Sepanjang telepon, hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Line. Bukan bosan, tapi mendengarkan. Line diajarkan untuk selalu mendengarkan, meski itu hanya pada anak berusaha 4 tahun seperti Puta. Orang bilang mendengarkan menjadikanmu manusia, karena manusia bisa mengerti setelah mendengarkan.
Telepon berlangsung hampir dua jam dengan cerita konyol, ketawa tidak jelas.
"Daa Puta, kaka mau lanjut kerja dulu, ko main dulu sudah. Kaka love Puta. Muah. " Line mengakhiri telepon dengan Puta.
"Daa kaka, puta love kaka" Sahut adik ganteng dari seberang telepon.
Tuuuut. Telpon ditutup dan suara radio kembali menggema. Kali ini lagu Indonesia dari penyanyi Rosa terdengar di balik radio.
Ku menangis membayangkan
Betapa kejamnya.........
🎵🎵🎵🎵🎵
Line kembali menyanyi tanpa peduli akan suara toa rusak yang dimilikinya sambil melanjutkan bersih-bersih yang sempat tertunda.
"Yay. Selesai." Line kegirangan sambil menari- nari kecil dengan sapu diangkat tinggi diatas kepalanya.
"Yuhu., waktunya ngopi. Ugh. Sadap. " Line melirik ke arah dispenser yang sudah menunjukan warna kuning. Artinya, kopi siap untuk dibuat.
Melangkah meletakan sapu di luar kamar, Line kembali masuk ke dalam kamar dan menggambil sebungkus kopi "hari baik " dari rak stok makanannya. Dituangkan ke dalam gelas kecil sambil bersenandung mengikuti lagu Sahabat yang dibawakan Shellia on 7 di radio.
Sampai jumpa kawan ku
na na na na
ye ye ye
🎵🎵🎵🎵🎵
Sambil seruput kopi hari baik, Line kemudian teringat dengan perbincangan dengan om Tella.
"Ah. Sebaiknya Saya mengecek kembali berkas-berkas penting saya kalau nanti saya pulang kerja. " Pikir Line.
Membuka lemari dan mengambil sebuah kotak plastik, dari dalam terlihat setumpuk kertas penting milik Line. Dipilah satu persatu hingga matanya tertuju pada selembar kertas yang bertuliskan ijasah sekolah menegah atas. Tanpa disadari, bulir putih merayap turun dari pipih Line.
"Ah. Seandainya,". Hanya kata ini yang keluar.
Teringat bagaimana perjuangannya mendapatkan kertas penting itu. Mungkin banyak diluar sana yang bahkan berhenti total.
"Saya termasuk beruntung." Bisik Line seola mengingatkan diri sendiri untuk selalu bersyukur.
Sempat menangis, lalu berlari tanpa arah. Seolah mencari celah, mungkin saja ada cahaya di sana. Tidak menemukan sandaran, masih baru dikota yang tidak begitu besar. Gadis belia itu, terdampar pada pekerjaan yang tidak dipikirkan sebelumnya. Masa kelam itu kembali terngiang.
****
Flashback on
"Ma tas Line sepa?" (Ma. Tas line dimana?) Tanya sambil memintal rambut panjang sepinggang miliknya.
"Le mai liku" ( Ada di luar rumah) jawab mamanya singkat.
Hari ini Line akan ke kota kabupaten. Tempat Line melanjutkan pendidikan ditingkat menegah atas. Tidak seperti saat memasuki SMP, kali ini orang tua Line mengerti akan pentingnya Line menempuh jalur sekolah.
Semua sudah disiapkan. Beberapa bulan sebelumnya, Line membantu orang tuanya memetik kelapa untuk dijadikan kopra yang akan dijual Line sebagai uang awal masuk sekolah. Dikarenakan di rumah Line, hanya ada Line dan kedua orang tua Line, maka Line mau tidak mau harus membantu ayah Line untuk memetik buah kelapa yang kering untuk dijadikan kopra. Melihat seorang anak perempuan memetik kelapa adalah hal biasa dikampung Line.
