The Journey

The Journey
Part 17



"kalian.... Bagaimana bisa disini? Apakah kalian tau bagaimana khawatirnya kami saat kalian pergi begitu saja?!" ucap tamu tersebut dengan nada khawatir yang sangat dapat diketahui


Alex dan irene melihat kearah Marcus yang sedang tersenyum kepada mereka lalu merendahkan dirinya hingga setinggi alex dan irene


"hey sayang dengarkan uncle, mereka mengkhawatirkan kalian. Mereka mencari kalian" kata Marcus mencoba memberikan pengertian kepada alex dan irene


"ta-tapi" ucapan Alex terpotong oleh Marcus yang kali ini memberikan tatapan tegas kepada Alex


" tidak ada tapi boy,mereka manganggap kalian Anak mereka sendiri yang menghilang. Uncle sudah mengawasi mereka sejak lama dan mereka tidak menyerah untuk mencari kalian dan jika kalian kembali kepada mereka itu tidak akan membuat kalian tersingkir dari sini. Kalian bebas mau datang kemari kapanpun kalian mau" kata Marcus dengan senyum tulusnya


Alex dan irene kembali mengalihkan tatapannya pada tamun pamannya itu. Benjamin atau ben, adik tingkat Marcus saat masa perkuliahan adalah tamu yang Marcus undang ke penthousenya ini untuk mempertemukan mereka.


ben dengan perlahan berjalan kedepan Alex dan irene, merendahkan posisinya agar sejajar dengan tinggi Alex dan irene. Melihat Alex dan irene dengan tatapan intens namun juga tatapan kerinduan yang sangat besar kepada mereka.


"kalian tumbuh dengan cepat" kata lirih ben dengan nada sedih seraya mengusap pipi Alex dengan tangan kirinya dan pipi irene dengan tangan kanannya


Untuk sesaat baik Alex dan irene merasa bersalah kepada ben dan simon. ben dan simon sudah baik kepada mereka namun mereka malah menyerang mereka dan melarikan diri.


"....... I'm sorry" ucap irene lirih kepada ben dengan mata yang berkaca-kaca


(maaf)


"me too, I'm sorry uncle" kata Alex dengan menundukkan kepalanya


(aku juga minta maaf)


ben yang melihat itu menggelengkan kepalanya dengan keras. Menolak permintaan maaf Alex dan irene karena yang bersalah adalah dirinya dan simon yang tidak memberitahu Alex dan irene tentang  kehidupan keluarga baru mereka. Dia paham mereka berdua pasti shock dengan kenyataan yang tiba-tiba datang.


"ini bukan salah kalian, kami yang salah karena tidak memberi tahu kalian. It's okay kalau kalian ingin menetap bersama paman kandung kalian, setidaknya kami tenang karena mengetahui kalian dalam kondisi baik baik saja" kata ben dengan senyuman kecilnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat Alex dan irene yang sudah lama mereka cari dan kini Alex dan irene berdiri didepannya dengan keadaan yang baik tanpa luka sedikitpun membuat kekhawatiran yang selama ini di hatinya hilang seketika dan digantikan oleh perasaan bahagia.


ben ingat amat sangat ingat saat pertemuan pertama mereka dimana Alex dan irene datang bersama simon ke mansion mereka di italia. Mereka dengan mental sedikit terguncang dan memiliki trauma apalagi irene yang memiliki trauma terhadap 'keluarga' yang cukup dalam membuat baik dirinya dan simon meninggalkan pekerjaannya selama beberapa saat untuk memastikan jika irene merasa aman bersama mereka. Tubuh mereka dulu yang masih kecil seperti anak seumuran mereka kini Alex dan irene bahkan lebih tinggi dari anak anak seumuran mereka, jika dulu mereka selalu tidak pernah menunjukan emosi mereka kepada siapapun bahkan orang yang mereka sayangi akibat trauma sekarang mereka selalu menunjukan emosi mereka kepada orang orang yang mereka sayangi. ben maupun simon tidak akan memaksa mereka berdua untuk kembali ke pelukan keluarga andreas, mereka cukup tenang setelah mengetahui jika Alex dan irene dalam kondisi baik baik saja dengan kebutuhan yang akan selalu terpenuhi. Itu sudah lebih dari cukup untuk ben maupun simon.


