
Susana di sebuah ruang kelas terlihat ramai. Dimana seluruh penghuninya sedang asik degan kegiatan masing-masing, sambil menunggu kedatangan Dosen yang akan mengajari mereka di jam pertama.
Sedangkan Meyshila dan kedua sahabatnya yang terlibat perbincangan serius mendadak terhenti, tatkala seorang Akhzan yang tiba tiba berteriak di depan kelas. Sehingga semua perhatian kini mengarah kepadanya.
"Terimakasi atas perhatianya, gue Akhzan sahabat baik Bintang igin mengumumkan dengan hormat. Bahwa hari ini Bintang teman sekelas kita akan mengundang kalian semua untuk menghadiri acara ultanya yang akan di laksanakan di Bar Zzz pada pukul 16.00, yang bertepatan degan peresmian Bar Zzz dari pemilik usaha Bin--" kata Akhzan terhenti, ketika pintu kelasnya tiba tiba terbuka lebar. Memperlihatkan sosok Bintang yang muncul degan wajah yang di tekuk menatap tajam ke arah Akhzan.
"AKHZAN..." teriak Bintang. Membuat Akhzan mengambil langkah seribu, berusaha menghindar dari kejaran Bintang. Sehingga menimbulkan gelak tawa dari satu kelas mereka yang melihat Akhzan dan Bintang layaknya Tom and Jerry.
--------11.30--------
Meyshila dan kedua sahabatnya yang berada di kanting Mbak Rani, sedang menikmati batagor kegemaran mereka. Alma dan Delisa begitu lahap menikmati makanan mereka, sedangkan Meyshila terlihat gelisah sambil sesekali menengok ke arah belakang.
"Shil, dari tadi aku perhatiin, kamu kok sepertinya tidak menikmati makananmu" Tegur Delisa. Membuat Alma yang sedang fokus degan makanannya, seketika menatap Meyshila.
"Gue risih degan tatapan senior yang duduk di sudut belakang sebelah kiri kita" kata meyahila degan suarah rendah. Membuat Delisa dan Alma seketika menatap ke arah yang di maksud sahabatnya, dimana sosok pria degan kemeja biru dongker berlengan pendek yang di padukan dega celana jeans panjang membuat kulit putihnya tampak bersih degan tatapan tajam yang tertuju ke arah Meyahila yang membelakanginya.
"Hay.., kalian berdua ngak usah natap kaya gitu juga kali" sentak Meyahila, membuat Alma dan Delisa sadar dan kembali menatap ke arah Meyahila.
"Sumpah ya Shil, gue ngak nyangka pesona Lo mampu membuat pandangan kak Melviano Tyaga zafrand yang terkenal degan kemisteriusannya. Tak berpaling sedikitpun, walaupun gue dan Delisah udah natap ke arahnya" ucap Alma mengebuh ngebuh, dengan suara agak rendah.
Plak..
Meyshila mengeplak kepala Alma, membuat siempu mengaduh kesakitan. Sedangkan Delisah malah tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Dasar sahabat durhaka, Gue ngak pernah mau nebar yang namanya pesona. Terutama di depan mahluk yang namanya pria, yang terkenal degan mata keranjangnya" ketus Meyshila degan nada suara agak besar, membuat Alma dan Delisa segera membekap mulut sahabatnya. Ketika melihat sosok pria degan tatapan tajam itu perlahan bangkit dari tempatnya, kemudian berjalan melalui meja mereka degan ransel yang disampirkan pada sebelah bahunya hendak keluar dari kanting mbak Rani.
"Akkhh.." pekik Alma dan Delisa bersamaan, ketika tangan mereka berhasil di gigit Meyshila.
"Siapa suru kalian membekap mulut gue" ketus Meyahila.
"Seharusnya Lo itu berterimakasih, karena gue dan Delis menyelamatkan hidup Lo dari seorang Monster yang siap menerkan jika sampai mendegar ucapan Lo barusan" kata Alma degan bangga.
"Ucapan gue emang kenapa ?" tanya Meyahila bingung, membuat kedua sahabatnya menepuk jidat.
"Ucapan Shila ngak salah kok, tapi--" kata Delisa menggantung.