Kelapa-kelapa yang telah dipetik, dikumpulkan dan dibela. Isi kelapa dipisahkan, dipotong-potong, lalu dijemur dibawah matahari. Proses ini dibutuhkan beberapa hari hingga potongan isi kelapa berubah warna menjadi merah kecoklatan. Hasil kopra yang sudah jadi akan diisi dalam karung-karung kecil dan dijual di kota. Kopra merupakan penghasilan musiman yang bersifat tetap bagi penduduk pulau.
Line akan ke kota dengan membawakan beberapa karung kopra untuk dijual. Meskipun hanya seorang anak lulusan SMP, aktivitas menjual atau membeli kebutuhan pokok di kota sudah biasa Line lakukan di sela liburan sekolah selama masih SMP. Line juga dibekali beberapa uang tambahan dari keluarganya.
Selepas menyiapkan diri, Line kemudian berpamitan kepada seluruh keluarga dan warga kampung yang tengah berkumpul di depan rumah Line.
"Bapa, mama, nene, Line pamit." Sehabis mencium tangan orang-orang tersayang, Line melaju bersama ojek offline menuju dermaga kecil di Pulau untuk menyebrangi pulau. Perjalanan dari pulau ke kota memakan waktu 4 jam menggunakan kapal motor.
Sesampainya dipantai, Line mnyempatkan diri berpamitan dengan teman-teman ojek yang selama SMP menjadi sahabatnya.
"We, aku pana nema. Miu noto mbola-mbola" ( we, saya jalan dulu, kalian baik-baik ya). Memeluk satu persatu dan melangkah menujuh kapal.
Untuk menaiki kapal, Line harus menaiki sampan kecil. Ditatapnya ombak kecil di depan, sambil berjinjit, dengan celana digulung sebetis, Line naik dan duduk jongkok sambil kedua tanggan memegangi bibir sampan. Ayunan kecil akibat ombak terasa dikala sampan berpaling meninggalkan tepian. Line menyambut tangan salah satu anak buah kapal yang hendak menggapai Line untuk membantu Line menaiki kapal. Dengan sekali tarikan dan loncatan ringan, Line berada diatas kapal kayu apung tersebut. Barang-barang Line dan semua penumpang sudah ada diatas kapal.
Mesin penggerak motor berbunyi, pertanda kapal akan segera berlayar menuju seberang. Untuk waktu 4 jam, kebanyakan penumpang akan menikmati waktu dengan tidur cantik di dalam kapal. Berbeda dengan Line, dengan kondisi yang gampang merasa mual, Line memilih duduk di anjungan kapal sambil menikmati semilir angin yang menyapa wajahnya. Berusaha keras untuk terus menatap kedepan, menguatkan hati, agar tidak terlalu memikirkan rumah.
"Ah. Mama dan bapak akan sendirian lagi" kembali terbayang wajah kedua orang tuanya. Semenjak ditinggal ketiga kakakny merantau, Rumah line nanya dihuni Line, ayah dan ibunya. Sedangakan kakak iparnya memilih tinggal di rumah keluarganya bersama sang ponaan.
Menikmati pemandangan, bukit-bukit kecoklatan sepanjang daratan pulau Flores terlihat. Terkadang terpampang pasir panjang, dan bukit pinggir pantai dengan berbagai bentuk indah.
Sibuk dalam buaiyan indah pemandangan, memikirkan ada atau tidaknya orang disana, mempertanyakan apakah mereka juga sedang menonton kapal kecil dari jauh. Semua hal bodoh itu berkecamuk di benak. Hingga 4 jam berlalu, tanpa terasa kapal sudah mendekati pelabuhan Lorens Say. Dari jauh, salah satu ABK sudah menjatuhkan jangkar penahan bagian belakang kapal. Mesin dimatikan dan kapal bergerak mengikuti arus menuju dermaga khusus Kapal motor. Terlihat seseorang meleparkan tali ke ujung bibir dermaga dan seseorang lagi menyambut dari kejauhan. tali diikat disalah satu besi penggait tali kapal. Tarik menarik tali kapal dimulai, kapal pun merapat ke bibir dermaga.
