The Journey

The Journey
Abu-Abu Kelabu 2



"Berterima kasihlah pada diri, memungutmu ketika jatuh, menopangmu agak tetap tegak bertahan, meski kerap menjadi alasan. Sudahkah?"


__________


*Kring kring kring


Kring kring kring


Kring kring kring*


Benda kecil berwarna hitam biru, tegeletak disamping bantal bermotif bunga itu berbunyi. Lagi dan lagi. Namun wajah kecil itu masih terbenam rapat menempel di bantal.


*Ting


Ting


Ting*


Bunyi notifikasi menandakan bahwa ada pesan yang masuk. Tapi tetap saja. Tidak ada keinginan membuka pesan demi pesan di ponsel butut miliknya.


Masih terdiam dengan sesekali isak suara yg sengaja ditahan melengking menyapa udara.


Sesak yang dirasakan, keputusan yang telah diambil, masalah yang seolah mengakhiri seluruh mimpinya, menghantam jiwa mungil itu dengan keras.


Semakin melarut ketika segerombolan memori bergentayangan di benak. Sosok kecil yang berusaha kuat sampai sejauh ini, rapuh. Bayangan setiap senyuman orang terkasih ketika pertama beranjak menuju kota. Setiap dukungan itu, bagaimana mempertanggungjawabkan. Ah. Seperti ditusuk seribu pedang dilema.


Tersadar dari tidurnya akibat kelelahan menangis beberapa jam yang lalu, Line beranjak menuju kamar mandi guna membersihkan badan. Setelah aktivitas mandi dan berganti pakaian, Line bergegas ke dapur mencari sisa masakan pagi tadi.


Hari sudah malam, tapi Line tidak menemukan teman-teman asramanya, yang dipikirnya berada di asrama karena sedang dalam masa ujian semester.


Berjalan menuju dapur dengan menoleh ke berbagai arah mencari keberadan teman-temannya.


"Apa mungkin mereka sedang berdoa bersama? ' pikirnya dalam hati.


Lokasi doa bersama bagi anak-anak asrama terletak di depan asrama. Ada gua kecil khusus untuk berdoa dengan sebuah patung kudus di dalam gua tersebut. Wajar Line berpikir demikian karena Line sedang berada di bagian paling belakang asrama.


Setelah mengisi perutnya, Line kembali ke kamar dan kembali bersembunyi di balik kain tenun miliknya. Semangat untuk bergabung bersama teman asramanya pun lenyap.


Diangkatnya ponsel kecil miliknya. Line berpikir untuk segera memeberitahukan kepada salah satu kerabatnya mengenai masalah yang sedang dialami.


Belum sempat melakukan panggilan, kini mata Line semakin berair. Line mematung membaca setiap pesan yang ada di ponselnya.


"Line, angkat teleponnya kah," _ Richard


"Nona, besok masuk saja kata bu Mia. Ingat perlombaan yang kita wakili. Ayo kembali", _ Devi.


" Line, ko jahat. Ko belum pamit dengan sa. Ko dimana.? " _ Lilis


"Masih di asrama atau di tempat mama kecilmu? Kasih tau sa. Biar sa pergi. " _ Lilis


"Ayo sudah, besok ko ikut lagi. Hari ini biar jadi susulan. Ujiannya baru 2. Kami tunggu. " _ pak ketua.


"We manusia, ko buat sa dengan lilis sakit hati sekali, jadi ko benar-benar tidak masuk satu minggu penuh kemarin karena begini. Ewa, ko tega sekali a. " _ Yanti


"La'i. Ko masuk besok ew. ibu Mia bilang tidak apa-apa. Nanti dia yang tanggung jawab. Jagan begini ka. Kita kurang anggota . Saya dengan Devi tidak bisa ikut Lomba sendiri. Nanti kita kala seleksi sama kelas aksel." _ pak ketua


"Line, ko ternyata tidak sakit. Ko bisa buat keputusan begini. Kami tunggu ko besok. Lilis menangis tadi. Kami semua sedih pas ibu Mia kasih pengumuman di kelas. Balik su besok. Jangan berhenti. " _Joe.


