
"Goresan pertamamu, mungkin tak sengaja ditulis oleh tangan orang lain. Ikuti arus atau mengubah jalur? "
Hari- hari berlalu seperti biasa. Membuka mata dan menatap keluar jendela kaca kamar yang sengaja tidak ditutupi sehelai gorden adalah awal favorite. Menatap langit luar jendela kamarn dan hijau pohon diseberang kos, jiwanya seolah berada di dunia milik pribadi. Mengagumi alam baginya lebih indah dari mengagumi kaum berbidang dengan sobek dimana-mana.
Kamar itu berukuran 3 x 4, dengan salah satu bagian dinding terluar merupakan sebaris kaca besar. Kamar berukuran minimalis di lantai dua kos itu membuat line harus memutar otak untuk menata. Tidak banyak barang di dalam kamar tersebut, kain jendela disingkirkan guna memberi kesan luas. Lemari kayu ukuran sedang menampung pakaian yang tidak seberapa. Kasur kecil tentu ada di sudut ruangan. Disamping kasur terlihat meja kecil dengan foto seorang gadis memegang toga diapit oleh dua orang yang tidak lagi muda. Dinding kamar dipenuhi gantungan rak buku yang berisikan buku-buku . Bagi yang baru berkunjung akan mengira tempat tersebut adalah perpustakaan mini.
Ya. Bagi Line, buku-buku adalah koleksi kesayangan. Disamping lemari terdapat meja berukuran mini dengan sebuah laptop dan sebuah tas yang seolah rapi siap dibawa pergi sang tuan. Entahlah, apa isinya. Sebuah cermin berukuran sedang tergantung didekat lemari. Jangan ditanya soal make-up. Gadis kecil itu, sehari-hari hanya menggunakan bedak baby dan lip gloss. Jangankan full make-up, garis alis saja langsung berubah bentuk jadi sincan. Hehe, rasanya itu kelemahan terbesar yang sulit dipecahkan. Lebih baik mencari jarum di tumpuhkan jerami dari pada mendalami ilmu sihir percantik paras. Prinsip hidup seorang Line.
Wajar, kehidupan tomboy masih melekat dalam diri Line seperti gula dan kopi
Eh?
Kenapa tidak sepert lem?
Sudah basih!
Author berperang dengan diri sendiri. hehe
Line memang sudah lulus kuliah S1 dibidang pendidikan bahasa Inggris. Tapi memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan yang ditekuninya selama kuliah. Yap, jadi admin dan instruktur di lembaga bahasa milik kampus. Sering kali, Line akan diminta untuk menjadi interpreter di acara yang bersifat bilingual. Itulah kehidupan yang dijalani gadis kecil itu di kota besar selama satu setengah tahun setelah lulus.
Kalau mau dibilang enak, ya enak. Dengan gaji yang cukup baik, Line bisa menghidupi diri sendiri serta membantu keluarganya teutama urusan sekolah ketiga kurucaci kecilnya. Kenapa harus Line? , karena sebagai anak bungsu dan satu-satunya yang memiliki tingkat pendidikan lebih baik dari keempat kakaknya mengubah Line menjadi tulang punggung keluarga. Dan Line tidak ingin keponakannya mengalami masalah yang pernah dilalui Line. Mencapai kehidupan sekarang itu tidaklah semuda membalikan telapak tangan.
Flashback on.
Line kecil merupakan anak yang lumayan pintar. Di usia 3 tahun dirinya sudah lancar dalam hal menulis ataupun membaca. Untuk hal ini, thanks to Line's grandma. Beliau yang telah mengajari dan bukan orang tua Line. Di usia 4 tahun, Line mulai bergabung di sekolah dasar. Tentu saja, bukan sebagai murid resmi. Hanya ikut-ikutan, dikarenakan bisa membaca Dan menulis. Ditambah lagi, peraturan saat itu tidak menerima murid berusia di bawah 7 tahun dan tidak ada PAUD atau TK di kampungnya.
Line tetap jadi murid palsu di sekolah sampai umur 7 tahun dan mulai resmi hingga tamat. Karena mengetahui keluarga yang kurang mampu, Line bahkan tidak berkeinginan untuk melanjutkan studi ke tingkat SMP. Teman-teman Line pergi ke kota untuk mendaftar dan pulang dengan raut wajah puas. Bagi Line, menjadi penjaga perpustakaan dan kerja di kebun sudah cukup.
Salah satu sahabat Line yang penasaran karena Line yang termasuk dalam lulusan terbaik tingkat SD kabupatennya datang menghampiri Line di rumah.
Di kampungnya, penduduk selalu menggunakan Bahasa Lua dalam berkomunikasi kecuali terhadap pendatang atau pengunjung.
"Oa kaa noo." (Tidak ada uang),
Jawabnya ketus. Karena bagaimana pun, ditinggalkan sahabat-sahabatnya memberikan keluh di hatinya.
"Molo u sai, aku leku neti poi kau buku ko libur nggili." (Baiklah, aku nanti bawakan kamu buku kalau liburan tiba) Timpal Ndole, sahabat lelakinya seolah menenangkan. Karena mereka tahu, Line paling suka membaca.
Keputusan yang diterima Line bukan sepenuhnya kemauan Line. Melihat kedua orang tuanya yang enggan membicarakan kelanjutan pendidikan sang anak, akhirnya Line hanya bisa berpasrah dan menjalani. Dia pun tidak ingin membebani keluarganya, sedangkan dia mengerti betul bagaimana kehidupan mereka.
Semua berjalan semestinya. Pagi-pagi Line harus memasak. Setelah itu, Line langsung pergi ke SD untuk menjaga perpustakaan sesuai permintaannya kepada kepala sekolah kala itu. Beliau mengijinkan karena Line sudah pernah mengharumkan nama sekolahnya selama masih sekolah. Hari berganti, teman-teman Line sudah pergi ke kota untuk sekolah. Kampung yang ramai, seketika sepih bagi Line. Line bahkan tidak melakukan demo kecil kepada orang tuanya dan bersikap seolah baik-baik saja. Hingga suatu pagi, rasanya sang Khalik bosan dengan sikap pasrah Line dan mulai berbicara dengan caranya. Selalu ajaib.
Flashback off.
*******
***Bahasa Lua (dibaca Lu'a) merupakan salah satu bahasa lokal dari Indonesia bagian Timur. Author sengaja menggunakan sebutan nama bahasa menurut istilah daerahnya.
* Bilingual; mengandung 2 unsur bahasa
*thanks to Line's grandma: terima kasih atas jasa sang nenek.
*Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan. Masih pemula, kritik dan Saran sangat diibutuhkan.
* semoga tidak bosan membaca 💚💙**