
Suasan di sebuah kelas terlihat senyap. Dimana seluruh pandagan Mahasiswa terfokus pada satu objek, yaitu seorang dosen pria yang sedang menjelaskan materi di papan tulis degan penggaris kayu panjang dan tebal yang berada di sebelah gengaman tangan kanannya.
"Kalian sebagai anak manajemen pasti tak lasim degan istilah Dilusi..!!, sebagai mana bapak jelaskan barusan megenai Prosentase pemegang saham dalam satu perusagaan sebagai aki---" jelas pak Bachtiar terhenti tatkala jam di pergelangan tangannya berbunyi.
"Sepertinya pertemuan kali ini sampai disini saja, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 Am. Dan akan di lanjutkan di hari berikutnya, sekian dan terima kasih" pamit Pak Bachtiar dan segera keluar degan menenteng buku tebal di sebelah tangannya dan tidak lupa penggaris kayu panjang yang selalu ia bawa di setiap jam pelajarannya. Membuat leher selurah Mahasiswa terasa kaku, akibat otot leher yang menegang tanpa bergerak sedikitpun selama dua jam lamanya hanya fokus ke arah depan saja.
"Akhirnya dosen killer itu keluar juga. Seandainya sedikut saja dia terlambat keluar, gue jamin leher kita semua akan patah" kata Alma, membuat teman sekelasnya bersorak menyetujui.
"Tapi aku salut degan pak Bachtiar, dia itu dosen yang tidak pernah korupsi waktu. Tiap jam masuk pasti tepat waktu, dan jika jam pulan pasti tepat waktu juga. Berbeda degan Dosen lain yang terkadang telat, tidak masuk, ataupun hanya mengirim tugas saja" kata Delisa, membuat teman sekelasnya merenung.
"Sudahlah, tiap-tiap orang itu berbeda. Yang penting jam kuliah kita hari ini sudah selesai dan kita BEBAS..." kata Akhzan, di tutupi degan suara teriakan kebebasan yang menggelegar di ruang tersebut. Membuat teman sekelasnya berhamburan keluar.
"AKHZAN...!!! Lo mau Dosen di kelas lain menegur kita ha.." sentak Meyshila membuat Alma dan Delisa yang berada di samping kursinya, yang sedang sibuk merapikan barang meraka merasa terkejut. Sedangkan Akhzsn hanya bisa menyegir kuda, kemudian seger kabur dari dalam kelas.
"Shila.. !! gue kaget tau" pekik Alma, "Lo yang tadinya anteng-anteng diam di tempat selama jam pelajaran, bikin gue penasaran. Sekalinya bersuara Lo bikin irama jantung gue hampir berhenti gara-gara suara Lo yang melengking" jelas Alma dramatis, sedangkan Delisa hanya bisa mengelus dada.
"Sudah-sudah, lebih baik kita juga segera keluar dari kelas. Bentar lagi anak semester lain masuk di kelas ini" sela Delisa, yang mendapat persetujuan dari kedua sahabatnya.
Kini Meyshila dan kedua sahabatnya sedang berjalan di koridor kampus yang terlihat lengah, sambil bersenda gurau. Namun perhatian mereka teralihkan tatkala dari jarak yang lumayan dekat, seorang gadis tengah terjatuh akibat menabrak seorang pria yang terlihat sagat familiar di mata Meyahila.
"Maaf kak, Blair benar-benar ngak sengaja nabrak kak Gavin" suara lembut gadis cantik degan rambut pirang sebahu degan kulit putih serta mata hitam lekat. Yang masih terduduk di atas lantai, sambil mendogakan kepala ke arah Gavin degan wajah bersalah.
Membuat Meyshila dan kedua sahabatnya yang masih bisa mendegar perkataan gadis itu dari jarak lumayan dekat dari arah belakang, merasa penasaran akan kejadian barusan.
Terlihat Gavin hanya diam degan tatapan datar ke arah gadis cantik itu, kemudian hendak berlalu dan mengabaikan perkataan gadis itu tanpa mau membantunya untuk berdiri.
