
Sepertinya alex dan irene suka sekali membuat orang di sekitarnya ketakutan karena mereka sering sekali menghilang seperti saat ini, damian. damian putra bungsu keluarga andreas kini sekarang sedang melotot tidak percaya pada dua anak yang salah satunya mulai beranjak remaja itu, kegiatan damian awalnya berjalan dengan sangat normal dan saat damian yang ingin mengistirahatkan otaknya setelah mendengarkan penjelasan lama sang dosen dengan niat ingin kumpul dengan teman-teman nya yang sudah berada di kantin kampus kini hancur begitu saja saat melihat dua sosok anak kecil yang sangat familiar duduk di salah satu meja kantin dengan beberapa mahasiswa yang berbincang kecil dengan dua anak tersebut.
damian masih berdiri mematung di depan pintu kantin tanpa peduli mahasiswa lain yang melihatnya dengan aneh, setelah beberapa saat kesadarannya kembali. damian dengan cepat mengambil ponselnya dan langsung mendial nomor kakaknya untuk memastikan jika dua anak kecil itu adalah anak yang sama yang menjadi anak kakaknya.
"halo?"
" k....kak!" ucap damian dengan tergagap
"apa yang ingin kau katakan? Cepatlah aku masih ada perlu yang harus ku urus"
"a.. Apakah alex dan Irene tidak ada di rumah?" tanya damian dengan was was, setidaknya dia berharap jika kakaknya menjawab jika kedua anak itu ada di rumah
"bagaimana kau tau?! Apakah kau mengetahui dimana mereka?!"
Habis sudah wajah damian sudah memutih pucat dengan mata yang melotot kepada dua anak yang masih duduk dengan tenang di kursi kantin
"me.. Mereka ada di kantin kampus ku... " jawab damian dengan lemas
"A.... APA?!"
damian menjauhkan telinganya dari ponsel miliknya setelah kakaknya berteriak
"kau harus menjemput mereka kak, kau taukan kelas ku padat sekarang" kata damian masih dengan nada lemas
"kau jaga mereka disana! Aku akan kesana secepat mungkin!" mendengar Simon mengatakan hal itu damian secara refleks menganggukan kepalanya dan menutup teleponnya. Pandangannya kini mengarah kepada alex dan irene yang kini melihat menu makanan kantin dibantu dengan mahasiswa yang menjelaskan makanan apa yang mereka pilih, dalam sekali lihat damian tau jika kedua anak itu lapar dan dengan baik hatinya mahasiswa itu ingin membelikan alex dan irene makanan dengan membantu mereka memilih menu yang menurutnya cocok untuk dimakan dua anak kecil itu. damian menghelakan nafas pasrah sebelum mengambil langkah menuju alex dan irene, semakin dekat dengan mereka damian semakin jelas mendengar jika mahasiswa itu merekomendasi makanan yang menurutnya enak dan cocok untuk dimakan oleh mereka.
"bagaimana dengan ayam goreng ini? Aku menyukai makanan ini rasanya enak dan kupikir akan cocok dengan kalian" kata mahasiswa itu dengan senyumannya
" itu terlalu keras untuk gigi gigi kecil mereka itu, kau akan menghancurkan gigi mereka" kata damian dengan tajam membuat orang yang duduk di meja itu mengalihkan tatapannya kearah damian,mungkin seluruh orang di kantin melihat kearah damian.
"uncle!!" ucap alex dan irene dengan bersamaan melompat dari kursi mereka dan memeluk tubuh damian yang jauh lebih tinggi dari mereka
alex dan irene melepaskan pelukan mereka terhadap damian dan melihat satu sama lain dengan pandangan bingung, alex menggaruk pelan kepalanya seraya memiringkan sedikit kepalanya saat melihat kearah damian.