"Lamen, sebentar saya cari ko di asrama. Awas kau tidak ada. Sa dengan Didi nanti." _ K Tito.


Setiap pesan dibuka satu persatu. Menangis lagi dan lagi. Rasa bersalah karena tidak sempat berpamitan dengan baik kepada teman kelasnya dan sahabat-sahabat di sekolahnya, membuat Line semakin terpuruk. Sesuatu yang tajam tanpa wujud menusuk hatinya.


Bertelungkup menangis sambil memegang erat ponsel miliknya. Keinginan untuk menelpon kerabatnya lenyap, bahkan untuk terus membuka pesan yang masih tersisa di kotak masuk miliknya, Line seperti tidak bertenaga lagi.


Dunia seperti tidak adil baginya. Satu-satunya jalan untuk merubah hidupnya adalah dengan pendidikan. Setidaknya, itulah yang dibilang orang banyak. Tapi Kenyataan yang diterima, meski tergolong mampu dalam hal belajar, tetap saja masih kurang.


Semakin perih memikirkan arahanya kedepan. Entah apa yang akan dia lakukan. Bagaiamana tanggapan orang tuanya. Apa yang akan dipikirkan orang sekampungya, dan seberapa kecewa teman kelasnya ketika besok mereka mendapati Line kembali tidak ikut ujian. semua ini, berperang dalam dirnya.


*Kring kring kring


Kring kring kring*


Ponsel yang digengam berbunyi, seketika menyadarkan Line dari kesedihannnya.


"Halo." Line jawab singkat setelah menekan tombol bersimbolkan gagang telepon berwarna hijau.


"Kami di depan asrama. Di teras. Keluar dulu' jawab seseorang dibalik telepon.


Tanpa berpikir panjang. Line keluar menuju teras asramany. Sambil menyekah matanya. Line memandang lurus keluar jendela yang terlihat jelas seseorang sedang memandangnya dari balik jendela.


Dibukanya pintu asrama, dan dalam sekejap Line sudah membekapkan diri dibalik tubuh lelaki berbadan porsi sedang tersebut.


"Sudah, sudah." Lelaki itu menghapus air mata Line.


"Didi sudah cerita semuanya, kenapa tidak cerita dengan kaka? " Tambah lelaki tersebut.


"Maaf" Jawab Line dengan masih sesekali menjatuhkan bulir putih sambil melirik ke arah Didi sahabatnya yang tengah duduk di kursi tamu.


"Hmm, tidak apa-apa, kalian lanjut saja seolah saya tidak ada," Timpal Didi kesal.


"Capek-capek kesini cuma buat liat ko menangis" Tambah didi sambil menyodorkan gorengan yang dibawah.


Line mengambil gorengan, sebelum itu memeluk sahabatnya.


"Terima kasih." Ucapnya sambil berusaha menampilkan senyuman palsu.


"Sana bikin kopi, sa dengan Tito masih lama di sini. Lagian ko sendirian. Teman-temanmu sepertinya masih di sana ."


Didi memberitahukan sambil menunjuk ke arah rumah yang sedang beramai pengunjung, Line beranjak menuju dapur menyiapkan jamuan sederhana untuk kedua tamunya.


Line menyiapkan kopi hangat kesukaan kedua sahabatnya, setidaknya itu yang dianggap Line selama ini. Berbeda dengan salah satu dari mereka yang menaruh Line pada harapan khusus. Harapan yang masih ditahan hingga kini, walaupun kerap secara terbuka menunjukan perasaannya.


Ketika ditanyakan mengenai kepastian untuk ikut ujian, jawaban Line masih tetap sama. Bagaimana tidak, Line sendiri yang sudah menghadap pihak sekolah untuk memutuskan semua masalahnya sampai disini.