"Tunggu" cegah gadis itu, kemudian segera bangkit tanpa mempedulikan lututnya yang terlihat memar akibat benturan dari lantai sewaktu terjatu.
"Gue rasa gadis itu, tertarik degan Gavin" bisik Alma pada kedua sahabatnya.
"Jangan terlalu ribut, liat ke depan..." tegur Meyshila, membuat Alma kembali menatap ke arah depan. Dimana Gadis cantik itu tengah berdiri sambil merentangkan kedua tangannya berusaha mencegah Gavin untuk tidak melangkah.
"Dramanya udah selesai ? pergi sana, ganggu waktu gue..!" serkas Gavin, sambil berlalu melewati rentagan tagan gadis cantik itu begitu saja. Membuat air mata gadis cantik itu berlinan degan derasnya.
"Astaga...!!!, Gavin jahat banget. Liat.., gadis cantik itu di tinggal begitu saja dan dibiarikan menangis di koridor sepi kaya gini" kata Delisa degan rasa iba memandang gadis cantik itu yang masih terdiam menangis di tempatnya semula.
"Lo kaya ngak kenala Gavin saja Del, dia itukan terkenal cuek sebagai seorang manusian tanpa rasa empati. Mau dia pria ataupun wanita, semuanya sama saja di mata Gavin. Tapi terkecuali orang terdekatnya kayanya.." Jelas Alma degan ekspresi datar, sambil menatap gadis cantik itu yang mulai berjalan tertatih menjauh dari pandagannya dan kedua sahabatnya.
"Kepribadian Gavin yang biasa gue lihat di kediaman Oma Dame Davin dan di kawasan umum seperti saat ini terlihat sagat berbeda" Gumam Meyshila dalam hati dengan rasa bingung bercampur rasa penasaran akan Kepribadiaan sosok pria yang selalu membuatnya jengkel.
Alma yang melihat Meyshila yang sedang melamun di sampingnya, segera mengambil inisiatif degan mendekatkan mulutnya pada daun telingan Meyahila "SHILA..." teriak Alma persis di sebelah telingan Meyshila, sehingga membuat siempu terlonjak kaget dan spontang memukul mulut Alma yang tidak sempat menghindar.
"AKHHHH..." pekik Alma, merasakan sakit pada ujung bibirnya yang terkena pukulan dari tangan Meyshila. Membuat Delisa yang melihatnya tertawa.
"Siapa suru Lo jailin gue" ketus Meyshila, kemudian berjalan mendahului kedua sahabatnya. Tanpa mempedulikan regekan kesakitan Alma dari arah belakang.
"Untung sahabat..!! tapi kalau dipikir-pikir, tingkah Gavin dan Meyahil hampir mirip. Bagaimana kalau mereka berdua berjodoh, pasti rumah tangga mereka akan menjadi seru" kata Alma degan hebohnya, membuat Delisa mengeleng kepala akan pemikiran sahabatnya.
Sedangkan Meyshila yang kini berada di area parkiran kampus segera menghampiri Gavin yang terlihat sedang berkumpul sambil berdiskusi degan Akzan dan Bintang.
"Ayo kita pulang" kata Meyshila, menghentikan perbincangan ketiga pria itu yang sedang asik berdiskusi. Kemudian menghampiri mobil sport hitam Gavin, dan mencoba untuk membuka pintu job bagian depan samping pengemudi. Namun pintu mobil itu tidak bisa terbuka.
"Kenapa masih terkunci, gue mau masuk. Cepat buka kuncinya" ketus Meyahila, namun tidak urung Gavin membuka kunci mobilnya untuk Meyshila dan memilih kembali berdiskusi degan kedua sahabatnya.
"Nanti malam semuanya suadah harus siap, gue ngak mau sampai ketahuan oleh mata-mata Oma dan di gagalkan oleh mereka semua, kalian mengertikan so---" kata Gavin terhenti, tatkala Meyshila menyelah di antara ketiga pria yang sedang sibuk berdiskusi.