Penumpang dan barang-barang bawaan sudah diturunkan dari kapal. Dengan sebuah tas berisikan pakaian, Line mengikuti sebuah mobil pengangkut barang menuju lokasi penjualan kopra. Selesai urusan, Line langsung menuju rumah salah satu kerabat Line di kota menggunakan ojek offline. Malam harinya Line menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa untuk mendaftar di salah satu sekolah negeri ternama di kota itu.
Empat hari setelahnya, Line mulai menyiapkan diri berangkat menuju lokasi pendaftaran bersama salah satu kerabatnya. Perjalanan menuju lokasi pendaftaran sengaja menggunakan angkot. Hal ini agar Line memahami jalur menuju sekolah .
Hari masih sangat pagi, terlihat beberapa orang masih melakukan olaragah pagi di luar GOR SAMADOR, Sebuah sasana olargah terbesar untuk kota tersebut. Keberadaan GOR tersebut kebetulan tepat di depan sekolah yang dituju Line.
Pemandangan di depan Line sungguh mengejutkan. Sudah banyak orang yang mengantri, tidak hanya wajah-wajah lugu anak baru, terlihat banyak wajah-wajah lanjut usia yang mondar mandir mencari nomor antrian. Banyak pula diantara mereka yang mencoba menukar antrian. Line melangkah didampingi kerabatnya mengambil antrian dan memilih duduk di sudut sekolah.
Terik matahari semakin menyengat kulit, terlihat semua beramai-ramai mengipas wajah dengan benda seadanya. Dari kertas hingga topi dipakai untuk mendinginkan badan. Suasana begitu panas padahal masih disekitaran pukul 9 pagi. Wajar, di bagian timur Indonesia, matahari kadang lebih kejam. Berjam-jam berlalu, dan giliran Line pun tiba.
Menyerahkan berkas dan bergegas mengikuti tes. Bersyukur, otak Line sepertinya sudah siuman dari istirahatnya sehingga Line bisa menyelesaikan tes dengan mudah. Line tidak langsung pulang, tetapi memilih menunggu hasil tes. Beberapa jam berlalu, makan siang pun dilewatkan, hanya mengisi perut dengan jajanan di sekitar sekolah.
Waktu sudah beranjak sore, sang surya mulai mempertontonkan bayangan penghuni disamping empunya. Papan pengumuman mulai ramai dikerumuni. Line berusaha menyelipkan dirinya yang mungil di tengah-tengah manusia. Berdesakan, hingga akhirnya berhadapan dengan papan pengumuman. Secepat kilat mencari namanya.
"Yey lulus" Line teriak kecil. Kupu-kupu kecil menari di hatinya. Andai saja tidak ada keramaian, mungkin Line sudah menari kegirangan.
"Akhirnya, saya bisa masuk sekolah favorit di sekolah, dan memasuki kelas XB." Line mensyukuri hasil usahanya.
"Mama dan bapa pasti senang, Saya akan menuliskan surat untuk dititipkan melalui ABK kapal. " Line berniat memberitahukan berita tersebut kepada orang tuanya. Pada saat itu, hanya bisa via surat menyurat. Surat akan dititipkan oleh pihak kapal pada tukang ojek yang kebetulan mengetahui rumah Line.
Line pulang ke rumah kerabatnya dengan wajah gembira. Tidak dipungkiri, senyum kecil masih saja menempel di wajahnya. "Tidak disangka, perjalanam baruku akan segera dimulai dalam dua minggu." Pikir Line dalam hati.
