
Seorang Mahasiswa baru memasuki sebuah gerbang kampus degan wajah yang begitu muram. Berbeda degan Mahasiswa yang ada di sekitarnya, yang terlihat ceria dan antusias dalam memulai aktivitas di Kampus yang terlihat menyenangkan degan bagunan tinggi yang menjulang serta memiliki taman yang begitu luas dan suasana sejuk akan pepohonan yang bertebaran disekitarnya.
"Ha...., baru hari pertama saja gue sudah bosan bagaimna gue harus melalui hari yang sagat membosankan selanjutnya" keluh Meyshila degan suara kecil, sambil berjalan mendekati bagunan kampus.
PUKH ....
Sebuah tangan mungil tiba-tiba menepuk bahu Meyshila, sambil melempar senyum manis yang siapa saja yang melihatnya bisa tercengang.
"Kamu Mahasiswa baru kaya aku ya.." kata gadis yang menepuk bahu Meyshila yang masih tersenyum.
"Yaampun...!! Seandainya gue seorang pria, sudah pasti gadis manis ini akan jadi milik gue. Tapi untung gue seorang gadis juga" gumam Meyshila dalam hati, sambil memperhatikan wajah gadis yang menepuk bahunya yang kini berdiri di hadapannya.
"Hay.., aku bertanya kepadamu. Apa kamu Maba kaya aku, kalau iya kamu jurusan apa...?, Siapa tau kamu satu jurusan degan aku dan kita bisa berteman baik" kata gadis manis yang mencoba menyadarkan Meyshila yang melamun.
"Eh... iya... gue maba (Mahasiswa baru) kaya Lo, jurusan aku Manajemen. Kamu jurusan apa..?" Tanya Meyshila balik, setelah sadar dari lamunan yang menurutnya tak masuk akal.
"Aku jurusan Manajemen juga, kebetulan banget kalau begitu. Bagai mana kalau kita sama-sama ke dalam kelas..?" tanya gadis manis, yang mendapat anggukan dari Meyshila yang juga ikut tersenyum.
Sesampainya di dalam kelas, Dosen mata kuliah khusus Manajemen meminta semua murid agar dapat memperkenalkan identitas serta hobi dan kegemaran mereka. Sebagai awal pertemuan sebelum memasuki inti dari pembahasan materi yang akan berlangsung di pertemuan kedua yang akan datang.
Mendegar hal itu, Satu persatu Mahasiswa yang ada di dalam kelas maju kedepan memperkenalkan diri. Mulai dari barisan terdepan sampai kini menyisahkan 6 orang saja di barisan terakhir.
"Gue Bintang Rradatna Alfarisi, umur 18 tahun, hobi main basket. gue asli penduduk dari kota Y ini" kata Bintang cepat, singkat dan padat. Kemudian segera kembali ketempatnya.
" Bintang ganteng, tapi irit bicara "
" Tapi yang lebih ganteng si G, anak jurusan akuntansi"
" Oh.. yang di sebela kelas kita itu"
" Tapi Bintang juga tidak kalah ganteng dari si G"
Gumam sebahagian Mahasiswa Wanita yang masih bisa di degar oleh Bintang, yang kini duduk di tempatnya
"Selanjutnya" kata Ibu Dosen mempersilahkan.
"Hay gue Alexia Dwi Fuxia Alderen, kalian bisa panggil gue Xia. Anak tersayang dari keluarga Alderen, umur gue 18 tahun. Alamat asli kota Y, Hobi gue suka memandang cogan, contohnya si Bintang" kata Alexia degan cengiran khasnya yang membuat semua murid menyorakinya. Sehingga membuat si Dosen hanya menggeleng kepala melihat aksi anak jama sekaran yang berani tanpa malu mengatakan sesungguhnya.
"Dasar ganjeng"
"Centil"
"Sok Cantik"
"Manja"
"Suka cari perhatian"
Komentar sebahagia Mahasiswa yang mendapat tatapan mengintimidasi dari Alexa yang sebagai topik pembahasan.
"Selanjutnya" kata dosen wanita paruh baya itu.
"Nama Saya Aletta Delisa Aziz, umur 18 tahun, kota Y ini asal saya, dan hoby saya membaca buku. sekian dan terima kasi" kata gadis degan suara sopan degan senyuman manis yang membuat semua mata memandangnya.
"Manisnya..."
"Sok Manis"
"Manis tapi busuk"
"Emang Manis dan Cantik ko"
kembali sebahagian Mahasiswa yang mengejek dan memuji Delisa yang hanya mendengus mendegarkan komentar tersebut.
"Selan--" kata Dosen wanita yang terpotong karena suara dari seorang mahasiswa pria yang menyaut.
"Bisa lebih jelas degan akun medsos atau id line nya" suara lantang seorang Mahasiswa pria dari arah barisan belakang, yang mendapatkan sorakan dari semua penghuni kelas.
"Sudah-sudah, jagan terlalu ribut. Sekarang girilaran selanjutnya" kata Dosen wanita yang mencoba menenagkan suasana.
