the heart that chooses

the heart that chooses
6. Keputusan Dame Davin




Di dalam sebuah ruangan yang luas degan suhu AC 18 derajat celsius yang terasa digin, berubah terasa panas degan ketegangan yang terjadi di antara ke tiga orang yang sedang duduk berhadapan serta seorang pria berdiri di sudut ruangan. Degan sikap tenang Dame Davin melayani sikap keras kepala Meyshila yang menuduhnya telah menyembunyikan papa dan pamannya.


"Tenanglah anak muda, manamungkin saya menyembunyikan papa dan pamanmu. Malahan mereka saat ini pasti merasakan hal yang sama degan yang terjadi diruangan ini" kata Dame Devin mengisyaratkan sebuah arti yang tidak di pahami oleh Meyshila dan Tory yang duduk di sofa sambil menatapnya.


"Lebih baik anda to the poin saja..!" kata Mayshila tidak sabar akan situasi saat ini.


"Tidak sabaran..!!!" degan sedikit jedah "kalau kalian igin segera bertemu degan papa kalian, sebaiknya bersedia menjawab dua pertanyaan yang akan saya berikan. Setelahnya kalian akan segera bertemu degannya" tegas Dame Davin kepada Kedua anak muda di hadapannya.


"Baik Nyonya Dame Davin, kami berdua akan menjawab pertanyaan yang anda ajukan..?" kata Tory degan semagat.


sebelum memberikan pertanyaan, Dame Devin memperhatikan kedua anak mudah di hadapan nya kemudian tersenyum sinis.


"Pertanyaan pertama, menurut kalian apa arti dari sebuah Kepercayaan terhadap manusia ?" tanya Dame Davin degan tegas sambil menunjuk ke arah Tory


"Kepercayaan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran" jelas Tory sesuai degan teori yang pernah ia baca di google.


"Kalau menurutmu" tanya Dame Davin sambil menunjuk ke arah Meyshila.


"Di umur anda yang sudah matang ini, seharusnya anda sudah megerti bahwa kepercayaan itu hanya kepada Tuhan, dan manusia hanya dapat diberikan kesempatan untuk membuktikan diri dalam suatu hal" suara tegas Meyshila sambil menatap Kesal ke arah Dame Divin, akan pertanyaan yang tak bermutuh menurutnya. sedangkan Dame Davin memperlihatkan senyum yang penuh arti.


"Oke..!!! pertanyaan kedua, Keluarga bagi kalian itu apa..?" tanya Dame Davin degan tegas.


"Keluarga sagatlah penting, karena Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan" jelas Tory panjang lebar, sesuai degan teori google. Tory berharap degan jawabanya ia dapat memberikan kesan baik di mata Dame Davin. sedangkan Meyshila termenung mendegar kata keluarga dari mulut Dame Davin.


"Hay anak mudah, sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku. bukanya kamu igin segerah bertemu degan papamu" kata Dame Davin sambil membuyarkan lamunan Meyshila.


"Keluarga..!!" kata Mayshila sambil menatap Dame Davin degan mata berkaca kaca sambil tersenyum sinis "Di dunia ini materi sagatlah dibutuhkan dan materi jugalah yang berbicara akan semua hal yang di iginkan oleh manusia. Akan tetapi yang menyangkut degan Keluarga ku, maka aku siap berdiri dibarisan terdepan menghadapi semua orang yang igin menyakitinya" kata Mayshila degan suara tertahan di tenggorokan, menahan tagis yang igin berkucuran akan sakit di bagian hati seperti tertusuk benda tajam.


"Shila, apa kamu baik baik saja...?" tanya Tory terkejut akan jawaban Shila yang memperlihatkan sisi tersembunyi yang baru ia ketahui, dari adik sepupu yang ia kenal sedari kecil memiliki sikap kasar dan judes berubah seketika jika membahas tentang keluarga.


Meyshila hanya menganggukkan kepala sebagai respon dari pertanyaan Tory. Sedangkan Dame Davin memperhatikan ekspresi kedua anak mudah dihadapannya, terutama Meyshila yang berusaha terlihat kuat walaupun perasaannya masih kacau.


"Fenix... keluarkan mereka sekarang juga, Sudah cukup kejutan yang mereka degar dan lihat" kata Dame Davin sambil tersenyum, memberikan isyarat kepada sekertarsnya Fenix yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan.


Fenix berjalan ke arah samping sambil menekan tombol tersembunyi, seketika dinding kaca yang memebatasi ruangan kecil yang ada di dalam ruang besar itu terbuka. Meyshila dan Tory terkejut ketika melihat papa mereka yang keluar dari dinding kaca tersebut.


"Sialan wanita paruh baya ini menjebakku degan pertanyaan nya. Dan ternyata ruangan ini memiliki ruang tersembunyi yang memiliki tehnologi canggih dimana dinding kacanya tidak memperlihatkan situasi di baliknya" gerutu Meyshila dalam hati, sambil memperhatikan kedua orang yang berjalan mendek. sedangkan Tory segera beranjak dari tempat duduk kemudian berlari memeluk Antoniyo dan Dominick.


Selang beberapa waktu, kini mereka semua duduk di sofa sambil menunggu keputusan yang akan di berikan oleh Dame Davin.


"Saya Dame Davin akan memeberikan keputusan meganai pilihan yang menjadi jaminan dari kerja sama ini, adapun persyaratan yang harus di ikut bagi yang terpilih menjadi jaminan bisa kalian baca dilembarang yang ada di atas meja. " Tegas Dame Davin sambil mempersilahkan Meyshila dan Tory megambil kertas yang ada di atas meja.


"Sepertinya pernyataan yang tertulis ini salah, papa saya tidak pernah megatakan jika yang menjadi jaminan harus tinggal selamanya di kota Y dan bekerja di anak cabang perusaan Exmit Group" tegas Meyshila sambil menatap tajam kearah Dame Davin.