"Tapi mampu membuat dara seorang pria mendidih, apalagi moster kaya kak Ano yang di kenal sebagai orang yang sagat tegas, kejam, dan gosip-gosipnya sih dia itu seorang anggota tipikor degan mata tajam, setajam silet" Sambung Alma, degan gaya menyerupai host pembawa gosip. Membuat Meyshila dan Delisa mengeleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang unik seperti Alma.
"Tersera, gue ngak peduli degan senio itu. Yang gue peduliin hanya satu, bagai mana gue bisa hadir ke acara Bintang tanpa sepengetahuan Gavin" kata Meyshila menatap ke dua sahabatnya.
"Kamu yakin Shil, mau datang ke acara Bintang. Apalagi pestanya di adakan di Bar, pasti banyak orang yang joget-joget sambil menikmati minuman beralkohol yang bisa merusak ke sehatan" kata Delisah berusaha mencegah Meyshila.
"Delisa yang manis dan cantik, Lo ngak perlu khawatir. Konsep Bar Zzz dan Club malam itu berbeda, Dimana konsep Bar Zzz itu mirip seperti Kafe, nah biasanya anak-anak muda nih pergi ke Bar untuk sekedar nongkrong dan sebagainya. Biasanya mereka berpakaian santai dan dapat memesan minumannya sendiri, mau yang beralkohol ataupun tidak tergantung dari pesanan kalian kepada para bartender" jelas Alma
"Terus, gimana kalau Gavin ngelaran gue ?" tanya Meyshila frustasi
"Tenang Shil, hari ini Gavin sedang sibuk di kantor Omanya. Apalagi klayen dari luar negeri datang mengajukan kerja sama, pasti pertemuanya berlangsung lama. Percaya deh sama gue, Gavin saja ngak sempat ke kampus hari ini" kata Alma sambil sibuk mengetik sesuatu di hendphonnya.
"Bagai mana Alma tau kalau Gavin lagi sibuk ?" tanya Delisa.
"Iyalah gue tau, kan gue sekertaris pribadinya" kata Alma santai.
"Tapi, Lo kok ngak ikut di pertemuan itu. Kan Lo sekertaris pribadinya ?" tanya Meyshila, yang di benarkan oleh Delisah.
"Soal itu kalian berdua ngak perlu tau, yang penting kerjaan gue sebagai sekertaris pribadi bisa berjalan lancar degan tekhnoligi canggih. Coba kalian liat ini-" kata Alma sambil memperlihatkan layar hendphonya.
"Astaga... keren banget Alma" kata Delisa giran.
"Jadi Lo tinggal ngerjaain semua tugas degan hendphon dan mengirimnya langsung melalui aplikasi ke Gavin ?" tanya Meyahila.
"Yaps, Gavin menyiapkan semua keperluaan dari yang kecil sampai yang besar bagi seluruh karyawanya yang bekerja di kantor Omanya dan di kantornya sendiri. Contoh mengembangkan Aplikasi bagi karyawan yang memiliki keperluan mendadak sehingga tidak sempat datang ataupun mengikuti pertemuan di kantor" jelas Alma, yang mendapat anggukan dari Meyshila dan Delisah.
"Jadi.. saat ini.. sahabat gue yang lagi nikmati batagor kegemarannya, termasuk tipe karyawan yang memiliki kepentingan mendadak gitu-" sindir Meyshila, sambil menatap Alma yang melahap kembali batagornya. Membuat Delisa tertawa, sedangkan Alma hanya dapat menyengir kuda degan mulut yang dipenuhi makanan.
--------17.00------
Di sebuah gedung yang luas bertuliskan Bar Zzz degan interior moderen, yang di hampir di penuhi oleh gerombolan manusia berbeda jenis yang sedang menikmati makanan dan minuman yang di suguhkan oleh Bartender.
"Liatkan Bin pesata lo jadi ramai, plesnya tempat Lo juga ikut terkenalkan berkat gue. Jadi Lo harusnya bangga punya sohib kaya gue" kata Akhzan degan pedenya.
