the heart that chooses

the heart that chooses
7. Pura-Pura Pingsang




Setelah menerima telfon dari seorang perempuan, Gavin segera masuk ke dalam ruang rawat Meyshila, kemudian duduk di atas sofa sambil memperhatikan Meyshila yang masih belum sadarkan diri di atas pembaringan pasien.


"Dasar macan betina, bagaimana mungkin mobil sebesar itu tidak terlihat. Pasti dia segaja menabrak mobilku, kemudian meminta ganti rugi kepadaku" Gerutu Gavin dalam hati, sambil bersandar di atas sofa memperhatikan Meyshila. Tiba tiba mata Meyshila terbuka, spontang Gavin segera menutup kedua matanya degan posisi yang masih bersandar di atas sofa. Tagan Meyshila mulai merabah kepalanya yang terasa sakit terbalut perbang.


"i...i..in..ini rumah sakit, kok aku bisa beraa di rumah sakit" kata Meyshila segera beranjak duduk di atas pembaringan pasien sambil megamati sekitar ruagan, hingga akhirnya matanya tertuju pada sosok pria berseragam SMA yang bersandar di sofa degan mata tertutup.


"Astaga, siapa orang ini..!! dimana papa..?, apa orang ini mau menculikku" kata Meyshila panik, segera turung dari pembaringan pasien sambil mengendap endap degan hati hati igin kabur dari ruang rawat meninggalkan pria yang terlihat tertidur di atas sofa.


Meyshila yang hendak melangkah keluar dari ruang rawat degan pintu yang sedikit terbuka terhenti ketika sebuah tagan mendorong pintu tersebut hingga tertutup kembali. Spontan Meyshila berbalik dan menemukan sosok Gavin yang menatapnya tajam, degan tagan yang masih bertumpuh pada pintu ruang rawat yang hendak di buka oleh Meyshila, membuat jarak keduanya sagat dekat.


"Bukannya dia tertidur di atas sofa, apa dia hanya berpura pura dan mengelabuhiku" Gumam Meyshila sambil menatap tajam Gavin.


"Kau mau kabur ha.." hardik Gavin tegas degan posisi yang masih sama, sambil menatap Meyshila degan tajam.


"Siapa yang mau kabur, minggir... dasar psikopat" teriak Meyshi sambil berusaha mendorong tubuh Gavin agar menjauh darinya.


"Ternyata kekuatanmu masih kuat untuk melawan, setelah kecelakaan itu" sindir Gavin setelah mendapar dorongan kuat dari Meyshila.


Meyshila yang tidak mempedulikan perkataan Gavin segera berbalik hendak mebuka pintu, akan tetapi pintu itu keburu terbuka. Meyshila terkejut melihat sosok Dame Davin yang tiba tiba muncul di depan pintu, Meyshila degan spontang berjalan mundur secara perlahan hingga menabrak tubuh Gavin yang berdiri di belakangnya.


"Oma aku menangkapnya, mau diapakan anak ini" Kata Gavin sambil memegang kedua bahu Meyshil yang menabraknya. Sedangkan Meyshila berontak berusaha melepaskan tagan Gavin yang mencengkram bahunya degan kuat.


"Shila... kamu sudah sadar..." teriak Tory, sehingga membuat Gavin dan Meyshila berbalik menatapnya. Degan posisi Gavin yang masih memegang bahu Meyshila, entah megapa Tory tiba tiba megedipkan sebelah matanya. Gavin yang tidak megerti merasah kesal, sedangkan Meyshila menaikkan kedua alisnya sebagai tanda megerti akan isyarat yang di berikan Tory.


Tubuh Meyshila tiba tiba hendak terjatuh, untung saja tagan Gavin yang masih berada di bahu Meyshila degan sigap menahan agar tidak terjatuh kelantai.


"Shila..." teriak Dominick yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Meyshila di ikuti Antoniyo yang berjalan di belakangnya. Dominick segera menghampiri Gavin yang menahan tubub Meyshila dan mengambil alih menggendong Meyshila yang masih belum sadarkan diri.


