the heart that chooses

the heart that chooses
21. Misi & Hukuman



Waktu kini menunjukkan pukul 17.30, Gavin dan Meyshila baru saja tibah di kediaman Dame Davin sepulangnya dari Kantor.


"Bi May, Oma dimana ?" tanya Gavin pada Bi May yang menyambut ke datanganya di depan pintu utama.


"Nyonya berada di ruang keluarga menunggu ke datangan tuan muda dan nona muda" kata Bi May degan sopan, sambil celingukan mencari sesuatu di balik punggung Gavin.


"Orang yang dicari masih di mobil sedang tertidur, kalau mau bangunin. Bagunin saja" kata Gavin santai sambil berlalu melewati bi May yang terlihat terkejut.


"Dasar tuan mudah, dari dulu belum bisa berubah. Cueknya ya ampung minta di jitak kali kepalanya biar bisa sadar" celetuk bi May sambil berlari ke arah mobil yang terparkir di depan pintu utama.


Bi May segera membuka pintu mobil dan membangunkan Meyshila yang masih tertidur pulas, Meyshila yang merasa terganggu segera membuka mata dan terkejut melihat bi May yang kini berada disampingnya.


"Bi May kok bisa disini..?" tanya Meyshila sambil berusaha mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.


"Tuan muda ninggalin nona di dalam mobil dalam ke adaan tertidur, makanya bi May kesini membangunkan nona" jelas bi May, membuat Meyshila membulatkan mata dan segera berlari keluar dari dalam mobil menuju pintuh utama kediaman Dame Davin. Sedangkan bi May hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Meyshila.


"Awas saja kalau gue dapat, itu anak akan gue botakin degan tangan gue sendiri. Mau itu Omanya ngelaran atau sampai laporin gue ke polisi gue ngak pedu---" gerutu Mayshila sambil berjalan cepat memasuki ke diaman Dame Davin, namun sebelum menyelesaikan ucapanya. Samar-samar iya mendegar suara berdebat dari arah ruang keluarga. Meyshila segera mengendap-endap sambil mengintip dari balik dinding ruang keluarga.


"Kau ini sudah besar, masih saja mengedapankan rasa ego dibanding kenyataan. Anak itu sekarang sudah tinggal di kediaman ini dan itu artinya, dia sudah resmi menjadi anggota keluarga kita. Kamu mengerti tidak anak nakal" Dumel Dame Davin sambil menjewer sebelah kuping Gavin, membuat Meyshila yang mengintip tidak bisa menahan tawa.


Kwaakkk.. Kwaaakkk..


Tawa Meyshila membuat dua orang yang ada di dalam ruang keluarga menengok ke arahnya yang masih saja tertawa terpingkal-pingkal degan kepala yang hanya terlihat dari balik dinding ruang keluarga.


"HEM.." Suara dehem Dame Dawin membuat Meyshila tersentak dan segera memberhentikan tawanya.


"Gawat.. , gue ketahuan" Suara lirih Meyshila dan hendak meninggalkan tempatnya, namun panggilan Dame Davin memberhentikannya dan segera berbalik badan memasuki ruang keluarga sambil tertunduk. Kemudian mengambil tempat duduk di depan Dame Davin dan Gavin.


"Kalian berdua ini sudah besar tapi kelakuan masih seperti anak kecil, sepertinya Oma harus menghukum kalian" Tegas Dame Davin sambil menatap Meyshila yang masih tertunduk sedangkan Gavin megelus daun telinganya yang terlihat memerah setelah jewerannya.


"Besok sore Oma akan berangkat ke kota X selama dua minggu. Kepergian Oma, nantinya kalian harus mematuhi peraturan Oma sebagai hukuman atas kelakuan kalian barusan dan yang terjadi di kantor hari ini" Tagas Dame Davin, membuat dua anak manusia berbeda jenis itu terkejut, namun Gavin menutup matanya degan kedua tangannya sedangkan Meyshila mengangak lebar akan kalimat protes yang tercekal di tenggorokannya.