"Jadi gue di cuekin dari tadi, gara-gara kalian pada sibuk nyusun rencana untuk entar mal---" kata Meyshila terhenti, ketika Gavin tiba-tiba membekap mulutnya dari samping.
"Gue duluan, nanti kabari gue kalau semuanya sudah siap" kata Gavin kepada kedua sahabatnya, kemudian menggiring tubuh Meyshila menujuh ke arah mobilnya degan sebelah tangan yang masih membekap mulut Meyshila.
"emmm emmm eeemm emememe.." racau Meyshila tidak jelas sambil memukul-mukul punggung tangan Gavin yang membekap mulutnya. Sambil menggiring tubuh Meyshila mendekat ke mobilnya.
"Lo bisa diam ngak" tegas Gavin, sambil menatap wajah Meyshila yang berubah memerah akibat kesusah bernafas. Gavin segera melepaskan bekapannya setelah tubuh Meyshila berhasil masuk ke dalam mobil. Kemudian Gavin ikut menyusul masuk, dan melajukan mobilnya keluar dari area kampus.
"Kalau kaya gitu, Shila kelihatan menggemaskan. Kapan-kapan Gue bawa pulang saja kali ya" celetuk Akhzan, yang tiba-tiba mendapat serangan pukulan dari arah belakang tepat mengenai tengkuk lehernya.
"Akhhhhh.." pekik Akhzan, sambil mengelus tengkuk lehernya yang terasa sakit. Sedangkan Bintang hanya diam saja memandang si pelaku yang tak lain adalah Alma, yang kini berdiri di samping Akhzan
"Kalau Lo berani, langkahi dulu mayat gue. Baru bisa Lo bawa sahabat gue itu" kata Alma degan berani.
"Tidak perlu nunggu Lo jadi mayat, sekarang juga gue bisa bawa pulang sahabat Lo yang di samping" tantang Akhzan sambil menunjuk Delisa yang ada di samping Alma. Sedangkan Delisa yang di tunjuk cukup terkejut degan penuturan Akhzan.
"Gue duluan By...." pamit Bintang buru-buru, tak ingin mendegar perdebatan yang tidak bermanfaat. Perdebatan yang baru saja di mulai terhenti, tatkala Akhzan memutuskan untuk menyusul kepergian Bintang. Membuat Alma mengumpat, sedangkan Delisa bernafas lega karena perdebatan itu terhenti.
Setelah menempuh 35 menit perjalanan yang sedikit mengalami kemacetan, Akhirnya mobil sport hitam yang di kendarai Gavin memasuki pekarangan kediaman Dame Davin dan terparkir rapi di depan pintu utama. Meyshila segera keluar dari dalam mobil di ikuti Gavin di belakangnya.
Barusaja memasuki pintu utama, suara seseorang menghentikan langkah Meyshila dan Gavin.
"Kalain berdua pulang bersama ?, kenapa tidak kau suru anak gadis jutek itu untuk jalan kaki saja pulang kesini. Pasti kekuatanya masih mampu kalau hanya sekedar jalan kaki saja beberapa meter" kata Oma Lili sambil menatapa tajam Meyshila.
"HANYA BEBERAPA METER..!!, yang benar saja..!!" ketus Meyshila, tak habis pikir akan perkataan Oma Lili.
"Orang tua yang satu ini sungguh menguji kesabaran, 20 kilometer dia kira hanya beberapa meter. Bisa rontok kaki gue kalau sampai harus jalan kaki dari kampus sampai ke kediaman ini" gerutu Meyahila dalam hati sambil mengehentak-hentakan kaki berlalu meninggalkan Oma Lili dan Gavin yang menatapnya. Tanpa mempedulikan reaksi Oma Lili yang mengoceh akan ketidak sopanannya berlalu begitu saja.
"Gavin permisi dulu Oma, mau istirahat di kamar" kata Gavin sopan, tak ingin terlibat perdebat degan Oma Lili kalau ia sampai salah bicara.