"Paman, lebih baik Shila dibawa pulang saja. mungkin dia sekarang lebih membutuhkan kehagatan dari bibi Luchiyana yang menjadi obak ampuh buat Shila jika sedang sakit" bujuk Tory kepada Dominick yang hendak membaringkan Shila diatas pembarigan pasien.


Mendegar perkataan Tory, Dominick terlihat berpikir berusaha mencerna pendapat Tory. kemudian memutuskan agar membawa Meyshila pulang ke Kota X walaupun belum sadarkan diri. Dame Davin terlihat tersenyum menatap Meyshila yang berada di gendong Dominick, kemudian memberikan izin untuk mereka pulang apalagi hari mulai gelap.


Di perjalanan pulang Gavin merasa heran degan tingkah Dame Davin yang sedari tadi tersenyum setelah meninggalkan rumah sakit, Gavin memutuskan untuk bertanya karena Khawatir.


"Sepulang dari rumah sakit, oma selalu saja tersenyum. Apa oma sedang sakit atau kerasukan mahluk halus..?" tanya Gavin khawatir, sambil fokus menyetir mobil.


"Apa kamu sudah bosan untuk hidup" kata Dame Davin sambil mencubit samping perut Gavin degan lembut, sehingga Gavin hanya merasa geli akan tindakan omanya.


"Oma hanya terigat anak nakal itu, yang berpura pura pingsang agar segara dibawa pulang oleh Tuan Dominick. Serasa megulagi kenangan Oma..." kata Dame Davin degan tawa keras yang tak tertahan mengigat kejadian yang terjadi di rumah sakit. Gavin hanya menghelanafas sambil melihat omanya yang tertawa lepas.


"Oma.. jadi anak nakal itu hanya pura pura pingsang..!!! awas saja kalau ketemu, Gavin akan menjitak keras kepelanya agar geger otak sekalian, membuat orang khawatir saja.." kata Gavin spontang, degan ekspresi kesal akan ketidak tahuannya megenai Meyshila yang ternyata hanya berpura pura pingsang.


"Kalau bertemu degan nya lagi, tidak perlu kamu menjitak kepalanya. Lebih baik kamu nikahin saja dia, Oma yakin cepat atau lambat dia pasti geger otak menghadapi tingkahmu yang tidak jauh berbeda degan nya. Ledek Oma Dame Davin kepada cucunya, yang ketahuan khawatir akan keadaan Meyshila yang hanya berpura pura pingsang. Sedangkan Gavin hanya terlihat pasra menerima ledekan Oma, sambil fokus megemudi.


Sedangkan di mobil Dominick, Meyshila terlihat tertidur pulas setelah melakukan aktin berpura pura pingsang sesuai degan usulan yang diberikan Tory. Dominick yang sesekali menatap Meyshila hanya dapat menghelanafas kasar akan situasi yang baru saja ia lalui degan Meyshila.



"Pah,,, anak kita kenapa...?," tanya Luchiyana panik, melihat anak bungsunya di gendongan suaminya degan perbang yang melilit di kepala Meyshila.


"Kecil kan suaramu, nanti dia terbangun. Papa akan menjelaskan semuanya di dalam, lebih baik kita semua masuk. Karena udara di luar sagat dingin" Kata Dominick pelan sambil berlalu masuk ke dalam rumah mendahului Luchiyana dan Anneliese.


Setelah Meletakkan Meyshila di kamar, Dominick segera keluar dan masuk ke dalam kamarnya untuk segera mandi. Karena badanya sudah terasa lengket setelah beraktifitas. Sedangkan Luchiyana segera mengganti baju sekolah Meyshila degan pakean tidur secara pelan pelan agar tidak membangunkan Meyshila yang tertidur pulas akibat kecapean.


Sebelum Luchiyana keluar dari kamar anaknya. Luchiyana meminta Annelies agarsegera melapor jika terjadi sesuatu kepada Meyshila, Anneliesepun mengangguk tanda mengerti.


Setelah mandi dan memakai baju yang nyaman, Dominick yang hendak tertidur merasa terkejut, ketika Luchiyana berlari masuk ke dalam kamar dan menarik tagan Dominick agar segera duduk.


"penjelasanya besok saja, papa sagat megantuk.." kata Dominick memales sambil memiringkan badang hendak tidur.


