
Clarry atau yang biasa kita panggil dengan sebutan irene, saat ini sedang duduk di salah satu kursi bar terbaik di Kanada dengan segelas whiskey ditangan lentiknya dengan riasan Di wajahnya agar orang lain tidak mengenali ya sebagai irene andreas. Matanya melihat sekitar dengan teliti seakan mencoba mencari tahu siapa saja yang ada di club tersebut.
"Nona, target mendekat" suara itu terdengar dari earpods hitam di telinga kiri irene, pandangan mata irene kini melirik bagian pintu masuk yang baru saja dimasuki oleh seseorang pria yang masih cukup muda. Mengamati sejenak sebelum membalas perkataan bawahannya itu setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang lain.
"dia?" tanya irene dengan tenang dan mata yang melihat gelas ditangannya sendiri, setelah mendengar jawaban dari bawahannya jika pria itulah targetnya maka irene hanya perlu bersikap setenang mungkin agar pria itu tidak curiga
Pada awal mulanya pria itu duduk tidak jauh dari irene dan memesan minumannya sendiri, tingkah lakunya tentu saja tidak lepas dari pandangan irene secara diam diam. Mengamati pria tersebut irene dengan sangat yakin akan mengatakan jika pria tersebut terlihat kacau, amat sangat kacau mungkin dalam tingkat menuju depresi.
Irene kembali mengalihkan pandangannya kesekitar saat pria yang dia amati memandang dirinya dengan raut wajah penasaran, dia dapat merasakan jika pria itu masih memandangi dirinya jadi irene masih melihat kesekitarnya hingga matanya melotot melihat seseorang yang amat sangat dia kenali duduk di salah satu sofa bar dengan beberapa gadis muda dan minuman alkohol disekitarnya. Saat mata keduanya bertemu pandang, irene dengan sangat cepat memberikan tatapan tajam orang tersebut sedangkan orang itu malah tersenyum dan mengangkat gelas berisi alkohol ditangan kanannya. Bagaimana bisa, bagaimana bisa para gadis itu mau dengan kakek tua itu. Irene tidak habis pikir dengan kakeknya yang jelas jelas tidak pernah berubah dari dulu bahkan neneknya saja sudah menyerah, sekarang dia semakin yakin jika pamannya Jimmy dan caleb mengikuti jejak kakeknya.
Menghela nafas pelan akhirnya irene kembali fokus dengan tugasnya tidak memperdulikan sang kakek yang memegang keyakinan old, wild and free itu. Irene memutar kepalanya saat merasa seseorang duduk di sebelahnya, itu dia targetnya tepat disebelahnya dan melihatnya dengan datar membuat irene kebingungan 'ada apa dengan dia' itulah kata yang mengartikan raut wajah irene ke pria itu
"hai... Apa kau baru disini? Kupikir aku belum pernah melihatmu sebelumnya" ujar pria yang menjadi targetnya ini
"ya aku baru tiba di Kanada tadi" jawab irene dengan senyumnya yang tentu saja palsu
"ah... Kalau begitu selamat datang di Kanada, namaku Christian" kata pria itu seraya menjulurkan tangannya kearah irene. Irene melihat tangan itu sejenak sebelum menjabat tangan itu
"Renee" jawab irene masih dengan senyum palsunya
"ah.. Nama yang cantik untuk malaikat sepertimu, tapi kalau boleh tau apa yang kau lakukan disini? Kau terlihat masih sangat muda untuk berada di tempat ini Renee" kata christian
"ah... Aku sudah 18 tahun jadi aku sudah legal masuk bar dan ya aku mengawasi kakekku" katanya dengan menunjukan kakeknya yang masih bermain itu, dalam hati irene mengatakan maaf karena menjadikan kakeknya sebagai alasan
"oh... Kakek yang sangat unik" jawab Christian dengan kekehan kecilnya, Christian masih melihat irene kali ini dengan pandangan takjub. Tersenyum tipis dan meminum minumannya dengan pelan, irene yang sejak awal menyadari pandangan dari Christian masih sibuk berpura-pura mengawasi sang kakek. Setelah dirasa Christian terlalu lama memandangnya irene memutar kembali kepalanya menghadap Christian.