----------------08.00--------------
Acara makan malam hari ini yang berakhir degan dipenuhi intrik dalam perdebatan kecil antara Oma Lili dan Meyshila. Membuat Gavin mengambil tindakan degan mengancam untuk melaporkan keduanya pada si pemilik kuasa tertinggi yaitu Dame Davin yang nantinya akan memberikan hukuman yang tidak main-main kepada setiap orang yang berbuat keonaran di kediamannya. Sehingga mau tidak mau Oma Lili dan Meyshila mulai berdamai di depan Gavin dan berjanji tidak akan berdebat menganai hal yang tidak penting.
Setelah itu Gavin segera berlalu menuju ke kamarnya, dan tak lama kemudian dia kembali turung ke lantai satu degan pakean kesual yang di padukan degan jaket kulut hitam yang menambah tingkat ketampanannya.
"Gavin..!! kamu mau kemana malam-malam gini ?" tanya Oma Lili. Yang baru saja keluar dari kamar tamu yang ditempatinya, persis berada di samping tangga lantai dua yang di lalui Gavin.
"Ada urusan sedikit Oma By..." kata Gavin dan segera Berlalu, membuat Oma Lili menggeleng kepala.
"Malam ini gue akan membongkar rencana Gavin dan kedua sahabatnya itu" gumam Meyshila dalam hati degan penuh tekat.
Dreeeettttttt.......
Getaran ponsel di saku celana Gavin, membuatnya segera mengangkat panggilan masuk tanpa melihat nama yang tertera di layar bendah pipih itu. Terdegar sautan dari sebrang sana, sehingga Gavin lansung saja mengenalnya. Meyshila yang terdiam di persembunyianya, mencoba untuk menguping percakapan Gavin dan si penelfon.
"Sekarang gue lagi di luar, Lo ngak perlu repot-repot ke rumah ngantar file itu. Apa lagi Lo itu perempuan Alma, mending Lo tidur sekarang dan soal file itu titip saja pada Akhzan. Biar dia yang bawa ke kantor besok pagi" kata Gavin dan segera memutuskan panggilan tanpa menunggu persetujuan Alma.
"Gavin kok terdegar sagat perhatian terhadap Alma, jagan-jagan dia suka lagi sama Alma yang notabenya sebagai sekertarisnya saat ini. Kaya di FTV saja... menyebalkan..." kesal Meyahila dalam hati sambil mengerucutkan bibir. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba kesal mendegar Gavin yang perhatian terhadap orang lain, walapun orang itu adalah sahabatnya.
Sedangkan Gavin yang merasa bosan, segera menyalakan Audio musik mobilnya degan sedikit nyaring. Lantunan musik mulai terdengar, Lagu Bad Liar yang di populerkan oleh Imagie Dragons perlahan membuat Gavin menikmati dan ikut bernyanyi.
**So look me in the eyes, tell me what you see
Perfect paradise tearing at the seams
I wish I could escape, I don't wanna fake
I wish I could erase it, make your heart believe
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know, now you know
I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go**
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
•••••••••••••••••••••••••••••••••
Suara Gavin yang masih terus bernyanyi akan lagu kesukaannya memenuhi seisi mobil, membuat Meyshila yang bersembunyi perlahan terhenyak sembari tersenyum akan fakta baru yang ia ketahui mengenai Gavin yang memiliki suara yang lumayan bagus dalam bernyanyi.
Hingga lagu berganti degan beberapa judul, sampai akhirnya mobil Gavin berhenti di suatu tempat. Gavin segera keluar dan menghampiri kerumunan anak muda yang terlihat ramai memenuhi area balap liar. Sedangkan Meyshila malah tertidur di persembunyiannya dan tidak menyadari kepergian Gavin.
"Akhirnya Lo datang juga Vin" kata Akhzan, melihat kedatangan Gavin.