"Apa oma mengetahui kekacauan yang gue buat bersama Gavin di kantor tadi siang" gumam Meyshila dalam hati degan perasaan gelisa.


"Selama kepergiaan Oma, jagan harap kalian bisa melakukan hal yang aneh-anah atau sampai melanggar peraturan Oma. Karena hukumannya akan lebih berat dari pada ini, dan satu hal lagi. Mata Oma ini berkeliaran di sekitar kalian, jadi jagan harap kalian mampu menghindar atau bersembunyi sedikitpun. Kalian mengerti.." Tegas Dame Davin, kemudian mendapat anggukan dari kedua anak manusia yang terlihat pasra akan keadaan.


Seseorang tiba-tiba masuk dan menghentikan suasan tegang yang terjadi di ruang keluarga.


"Permisi nyonya, makan malam sudah siap.." kata Bi May degan sopan, kemudian di tanggapi degan anggukan dari Dame Davin. Sehingga bi May segera berbalim badan tanpa tau suasana yang barusan terjadi.


"Baiklah sekarang kita ke ruang makan, masalah tadi Oma kira sudah selesai dan tidak akan ada pembahasan berkelanjutan" kata Dame Davin degan santai membuat Gavin segera beranjak mengikuti Omanya, sedangkan Meyshila terperanga degan perubahan sikap sembilan puluh derajat Dame Davin yang kini terlihat santai.


"Oma dan cucunya itu emang sagat aneh.. " Gumam Meyshila dan segera beranjak mengikuti langkah Dame Davin dan Gavin yang sudah agak menjauh dari penglihatannya.


----------------- 09.30-------------------


Suasana kelas di sebuah ruangan khusus terlihat sagat ramai. Mulai dari perkenalan satu sama lain antara dua jurusan yang kini di gabung menjadi satu kelas, sampai degan suara histeris sebagian para kaum hawa ketika menatap dua kumpulan cowo yang duduk di arah yang berbeda di ruangan khusus tersebur. Namun ada sosok perempuan yang terlihar sedang sibuk berpikir keras, sampai tidak menyadari seseorang yang berada di sampingnya beberapa kali memanggil namanya.


"Shila.." panggilan degan suara biasa.


"Shi..la..." panggilan kedua agak sedikit keras dan panjang.


"SHILAAAAA" Panggilam terakhir yang amat nyaring dan akhirnya menyadarkan si pemilik nama, namun membuat seisi kelas menatap ke arah mereka.


"Alma, suara lo toa banget. Kayanya Lo salah ambil jurusan deh, mending Lo jadi orang-orangngan sawa. Biar berguna ngusir hama dan burung" celetuk seorang perempuan dari arah belakang sambil menatap angkuh ke arah Alma, sehingga membuat keles kembali riuh degan suara tawa.


"Mending suara gue Toa, dari pada Lo muka tembok" serkas Alma sambil menatap sinis lawan bacotnya.


"Hey.. enak aja ngatain gue muka tembok, gue itu Gladisti Maharani Edwinjaya yang memiliki kecantikan alami di kam---" kata perempuan yang dikenal degan nama Gladis itu terhenti, ketika pintu kelas terbuka dan menampilkan sosok pria paruh baya degan wajah sangar serta buku tebal yang di bawanya. Masuk ke dalam kelas degan langkah panjang, membuat semua Mahasiswa gelagapan berlari ketempat mereka masing-masing dan segera duduk di tempat degan posisi fokus ke arah depan.


"Selamat pagi menjelang siang, saya Dosen yang akan mengajari kalian di mata kuliah Akuntansi. Nama saya Bachtiar Erlando dan kalian bisa panggil saya pak Bachtiar" katanya tegas, degan tatapan tajam ke arah seluruh Mahasiswa.


