The Journey

The Journey
Part 31



alex dan Irene saat ini tengah duduk di ruang keluarga mansion andreas di Las Vegas, aura disekitar mereka sangatlah mencekam bahkan para maid maupun bodyguard lebih memilih tidak mendekat karena aura mereka tersebut. alex dengan aura tegas nya melihat kearah irene yang terlihat biasa saja bahkan irene masih berkutat dengan laptop miliknya tidak peduli dengan alex yang menatap tajam dirinya.


"jadi siapa anak itu?" tanya alex masih dengan nada tegas miliknya


"sudah berapa kali kubilang namanya adalah Jackson" jawab irene dengan santai


"irene yang kutau kau pergi kesana untuk mengurus pekerjaanmu lalu kenapa kau tiba-tiba muncul dengan seorang anak kecil!" kata alex yang tanpa sadar menaikkan suaranya dan memandang irene dengan tajam


Irene mengalihkan pandangannya dari laptop kearah alex saat mendengar suara alex yang semakin tinggi, dia melihat alex dengan pandangan malas.


" dia adalah bayaran hutang keluarga adison" kata irene masih dengan nada malas, sedangkan alex sedang berusaha mencerna apa yang terjadi.


"tunggu... kau bilang anak kecil itu bayaran? Bagaimana bisa mereka membayar menggunakan anak itu?!" ucap alex dengan nada tidak percaya


Irene yang melihat alex bergumam marah terus menerus pun menghembuskan nafas lelahnya lalu memberikan iPad yang berisi data data yang alex perlukan untuk menjawab semua pertanyaan yang terdapat di otaknya itu, alex yang menerima iPad dari irene segera membaca data data tersebut dengan cermat dan ya seperti yang diprediksikan irene. alex melempar iPad milik irene itu kearah meja dengan kuat dan Irene sendiri tidak peduli jika iPad itu rusak, alex bahkan berdiri dari sofa nyaman yang dia duduki tadi dan melempar umpatan umpatan lirih kepada keluarga adison, Sebenarnya ekspetasi irene lebih jauh dia pikir alex akan pergi kekediaman adison untuk membunuh mereka namun ternyata alex hanyalah memakai maki mereka.


"katakan padaku jika mereka telah mati! Aku yakin sekali jika kau tidak akan membiarkan mereka begitu saja" kata alex dan melihat irene dengan lekat


"kasus gas meledak dan tanah milikku" kata irene dengan pandangan yang kembali kearah laptop


"huft....sekarang apa yang akan kita katakan pada mereka..... Aku yang party kau yang pulang membawa anak" ucap lirih alex yang masih dapat didengar irene


"aku punya ide menarik, bagaimana jika kita pulang besok lalu kau masuk dengan menggendong Jackson. Kurasa mereka tidak akan mengharapkan itu" kata alex dengan senyum jahilnya seraya menatap irene yang juga menatapnya dengan senyum kecil di bibirnya


"deal" kata irene lalu beranjak pergi


Seperti yang telah di rencanakan kepulangan mereka ke italia tidak diketahui oleh siapapun dan mereka telah memastikan jika ben maupun simon ada di mansion. Langkah pertama mereka masuk para maid maupun bodyguard segera menyambut mereka, beberapa langkah dari ruang keluarga ben datang dengan berlari untuk memeluk mereka dia bahkan tidak menyadari sosok kecil yang terlelap dalam gendongan irene. Tak lama simon datang menyusul baekhyun namun satu langkah lagi untuk memeluk mereka pandangannya jatuh kearah Jackson yang sedang terlelap, dia sontak menarik ben untuk mundur dengan mata yang masih melebar melihat Jackson.


"si...siapa dia?!" tanya simon dengan terkejut membuat ben melihat kepada Jackson yang masih terlelap di gendongan irene


"heeeeee..... Dia siapa?!" ucap ben kaget


"dad uncle say hi to your grandson and my nephew" ucap alex dengan santai dan jangan lupakan nada bahagianya. ben dan simon membeku mendengarkan perkataan alex namun tak lama kemudian mereka menyadari sesuatu


"my grandson and your nephew" lirih simon


"that's mean...." ucap ben dan simon lirih dan melihat kearah irene yang masih memandang mereka santai


"Noooooooooo" teriak mereka sebelum mereka tumbang alias pingsan dan meninggalkan alex yang ketawa keras, irene yang tertawa kecil dan Jackson yang menangis kaget.


(pa paman ayo bilang halo pada cucu kalian dan keponakanku)


(cucuku dan keponakanmu)


(itu artinya....)