"Bodo amat" Kata Bintang sambil memalingkan wajahnya memandang ke arah teman-teman satu jurusanya yang menikmati pesta di Bar Zzz miliknya. Namun arah pandang Bintang tertuju pada sekat dinding kaca bening tebal, yang memisahkan ruangan yang ia tempati degan ruang privat yang di peruntukkan kepada orang yang memiliki kepentingan khusus degan suasana tenangan.
"Gavin" gumam Bintang pelang, Membuat Akhzan yang persis berada di sampingnya mengernyitkan dahi akan perkataan sahabatnya.
"Gavin ? Lo rindu Gavin ya Bin ?" tanya Akhzan, Membuat Bintang seketika memalingkan muka sahabatnya itu. Yang awalnya menatapnya, kini pandanganya beralih ke arah dinding kaca yang memperlihatkan dua sosok pria dengan pakean formal sedang asik mengobrol.
Mulut Akhzan seketika membentuk huruf O setelah mengetahaui maksud dari Bintang yang tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arah dinding yang menampilkan sosok Gavin yang terlihat asik mengobrol degan seorang pria bule degan beberapa berkas di atas meja di dalam ruangan privat tersebut.
"Gavin emang sohib terbaik, lihat Bin sepertinya Gavin sengaja memilih tempat Lo ini untuk di jadikan tempat pertemuannya degan Klayen yang dari luar negeri dalam membahas kerja samanya" kata Akhzan yang mendapat angguka kepala dari Bintang. Mereka berdua kembali fokus menatap ke arah Gavin, sehingga tidak menyadari jika seorang perempuan dari arah belakang kini berjalan sambil mengendap-endap mendekat ke arah mereka.
"DOORRRR" Pekik Alma persis di tengah, antara telinga kanan Bintang dan telinga kiri Akhzan yang saling berdekatan. Membuat Kedua pria tersebut terkejut bukan main, hingga sebuah layangan tinjuan hampir mengenai wajah Alma. Jika sampai Meyshila dan Delisa telat menarik tubuh Alma ke belakang.
"YANG KALIAN LAKUIN ITU JAHAT" kata Alma degan suara tinggi, sambil berakting layaknya seorang wanita yang tersakiti.
"Lebay" kata Bintang degan penuh penekanan. Membuat Akhzan tertawa cekikikan melihat reaksi Alma, yang seperti cacin kepanasan yang merengek hendak mendapat pembelaan dari kedua sahabatnya atas perkataan Bintang. Namun Meyshila dan Delisah mengabaikan sahabatnya itu, dan malah menghampiri Bintang sambil memberikan kado serta ucapakan selamat ulan tahun.
"ALMA" sentak Meyshila, membuat Alma terdiam. Kemudian ikut menghampiri Bintang sambil menyodorkan kado dan memberikan ucapan selamat. Setelanya, mereka bertiga segera duduk dan memesan makanan dan minuman.
Tak lama menunggu, bartender datang memberikan pesanan mereka. Ketiga wanita yang berada di meja paling depan dekat panggung mini, dimana sebuah group musik yang berangotakan lima pria muda sedang perform menatap ke arah mereka.
"Menurut aku dia sedang menatap kita bertiga, bukan hanya kamu Alma.." kata Delisah sambil menggeleng- geleng kepala melihat Alma yang jadi salah tingkah.
"Uhuuk..Uhuuk..Uhuuk...." suara batuk Meyshila membuat dua sahabatnya panik. Delisa segera menepuk punggung Meyshila, sedangkan Alma yang segera menyodorkan segelas air minum yang baru saja dimintanya dari seorang bartender.
"HAAAA.." hembusan nafas lega Meyahila, membuat kedua sahabatnya ikut bernafas lega.
"Sumpa ya ini minuman thai tea yang gue pesan pahit baget, warna dan cara penyajiannya juga beda" serkas Meyahila degan nada cepat, membuat kedua sahabatbya ikut menatap gelas kaca yang berukurang sedang degan isi yang hanya berkurang sedikit dari awal penyajiannya.
"Kamu ngak salah pesankan Shila ?" tanya Delisa sambil mentap gelas Meyshila.