Drrtt... Drrtt...


"aku harus pergi, ada urusan yang perlu kuurus.  Alex, irene jaga diri kalian oke jangan sampai sakit. Uncle senang kalian dalam kondisi baik baik saja, uncle akan memastikan mengatakan kondisi kalian pada daddy kalian agar dia tidak khawatir pada kalian. Yang harus kalian lakukan adalah hiduplah dengan normal, bermainlah jika ingin, buatlah teman agar kalian tidak kesepian, lakukan apapun yang kalian mau selama tidak melanggar apapun dan membahayakan diri kalian sendiri. Berbahagialah, uncle menyayangi kalian.  Saya permisi dulu sir dan terima kasih sudah mempertemukan kami" kata ben kepada Marcus dengan tulus setelah berbicara kepada Alex dan irene, lalu pergi dari penthouse Marcus dengan Marcus yang mengantarnya hingga pintu keluar penthouse miliknya


Marcus mengalihkan tatapannya pada dua keponakannya yang masih mematung melihat pintu yang dilalui ben untuk pergi, mendekati mereka dan mensejajarkan tingginya dengan keponakannya.


Marcus bisa melihat air mata yang menggenang di mata Alex dan irene seakan akan air mata itu akan tumpah saat mereka mengkedipkan mata mereka.


"uncle.... ben" lirih yoona tanpa mengalihkan tatapannya pada pintu dan Marcus yang dengan jelas mendengar lirihan suara irene


Hiks


Suara isakan mengalihkan tatapan Marcus dari irene ke Alex yang kini sudah menangis tanpa suara dengan masih melihat kearah pintu keluar.


Marcus mengikuti tatapan kedua ponakannya kearah pintu keluar yang masih tertutup, setelah beberapa saat hening. Marcus membawa irene dalam gendongannya dan menggenggam tangan kecil Alex untuk mendudukan mereka di sofa ruang tamu.


Setelah memastikan mereka duduk dengan aman, Marcus segera pergi dari ruang tamu tanpa memerdulikan tatapan Alex dan irene yang merasa jika mereka di abaikan. Air mata keduanya semakin banyak saat pikiran itu memasuki kepala mereka, hingga membuat mereka tidak dapat menahan isakan tangis mereka.


Marcus kembali dengan dua tas kecil milik Alex dan irene, meletakkannya di sofa dan membuka isinya. Pakaian ganti, itu yang Alex dan irene lihat dari dalam tas seperti  didukung oleh perbuatan sang paman pemikiran mereka menjadi rumit. Tangisan mereka bukannya meredah malah tambah parah, Marcus tidak memerdulikan tangisan mereka dan fokus pada kegiatannya yaitu mengganti pakaian mereka yang tidak di sadari oleh Alex dan irene


"nah, ayo!" kata Marcus setelah menyelesaikan kegiatannya, masih melihat Alex dan irene yang masih menangis cukup hebat.


Marcus tanpa banyak berbicara memakaian tas keponakannya pada pemiliknya sendiri sendiri, memakaian sepatu pada keponakannya dan pada dirinya sendiri lalu menggendong kedua keponakannya sekaligus.


"hey, berhentilah menangis nanti kalian pusing dan tenggorokan kalian sakit" kata Marcus dengan halus berusaha membuat keponakannya diam, dia tentu saja tidak ingin keponakannya sakit.


Melangkah keluar dari penthousenya Marcus segera berjalan menuju lift, masih dengan berusaha menenangkan dua keponakannya yang masih menangis tidak memerdulikan tatapan orang orang yang melihat mereka penasaran saat berada di lobby.Tatapannya kini terpaku pada satu orang yang hendak memasuki mobil hitam, Alex dan irene juga dapat melihat orang yang akan memasuki mobil hitam itu yang tidak lain adalah ben. Sontak saja tangisan mereka semakin keras membuat ben melihat kearah mereka


"hiks..... UNCLE!!.... hiks..."  isak irene dengan tangan yang mencoba menggapai gapai ben


"no... No don't go!!... Hiks" isak Alex tidak separah irene yang benar benar menangis keras, Alex masih sedikit tenang namun tetap saja membuat Marcus khawatir pada keduanya.