"Di pertemuan pertama kali ini, saya akan mengujih ke kompakan dan kemampuan kalian degan memberikan tugas secara berkelompok sesuai degan perintah saya" sambung pak Bachtiar sambil menatap seluruh mahasiswa, terutama Meyshila yang berada persis di depan meja dosen.


"IYA PAK" suara lantang semua mahasiswa.


"Baiklah, Bapak akan mengacak kalian semua tanpa mengetahui nama maupun jurusan kalian. Tapi degan menunjuk kalian satu persatu, untuk bergabung menjadi satu kelompok degan kursi yang akan kalian tempati. Kalian mengerti..?" kata Pak Bachtiar yang di tanggapi baik oleh Mahasiswa.


Pak Bachtiar mulai menunjuk satu persaru Mahasiswa dan memberikan arahan agar mereka segera bergabung degan kelompok dan membentuk pola melingkar degan kursi masing-masing.


Beberapa kelompok mulai terbentuk degan cepat, melalui telunjuk dan arahan dari pak Bachtiar. dan kini telunjuk itu tertuju pada Gavin dan menunjuk ke arah Meyshila dan ketiga anak perempuan di samping dan di belakang Meyshila.


Gavin segera bangkit dan berlari ke arah Meyshila. Meyshila yang melihat hal tersebut, gelagapan dan berusaha membuat kursinya agar tidak berseblahan degan kursi kosong yang akan di tempati Gavin. Sehingga berakhir saling berhadapan setelah Gavin berhasil duduk di kursinya degan pola melingkar.


"Sekarang, kerjakan soal degan kelompok masing-masing dalam waktu satu jam. Saya hendak keluar sebentar. Jadi jagan ada yang ribut, ataupun berusaha menyontek dari kelompok lain. Karena saya tidak akan mentotelir kalian, soal dan penjelasanya berbeda-beda dan memerlukan jawaban yang tepat walaupun agak sedikit panjang" kata pak Bachtiar kemudian segera meninggalkan kelas.


Sepeninggalangan Pak Bachtiar, seisi kelas terlihat gelagapan serta sibuk membuka buku dan membuka hendphon dalam mencari jawaban dari tugas yang menurut mereka sagat sulit.


Namun berbeda degan kelompok Meyshila, mereka terlihat sagat santai. Dimana Gavin yang hanya seorang pria, mengerjakan soal itu degan tenang dan cermat dalam memindai angka-angka tersebut. Tanpa meminta bantuan dari teman sekolomopoknya, yang terdiri dari tiga perempuan dan sala satunya adalah Meyshila, yang terlihat mati kutu akan ketidak mampuannya dalam mata kuliah Akuntansi dan memilih memandangi setiap kelompok yang terlihat sibuk satu sama lain.


"Melihat kelompok lain yang saling kerja sama dalam mencari jawaban, walaupun kelihatanya mereka sama-sama bingung. Itu sangat menyenangkan" batin Meyshila sambil menatap beberapa kelompok yang ada di sekitarnya. Kemudian beralih menatap kedua perempuan yang ada di kanang kirinya.


"Astaga..!!!, cobaan apa yang engkau berikan Tuhan. Kedua wanita yang ada di dekatku ini diam sedari tadi, ternyata hanya sibuk memandangi wajah Gavin yang sedang serius mengerjakan tugas. Sedangkan perasaanku saat ini sagat kebingungan, entah harus berbuat apa dalam situasi seperti ini" Gumam Meyshila sambil celingukan. Kemudian seperti mendapat ke ajaiban, Meyshila tersenyum dan mulai bereaksi degan menggerakkan beberapakali kursinya. Sehingga berhasil menggeser kursinya agak menjauh dari hadapan Gavin.


"Shil.., Lo bisa diam ngak. banyak gerak mulu" tegur wanita di seblah kiri Meyshila.