"ah.... Well mungkin keduanya, menenangkan diri dengan alkohol dan bermain agar melupakan masalah. Ya itulah yang sedang kulakukan" kata Christian yang kini tersenyum miris seakan mengkasihani dirinya sendiri
"mmm.... Apakah masalah percintaan? Kau tau biasanya teman ku selalu bercerita tentang bagaimana dia menghabiskan waktunya semalaman dengan pria yang cukup tampan lalu keesokan harinya dia akan memikirkan cara balas dendam untuk sang mantan" kata irene dengan nada miris yang sekali lagi tentu saja palsu, mana ada dia punya teman selama dia di kampus tidak ada satu orang pun yang berani bersikap sok akrab dengannya. Para sahabatnyapun selalu berada di negara yang berbeda dan amat sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
"aku yakin itu pasti menyebalkan melihat raut mukamu yang berubah sangat buruk dalam hitungan detik, tapi Kasus ku bukan tentang percintaan" kata Christian yang tersenyum setelah melihat raut wajah bingung irene
"lebih tepatnya pertemanan, ya ada sedikit bubuk percintaan nemang tapi tidak sebesar yang kau pikirkan dan lagi ada masalah keluarga jug --" ucapan Christian terhenti dengan tarikan tubuh Christian kearah belakang membuat Christian terkejut dan sedikit emosi sedangkan irene sudah tau ada yang mendekati mereka dari bawahannya.
" hey!! Pembicaraan kita belum selesai! Kau tidak bisa kabur begitu saja!!" ucap seorang pria yang menarik Christian kebelakang dengan suara yang keras dan mata yang menatap tajam kearah Christian, semua pandangan pengunjung melihat kearah keributan itu. Irene dapat melihat itu semua pandangan pengunjung dan pekerja di bar seakan akan sudah terbiasa dengan pertengkaran dua orang didepannya ini, Christian menyentak tangan orang tersebut dengan tatapan tajam dan permusuhannya itu.
"sudah berapa kali ku bilang jangan.ngangu.aku! Apa kau tidak mengerti bahasaku?!" tanya Christian dengan sinis dan melihat remeh pria didepannya
"kau tidak bisa mengalihkan semuanya dengan minuman dan berenang-senang!!! Yang kau perlukan adalah menyelesaikan semua masalah!! Mereka tidak akan selesai jika kau tidak menanganinya!!" ucap pria itu dengan tajam tapi kali ini tatapannya seakan-akan dia terluka dengan penolakan yang dilakukan Christian tadi. Irene dapat melihat itu semua permasalahan yang cukup ribet tapi ntah kenapa pria di depan Christian walaupun marah, kesal namun dimatanya terlihat pancaran kerinduan, rasa bersalah dan rasa sakit begitu pula dengan mata Christian namun lebih cenderung kepancaran emosi. Melihat keadaan semakin memburuk dia melihat bawahannya dan melirik dua orang yang sedang bertengkar itu, sedangkan bawahannya yang mengerti segera bergerak membawa paksa dua orang itu menuju ruangannya.
Irene hanya mampu menghelakan nafasnya dengan kasar, bagaimana bisa para pekerjanya yang bekerja di bar tidak berani menghentikan kedua orang tersebut hingga memakan kerugian karena beberapa furniture yang rusak akibat keduanya. Melangkahkan kakinya kearah tempat sang kakek irene lagi lagi menghela nafas saat melihat kumpulan gadis disekitar sang kakek semakin banyak, dia tahu jika sang kakek masih memiliki wajah yang terhitung masih muda terlihat seperti 45 tahun tapi ayolah usianya bahkan sudah lebih dari setengah abad. Setelah berhenti tepat di depan sang kakek yang terhalang meja bundar kramik berwarna hitam itu irene melihat sang kakek dengan satu alis terangkat dan tangan yang berlipat di dadanya tanpa peduli dengan para gadis yang memandang dirinya dengan aneh
"oh cucuku yang cantik, ada yang bisa kakekmu ini bantu?" tanya sang kakek atau tuan besar andreas itu dengan senyumannya ke irene, irene yakin jika kakek tua itu sengaja mengatakan 'cucuku' dengan penekanan yang entah untuk apa irene tidak peduli. Lain irene yang tidak peduli lain berbeda dengan para gadis yang di sekitar Mr. andreas mereka melotot horor saat pria tampan yang mereka yakini duda berusia 40 tahunan itu ternyata sudah punya cucu yang bahkan membuat mereka iri karena kecantikannya
"cukup bermainnya grandpa ikut aku, yaampun bagaimana kau bisa ada disini dari sekian banyak negara" gerutu irene ke kakeknya yang dibalas kekehan kecil
"karena aku tau daddymu pulang keItalia sedangkan kakakmu party di las vegas dan kau cucu perempuan tersayangku akan masuk club untuk para semut itu?! No no grandpa tidak akan membiarkannya. Nah sekarang ayo " kata Mr. andreas setelah berhasil keluar dari gerombolan para gadis muda yang menginginkan hartanya itu dan beralih merangkul pinggul irene membawanya menjauh dari sofa yang tadi dia tempati.