The Journey

The Journey
Masa Kecil 2



"Jika ada jalan di depan mu, meski hanya setapak kecil nan sempit, ambil langkah mu"


Flashback on


Kring kring kring...


Bel pertanda memulainya aktifitas belajar mengajar berbunyi. Satu persatu siswa melangkah menuju ruangan kelas masing- masing. Tidak dengan gadis kecil itu. Masih terpaku menatap bangunan kecil yang akan menjadi tempat belajar tiga tahun ke depan.


Bangunan itu terlihat lusuh, tidak bertingkat. Tiga ruangan yang diyakininya sebagai ruangan kelas 1, 2 Dan 3 berjejer menghadap jalan besar didekat pantai. Tanpa Ada pagar pembatas sekolah, gedung itu menatap lurus Laut lepas didepannya. Disamping gedung terdapat tiga ruangan lain berjejer. Satu ruangan seperti gudang tak terpakai, satu lagi terlihat seperti ruangan perpustakaan namun tidak ada keterangan di depan pintunya. Dan yang terakhir terlihat cukup besar merupakan ruangan kepala sekolah, merangkap ruangan kurikulum, Tata usaha dan ruangan guru.


Didepan bangunan terdapat sebuah papan kayu yang bertuliskan SMPK 6 ROKATENDA . Papan itu berada tidak jauh dari tiang bendera dengan Sang Saka berkibar diatasnya. terdapat halaman luas di depan ruangan kepala sekolah. Pemandangan ini tidak begitu indah sebagaimana SMP impian semua anak. Akan tetapi ini cukup bagi Line untuk belajar. Yang menjadi pusat perhatian Line adalah pinggiran pantai dengan pasir putih memanjang di depan Sekolah itu.


"Yap, ini akan menjadi tempat belajar ku, " pikirnya dalam hati.


Gadis itu berambut ikal panjang sepinggang, diikat kuda, dengan baju kaos berkerah warna putih dan celana jeans berukuran selutut. Penampilannya masih acak adul seperti anak-anak tomboy yang lain. Sendal gunung bertali banyak terjepit rapih di kaki. Wajah kecil ber bentuk oval polos tanpa alas bedak, mengenggam satu buku tulis ditangan dengan sebuah pulpen diselipkan di selah rambut yang diikat.


Dengan penuh percaya diri melangkah menuju ruangan kepala sekolah untuk mendaftarkan diri sesuai pesan kepala sekolah SMP tersebut beberapa hari yang lalu. Masih teringat jelas bahwa dirinya harus melaporkan ulang kehadiran kepada pihak sekolah.


Di hari Sabtu pagi, di ruangan perpustakaan SD Line.


"Line, kamu itu anak yang pintar. Ayo bergabung di SMP pante. Bapak yang akan menjamin kamu diterima. Dan line hanya perlu melaporkan ulang jika line termasuk murid baru disekolah."


Pak Vinsen, seorang kepala sekolah SMP satu-satunya di pulau Line waktu itu, mengajak Line untuk melanjutkan studi, ketika beliau mendapati Line sedang menjaga perpustakaan di sekolah dasar Line.


"Tapi pak, saya tidak ada uang, dan saya juga belum memiliki seragam SMP. Bagaimana saya bisa bergabung?" Line yang menyadari keadaan dengan sungkan menjawab pernyataan Pak Vinsen.


"Untuk masalah itu, tidak perlu khawatir.Sementara kamu bisa menggunakan pakaian bebas untuk sekolah. Karena kebetulan sudah seminggu semester ini berjalan. Biarlah mama Line yang membelikan ke kota. Untuk masalah uang, kamu hanya perlu usaha untuk menjadi juara umum. Lalu kamu bisa bebas biaya sekolah." timpal Pak Vinsen seakan berusaha meyakinkan Line.


Sorot mata antusias dan bahagia tampak jelas di mata Line. Senyum bahagia itu tidak mampu disembunyikan. "Akhirnya, bisa belajar lagi" Hatinya seolah berdansa riah.