Anak laki-laki yang tadi berani memotong perkataan dosenya, segera melirik ke arah gadis yang baru saja mendapat giliran maju kedepan.
"Nama gue Meyshila Dominick, umur 18 tahun. Sekian dan terimakasi" kata Meyshila singkat dan hendak kembali ketempatnya namun terhenti ketikan suara dosennya terdengar.
"Apa ibu bole mengetahui asal usul dan hobi dari kamu, yang kini menjadi Mahasiswa saya.." kata Dosen wanita itu sambil menatap mata coklat Meyshila.
"Asal saya dari Kota X dan bukan dari Kota Y ini, dan Hobi saya..." kata Meyshila mengantung sambil menatap ke arah Dosen dan bukan ke arah teman Mahasiswa satu kelasnya.
"Wajah cantik tapi jutek"
"pantas saja wajahnya tidak terkenal, ternyata orang baru di kota ini"
"Walaupun tidak terkenal, yang penting cantik"
"Pasti oplas"
"Masa Oplas, orang cantik alami kaya gitu"
Celutuk sebahagian Mahasiswa yang tidak tau diri hanya bisa mengomentari penampilan orang lain yang beru dilihatnya tanpa mengetahui yang sebenarnya.
"Baiklah, kamu bole duduk, selanjutnya" kata Dosen.
Meyshila yang berpapasan degan seorang pria yang hendak maju kedepan terlihat cuek, sedankan pria tersebut malahan tersenyum. "Menarik, sepertinya brother Gavin memiliki saingan cuek di kampus ini" gumam pria tersebut kemudian berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya, yang sepertinya sagat dikenali di kalangan satu angkatannya saat ini.
"Selanjutnya" kata Dosen.
"Aaa.. Ibu ngak asik" kata Akhzan kesal, sambil berjalan ketempatnya degan membuat suasana kelas kembali rame menyuarakinya.
"Akhzan itu temannya si G"
"kalau si G cueknya minta ampun, kalau si Akhzan play boy nya minta ampun"
"Biar play boy tapi ganteng"
"Gantengan Bintang dan G dari pada Akhzan"
"Tapi Akhzan itu orangnya apa adanya dan orang tua nya juga sagat berpengaruh di kota ini"
komentar sebahagian Mahasiswa yang tiada hentinya....
"Sabar sobat, sekarang giliran gue" kata gadi yang berpapasan degan Akhzan yang hendak naik ke depan.
"Nama gue Nur Azahra Almaira, umur 18 tahun, alamat Kota Y, hoby makan" kata Alma yang mendapat sautan dari teman sekelasnya, namun degan satu kepala tangan yang terangkat keatas. Mampu mendiamkan mereka tanpa membuat dosen wanita yang di dalam kelasnya curiga degan perbuatan Alma yang memberi ancaman, tapi untuk barisan bagian belakang. Sepertinya mereka tidak terpengaruh dan malah biasa-biasa saja degan perbuatan Alma.
"Wanita jadi-jadian"
"Galak tapi cantik"
"Menakutkan"
"Tapi dia itu sahabat Akhzan dan G sejak SMA"
"Pasti dia melakukan sesuatu sehingga Akhzan dan si G mau menjadi sahabatnya"
"Jagan terlalu ribut membicarakanya, nanti dapat begoman dari tanganya baru tau rasa kalian"
Kembali komentar itu keluar begitu saja dari sebahagian mahasiswa yang suka mengomentari orang dari belakang.
▪▪▪▪▪▪
Setelah melalui beberapa jam kuliah yang di isi degan kegiatan perkenalan antara Dosen dan Mahasiswa baru. Kelas Meyshila kini di bubarkan, dan semua Mahasiswa berpencar mencari kegiatan lain. Ada yang nongkrong di kanting, kelas lain, parkiran, dan ada juga yang langsung igin pulang.
"MEYSHILA, TUNGU...." suara teriak dari seorang gadis, membuat Meyshila berhenti melangkah. Kemudian mengedarkan pandagan sambil mencari sumber suara yang memanggilnya. Namun pandagan Meyshila terkunci pada sesok pria yang kini sedang memandaginya degan mata tajam dari arah parkiran.
"Dasar pria aneh.." gumam Meyshila, kembali mengedarkan pandangannya. Namun kini pandangan Meyshila tertuju pada sosok pria yang berjalan mendekatinya degan pandang datar.
"Lama banget keluarnya, gue dari tadi nungguin Lo" kata Gavin degan nada dingin, sambil menarik pergelangan tangan Meyshila agar segera mengikutinya.
"Meyshila, kamu mau kemana.." tanya seoranag gadis tiba-tiba dari arah belakang, sehingga membuat ngenggaman Gavin terlepas dari tangan Meyshila sakin terkejutnya.
"AAAAA.... A..K..U.. Mau pulang.." jawab Meyshila terbata-bata, sambil menatap Delisa si gadis yang memiliki senyum manis.