"Sepertinya papa kamu tidak megatakan semuanya kepadamu, apa yang saya ucapkan betul Tuan Dominick" tantang Dame Davin kepada Dominick yang panik karena menyembunyikan semua ini kepada Meyshila.


"Seharusnya papa megatakan semuanya. Walaupun kebenaranya sagat menyakitkan untuk shila terima" kata Meyshila degan berurai air mata, segera beranjak dan berlari sekuat tenaga keluar menuju lift ke lantai bawah tanpa menghiraukan semua orang yang berada di ruangan lantai atas. Sedangkan Dominick segera megejar putrinya tanpa berpamitan dan segera ikut keluar.




Dominick masih berada di dalam lift degan pikiran cemas akan Meyshila yang meninggalkannya, sambil memukul dinding lift beberapakali.


Lift sampai dilantai bawah, Meyshila degan pikiran kacau segera berlari keluar dari lift tanpa menghiraukan orang orang yang melihatnya menuju pintu keluar. Hingga akhirnya Meyshila menabrak mobil yang barusaja berhenti di depan gedung tersebut.


Tubuh mungil Meyshila terhempas degan keras ke lantai. Sedangkan sipemilik mobil sedang hitam segera keluar menghampiri Mayshila yang terjatuh degan luka pada dahi yang berdara, serta kedua telapak taganya yang terlihat memar akibat gesekan lantai pada saat terjatuh.


"Kau mau mati ha..!!" bentak sipemilik mobil sambil berdiri menatap Meyshila yang masih terduduk lemas setelah menghantam body mobil di sampingnya.


"Siapa juga yang mau mati ha..!!" balas Meyshila degan suara keras sambil menahan rasa sakit yang mendera di kepalanya.


"Sudah salah masih saja melawan, kau harus tanggung jawab atas semua ini" kata pria berseragam sekolah SMA, degan kecamata hitam yang melekat pada matanya memandang Mayshila yang berusaha berdiri sambil terhuyung huyung. Perlahan penglihatan Meyshila mulai memudar dan gelap, seketika Meyshila hampir terjatu kelantai. Degan sigap Pria berseragam Sma itu meraih tubuh mungil Meyshila yang sudah tidak sadarka diri, Kemudian menggendongnya.


"Shila,,,!!" Teriak Dominick panik, segera berlari menghampiri Meyshila yang berada dalam gendongan seorang pria berseragam SMA.


"Gavin..!, segera bawa gadis itu masuk ke dalam mobilmu, dan anda tuan Dominick ikutlah masuk ke dalam mobil cucuku. kami bertiga akan menyusul kalian ke rumah sakit" Perintah Dame Davin degan tegas tanpa ada yang bisa menentang.


Gavin segera memasukkan tubuh Meyshila ke dalam mobil, di ikuti oleh Dominick yang masuk dari arah berlawanan segerah merebahkan kepala Meyshila ke atas pangkuannya. sedangkan Gavin segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat dari gedung tinggi tersebut.


* Rumah sakit *


Setelah mendapat penanganan darurat, Meyshila dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Dokter menjelaskan kepada semua orang yang ada di dalam ruangan.


"Pasien hanya pingsang, karna mengalami syok dan luka luar saja. Sebentar lagi dia akan sadar, dan tidak megalami luka dalam yang dapat membahayakan keselamatannya" jelas dokter kemudian segera berpamitan keluar dari ruangan.


"Yaampun Shila... sipemilik mobil yang kau tabrak itu sagat ganteng dan kaya, bagai mana tidak dia cucu dari Direktur perusahaan terkenal di kota Y. Aku akan berusaha mendapatkan nya" Gumam Tory dalam hati sambil menatap Gavin yang bersandar di pintu kamar ruangan Meyshila degan memejamkan kedua matanya.


"Gavin..Kamu jaga anak tuan Dominick, karena oma dan Tuan Dominick serta Tuan Antonio dan anaknya ada urusan sebentar" kata Dame Davin degan suara tegas tanpa megharapkan bantahan. Gavin hanya menghelanafas, kemudian mengangguk tanda setuju akan perkataan omanya.


"Selalu saja begini, aku tidak mampu melawan perintah oma" gumam Gavin dalam hati, sambil menatap kepergian oma dan yang lain dari ruang. kemudian Gavin berjalan menuju sofa yang terletak di samping tempat tidur Meyshila yang masih pingsang.


"Seragam yang digunakan anak perempuan ini mirip degan seragam Kevin, apa mungkin mereka satu sekolahan" kata Gavin sambil mengigat kejadian yang baru saja terjadi, kemudian memperhatikan Meyshila yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur pasien.


Di sebuah ruangan khusus di dalam rumah sakit dimana Meyshi dirawat, Dame Davin melanjutkan pembahasan yang sempat tertunda akibat Meyshila yang keluar dari ruangan dan sekarang berakhir di rumah sakit.


"Tuan Dominick dan Tuan Antoniyo, saat ini waktunya mungkin tidak tepat. Akan tetapi waktu selalu barjalan, jadi saya akan megatakan keputusan terakhir saya..." kata Dame Davin degan suara tegas degan tatapan serius yang di rasakan oleh kedua bersaudara itu dan Tory. degan sedikit jedah Kemudian melanjutkan perkataanya.


"Pilihan saya jatuh pada Meyshila Dominick. Putri dari tuan Dominick, degan alasan yang pasti anda juga semua memahaminya. Bahwa putri dari pemilik perusahaan yang akan bekerja sama degan saya lebih berharga untuk di jadikan jaminan. Bukan begitu tuan Dominick" jelas Dame Davin degan nada tegas namun terlihat tenang.