"Gue rasa Lo ngak akan bisa minum minuman itu sampai habis. berhubung thai tea pesanan Lo itu salah. Tunggu sebantar, gue tanya Bartendernya dulu" kata Alma segera meninggalkan tempat duduknya.
Meyshila yang merasa tertantang degan perkataan Alma yang menurutnya sedang meremehkan kemampuannya dalam menghabiskan thai tea pahit pesanannya itu, degan rasa ragu-ragu dan was-was. Meyahila meneguk kembali minuman pahit yang membuat tenggerokannya terasa getir. Hingga sebuah tangan merebut paksa gelas yang masih menempel pada bibir Meyshila, sehingga isinya yang hampir tandas tertumpah mengenai pakaian Meyahila.
"ALMA" pekik Meyahila spontang. Karena menuruntnya, hanya Alma yang bisa melakukan hal yang menjengkelkan seperti itu. Pandangannya kini tertunduk melihat pakaiannya yang terlihat basah, tanpa melirik ke arah sipelaku sedikitpun.
"Kenapa Lo bisa berada di tempat ini dengan minuman beralkohol" suara bariton degan penuh penekanan di setiap katanya, yang terdegar sagat familiar di telinga Meyahila. Membuat pandangannya yang awalnya tertunduk kini perlahan terangkat, hingga mata coklatnya terkunci dengan mata coklat tajam seorang pria yang kini tengah menatapnya.
"***Alkohol*... ? gue kira pelakunya Alma ternyata**..." gumam Meyahila dalam hati degan kebingungan akan perkataan barusan mengenai Alkohol, pandangannya tak lepas dari mata tajam pria yang sedang menatapnya.
Sedangkan Alma yang baru saja kembali degan sebuah minuman thai tea asli ditanganya terhenti, ketika merasakan situasi di Bar Zzz tiba-tiba terasa tegang. Dimana sosok pria yang dikenalnya berdiri di samping meja tempatnya tadi degan dua sahabatnya yang kini terlihat terkejut dan ketakutan.
"Ga--vin--" suara Meyshila tercekat. Menatap sosok pria tinggi yang berdiri di sampingnya degan setelan pakaian formal yang melak di tubuhnya, serta rambut yang mulai berantakan tanpa melepas tatapan tajamnya ke arah Meyahila yang begidik ngeri di tempatnya. Sedangkan Delisa yang sedari tadi berada di depan Meyshila, hanya bisa tertunduk sambil meremas kedua tanganya akan rasa takut yang Gavin berikan.
"PULANG" tegas Gavin, membuat situasi di Bar Zzz itu hening seketika. Meyahila yang masih terdiam di tempatnya membuat Gavin kembali bersuara.
"SHILA" sentak Gavin, membuat suasana semakin tegang. Bintang yang mencoba untuk mendekat agar bisa menenangkan emosi Gavin terhenti, ketika sebelah tangan Gavin terangkat untuk mencegahnya.
"Cepat ikut gue" tegas Gavin, sambil menarik paksa tangan Meyahila dan berlalu dari tempat tersebut. Membuat semua pandangan yang ada disana, menatap tak percaya kearah Gavin yang terkenal dengan kecuekanya, terutama terhadap mahluk yang namanya perempuan. kini menarik paksa pergelangan tangan Meyahila hingga menghilang dari pintu keluar Bar Zzz.
Meyshila sudah tidak peduli lagi dagan situasi yang akan terjadi di Bar Zzz setelah kepergian mereka berdua. Yang saat ini di pikirannya hanya satu 'Rasa Takut' melihat sisi lain Gavin yang brutal memukulu stir mobil degan kedua tangannya.
"GAVIN HENTIKAN, TANGAN LO BISA CEDERA" pekik Meyshila, merasa takut degan tubuh bergetar serta rasa kasihan menatap tangan Gavin yang mulai lebam dan memerah.
Gavin yang merasakan ketakutan pada diri perempuan di sampingnya, kini menghentikan aksinya dan mulai menancapkan Gas mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan area parkir Bar Zzz tanpa mempedulikan suara isak tanggis Meyahila.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Selama perjalanan, Gavin hanya terdiam sambil sesekali menatap wajah terlelap Meyshila yang berada di sampingnya setelah kelelahan menangis sedari tadi. Entah bagai mana, mood swings Gavin seketika berubah menjadi tenang kembali. Sehingga terbitlah senyum jail setelah melihat wajah judes Meyshila yang masih terlelap.