"ngak bisa, gue mau kabur tau" ungkap Meyshila dalam hati, namun jawabanya berbeda setelah mengeluarkan suara "Iya... iya... ini lagi cari sesuatu" bohong Meyahila sambil tersenyum misterius.


Meyshila kembali mengerakkan kursinya, sehingga kursinya kini keluar setengah dari pola lingkaran yang tadi di buatnya. Namun tiba-tiba Gavin berdiri dan meninggalkan tempatnya, membuat Meyshila menatapnya dengan bingung.


"Ya ampung Gavin pandai banget, coba kalian berdua lihat ini" Hebo wanita yang berada di sebelah kanan Meyshila, sambil menyodorkan buku catatan Gavin yang memperlihatkan jawaban yang amat panjang dari dua soal yang tertera.


"O,,, ternyata sudah selesai. Pantas saja dia segera berdiri, gue kira dia tersinggung degan perbuatan gue yang menggeser kursi menjauh dari hadapanya. Dasar sifat kegeeran gue muncul lagi" gumam Meyshila degan pikirannya dalam hati sambik senyum-senyum.


"Gavin itu sagat sempurna, apa lagi di jadiin pasangan hidup. Udah ganteng, kaya raya, pandai pula. Sepertinya gue harus bekerja keras buat dapetin hati Gavin, walaupun sikapnya agak aneh degan menolak wanita cantik termasuk si gitar spanyo" kata wanita yang berada di sebelah kiri Meyshila sambil tertawa. yang di tanggapi angguka dari wanita yang berada di seblah kanan Meyahila.


"Dasar wanita centil, apanya sempurna. Kalian hanya belum terlalu mengenal Gavin, yang kalian anggap sempurna itu juga memiliki ke kurangan dalam dirinya" gumam Meyshila dalam hati sambil menatap sinis ke arah dua gadis yang ada di samping kiri kanannya.


Meyshila yang sedari tadi mendegar pujiyang yang mengarah ke Gavin, membuat otaknya mendidih. Kemudian matanya mengikuti pergerakan Gavin yang kini sibuk bolak balik, membantu mengajari kelompok Akhza dan Bintang yan terlihat kesusahan dalam mengerjakan tugas.


"Sebaiknya gue tentuin Misi dalam menyeimbanginya di mata kuliah Akuntansi. Walaupun itu sagat sulit, mengigat style gue dari dulu itu IPA dan bukan IPS. Tapi gue akan tetap berusaha.." gumam Meyshila mengebuh-gebuh dalam hati, sambil menatap Gavin degan jengkel.


Tiba-tiba pintuh kelasnya terbuka dan menampilkan sosok Dosen yang memiliki tatapan tajam yang mampu membuat mental Mahasiswa menjadi ciut. Gavin dan Mahasiswa yang berada di kelompok lain segera berlarian kembali ke kelompok masing-masing tanpa mengeluarkan suara.


"Waktu tinggal lima menit lagi, dan kelompok yang belum menyelesaikan tugas tersebut akan mendapat hukuman dari saya. jadi cepat selesaikan" tegas pak Bachtiar. Membuat semua kelompok panik dan sibuk menulis, sedangkan kelompok Gavin hanya terdiam sambil menatap ke arah kelompok lain.


"Kamu..!!" tunjuk pak Bachtiar sambil menatap Meyshila yang tidak jauh dari pandanganya, membuat semua mata tertuju pada Meyshila yang terlihat panik.


"Kenapa kursi kamu keluar dari pola lingkaran, cepat perbaiki dan fokus pada tugas satu kelompok kamu. Jangan coba untuk main-main di pelajaran ini" Perintah pak Bachtiar tegas, membuat Meyshila gelagapan dan segera memperbaiki pola kursinya dan pasrah degan tatapan semua mata yang ada di dalam kelas terutama Gavin yang kini berada di depannya degan tatapan datar.