(tidakkkkk)


Hari telah berganti setelah kekacauan kemaren mereka telah diintrogasi dan menjawab semua pertanyaan yang diberikan simon maupun ben. Jackson saat ini telah dibawa ben kerumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lengkap sedangkan alex saat ini sedang berbaring di dalam kamar irene melihat irene yang sedang fokus kearah laptopnya itu.


"kau tau kabar dia...." kata alex lirih namun masih terdengar oleh irene. Irene mengalihkan tatapannya kearah alex dan menganggukan kepalanya


"bagaimana menurutmu...." kata alex masih dengan nada lirih


"semuanya telah terbongkar namun tetap saja terbongkarnya rahasia membuat mereka semakin down dan menyalahkan diri mereka terutama dia" kata alex


"akhirnya dia menandatanganni kau tau" kata irene yang diangguki oleh alex


"karena sudah selesai bahkan dia juga tidak peduli lagi dengan pekerjaannya... " kata irene memandang alex dengan senyumannya membuat alex mengubah posisinya menjadi duduk


"kita akan memberi mereka kesempatan dan menjemputnya" kata alex dengan senyuman lebar lalu pergi menuju kamarnya dengan aura bahagia. Sedangkan irene hanya tertawa kecil melihat keantusiasan alex


.


.


.


Di sinilah irene dan alex berada di sebuah taman perumahan elit dan melihat dua orang pemuda yang sedang duduk di kursi taman hingga salah satu pemuda tersebut pergi menuju toilet sedangkan pemuda lainnya duduk termenung dan jangan lupakan 3 orang bodyguard yang berada disekitar pemuda tersebut, irene dan alex melangkah kearah pemuda itu sebelum para bodyguard menghadang mereka dan tentu saja di lumpuhkan dalam hitungan detik oleh alex. Irene tetap berjalan menuju pemuda itu yang menatap lurus dengan kosong tepat saat irene berada didepannya, pemuda itu melihat kearah irene yang sedang tersenyum kepadanya


".... ciel sudah menunggu lama ya... Kaka minta maaf.... Kak ryry dan kak nat sudah pulang.... Kita pulang untuk jemput ciel, kakak Brian dan father..... Wanita jahat itu sudah pergi maka itu ayo kita pulang..." kata irene dengan senyum manisnya


Pemuda itu yang dipanggil ciel atau aciel melihat senyuman manis irene yang sama persis seperti saat kecil, wajahnya memang berubah sangat drastis namun senyuman manis irene yang sangat jarang muncul itu tetaplah sama seperti masih kecil maka itu aciel sangat yakin jika perempuan didepannya itu yang mengaku sebagai kakaknya benar benar kakaknya apalagi kebiasaan kakaknya yang dari dulu jika berbicara dengannya akan memakai kata kaka untuk memanggil dirinya sendiri.


"ciel Kaka dan kakak tidak akan pergi lagi, kita akan disini bersama ciel" kata alex seraya mengambil aciel kearah pangkuannya


"angin semakin kencang bagaimana kalau kalian pulang dulu, Kaka akan menunggu kakak Brian disini dan kita akan ketemu di rumah lagi" kata irene dengan sangat lembut, yang dijawab gelengan keras oleh aciel matanya pun mulai berkaca-kaca


"ciel kakak pastiin Kaka akan kembali dengan kakak Brian jika tidak kita akan pergi menjemput Kaka oke" kata alex dengan nada tegasnya. Perlu beberapa waktu hingga aciel akhirnya memberikan anggukan kepada mereka, alex dengan santainya mengangkat badan aciel kedalam gendongannya dan membawanya pergi kearah mansion davidson yang tidak jauh dari taman.


Sedangkan irene dia kembali duduk di kursi taman dan mengerjakan pekerjaannya seraya menunggu Brian tiba, tak lama kemudian Brian datang dengan sedikit berlari dan saat tidak melihat keberadaan aciel dia menatap panik sekitar taman.


"permisi apakah kau melihat pemuda yang duduk di kursi ini sebelumnya?" tanya Brian pada irene saat tak kunjung menemukan aciel


"ah..maksud kakak ciel?" tanya irene dengan santai dan mengalihkan pandangannya kearah Brian


"siapa kau?! Bagaimana kau tau nama adikku?! Dan dimana adikku?! " tanya Brian dengan nada tinggi dan melihat irene dengan pandangan tajam


"kau tidak perlu khawatir, dia ada bersama kakak lebih tepatnya kak nathan.......kak.... Clarry pulang" kata irene dengan senyuman manisnya kearah Brian. Sedangkan Brian dia mematung mendengar perkataan dan senyuman irene sebelum detik berikutnya memeluk irene dengan sangat erat.