Line kemudian menjelaskan bahwa jika memang harus kembali setidaknya Line harus membayar uang semester sebelum hari ujian. Sedangkan saat ini sudah masa ujian. Merasa dirinya tidak bisa melunasi biaya sekolah. Line memutuskan untuk berhenti sekolah tanpa menceritakan kepada orang tuanya terlebih dahulu.


"Yang saya khawatirkan, tanggapan bapa. Beliau yang paling semangat dengan sekolah ku. Ya. Mama mungkin akan kecewa, tapi mama paling pengertian. Huft! " Menghela napas dan memandang jauh kedepan kegelapan malam di depan asramanya.


Melihat sahabatnya kembali sedih, Didi langsung berinisiatif mendekati Line untuk menenangkan Line. Namun belum juga terlaksana, Tito sudah berada disamping Line dan memberikan rangkulan hangat.


"Huh, mencari kesempatan. Dasar perebut"


Setidaknya itu yang dipikirkan Didi dalam hati. Mengutuk sahabat lelakinya yang dianggap merebut Line darinya.


"Harusnya, saya tadi kesini sendirian" Didi akhirnya bersuara.


Mendengar itu Line yang sedang murung berubah terkekeh seperti tidak ada masalah.


"Buahahahaha. Ko cemburu Di, hahaha. Sini sini" Line melepaskan rangkulan Tito dan menaruh tangannya di bahu Didi. Bergelayut manja seperti biasanya.


Melihat kelakuan Line, Didi mengenyir jahat menertawakan Tito. Sedangkan Tito hanya bisa mengutuk Didi.


"Bukannya kalian sudah berteman dari kecil, belum puas juga? His. Ko juga sudah ada cewe, biarkan Line dengan saya". Tito mengerutu kesal sambil menghabiskan kopi miliknya.


Line yang tidak menganggap ucapan Tito hanya tertawa menyaksikan tingkah aneh keduanya.


"Bagaimana kedepannya, ko akan tetap tinggal di asrama ini?" Tanya Tito yang masih kesal dengan sikap Didi yang sedang memintal rambut Line sambil sesekali meneguk sisa kopi miliknya.


Line menjelaskan rencananya untuk kembali kembali kampung. Karena baginya tidak ada guna baginya tetap tinggal di kota.


Memutuskan sekolah dan memilih kembali kembali kampung adalah keputusan yang sangat berat buat Line. Bagaimana tidak, belum juga setahun menggeluti masa putih abu-abu, sudah harus membalikan badan, meninggalkan semua mimpinnya. Merasa tidak direstui oleh keadaan untuk melanjutkan kecintaannya dalam menimbun ilmu dibenak dan jiwanya, Line merasakan sakit teriris bagai sembilu.


Line kemudian melanjutkan bahwa beberapa waktu sebelumnya, Line sudah bertemu Pak Yohanes, wakil kepala sekolah saat itu. Line berharap akan ada keringanan, namun ternyata waktu yang diberikan hanya seminggu sampai sebelum waktu ujian berlangsung.


Line terpojok dalam ketidakberdayaanya. Bagaimana tidak, kekurangan biaya pendidikan berdampak pada kelangsungan sekolah Line. Line berharap bisa melunasi setelah mengikuti perlombaan, itulah yang Line rencanakan dan utarakan kepada pak Yohanes namun nihil. Line akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah.


Mendengar itu, Tito semakin iba akan apa yang dihadapi Line. Sosok gadis yang baginya luar biasa kuat, ternyata sesulit ini plot hidupnya. Sedangkan Didi yang sudah mengetahui jelas masalahnya, hanya terus memainkn rambut panjang Line yang sudah dipintalnya.


"Ya sudahlah, saya akan kembali ke kampung. Mungkin seminggu lagi. Saya juga harus berpamitan ke ibu Mia. Beliau mungkin kaget dengan ini." Ucap Line diselah ceritanya.


