the heart that chooses

the heart that chooses
22. Jungkir Balik Dunia Meyshila



Gavin dan Meyshila yang berada di kamar mereka masing-masing. Sedang sibuk degan kegiatan yang berbeda, dimana Gavin yang sibuk mengerjakan laporan perusahaan degan leptopnya sedangkan Meyshila sibuk degan film korea yang di tontonnya di leptop sampai tertidur.


Sakin sibuknya, mereka berdua tidak menyadari perubahan waktu yang kini memperlihatkan langit yang mulai gelap. Lampu di kamar mereka belum ada yang menyala satupun. Hingga rasa lapar menyadarkan Gavin dari aktivitasnya dan segera menyalakan lampu kamarnya, kemudian keluar hendak menuju dapur.


Gavin yang hendak turung, terhenti ketika melewati pintu kamar Meyshila sambil mengulas senyum usil.


"Shila.." Panggil Gavin sambil mengedor pintu kamar Meyahila, namun tidak ada sautan.


"Shila..!! Lo masih idup atau udah mati. Bangun woe.." Teriak Gavin, sambil gencar mengedor pintu kamar Meyshila. Tak lama pintu kamar bercat putih itu terbuka, menampilkan sosok perempuan yang memasang wajah jutek degan muka bantalnya sehabis tertidur.


"Apa" Meyshila ngegas


"Ngak usah ngengas napa, cepat sana bikinin gue makanan dan minuman" ujar Gavin santai.


"Ngak mau, emang Lo siapa" sergah Meyshila.


"Gue cucu pemilik rumah ini dan sekarang Lo harus nurutin perkataan gue" kata Gavin sambil bersedekap di depan pintu kamar Meyshila.


"Cuman cucu, songong banget. Pokoknya gue ngak mau titik" protes Meyshila.


"Harus mau. Lo itu cewe kodrarnya di dapur, sedangkang cowo itu kodratnya tinggal makan" jelas Gavin membuat Meyshila geram.


Meyshila yang terbangun karena keributan yang di buat Gavin, membuatnya gusar ditambah dengan permintaan Gavin saat ini membuat mood Meyshila tambah buruk.


Brak....


Meyshila membanting pintu kamarnya degan kesal, kemudian berlalu menuruni tanggah menuju lantai pertama melewati Gavin yang terlojak kaget akibat perbuatanya.


"Woy bocil ngak usah banting-banting bisa ngak" ngegas Gavin.


"Ngak bisa" teriak Meyshila menuruni tangga.


Gavin yang hendak mengejar Meyshila terhenti, ketikan suara deringan hendphon dari saku celananya terdegar nyaring. Di layar tertera panggilan atas nama Akhzan, degan malas Gavin mengeser tombol hijau.


"Langsung keintinya, ngak usah neko-neko" sergas Gavin.


"Ya elah Vin, gue baru mau ucapin salam Lo ud--" kata Akhzhan terhenti*.


"ZHA" ngegas Gavin.


"Vin.., oma lo nga adakan, anak-anak sekarang lagi ngumpul di beskem. Malam ini ada balapan liar, hadianya lumayan besar" kata Akhzan antusias.


"Sory zha, gue ngak bisa. Lain kalai aja" balas Gavin, hendak memutuskan panggilan.


"Jagan putusin telfon dulu Vin, hadianya itu sagat mengiurkan. Kalau Lo ikut dan mampu memenangkan balapan malam ini, daerah kekuasaan kita tambah luas" kata Alhzan cepat.


Gavin terdiam memikirkan perkataan Akhzan, kemudian menjawab "Gue tetap ngak bisa zha, gue harus jagain si bocil"


"Si Bocil, emang anak siapa yang lo ja---" kata Akhzan terhenti, ketika Gavin memutuskan panggilan sepihak.


Kemudian Gavin segera menuruni anak tanggah dan menghampiri Mayshila yang berada di ruang dapur lantai satu.


"Woy Shil mana makanan dan minuman gue..?"


"Kok di atas meja cuman ada nasi putih sama bahan makanan mentah"


"Lo dari tadi gapain a---" kalimat Gavin terhenti


Brakkkk..


Untuk kedua kalinya, Meyshila menahan diri untuk tidak melempar secangkir kopi ke wajah Gavin yang terlihat menyebalkan. Namun meletakkan secangkir kopi itu degan kasar, sehingga sebahagian isinya tertumpah di atas meja makan depan Gavin.


"Lo niat banget ya ngerjain gue" Omel Meyshila menatap Gavin sengit.


"Ngak usah natap gue lebih dari lima detik, Nanti Lo jatuh cinta sama ketampanan gue" kata Gavin degan pedenya, membuat Meyshila berdecak kesal.