"clarry.....ini kau... Ini benar-benar clarry adikku..... Dari mana saja kau selama ini?! Bagai.... Bagaimana dengan nathan?! Kalian baik?" kata Brian dengan beruntun seraya menarik irene hingga irene berdiri dan memutar-mutar badan irene


"we fine.... kakak ayo pulang... Mereka sudah menunggu kita" kata irene seraya menggenggam tangan Brian dan berjalan menuju mansion davidson.


Setibanya di mansion davidson, mereka dapat melihat banyaknya mobil yang terpakir. Brian bertanya tanya apakah ada acara yang tidak dia ketahui, sesaat mereka masuk Brian dapat melihat 2 keluarga besar bangsawan berada disana dengan Mr. davidson yang memeluk seorang pemuda yang Brian yakini adalah nathan dengan erat. ciel adalah orang pertama yang menyadari mereka, dia segera berlari kearah irene dan memeluknya dengan erat. Saat ini seluruh pasang mata melihat kearah mereka tidak lebih tepatnya irene yang sedang membalas pelukan ciel dengan senyum kecil di wajah cantiknya.


"oh..my...god...sweety kau tersenyum!" kata damian yang melongo melihat senyuman irene


Plak


"jangan berani berpikir begitu" kata alvin seraya memukul kepala damian


"ah... Kak jangan memukulku bagaimana jika IQ ku menurun gara gara kau pukul" kata damian


"kau pantas mendapatkan pukulan saat kau melihat anakku dengan pandangan ingin menculiknya" ucap simon yang memandang damian dengan sinis


"eh... Itu tidak mungkin sebelum aku melakukannya alex akan menerorku!" elak damian membuat alex yang namanya disebut memandang damian dengan pandangan tidak terima


"ini sebenarnya ada acara apa? Dan kenapa nathan dan clarry mengenal keluarga andreas?" tanya Brian yang bingung dengan situasi dirumahnya


"ah.. Kakak apa kabar?" tanya alex yang masih ada di pelukan erat mr. Davidson


"baik.. Tapi ini ada apa?" tanya Brian


"clarry melum mengenakan diri ya.... kakak aku akan mengenakan diri... Namaku alex andreas pewaris keluarga andreas dan clarry adalah irene andreas dan anak di kecil dipangkuan kakek andreas itu adalah anak yang irene adopsi namanya jackson" kata alex dengan santai sedangkan Brian yang mendengarnya melonggo tidak percaya dan mengalihkan tatapannya kearah irene yang kini sedang dipeluk oleh Mr. davidson erat dan Jackson yang sibuk bermain dengan Mr. andreas dan ketawa lucu dengan suara bayinya


"ah... Benar aku belum memberi tahu mu" kata tuan besar davidson


"kakek tau?" tanya Brian tidak percaya


"tentu saja, kau pikir bagaimana aku bisa tenang jika aku tidak tau dimana mereka" kata tuan besar davidson


"tentu saja kau tenang jika kau saja memaksaku untuk memberikanmu info mereka setiap 1 jam sekali" kata Marcus dengan sewot


"jangan begitu pada papamu marcus kau akan membuatnya darah tinggi nanti" kata Gilbert


"kau! Kau selalu saja membuatku emosi kemari kau adik nakal akan kupukul kau! Kemari!!" kata tuan besar davidson seraya mengejar sang adik yaitu Gilbert yang berlari tanpa sadar umur


"mereka ini benar benar.... Papa tidak ikut mereka?" tanya Caleb dengan nada santai membuat Mr. Andreas melihatnya tajam


"bilang apa kau barusan?! Fasilitasmu papa sita" kata Mr. Andreas membuat Caleb panik, Simon, Benjamin, Jimmy, Alvin, Jay dan Damian yang mengetawai caleb


"ini.... Berkumpul semua.... Lengkap" kata Brian


"kali ini akan kubantu untuk menjaga mereka Brian" kata Jeremy anak dari Marvin (anak kedua dari tuan besar davidson) yang seumuran dengan Brian


"aku juga akan membantu menjaga keluarga ini" kata Joshua anak dari Michael ( anak terakhir dari tuan besar davidson) yang berumur 3 tahun lebih mudah dari aciel.


Mendengar perkataan dua sepupunya itu membuat Brian memandang mereka dengan senyuman tulusnya sebelum kembali memandang dua keluarga besar yang sedang bercanda tawa bersama.


"nah sekarang para anak muda silahkan menepi kami para orang tua dan para bujang lapuk tak laku ini akan berbicara santai" kata Mr. andreas yang dibalas delikan oleh para orang dewasa yang masih belum memiliki pasangan yang didominasi dari keluarga andreas plus Marcus dan Gilbert sedangkan yang lain tertawa.


......................


...End...