"Terus, pria yang tadi menarikmu siapa..?, kenapa mala ninggalin kamu pas akunya datang.." ungkap Delisa, sambil berusaha menatap pria yang tiba-tiba berbalik meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan sepata kata. Membuat Delisa penasaran, karena belum sempat melihat wajah pria tersebut.
"Ngak penting mikirin dia, lebih baik kita pulang aja" kata Meyshila berusaha menarik perhatian Delisa agar berhenti menatap kepergian Gavin entah kemana.
°°°°°°°
Deruan suara mobil membuat Meyshila dan Gavin yang sibuk berdebat atas persoalan tadi siang di kampus terhenti.
"OMA" ucap Gavin dan Meyshila serentak. Kemudian segera berlarian ke arah kamar masing-masing yang kini berada di lantai dua yang saling berseblaha, karena perintah Dame Davin. Mau tamau Gavin dan Meyshila harus menyetujui peraturan mengenai kamar mereka"
Dame Davin yang baru saja masuk ke dalam rumah disambut oleh kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya yang menunduk akan kedatangan Nyonya besar pemilik rumah.
"Selamat Datang.." ucapnya serentak.
"Bik May, Kedua anak itu apa sudah pulang..?" tanya Dame Davin di ikuti oleh kepala pelayan (Bik May) yang berjalan ke arah ruang keluarga.
"Iya Nyonya, tuan muda Gavin dan Nona muda Meyshila sudah tiba sekitar tigah jam yang lalu" jelas bik May kepada Dame Davin.
"Apa mereka masih sering berdebat atau membuat kerusahan selama saya pergi.." tanya Dame Davin sambil melihat layar ponselnya.
"Awalanya mereka hanya diam-diaman. Namun setelah Nona muda mengambil air minum dan hendak ke kamarnya, tuan muda menarik pergelangan tangan Nona. Sehingga air itu tumpah dan mereka berdua mulai berdebat. Tapi itu hanya berlangsung sesaat setelah mendegar suara deruan mobil Nyonya, mereka berdua segera berlarian masuk ke dalam kamar" jelas Bik May, membuat sipendegar tiba-tiba saja tertawa.
"Haaa..haaaa..haaa... Bik May..!! beritamu ini sagat menghibur, rasa pening di kepalau kini perlahan menghilang" kata Dame Davin yang masih tertawa, kemudian melangkah meninggalkan Bik May yang malah terlihat tercengan melihat kelakuan Nyonya besarnya yang sagat berbeda dari biasanya.
••••••• 20.00 •••••
"Hari pertama kalian kuliah bagai mana..?" tanya Dame Davin disela mengunya makanan.
"Kalau Gavin Biasa-biasa aja Oma, tapi hanya ada sedikit masal sehingga membuat Gavin kesal" Kata Gavin degan menekankan kata Kesal, sambil menatap Meyshila yang kini juga menatapnya.
"Kalau kamu Shila..?" tanya Dame Davin
"Shila ngak nyangka aja, kalau harus keluar dari zona nyaman yang selama ini kurasakan dan harus menjalani pembelajaran baru yang dapat menambah pengetahuan Shila" kata Meyshila berusaha mengontrol perasaannya yang saat ini bercampur aduk antara kesal, senang, dan kacau.
"Hidup itu sagatlah singkat, jadi buatlah hidupumu berwarna degan mempelajari hal lain" saran Dame Davin sambil menatap Meyshila dan Gavin yang kini menatapnya.
"Oma.., Gavin sudah kenyang. Gavin kembali ke kamar terlebih dahulu" kata gavin setelah makanan di piringnya suda habis. kemudian beranjak setelah mendapat anggukan kepala dari Dame Davin.
"Sebenarnya kamu dan Cucuku itu memiliki kesamaan, sama-sama harus melepaskan keiginan terbesar demi orang yang kalian sayangi" kata Dame Davin setelah melihat Meyshila yang juga hendak meminta izin agar segera beranjak.
"Gavin yang harus melepas keiginannya belajar di luar negeri degan kemampuan yang sagat memadai, hanya karena permintaanku yang tidak igin jauh darinya. Sedangkan kamu, yang juga harus meninggalkan keiginanmu dalam menentukan universitas yang sagat igin kau masuki. Hanya karena masalah orang tuamu dan saya" Kata Dame Davin yang mendapat anggukan dari Meyshila yang tidak jadi beranjak dan malah mendegarkannya.
"Semoga kalian berdua bisa kuat menjalani kehidupan sementara ini, walaupun tidak sesuai degan apa yang kalian harapkan. Tapi percayalah, setiap kejadian pasti ada hikmanya. Cobalah melihat dari segi positifnya dan cobalah singkirkan bagian negatif yang terkadang membuat seseorang menjadi kurang bersyukur dalam hidupnya" kata Dame Davin membuat mata Meyshila menjadi berkaca-kaca menatap Dame Davin yang tiba-tiba berdiri menghampirinya, kemudian memberikan pelukan hangat kepada Meyshila.