"Terserah, orang warasma ngalah" desis Meyshila sinis. Kemudian segera pergi dari ruang dapur, meninggalkan Gavin yang tergelak tawa.


"Woy..!! Lo mau kemana, gue laper" teriak Gavin, sambil masih tertawa.


"Masak saja sendiri, gue mau tidur" ketus Meyshila, kemudian menghilang dari area dapur. Berniat melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh Gavin.


Gavin yang kesal mendegar jawaban Meyshila, segera mengambil bahan-bahan makanan seperti tempe dan telur yang sempat di keluarkan Meyshila dari dalam kulkas kemudian memasaknya. Walaupun agak ancur dan sedikit hangus, tapi masih bisa di komsumsi untuk menghilangkan rasa lapar Gavin yang menyiksanya.


Sedangkan Meyshila yang kini berada di kamarnya, mencoba untuk tertidur dan berusaha mengabaikan rasa lapar yang menderanya.


---------- 03. 27 ---------


Meyshila yang terbangung di waktu menjelang subuh. Merasa tidak enak badan, dimana kepalanya yang terasa amat berat serta perut yang terasa keram membuatnya igin memuntahkan isi perutnya.


Perlahan Meyshila bangkit keluar dari kamarnya degan langkah tertatih sambil berpegangan pada dinding yang di laluinya degan susah payah, hingga akhirnya sampai di depan pintu kamar Gavin.


Diketuknya pintu kayu itu sambil mengeluarkan suara serak meminta bantuan, Namun tidak ada respon dari dalam kamar. Sesekali Meyshila menggigit bibir dalamnya sambil mengepalkan tangannya berusaha mati-matian menahan sakit yang membuatnya terlihat pucat.


Setelah berusaha selama sepuluh menit menggedor maupun mengeluarkan suara seraknya, Tapi tetap saja belum ada respon dari si pemilik kamar. Meyshila kini terlihat putus asa, dimana linangan air lolos keluar dari matanya membasahi wajah pucatnya.


"Mama.. Papa..., seandainya kalian ada di sini. Pasti Shila ngak akan sakit seperti ini. Plis Tuhan bantuan Shila.., Shila benar-benar sudah ngak kuat lagi" Kata Meyshila serak sambil menangis. Membuat kepalanya tambah sakit, sehingga badangnya yang bertumpuh pada pintu kamar limbang dan terjatuh mengenai guci hias yang ada di atas meja kecil yang tak jauh dari pintu kamar Gavin.


Brak...


Guci yang di senggol Meyshila terjatuh bersamaan degan tubuhnya yang ambruk ke lantai. Tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok cowo berprawakan tinggih degan kaos oblong berwarna hitam degan celana pendek yang melekat di tubuhnya. Wajahnya masih tampak mengantuk dan beberapakali menguap sambil berusaha memeperhatikan situasi yang ada di depannya saat ini.


"Woy setan, Lo yang nganggu tidur gue barusan" sentak Gavin, tiba-tiba melihat seseorang yang bertelungkup degan wajah yang tertutup rambut panjang di depan pintu kamarnya, degan serpihan beling yang berceceran.


Gavin yang tidak mendapatkan respon dan hanya mendegar suara isak tangis, segera berjongkok sambil memiringkan wajahnya berusaha melihat lebih dekat sosok yang terdegar sedang menangis piluh.


"Sa-kit--" gumamnya pelan namun bisa di degar jelas oleh Gavin, yang kini berada sepuluh centi meter dari wajahnya.


Setelah berhasil membaringkan Meyshila di tempat tidur yang ada di kamar gadis itu. Gavin segera keluar dan mengambil hendphonnya yang berada di kamarnya, namun baru menyadari jika bajunya ternyata kotor, Gavin segera mengantinya. Kemudian kembali lagi ke kamar Meyshila sambil sibuk beberapa kali menghubungi seseorang, namun tidak ada jawaban.


"Sa-Kit--, Hiks---Hiks---" gumam Meyshila lemah di selangi tangisan, membuat Gavin tambah panik.


Gavin berlari dan segera duduk di samping Meyshila terbaring, sambil mengelus pucuk kepala gadia itu degan lembut dan berusaha berpikir keras untuk menenangkan Meyahila yang merasa kesakitan. Tiba-tiba kilas balik kejadian terlihat di pikiran Gavin, dimana Dame Davin yang merasakan sakit pada kepala dan perutnya. Lalu meminta Gavin agar segera mengambil obat yang ada di laci meja samping tempay tidurnya.