"tapi aku dan irene sudah ijin daddy" ucap alex dengan nada bingung dan damian yang terbelak kaget mendengar jawaban alex lalu merendahkan dirinya agar sejajar dengan tinggi alex dan irene
"kalian benar benar meminta ijin pada daddy kalian?" tanya damian dengan nada tidak yakin
"iya dan daddy menjawab iya" jawab alex masih dengan nada bingung
"lalu kenapa kalian tidak mengatakan pada uncle?" tanya damian dengan melihat mata alex dan irene
"itu karena uncle sedang menelepon dan mengendarai mobil dengan cukup cepat. Daddy pernah bilang jika daddy sedang menyetir dengan cepat kita harus diam agar tidak mengganggu konsentrasi daddy dan kita bisa tiba dengan selamat lalu daddy juga mengatakan jika ada orang yang sedang berbicara atau menelepon tunggu sampai mereka selesai dan uncle I'm hungry " kata irene dengan polosnya membuat semua orang di kantin sedikitnya ingin menculik irene apalagi alex yang menganggukan kepalanya membuat rambutnya yang halus itu ikut bergerak. damian menghembuskan nafasnya pelan lalu berdiri dan meraih tangan kecil keduanya.
"baiklah uncle akan memesankan kalian mashed potato dan Mac and cheese" kata damian seraya membawa tubuh kecil alex dan irene menuju meja yang diduduki oleh teman - temannya.
"aku titip mereka sebentar" kata damian kepada teman-temannya setelah membantu mendudukan alex dan irene di kursi kantin yang terbilang cukup tinggi untuk mereka lebih tepatnya irene, lalu berlalu pergi untuk memesan makanan untuk dirinya sendiri, alex dan irene.
Perlu waktu cukup lama untuk Simon tiba di kampus tempat kai berada, setidaknya kau bersyukur jika teman-temannya membantu dirinya untuk menjaga alex dan irene. Kantin yang awalnya tenang kini heboh dengan teriakan para perempuan yang berteriak entah karena apa kai tidak peduli tapi itu sebelum dia mendengar suara kakaknya yang memanggil nama dua keponakannya ini, memutar tubuhnya dan damian dapat melihat kakaknya dengan kemeja putih yang tampak acak - acakan kancing dua teratas terbuka, lengan kemeja tertekuk dan nafas yang tidak teratur. damian yakin jika kakaknya itu berlari untuk sampai ketempatnya.
"daddy!!!" teriak irene lalu melompat turun dari kursi membuat damian dan alex melotot kaget kepada irene yang kini sudah didalam pelukan erat Simon
"apa kalian terluka?! Bagaimana kalian bisa disini?" tanya Simon dengan panik seraya memutar tubuh irene untuk melihat dengan teliti apakah ada luka atau tidak di tubuhnya
"mereka bilang mereka sudah mengatakan padamu dan aku berspekulasi kau masih dalam keadaan belum sadar seratus persen" kata damian setelah membantu alex turun dari kursinya agar tidak melompat seperti irene, Simon melebarkan tangannya meminta alex untuk bergabung dalam pelukannya, alex segera berlari pelan hingga sampai di dalam pelukan hangat Simon.
"apa kau terluka boy?" tanya Simon yang dijawab gelengan kecil oleh alex yang masih berada didalam pelukan Simon. Simon berdiri dari posisinya seraya membawa alex dan irene dalam gendongannya
"kurasa mereka kelelahan, ya kalau dipikir pikir mereka berada disini selama 3 jam. Lebih baik kau membawa mereka pulang kak agar mereka bisa tidur dan tenang saja mereka sudah selesai makan" kata damian seakan tau apa yang ingin Simon tanyakan. Untuk sejenak Simon menghembuskan nafas lega setelah mendengar jika alex dan irene sudah selesai makan yang bisa dipastikan jika alex dan irene sudah tertidur setelah merasakan beban dibahunya semakin memberat.
"baiklah, belajarlah dengan sungguh sungguh kakak pulang" kata Simon lalu berlalu pergi dengan alex dan irene yang sudah tertidur di gendongannya dan tidak memperdulikan mahasiswa maupun mahasiswi yang melihat kearahnya dengan tatapan terpesona.