Setelah proses pendaftaran, dua minggu tersisa Liine gunakan untuk mencari asrama di dekat area sekolah dan membeli perlengkapan sekolah. Seragam, buku, peralatan dan keperluan pribadi disiapkan. Line berusaha memakai uangnya dengan sebaik mungkin.
Seminggu sebelumnya, Line sudah tinggal di asrama, memilih mengenali teman-teman satu sekolahnya yang tinggal satu asrama denganya.
Asrama Line adalah asrama kecil yang hanya terdiri dari sebaris ruangan tidur dan belajar, dapur, serta kamar mandi. Asrama dan lingkungannya begitu nyaman. Bahkan pemilik asrama sangat menyayangi Line. Dalam waktu seminggu, Line sudah mengenali lingkungannya.
"Kedepannya semua akan berjalan baik. " gumam Line sambil membayangkan aktivitas dirinya pulang pergi sekolah. Yah. Line emang penghayal nomor satu di dunianya.
Hari baru pun dimulai. Rambut diikat empat bagian dengan menggunakan tali ravia berwarna merah. Papan nama terbuat dari kardus tergantung di depan. Sebuah dot bayi digantung menggunakan tali kompor yang dihiasi kepingan tutupan botol. Kaus kaki berwarna hitam di kanan dan putih di kiri. Sedangkan sepatu berwarna sebaliknya. Gadis mungil dengan balutan putih abu-abu tersebut lebih mirip gadis kurang waras ketimbang seorang murid SMA. Berjalan keluar asrama menuju sekolah bukan dengan menenteng tas melainkan tas kresek berwarna hitam. Begitulah peraturan atribut MOS di sekolahnya.
Seminggu berlalu, masa-masa hukuman dan bahagia selama MOS sudah dilewatkan dengan baik. Kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik. Line melewati semester pertama dengan penuh antusias. Berusaha bersaing sehat dengan siswa-siswi cerdas dikelasnya. Semester pertama, Line mendapatkan nilai memuaskan.
Hal ini diceritakan kepada Didi sahabatnya yang juga menjadi teman satu sekolah namun beda kelas. Kerap kali Line akan bergabung bersama teman-teman Didi yang akhirnya menjadi komplotan Line. Semua kelu kesah diceritakan ke Didi. Bagi Line, Didi adalah keluarga yang dia miliki di kota. Selesai semester mereka memutuskan untum tetap di kota. Mereka menyiapkan diri untuk memulai semester berikutnya. Teman-teman Line kerap mengajak Line keluar, dari sinilah hobi bermotoran Line geluti. Meskipun tidak memiliki motor pribadi, Line selalu ikut teman-temannya untuk melatih kemampuan line dibidang ini.
Tak terasa liburan pun selesai, kembali melakukan aktivitas kesukaan. Belajar dan membaca. Terlalu hanyut dalam kegiatan, Line melupakan masalah yang sedang mengganggu ketanangan belajar Line selama beberapa waktu terakhir. Memikirkan berbagai solusi namun sepertinya nihil. Line masih tetap mengikuti kegiatan sekolah, meskipun setiap kali harus menundukan kepala setiap kali wali kelas mengingatkannya akan permasalahnnya.
Buntuh! Line lima bersaudara, namun untuk menemukan bahu mereka rasanya seperti menunggu air di gurun pasir. Memendam semuanya sendirian, ingin mengabari orang tuanya, namun Line baru mendengar kabar kesehatan ayahnya memburuk. Line tidak ingin membuat orang tuanya merasa khawatir.
"Ugh. Apa yang harus Saya lakukan" Teriak Line dengan helaan napas panjang. Air mata tidak lagi bisa menahan diri untuk melompat keluar. Meringkus dibalik selimut. Berusaha meringis pelan sambil memikirkan akankah besok Line tetap ke sekolah. Setengah semester ini, Line sudah berusaha kuat. Namun, ujian tengah semester kedua seminggu lagi. Sedangakan Line belum menemukan hasil untuk menyelesaikan masalahnya. Beberapa kerabat di kota bahkan tidak bisa mengulurkan tangan karena beberapa hal.