"Baik Pak, terima kasih atas kesempatan ini." Dengan cepat mencium tangan Pak Vinsen dan mohon ijin untuk kembali ke rumah dan memberitahukan kabar ini kepada orang tua Line.


Berlari menuju kebun tempat bapak dan mamanya bekerja sehari-hari. Setelah memberitahukn kabar tersebut, Line dan keluarga menyiapkan barang Line yang tidak seberapa untuk dibawa Line tinggal di daerah pantai dekat SMP barunya. Line memutuskan untuk masuk ke sekolah baru pada hari selasa. Karena Line belum memiliki seragam sekolah dan tidak bisa mengikuti upacara senin tanpa seragam biru putih.


tok tok tok


"Permisi, mohon maaf saya Line Emero Pio, murid baru di sekolah ini. Saya diminta melaporkan diri disini sebelum ke kelas." Ucap Line saat dirinya berada dalam Ruangan kepala sekolah.


"Oh iya. Line. Kita pernah bertemu sebelumnya. Masih ingat Pak Alo kan?" jawab seorang guru yang jelas diingat Line karena beliau sering menjadi juri perlombaan yang diikuti Line semasa SD.


Belum sempat menjawab, Pak Alo kembali menyampaikan bahwa beliau sudah mendapat pesan dari kepala sekolah perihal akan adanya murid tambahan dari daerah gunung. Beliau juga menjelaskan bahwa beliau adalah wali kelas Line, sebelumnya beliau berpikir bahwa Line akan ikut kegiatan sekolah mulai hari senin. Tapi Line tidak hadir.


"Baiklah, karena kamu sudah datang, ayo ikut bapak ke kelas, pendaftaran mu sudah dilakukan oleh kakak ipar mu kemarin. " Ajak pak Alo sambil mengangkat buku dari meja dimana beliau tadi berdiri. Saat hendak meninggalkan ruangan, seorang guru datang sambil melemparkan senyum hangat kepada Pak Alo dan memasuki ruangan. Line menunduk hormat dan mengekori Pak Alo hingga ke ruangan kelasnya.


Di dalam ruangan


"Selamat pagi Pak", serentak suara para siswa-siswa menyambut kehadiran Pak Alo. Tampak muka penuh tanda tanya dari para murid ketika melihat ada gadis dengan pakaian biasa dan pulpen terselip di rambut memasuki ruangan kelas. Banyak diantara mereka yang tidak mengenal Line. Kecuali tiga murid yang diam-diam memandang line hangat.


" Selamat Pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan siswi baru. Silakan perkenalkan diri. " Kata pak Alo.


"Selamat pagi semuanya. Nama saya Line emero pio. Bisa di panggil Line. Dan saya dari SDK Cawalo. Terima kasih." Line memperkenalkan diri singkat.


"Silakan Line, kamu bisa mengambil tempat duduk kosong di belakang itu" Kata pak Alo sambil menunjuk kearah yang dimaksud. Mata Line tertuju ke arah yang ditunjuk dan terukir senyum tipis di bibir line. "Setidakanya, saya duduk disamping Didi " Gumamnya kecil sambil melangkah menuju kursi dan disambut hangat oleh tangan sahabat sekaligus teman duet dalam berlomba mewakili kecamatannya.


"Hey. Selamat bergabung menjadi orang pantai". Singkat ucapan Didi dan hanya dibalas anggukan oleh Line. Kedua siswi yang duduk di meja kedua di depan Line berbalik dan berbisik pelan. "Selamat datang." Keduanya merupakan teman Line yang dikenal saat mengikuti perlombaan antar SD dan menjadi sahabat sejak itu. Line hanya tidak menyangka bahwa, ketiga siswa pandai tersebut akan sekolah di kampung dan bukan di kota.


Pelajaran selesai dan waktu istirahat pun tiba.


Line diajak ketiga sahabatny, Vin, Diana dan Didi untuk menjajaki beberapa kios kecil yang menjual minuman serta makanan ringan. SMP Line tidak memiliki kantin sendiri jadi para siswa akan berpencar mencari jajan di daerah perkampungan di sekitar sekolah. Setelah selesai dan kembali melanjutkan pelajaran hingga selesai.