"Pokoknya sekarang... mama tidak mau tau, atau papa tidak akan tidur malam ini" Ancam Luchiyana degan suara tegas, membuat Dominick segera bangkit dan duduk bersandar di tempat tidur.


Dominick mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi selama dia dan Meysila pergi. Dimana pertemuannya degan Dame Davin yang membuka Pengakuan Meyshila akan rasa sayang yang amat besar terhadap keluarganya, serta kemarahan Meyshila kepada Dominick megenai persyaratan kerja sama yang mengakibatkan Meyshila lari, kemudian terjadilah insiden yang melibatkan cucu dari Dame Davin sehingga kepala Meyshila harus diperban. Dan yang paling penting adalah, megenai keputusan Dame Davin yang memilih Meyshila sebagai Jaminan dari Kerjasama antar perusahaan mereka.


Luchiyana yang mendegar semua penjelasan dari semuaninya merasa bersalah dan bersedih akan kejadiaan yang harus dialami putri bungsunya, iapun menagis sesegukan di pelukan Dominick. Dominick berusaha menenangkan istrinya degan megatakan akan mencari cara agar Meyshila bisa terbebas dari ikatan kerja sama ini.


* Pagi yang Cerah *


Untuk pertamakali setelah beberapa dekade, akhirnya Meyshila dan Anneliese berangkat sekolah berbarengan degan diantar oleh Dominick. Sesampainya di sekolah, Meyshila dan Anneliese berjalan sambil bergandegan tagan memasuki area sekolah yang masih terlihat sepi karena masih terlalu pagi.


"Anne...., Shila..., " teriak Kevin yang batusaja datang dari arah belakang.


"Kevin..." teriak Anneliese degan wajah ceriah sambil menatap Kevin yang sedang berlari menghampirinya.


"kak,,, Shila ke kelas dulu ya" Kata Meyshila segera, hendak berjalan menuju ke kelasnya. Namun tiba tiba Kevin menarik pergelagan tagan Meyshila, sehingga membuat Anneliese merasa heran.


"Shila tunggu dulu" kata Kevin sambil memegang tagan Meyahila, Meyshila yang hendak melepaskan. Tanpa aba aba Kevin memeluk tubuh Meyshila di hadapan Anneliese yang mematung.


"Shila,,, kalau kamu masih memberontak, aku tidak akan melepaskan pelukanku. jadi diamlah dan degarkan apa yang aku katakan" Kata Kevin yang berusaha agar pelukannya tidak terlepas dari Mayshila. Sedangkan Meyshila perlahan berhenti memberontak dalam pelukan Kevin. Kevin yang menyadari sikap Meyshila yang kooperatif mulai berbicara.


"Shila.. aku sagat khawatir saat melihat perban yang membalut di kepalamh, katakan kepadaku siapa yang melukaimu. Aku akan memberinta pelajaran" Kata Kevin degan suara tegas, degan posisi yang masih memeluk tubuh Meyshila. Sedangkan Anneliese masih saja mematung melihat kedua orang yang sedang berpelukan.


"Itu bukan urusanmu" Ketus Meyshila degan segera mendorong keras tubuh Kevin sehingga terlepas dari pelukan dan segera berbalik hendak menjauh. Namun langkah Meyshila terhenti, kemudian berbalik badang menghadap Kevin dan Anneliese yang berdiri menatapnya.


"Tenanglah...!! aku baik baik saja, kamu tidak usah menghawatirkanku. Aku tau, kamu itu orangnya sok cari perhatian. Jadi perhatikan wanita yang ada di dekat mu itu" Kata Meyshila sambil menjulurkan lidah ke arah Kevin dan Anneliese yang masih menatapnya. Seketika Kevin dan Anneliese tertawa akan tingkah Meyahila yang menggemaskan.


"Sepertinya dia mulai sedikit berubah. Kau degar sendiri bukan kalau dia tidak menggunakan kata lo dan gue, tetapi megatakan degan aku dan kamu" kata Kevin sambil menatap Anneliese yang masih tertawa akan tingkah adiknya yang mulai menjauh dari pandagannya.