"Ma, Pa". Hanya ucapan ini yang terus- terus keluar hingga Line terlelap karena kecapaean menangis.
Keesokan harinya Line memutuskan untuk tetap ke sekolah. Hari sabtu, dimana Line harus menggunakan pakaian olaragah. Sesampainya di sekolah, Line menemui Didi untuk menyampaikan tujuannya. Didi yang tidak bisa membantu hanya bisa memeluk Line dan menguatkannya.
Line kembali menangis. "Di, aku ngaro ku te sekolah" ( Di, saya pingin tetap sekolah), sambil terisak dipelukan Didi. Line mengeluarkan unek-uneknya.
"E aku suu. " ( ya. Saya mengerti) sambil menepuk punggung sahabatnya, Didi berusaha menenangkan.
Menyeka matanya dengan menggunakan baju sahabatnya, Line kembali ke lokasi dimana ruangan kelas Line berada. Line sebelumnya menemui Didi di kantin yang terletak d di halaman belakang sekolah.
Sesampainya di kelas, Line menatap barisan kursi yang menjadi tempat duduk penghuni kelas yang selama ini menjadi sumber ketawanya.
Rasanya berat. "Bagaimana ini, semua ini mimpi ku. " Pikirnya lagi. Berjalan keluar mencari teman-teman kelasnya yang ternyata sedang bersenda gurau di belakang ruangan kelas. Menghampiri dan memeluk semua cewe-cwenya. Menepuk bahu masing-masing teman cowonya. Airmata kembali terjatuh. Untuk pertama kalinya, menyampaikan maaf seperti mengeluarkan se~ton pasir dari dalam truk pengangkut menggunakan tangan kosong.
"Maaf" Hanya itu yang keluar. Teman-teman line menatap Line. Ketidakberdayaan mereka untuk membantu, mereka hanya berusaha mengibur Line.
"Kan masih seminggu Line, " Suara seorang temannya yang tidak lain adalah ketua kelasnya terdengar. Line yang sedang memeluk Lilis sahabat sebangku berbalik dan menjawab dengan suara bergetar.
"Terima kasih, kamu ketua terbaik". Line belum bisa mengatakan lebih lanjut mengenai keputusannya. Line bahkan tidak tau bagaimana hidupnya kedepan jika benar-benar berakhir. Bagaimana menjelaskan kepada kedua orang tuanya, bagaimana menghadapi harapan orang-orang di kampung Line
"Agh. Semua ini buat saya gila". Line mengamuk dalam diam sambil menatap wajah-wajah didepannya. Menatap mereka dalam seolah ingin menampung sebanyak-banyaknya setiap sudut bentuk dan ekspresi mereka untuk dirinya sendiri.
" Bila kelak, keputusan membawaku jauh, setidaknya biarkan satuh setengah semester ini menjadi temanku. " Memohon dalam hati, menimbangkan segala hal, melihat sekeliling sekolah, menghirup sebanyak mungkin yang bisa ditampung memori. Setiap sudutnya. Setiap suasananya.
Terpaku sejenak, Line kembali menatap teman-temannya. "Saya ijin pulang duluan ya, daa semuanya. " Line melangkah dengan tertunduk lesu. Bukan menuju pintu keluar, namun menuju ruang guru.
"Ah. Semoga masih ada jalan di depan. " Bisik Line pada dirinya sendiri sebelum memasuki ruangan guru. Berusaha sekeras apa pun, manusia pasti akan mengalami masa penuh air mata, dan terkadang untuk beberapa orang, masa itu bahkan memiliki kembaran. Berulang.
********
*Sadap : plesetan dari kata sedap.
*ABK : anak buah kapal
* MOS : Masa Orientasi Siswa
*Mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan.
*kritik dan saran dibutuhkan sangat oleh author.
*untuk jadwal up (sesuai mood) ☺