Kegiatan belajar mengajar berjalan semestinya . Line sudah mengenal lingkungan sekolah, tempat tinggal barunya. Line juga sudah mengenakan pakaian biru putih dan pramuka serta seragam olaragah. Hanya satu yang belum berubah. Menenteng buku ditangannya.


Tiga tahun berjalan. Line belajar keras hingga mampu menjadi juara umum di SMP dan mendapatkan beasiswa bebas biaya sekolah hingga selesai. Meski sesekali Line harus bertukar posisi dengan Didi yang notabenenya adalah murid pintar. Semua berjalan lancar, sesekali Line pulang ke desa guna mengambil air minum. Dikarenakan di area pantai, kebanyakan penduduk mendapatkan air minum dari rebusan air sumur yang terasa agak asin. Line tidak terbiasa dengan itu, sehingga menyiapkan sendiri air dari desanya yang merupakan air suling.


Air suling adalah air yang didapati dari hasil penyulingan uap bumi menggunakan bambu dan ditampung di dalam jerigen penampung air. Tidak semua desa di area gunung memiliki daerah penyulingan ini. Hanya di desa Line yang masih rajin menyuling air. Proses pembuatannya tidak mudah. Mulai dari menyiapkan bambu berkurang besar untuk ditancapkan kedalam galian yang memiliki uap bumi. Lalu bambu berkurang sedang panjang yang akan ditancapkan pada bagian tengah bambu berukuran besar sebagai perantara dalam mengubah uap menjadi tetesan air yang akan jatuh dari ujung bambu berukuran sedang yang sengaja dibuat runcing, dan tetesan air yang jatuh akan ditampung di dalam jeringen penampung air yang sudah di siapkan. Pada dua hari di awal penyulingan, air suling akan dibuang karena mengandung banyak bau belerang dan rasanya tidak sedap. Namun setelah itu, air bisa dikonsumsi sebagai air minum tanpa harus melalui proses masak.


Kegiatan mengambil kayu bakar dari desanya juga Line jalani selama tiga tahun perjalanan sekolahnya. Hingga UN tiba dan menentukan nasib siswa-siswi kelas tiga yang hanya berjumlah 25 orang tersebut. Pada upacara kelulusan. Line mendapatkan skor terbaik untuk SMPnya. Namun, tingkat kelulusan SMP line terhitung rendah. Dari 25 siswa yang lulus hanya 9 siswa. Line dan ketiga sahabatnya serta 5 teman mereka yang lain.


Suasana haru menyelimuti saat itu, ratap tangis beberapa siswa juga terdengar. Line hanya bisa berpamit kepada teman-temannya dengan berpeluk hangat dan kembali ke kediamannya dengan wajah senduh. Bukan tidak bahagia, namun melihat kegagalan dari mereka yang berjuang bersama ternyata begitu menyayatkan hati. Mereka bahkan sudah saling merencanakan kepergian ke kota bersama untuk studi di tingkat SMA. Tapi rencana, tinggal rencana. Kadang, memang sulit mengubah garis, meski diri teguh berusaha. Atau, mungkin masih kurang keras memaksa kemampuan diri.


Mengingat masa kecilnya itu, dengan tarikan napas pelan Line berpikir dalam hati. " Jika saja, tidak ada malaikat dalam wujud manusia seperti Pak Vinsen berkunjung ke SD Line saat itu, mungkin sekarang Line hanyalah gadis desa yang sedang duduk di baranda rumah sambil menenun ikat atau seorang ibu rumah tangga yang pulang kebun sambil menenteng kayu bakar ". Perubahan pilihan hidup yang ditawarkan padanya saat itu, menjadikan Line yang sekarang.


Flashback off


*****


***Untuk gambar air suling dapat dilihat di internet.๐Ÿ‘‰ " Proses penyulingan air di pulau palue"๐Ÿ‘ˆ


*Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan. hehe. Author masih baru**.


*Kritik dan saran sangat dibutuhkan๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š