"Tentu, kali ini gue bela-belain hadir di balapan ini. Demi membuat lawan gue yang notabennya seorang perempuan itu mengaku kalah dan tidak ikut-ikutan dalam balapan berikutnya" jelas Gavin, sambil melirik lawannya yang kini juga menatapnya sambil terduduk di atas motor sport putih di samping motor sport hitam yang akan Gavin gunakan.
"Jagan banyak bacot, lebih baik perlombaannya segera dimulai dan buktiin perkataan Lo barusan di balapan ini" tantang perempuan lawan Gavin, kemudian segera memakai helm full face nya, di ikuti Gavin yang juga segera memakai helm full face dan menaiki motor sport hitam yang sudah di siapkan oleh kedua sahabatnya.
Seorang pria yang kini berdiri di tengah dengan bendera merah di sebelah tangannya menandakan balapan akan segera dimulai, semua penonton dan anggota dari kedua pembalap segera menjauh dan berdiri di samping jalan.
Kedua pembalap mulai menaikan gas motor sport mereka, dan ketika bendara merah itu dilemparkan keatas. Kedua pembalap itu segera melasat degan kecepatan tinggi menjauh dari pandangan para penontong, dengan melewati jalanan sepi yang berkelok.
Lain halnya degan Meyahila yang tiba-tiba terbangun akibat terkejut dengan suara nyarin dari knalpot motor sport yang baru saja melesat, tidak jauh dari jangkauan mobil Gavin yang terparkir di bahu jalan.
"Astaga..., gue ketidur. Bagai mana ini, gue harus segera turun" pekik Meyahila segera bangkit degan memutar tubuhnya hendak membuka pintu mobil Gavin. Namun pintu mobil itu tidak bisa terbuka. Meyshila tidak tinggal diam, degan kesadara yang mulai terkumpul sepenuhnya. Meyshila perlahan berpindah tempat, mencoba membuka satu persatu pintu mobil Gavin.
Setelah berkutat selama Lima belas menit lamanya degan semua pintu mobil yang nihil terbuka, akibat terkunci dari luar. Kini Meyshila memyerah dan perlahan menundukkan tubuh sambil menangis pada kursi job bagian tengah.
Lain halnya degan akhzan dan Bintang yang kini harap-harap cemas menanti kemunculan dari motor yang pertama kali muncul dari tikungan tejam sebelum mencapai garis finis yang sudah disediakan.
"Walaupun lawan Gavin itu seorang perempuan, tapi jagan salah. Dia cukup terkenal degan skil yang dimiliki dalam dunia balap" kata Bintang, menambah tingkat kecemasan Akhzan yang sedari tadi berdoa degan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lebih baik Lo bantu gue berdoa untuk kemenangan Gavin, dari pada ngorocos terus" keluh Akhzan, membuat Bintang tertawa.
"Hay...liat disana, itu motor Gavin bukan ?" Heboh seorang penontong perempuan, membuat Akhzan dan Bintang menatap ke arah depan di mana motor sport hitam Gavin yang terlebih dahu muncul dari arah tikungan tajam, kemudian di ikuti dari arah belakang kemunculan motor sport putih yang di kendarai oleh seorang perempuan lawan Gavin.
"GAVIN.. GAVIN.. GAVIN... CEPAT VIN, LAWAN LO SEMAKIN MENDEKAT" Teriak histeris Akhzan tatkala motor sport putih itu semakin mendekati motor sport Gavin yang akhirnya sampai terlebi dahulu di garis Finis, mengalahkan selisi sedikit degan motor sport putih yang hampir menyusulnya.
"GAVIN... LO EMANG PEMENANG SEJATI" pekik Akhzan dan Bintang, sambil menghampiri Gavin yang kini melepaskan helem full face nya.
"Pasti" kata Gavin degan pedenya.
"Hay... selamat atas kemenanganmu lawan, dan untuk kali terakhir ini sesuai degan kesepakatan. Gue Hadley mengaku kala telat sedikit, tidak akan mengikuti balapan liar lagi sesuai perjanjian" katanya sambil mengulurkan tangan hendak berjabat tangan. Namun Gavin hanya memandang tangan perempuan itu, sehingga membuat Akhzan yang melihatnya segera menerima uluran tangan perempuan itu. Tatkala melihat Gavi seperti enggang menerima uluran tangan perempuan yang baru saja di kalahkannya.