"Hiks...Hiks...mama.. papa.." racau Meyahila, membuat Gavin tersadar dari lamunanya. Kemudian keluar dari kamar Meyshila menuju kamar Dame Davin yang ada di lantai satu. Sesampainya di kamar Dame Davin, Gavin segera membuka laci dan menemukan sebotol obat cair yang pernah ia berikan kepada Omanya di kala sakit kepala dan perut menyerang akibat Maag Kronis yang di derita Dame Davin.


"Sepertinya gejalah yang di alami Shila dan Oma hampir mirip, hanya saja Meyshila sempat muntah sedangkan Omah tidak" kata Gavin, segera keluar dan membawa obat itu ke kamar Meyahila.


Sesampainya di kamar Meyshila, Gavin segera mencari hendphonya dan mencoba menghubungi kembali seseorang untuk memastikan dugaannya mengenai obat yang mungkin bisa memberikan pertolongan pertama buat Meyshila. Tak lama ada sautan dari sebrang sana membuat Gavin menghelanafas kasar.


"Paman, langsung keintinya saja. Kalau orang degan gejala sakit kepala dan perut disertai muntah biasanya itu penyakit apa..?" tanya Gavin cepat.


"Tergantung dari penyakit yang di deritanya, tapi kalau gejalanya seperti itu. Biasanya di karenakan maag yang muncul akibat telat makan atau tidak ada asupan nutrisi yang memicu--" jelas suara seorang pria terhenti oleh Gavin"


"Penjelasanya nanti aja paman, bagai mana degan obat Oma yang dari Pam---" kata Gavin terhenti.


"*Iya Obat itu sagat berguna di waktu gentin**g, apalagi penderita ma--" kata pria itu lagi terhenti*.


"Makasi informasinya paman. Ingat, Gavin tunggu secepatnya. ***..Wr..Wb.." kata Gavin singkat, memutuskan sambungan panggilan. Kemudian segera meminumkan obat tersebut kepada Meyshila yang terlihat sagat pucat.


Baru beberapa menit Meyshila meminum obat dari Gavin, Ia kembali mual membuat Gavin tambah panik. Dengan perlahan Meyshila membimbing tangan Gavin yang berada di dekatnya untuk memijat kepalanya tang teramat berat. Dengan perlahan Gavin mengerti dan mulai memijit kedua pelipis Meyshil sambil memberikan aroma terapi yang ia dapat dari atas nakas kamar Meyshila, sehingga membuat Meyshila perlahan agak tenang.


Gavin menatap wajah Meyahila dengan seksama "Cantik" desirnya perlahan, tak lama Gavin tersadar akan ucapannya.


"Astaga gue khilaf, pasti ini semua adalah godaan sayton. Mending gue baca ayat suci, biar pikiran gue ngak ternodai dan di ganggu oleh sayton" kata Gavin gusar, kemudian memejamkan kedua matanya dan mengeluarkan suara yang fokus degan lantunan ayat suci sambil memijit kepala Meyshila.


Meyshila yang mendegar suara lantunan ayat suci yang di baca oleh Gavin, memaksanya membuka mata dan menatap Gavin yang malah memejamkan mata sambil memijit kepalanya. Tanpa di sadari oleh Gavin, Meyshila mengulas senyumnya kemudian kembali menutup matanya.


Tak terasa suara Azan subuh mulai terdengar, membuat Gavin membuka matanya dan menatap kembali Meyshila yang sepertinya sudah tertidur.


"Mending gue sekarang sholat subuh" kata Gavin melepas pijatan tanganya, kemudian segera beranjak dari tempat tidur Meyshila.


Pagi dini hari.......


Di sebuah kamar bernuansa putih. Seorang gadis terbaring lemah di atas tempat tidurnya, tengah di periksa oleh seorang pria berjas putih dan ditemani seorang peria yang beberapa jam lalu selalu berada di sisi gadis tersebut.


"Siapa gadis ini Vin ? dia bukan istri siri kamukan ? dan kenapa bisa dia berada di rumah tante Dame Davin ?" tanya pria berjas putih degan stetoskop yang melingkar di lehernya semangat.


"Paman ngak usal alay, pertanyaan barusan hanya Oma yang bisa jawab. Yang penting keadaan gadis iti bagai mana sekarang ?" tanya Gavin gusar, melihat tingak kekepoan Pamanya.


"Keadaanya mulai membaik, Paman juga sudah memasangkan cairan infus. Jadi ketika gadis manis itu terbangung, kamu harus memaksanya untuk makan. Walaupun hanya sedikit, kemudian kamu bisa berikan obat ini kepadanya" kata pria berjas putih, sambil menyodorkan obat dari dalam tasnya.