"Gue kira dia akan menertawakan kelakuan gue, tapi kok dia biasa-biasa aja ya" gumam Meyshila dalam hati sambil memperhatikan Gavin yang kini fokus pada catatanya, kemudian pandangan Meyshila beralih menatap kelompok lain yang menatapnya sambil menahan tawa dalam-dalam.


"Mati gue.. mati.. mati..." jerit histeris Meyshila dalam hati sambil berusaha menahan emosinya tak kala melihat tatapan mengejek dari kelompim lain.


•••••••Kediaman Dame Davin••••••••••


Meyshila yang baru saja memasuki kediaman Dame Davin setelah di jemput oleh supir priba yang di khususkan utuknya, merasa aneh degan suasana sepi yang berbeda dari biasanya. Dimana bik May atau pelayan lain yang sedang melakukan pekerjaan akan menyapanya sepulang dari kuliah, namun kali ini tidak ada satupun keberadaan pelayaan yang sering menyambut atau menyapanya.


"Rasanya kok sagat sepih, dan ngak seperru biasanya" kata Meyshila sembari melangkah masuk sambil celingukan ke kanan dan kekiri, namun tidak ada satupun keberadaan pelayan yang biasanya sibuk di setiap jamnya dalam melakukan pekerjaan di rumah yang megah ini.


"Tidak perlu celingukan kaya maling, Lebih baik buka hendphon Lo. Maka jawaban dari kebingungan itu akan terjawab" Kata Gavin lantang, baru saja datang memasuki rumah. Kemudian melalui Meyshila yang masih berdiri di tengah ruang tamu sambil mengelola perkataanya barusa.


Meyshila segera menyalakan hendphonya dan membuka sebuah pesan yang tertera di layar phonselnya degan nama pengirim Oma DamDev.


"***Oma berangkat satu jam lebih awal dari perkiraan, Jadi kamu dan Gavin harus rukun dan tidak berkelahi atau berbuat aneh-aneh selama keperhian Oma. Hukuman untuk kalian berdua selam kepergiaan Oma yaitu :


Mengurus rumah degan baik, karena Bi May dan semua pelayan Oma bawa ke kota X untuk membantu keperluan Oma.


Kalau mau makan masak sendiri dirumah, semua bahan-bahan tersedia di dapur. Tidak di perbolehkan keluar dari rumah maupun order makanan dari luar.


Sepulang dari kampus harus sudah berada di rumah, kalau ada tugas kelompok. Harus melapor dan meminta izin terlebih dahu kepada Oma.


4,5,6,7,8,9 ..bla..bla..bla..... sampai nomor terakhir membuat Meyshila membulatkan mata untuk kesekian kalinya di hari ini.


Meyshila dan Gavin harus selalu mengabari dan menjaga satu sama lain, dan saling mengikuti kalau ada keperluan di luar jam kuliah tanpa membebani supir pribadi yang hanya akan melakukan tugas antar jemput Meyasila di jam kuliah. selebihnya Gavin yang akan mengantikannya.


Demikian peraturan ini dibuat dengan sebaik-baiknya, dan dikirim kepada kedua orang yang bersangkutan. Kalaupun ada yang berani menentang dan mau berprotes, maka siap-siap menerima hukuman selanjutnya yang lebih ketat dan lebih berat***"


"AAARRRRGGGHHHHHH..." Teriak Meyshila frustasi, setelah membaca pesan yang di terimanya. Sehingga membuat Gavin yang hendak menaiki tanggah segera menutup kedua telinganya akan suara teriakan keras Meyshila.


"Rasain tu hukuman, gue akan mengerjainya sambil bermain-main degannya selama dua minggu ini" kata Gavin degan senyuman lebar yang terbit di bibir tipisnya, kemudian segera menaiki tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Sedangkan Meyshila yang masih berada di tegah ruang tamu. Mengacak-acak rambut panjangnya akan ketidak mampuanya, dalam ketidak setujuan namun tidak mampu melakukan hal apapun.