"Kalau begitu, saya temani ke rumah ibu," Tito yang merasa tidak punya banyak waktu lagi bersama Line langsung menawarkan diri.


Mengerti akan keadaan itu, Didi tidak ingin berdebat dan mengiyakan keinginan Tito.


"Kalian bisa pergi bersama. Saya mau belajar buat ujian," Timpal Didi dengan tatapan tajam ke arah Tito


"Kalau ko tidak unkap kali ini, jangan salahkan saya jadi pengganggu"


Didi bergumam dalam hati seolah berharap Tito menangkapnya melalui tatapan dinginnya. Tanpa Didi sadari, Tito telah merencanakan hal yang sama.


"Baiklah, tapi lusa ya, Saya masih ada urusan besok. Mau ke tempat mama kecil. Mungkin mama bisa memberikan saran untuk jelaskan ke bapa di kampung." Line kemudian menjelaskan karakter bapaknya yang mungkin akan susah menerima kondisinya saat ini.


" Baiklah, besok saya antar. Tidak ada tapi-tapian." Tito merasa perlu menghabiskan lebih banyak waktu bersama gadis yang disukainya, karena tidak tau apa yang akan disuguhkan waktu tentang mereka dimasa datang.


"Oke" Hanya itu yang keluar dari mulut Line.


"Kami balik dulu, ini sudah malam." Didi mengatakan sambil beranjak dari duduknya dan mengibaskan pintalan rambut Line yang sedari tadi dipegangnya. Tidak disadari waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


Keduanya kemudian beranjak menuju motor milik Tito yang terpakir depan asrama.


"Daaa, besok saya jemput setelah pulang ujian" Ucap Tito sambil melajukan motornya menjauh. Line memandang keduanya menghilang dan berjalan menuju rumah tempat latihan bernyayi setalah menyimpan gelas dan piring kotor di dapur.


Malam itu terasa tenang, setelah beberapa waktu terakhir obat tidur Line adalah kelelahan sehabis menangis. Tidak dengan malam ini, sedikit lega, dan tenang. Line tertidur pulas setelah kembali dari latihan koor. Terlelap dalam harapan sendiri, semoga hari esok bisa sedikit bersahabat dan memberi ruang yang cukup untuk Line bernapas diselah kesulitanya. Sebelum tidur Line sempat mepertimbangkan beberapa hal.


"Semua akhir-akhir ini seperti ingin mengerogoti seluruh semangatku, Saya harus bisa memampah diri sendiri, jika tidak bagaimana saya menghadapi bapa"


Pikiran Line kembali terbayang potongan-potongan emosi sang bapak yang sangat dicintainya. Membayangkan kekecewaan cepat atau lambat akan Line sematkan di hati bapaknya, seketika resa menguasai jiwa rapuhnya. Tidak mau membiarkan dilema mengambil alih kesadarannya. Line memutuskan untuk tidur. Jika sudah tertulis, tidak ada salahnya melanjutkan sampai akhir.


***********


*Nona : sapaan untuk anak perempuan.


*ko : kau/Kamu/engkau


* Ewa : mengaduh dalam istilah di tempat


Line


* la'i/ lamen : sebutan untuk laki-laki. kerap


kerap dipakai untuk memanggil


yang bergaya tomboy.


*Mama kecil : adik perempuan ayah atau ibu.


[ Dear readers, terima kasih untuk segala dukungan yang diberikan. mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam menusil dan mengekspresikan cerita.


jika ada kebingungan mengenai penggunaan


AKU & SAYA, sebenarnya novel ini berlatar 2 tempat yang berbeda karena beralur maju mundur. yang mana tempat yang satu lebih lazim menggunakan salah satu kata tersebut.


untuk waktu up. masih disesuaikan dengan beberapa kondisi author. MOHON KRITIK DAN SARAN agar author dapat memperbaiki tulisannya.


terima kasih, sudah mengerti 😍


aku padamu 🖤


Salam dari saya,


MARR LINE ]