
Sedangkan di belahan bumi lainnya baik alex dan irene benar benar tidak meninggalkan ben dan simon barang sedetik pun sehingga membuat ben maupun simon kesusahan jika hanya ingin kekamar mandi namun itu tidak membuat mereka emosi justru membuat ben dan simon terkekeh lucu dan gemas saat irene dan alex mengikuti mereka seperti anak ayam.
Setelah bangun dari tidurnya, baik alex dan irene menyadari jika kamar yang mereka tempat adalah kamar simon Karena di lihat dari dekorasi dan hiasan yang berkaitan tentang musik beda dengan kamar ben yang penuh dengan alat gamers dan kedokteran. alex dan irene bergandengan tangan dan pergi bersamaan mencari ben ataupun simon dan tidak memperdulikan keberadaan keluarga andreas yang lain yang menatap mereka dengan risih dan sedikit takut jika mereka memancing emosi dua anak tersebut.
"kenapa mereka berada disini?" kata jimmy dengan berusaha menyembunyikan nada takutnya
"ntahlah tapi yang ku tau, aku tidak mau bermain main dengan mereka" jawab pemuda yang berada di sebelah jimmy
"caleb benar jim, jangan bermain main dengan mereka. Melihat mereka membunuh orang seakan terbiasa itu memperlihatkan jika mereka dibesarkan untuk itu" kata pemuda yang sedari tadi fokus dengan laptop di pangkuannya
"tunggu tunggu ada yang bisa mengatakan padaku siapa mereka?" tanya pemuda yang memandang alex dan irene dengan penasaran
"mereka anak anakku" jawab simon yang entah sejak kapan sudah duduk di sofa dengan irene di pangkuannya dan alex yang berada di antara simon dan ben
"anak? Kau sudah punya anak?! Kapan?!dan kalian tidak memberi tau ku?! Siapa mama mereka?! Nama mereka?! " pertanyaan beruntun dari pemuda itu diikuti dengan nada hebohnya
"kau ingat waktu kau bertanya siapa yang bertanggung jawab pada saat mansion menjadi kolam darah? Itu mereka. Dua anak kecil itu yang bertanggung jawab" kata pemuda yang bernama Caleb dengan sedikit merinding saat mengingat hal tersebut.
Pemuda itu untuk sesaat terdiam sebelum bertepuk tangan seraya melihat alex dan irene dengan tatapan kagum. Seluruh orang di ruangan itu menatap pemuda itu dengan tatapan aneh bahkan para maids dan bodyguard yang mengetahui peristiwa di mansion andreas pun ketakutan dan segan pada dua anak kecil itu, lain halnya dengan tuan muda kedua keluarga andreas yang justru terlihat sangat kagum.
Prok.. Prok... Prok
"woah..... Kalian! Hebat sekali!" kata pemuda itu lalu berjalan dan berhenti tepat di depan sofa yang diduduki oleh simon, ben, alex dan irene.
"kalian katakan padaku kalau mereka keponakan ku kan" kata pemuda itu dengan nada pernyataan bukan pertanyaan
"ya, kenapa apakah kau juga ingin menentang?! Kuperingatkan kau dan kalian semua, siapapun yang menentangku tidak akan ku biarkan kalian hidup tenang tidak terkecuali kalian dad, mom" kata simon dengan nada berbahaya
Seluruh orang di ruangan itu lagi lagi tersentak saat mendengar perkataan simon namun lagi lagi itu tidak bertahan lama karena pemuda di depan simon yang sudah tertawa berbahak bahak.
"oh aku sehat alvin jangan khawatir, dan simon apa maksudmu menentang? Apa mereka menentang? Kalau iya maka aku tidak. Bukan kah seru jika punya keponakan seperti mereka? Aku menyukai mereka. Hey kids nama uncle jay, panggil uncle dengan uncle jay. Jadi siapa nama kalian? " kata jay dengan beruntun dan tidak memperdulikan tatapan saudara saudaranya fokusnya kini melihat dua anak kecil yang memandangnya dengan aneh
" aku alex dia irene " kata alex singkat dan tidak berusaha untuk menutupi nada risih miliknya
" wah... Aku benar benar menyukai kalian, jadi apakah itu benar benar kalian yang melakukan?" tanya jay dengan nada semangat dan jangan lupa senyuman miliknya dan binar bahagia di matanya membuat Alex maupun irene kebingungan juga risih
Baik alex dan irene hanya mengangguk pelan kepala mereka dan masih melihat jay dengan risih. jay bukannya tidak mengerti dengan tatapan kedua ponakan barunya itu, dia sangat amat mengerti jika mereka memandangnya risih dan aneh akan sifatnya yang berbeda dari yang lain tapi dia tidak memperdulikan itu karena baginya itu adalah sifat aslinya untuk apa menipu diri sendiri untuk pandangan orang lain, ayo lah ini hidupnya bukan hidup orang lain yang menentukan hidupnya adalah dia sendiri dan dia tidak memerlukan pendapat orang lain untuk mengatur hidupnya sesuai pandangan mereka.
"jadi karena itu benar benar perbuatan kalian, bagaimana jika uncle ada misi kalian ikut dengan uncle kita bisa mandi darah bersama sama, bukankah itu seru?" kata lay dengan semangat dan dengan cepat aura di sekitarnya langsung berbunga - bunga dengan menatap mereka berharap
Mendengar perkataan 'mandi darah' mata irene berbinar semangat dan bahagia saat menatap jay, lagi dan lagi perbuatan irene sukses membuat sebagian besar orang di ruangan itu merinding karena melihat keantusiasan alex dan irene untuk ikut jay bermandikan darah
'kenapa gadis kecil ini mengerikan, sudah cukup jay saja yang suka mandi darah jangan ada jay kedua!' teriak batin keluarga andreas yang lainnya
"kapan itu?!" tanya irene dengan semangat bahkan dia sudah turun dari pangkuan dan pelukan simon lalu berdiri didepan jay dengan mata yang berbinar seakan akan jika gadis kecil itu meminta permen namun pada kenyataannya irene bukan meminta permen.
"Marcus uncle tidak memperbolehkan kau bermandikan darah irene" kata alex yang memandang adiknya dengan tatapan peringatan. Kini irene melihat kearah alex dengan mata berkaca kaca miliknya dan raut cemberutnya, begitupun dengan jay yang tadinya bahagia saat irene ikut bermandikan darah kini menatap alex dengan tatapan cemberut miliknya
"then don't tell uncle, please" ujar irene dengan mata yang berkaca kaca, alex yang melihat itupun hampir saja menyerah jika saja simon tidak menyentuh bahu kecil alex membuat Alex sadar dan segera mengalihkan pandangannya.
(kalau begitu jangan bilang paman, ya)
"no sweety, I don't let you to do that" kata simon dengan tegas dan menolak melihat irene takut jika dirinya ikut terpedaya tatapannya seperti Alex tadi.
(tidak sayang, aku juga melarangmu)