"Paman jagan tertipu degan wajahnya yang manis, dia itu sebenarnya gadia yang amat jutek dan pemarah. Percaya sama Gavin" kata Gavin mencoba meyakinkan pamanya.


"Jutek-jutek tapi mampu mengalahkan kamu" ledek paman Gavin.


"Kalah" beong Gavin.


"Iya kamu kalah, coba pikirkan. Gavin yang terkenal sedari dulu degan kecuekannya atau degan kata lain pria yang lebih mengutamakan egonya di banding rasa kemanusiaan, kini berubah menjadi sosok pria penuh perhatian kepada sosok gadis berwajah manis namun jutek" jelasnya penuh sindiran sambil menatap Gavin sambil tertawa.


"Paman salah besar, Gavin han---" jelas Gavin terpotong.


"Paman sibuk, penjelasan kamu ngak berfaedah. Mending Paman pulang" kata pria berjas putih itu, melangkah berlalu meninggalkan Gavin dan Meysila.


"Sepertinya paman membalas perlakuanku yang selalu memotong perkataanya di telfon" gumam Gavin sambil tersenyum.


"Gavin gue laper" suara manja Meyshila. Membuat Gavin yang tadinya tersenyum, tersadar dan segera menghampiri Meyshila.


"Oke, gue keluar sebentar membeli makanan. Lo jagan bergerak ataupun berbuat sesuatu, ingat itu. Jagan keras kepala" peringatan Gavin, sambil berjalan degan mata tajam ke arah Meyahila. Kemudian segera berlalu keluar.


"Dasar orang aneh. Udah tau gue sakit, malah ribut sama dokter di kamar gue. Liatkan jadinya, gue jadi terbangun" kata Meysila kesal, setelah punggung Gavin menghilang dari pandangannya.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Matahari yang kini sudah meninggi, memperlihatkan waktu siang hari yang amat cerah. Dua sosok anak remaja yang berbeda jenis sedang sibuk saling berebut remot televisi. Sehingga suasana ruang keluarga seketika menjadi panas, walaupun Ac di ruangan itu sudah menyalah.


"Lo itu cowo, seharunya ngalah sama yang cewe" kesal Meyshila sambil mengejar Gavin, yang mengitari sofa ruang keluarga.


"Kalau cewenya kaya Lo, gue ngak mau ngalah" jawab Gavin sambil berdiri disisi sofa yang berlawanan degan tempat Meysila berdiri.


"Gue laporin Lo sama Oma" ancam Meyshila, sambil berkacak pinggang.


"Ohh.... jadi sekarang beraninya ngancem, Lo lupa siapa yang nyelamatin nyawa Lo pada saat sekarat satu minggu yang lalu" sindir Gavin, sambil tersenyum sinis.


"Ngak usah ngebahas hal yang sudah berlalu, kalopun Lo sakit. Sebagai sesama manusia, gue pasti akan bantuin Lo juga kok" jawab Meyshia, sambil menatap tajam Gavin.


"Ekhem" deheman Gavin sambil berusaha menetralkan perasaanya. Lalu melanjutkan perkataannya. "Jadi orang ngak sebodoh itu juga, kalaupun Lo tidak pandai memasak. Tapi paling setidaknya, Lo harus berusaha. Walaupun hasilnya kurang memuaskan, seengganya ngak perlu menyiksa diri sendiri" jelas Gavin tegas, membuat Meyshila mengernyitkan dahi.


"Tumben, orang ini memikirkan orang lain. Biasanya juga cuek sama nyebelin banget" gumam Meyahila samabil fokus memperhatikan wajah Gavin, berusaha mencari kebohongan. Namun yang di dapat hanyalah wajah serius dalam mempringati.


"Awas" kata Gavin, menyadarkan Meyshila.


"Ha.." beong Meyahila, tidak mengerti.


"Awas" kata Gavin lagi.


"Ha.. apa ?" beong Meyshila masih belum mengerti.


"Awas Lo jatuh cinta sama gue, natapnya fokus banget" kata Gavin sambil tertawa, kemudian melemparkan remot Tv dan lari meninggalkan Meyshila yang merengut kesal.


"DASAR GAVIN KAMPRET" teriak Meyahila kesal, kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang berada di ruang keluaraga.


"Gara-gara kejadian satu minggu yang lalu, Gavin jadi tau sisi lemah dan manja gue. Gue harus gimana sekarang, duniaku seperti jungkir balik seketika. Apalagi anak itu mulai ngusilin ketentraman hidup gue. AAARrrrkkkhhhhh..." gumam Meyshila, sambil di akhiri teriakan kencang sakin frustasinya memikirkan akan ketentraman hidupnya di esok hari dan seterusnya.