
Beberapa hari telah terlewati sejak malam dimana Marcus dibingungkan dengan tingkah keponakannya itu. Saat ini Alex dan irene sedang bersiap untuk menuju sekolah barunya, ya Marcus benar benar memasukan mereka kesekolah yang bertaraf international dengan keamanan yang sangat terjaga. Bahkan Marcus tidak segan segan memasukan dua orang kepercayaannya kesekolah baru Alex dan irene sebagai wali kelas Alex dan wali kelas irene untuk memastikan mereka aman dan masih di dalam pengawasannya, apalagi usia irene yang seharusnya masih berada di sekolah kanak - kanak kini malah masuk sekolah dasar.
"kids! We need to hurry or we'll be late!" ujar Marcus dengan sedikit berteriak karena baik Alex maupun irene masih betah berada di kamarnya yang entah melakukan apa
(anak - anak! Kita perlu cepat atau kita telat)
"I'm come in! / I'm ready!" teriak Alex dan irene secara bersamaan, tak lama kemudian Alex dan irene turun bersamaan dengan seragam mereka masing masing. Alex dengan seragam putih dengan motif kotak kotak merah di bagian tertentu, dan dengan celana sekolah selutut berwarna hitam membuat Alex terlihat menawan dan jangan lupakan sepatu Gucci berwarna putih yang melekat dengan indah di kakinya. Sedangkan irene menggunakan seragam putih yang dilapisi oleh blazer bermotif kotak kotak merah dan rok selutut berwarna hitam sukses membuat irene terlihat lucu sedangakan untuk sepatu irene juga menggunakan sepatu Gucci namun berwarna hitam yang melekat dengan indah di kaki kecilnya itu.
(aku datang / aku sudah siap)
Marcus untuk sejenak tertegun melihat mereka berdua yang baru saja muncul dari pintu ruang makan, rasanya Marcus ingin menarik ijin sekolah mereka. Melihat mereka menggunakan seragam sekolah entah kenapa Marcus merasa tidak terima jika keponakannya mulai beranjak besar.
"uncle? Uncle melamun?" kata irene yang sukses membuat kesadaran Marcus kembali
"ah... Ayo kalian makan sekarang atau kalian akan terlambat" kata Marcus seraya memberikan roti selai cokelat yang tadi di buat kepada Alex dan irene.
"apa uncle akan mengantar kita?" tanya Alex seraya memakan roti buatan Marcus
"tentu saja, kalian itu prioritas uncle" jawab Marcus dengan senyuman bahagianya
'lagian ini membuatku menjadi orang pertama yang mengantar mereka sekolah' batin Marcus bahagia karena selama ini para keponakannya homeschooling untuk keamanan mereka
At school
Mobil Limousin berwarna hitam dari BMW itu masuk pekarangan sekolah dimana hal itu sukses menarik perhatian seluruh orang di sekolah tersebut baik murid, pegawai, guru hingga para orang tua yang mengantar anak mereka. Mobil itu terhenti tepat di depan pintu utama sekolah, seseorang keluar dari pintu depan dan langsung bergegas untuk membuatkan pintu untuk sang tuan yang duduk di bagian belakang. Pintu mobil bagian belakang itu terbuka dengan lebar kemudian di susul oleh sepatu Oxford berwarna hitam diikuti oleh keluarnya seorang pria dengan setelan jas berwarna biru dongker dengan kemeja putih, wajah nya yang tampan, postur badan yang sangat gagah sukses membuat para guru wanita terkagum kagum olehnya.
Pria itu melihat ke seluruh arah dengan cermat, enggan meninggalkan satu sudut untuk diperiksa. Setelah memeriksa sekitarnya pria itu mulai melihat ke arah orang yang membuatkan pintu untuknya itu
"apa mereka sudah disini?" tanya pria itu kepada bawahannya dengan suara beratnya
"mereka masih dalam perjalanan tuan" jawab bahawa pria itu dengan sangat sopan
"berapa lama mereka akan tiba?" ucap pria itu seraya melipat tangannya setelah melihat jam di tangannya.
" dad?! How did you get here?" tanya pria yang baru saja keluar dari pintu kemudinya
(pa?! Kenapa kau bisa disini?)
"melihat cucu ku, mereka belum menemui grandpa nya selama mereka disini. Kau tidak membawa mereka menemuiku Marcus " jawab pria yang dipanggil dad
Yap pria yang baru saja keluar dari mobil itu adalah Marcus sedangkan pria yang menaiki limousine itu adalah Gilbert adik dari papa kandung Marcus atau kakek Alex dan irene. Dia pula yang merawat Marcus sejak Marcus kabur dan datang kepadanya dengan alasan bersembunyi dari kakaknya itu, terlalu lama tinggal bersama akhirnya paman Marcus itu mengangkat Marcus menjadi anaknya tentu saja setelah meminta ijin sang kakak dan mendapat sindiran karena tidak menikah dan hanya fokus pada pekerjaannya.
Marcus tidak menjawab perkataan ayahnya itu namun dia malah membuahkan pintu mobil satunya. Pintu Terbuka Marcus menundukkan setengah badannya sesaat dan setelah menegakan badannya kembali, terlihat irene yang sudah berada di pelukan Marcus dengan mata tertutup dan Alex yang dibantu keluar oleh Marcus. Setelah sepenuhnya keluar dari mobil Alex melihat keadaan sekitar dengan pandangan berbinar namun wajahnya tidak berekspresi sama sekali. Pandangan Alex kali ini terarah pada seorang pria tua yang cukup ia kenali
"gilbert grandpa?" panggil Alex dengan tidak yakin
"oh... Come here boy, I miss you" jawab sang grandpa membuat Alex berjalan sedikit cepat kearah sang kakek yang sudah membuka tangannya untuk menyambutnya dengan pelukan hangat pria itu.
(oh kemari nak, kakek merindukanmu)
"miss you grandpa" lirih Alex setelah berada di pelukan hangat kakeknya, sang kakek membalas ucapan Alex dengan cara mengusap punggung kecil Alex dengan tangan besarnya yang cukup hangat itu.
(aku merindukanmu)
"Nathan finally we meet again. setelah grandpa mendengar kau kabur dengan clarry, kakek tua ini sangat khawatir tapi grandpamu itu memberitahu jika kalian disini" suara kecil sang kakek terdengar jelas di telinga Alex, Alex mendongakkan kepalanya melihat sang kakek
(Nathan akhirnya kita bertemu kembali)
"sekarang namaku Alex dan clarry itu irene jadi kalau di luar panggil Alex dan Irene okay dan bagaimana bisa grandpa tau? " kata Alex dengan bisikan pelan namun terdengar jelas oleh sang kakek. Sang kakek untuk sesaat terlihat terkejut dan bingung namun sedetik kemudian senyuman kecil muncul di bibirnya
" karena tidak ada yang bisa menyembunyikannya sesuatu dari grandpa mu, kakakku itu sangatlah berbahaya karena dia tau semua yang tidak kita ketahui dan bermain dalam diam walaupun itu bisa memerlukan waktu yang sangat amat lama dalam prosesnya" kata Gilbert dengan senyuman misteriusnya, senyuman yang mengingatkan Marcus dan alex pada sang ayah dan kakek kandung
'sesuatu tidak beres, mereka menutupi sesuatu' batin marcus dan Alex secara bersamaan