"No problem baby" kata Akhzan yang mendapat jitakan dari Bintang, sedangkan Gavin dan Hadley hanya bisa tertawa.
"Gue permisi bentar, mau cari WC. Malam ini cuacanya terasa sagat dingin" kata Gavin, segera berdiri dari atas motor hendak meninggalkan semuanya akibat kebelet buang air kecil.
Sebelum benar-benae berlari menjauh, Gavin keingat sesuatu sehingga berbalik badang menghadap ke arah temanya. "Akhzan..Helem gue masuki ke dalam mobil, entar gue lupa, nih tangkap kuncinya.." teriak Gavin sambil melempar kunci mobilnya pada Akhzan yang berjarak 3 meter dari tempatnya, kemudian kembali berlari menjauh sampai hilang dari pandangan kedua sahabatnya dan juga Hadley.
Akhzan yang mendapat perintah, segera melaksanakan tugasnya. Ketika menemukan mobil sport hitam Gavin yang terparkir di bahu jalan, degan cepat ia membuka kunci mobil degan remot kecil digenggamannya. Kemudian segera memsukka Helem ful face itu pada kursi job bagian depan samping kursi pengemudi. Namun suara isak tangis dari arah kursi job tengah membuat kedua mata Akhzan membulat sempurna akan penampakan yang membuatnya tiba-tiba menjerit.
"HUWAAAA..... HANTU KUNTILANAK...." Teriak histeris Akzan tatkala melihat seorang wanita dari arah job tengah degan pakean putih serta rambut panjang yang hanya terlihat akibat kepalanya yang di tenggelamkan pada dua sisi lutut yang dipeluk oleh kedua tangannya.
Meyshila yang familiar degan suara teriakan Akhzan, segera mengangkat kepalanya. Namun sosok yang ia duga sudah menghilang degan pintu mobil yang terbuka lebar di bagian job depan. Sehingga Meyshila tidak membuat kesempatan dan segera bergerak hendak keluar dari dalam mobil.
"HUWAA... CEPAT BUBAR ADA SETAN..." Teriak Akhzan setelah sampai di samping Bintang degan nafas terengah di tengah kerumunan, tetapi tidak satupun di antara kerumunan yang mau meninggalkan tempat dan malah menatap Akhzan aneh. Sampai akhirnya Akhzan kembali berteriat.
"POLISI.. ADA POLISI...." teriak Akhzan degan lantang, membuat kerumunan anak muda dan sahabatnya Bintang yang awalanya terdiam kini berhamburan sambil berpencar hendak kabur dari lokasi sebelum mereka ditangkap.
Sedangkan Meyshila yang kini berdiri di depan mobil Gavin degan hanya menggunakan celana kaos berwarna pink selutut degan sweater putihnya. Panik setengah mati tatkala melihat orang-orang yang tidak dikenalnya berlarian kesana kemari di sekitarnya.
"Bagai mana ini, mama.. papa.. Shila takut.." gumam Meyshila degan suara lirih. Matanya mulai berkaca-kaca, Namun tiba-tiba dari arah belakan seseorang menarik pergelangan tanganya. Sehingga Meyahila yang tidak siap, kehilangan keseimbangan dan menubruk dada bidan seseorang yang telah menariknya paksa dari arah belakang.
"Tenanglah, gue sekarang di samping Lo" kata pria tersebut tepat di samping telingan Meyahila.
"Suara itu..." gumam Meyshila sambil mendongakan kepalanya sedikit keatas, menatap sosok pria tinggi di hadapanya yang tak lain adalah Gavin yang tengah menatapnya lekat dengan pandangan yang menyiratkan sebuah kecemasan dan kebingungan akan keberadaan Meyshila di hadapannya saat ini.