CITTTT....
Gavin seketika menginjak pedal rem mobilnya, membuat kepala Meyshila tebentur di pintu kaca mobil. Sehingga siempu terbangung degan ringisan kesakitan yang lolos dari mulut mungilnya sambil mengusap bagian kepalanya yang terasa sakit.
"Lo lebih pantas menjadi matador banteng, dari pada pengendara mobil yang bisanya membuat nafas orang tercekik" ketus Meyahila, kemudian berlalu keluar dari mobil Gavin degan langkah gontai akibat pengaruh meminum alkohol yang ia kira thai tea yang di pesannya. Gavin hanya tersenyum sambil menggeleng kepala akan perkataan Meyshika yang mulai mabuk.
"Dia yang salah, dia sendiri yang marah. Dasar aneh, seharusnya kata maaf lah yang keluar dari mulutnya. Agar gue bisa mentolelir kesalahannya yang berani keluar tanpa sepengetahun gue, apalagi ke Bar bersama orang lain" keluh Gavin yang masih berada di dalam mobil, sambil menatap Meyahila yang berusaha mencapai pintu utama degan susah paya akan langkahnya yang gontai.
Brukkk
Meyshila yang hendak memasuki pintu utama kediaman Dame Davin terjatu, membuat Gavin segera keluar dari dalam mobil dan membimbingnya masuk ke dalam degan susah payah.
Sesampainya di kamar Meyahila yang berada di lantai dua, Gavin menggiring paksa tubuh Meyahila yang hendak tertidur di atas kasur menujuh ke arah toilet. Untuk memaksa memuntahkan semua minuman beralkohol yang masuk ke dalam tubuh Meyshila, degan cara memperlihatkan sebuah video menjijikan dari hendphon Gavin yang di temukannya dari mesin pencarian y*utu*e. Cara tersebut berhasil, dimana Meyshila tiba-tiba mual dan memuntahkan semua isi perutnya. Termasuk makanan yang sebelumnya ia makan serta cairan berbau alkohol yang keluar dari mulutnya.
Gavin degan setia berada di samping sambil memijit tengkuk leher Meyshila degan perlahan. Membuat Meyahila merasa nyaman, dan kesadaranya perlahan mulai kembali.
***Roofthop ***
Setelah kesadaran meyshila yang sudah kembali membaik dari pengaruh minuman beralkohol, dengan berbagai cara yang Gavin lakuin.
Kini pria itu mengajak Meyshila untum menikmati suasana di malam hari ini yang terasa sejuk. Dimana awan yang bergerombolang mencoba menutup langit yang dihiasi dengan taburan bintang serta cahaya bulan sabit yang terlihat cantik, dengan semilir angin yang menerpa wajah sepasang anak manusia yang berbeda jenis sedang bercengkrama sambil menikmati suasana malam di sebuah Roofthop yang terdapat di lantai paling atas di kediaman Dame Davin.
"Baru kali ini gue merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hidup ini" kata Meyshila sambil menatap ke arah langit malam yang terlihat luas.
"Tentu pasti Lo pertama kali merasakan minuman yang masuk, harus Lo muntahkan kembali degan melihat video menjijikan yang gue putar" kata Gavin sambil tertawa, membuat Meyshila mengangguk dan ikut tertawa,
"Lo juga pasti pertama kali mandi tengah malam degan air dingin, untuk mengembalikan kesadaran Lo dan menjadi lebih segar" kata Gavin tak berhenti tertawa, membuat Meyshila kembali menganggug dan ikut tertawa sampai air matanya keluar dari kedua sudut matanya.
"Lo juga pasti pertama kali menikmati malam seperti ini. Dengan suasana sejuk di tengah malam, di lantai paling atas sebuah Roofthop mini di temani degan seorang cowo paling ganteng kaya gue" kata Gavin dengan pedenya sambil tertawa cekikikan, membuat pandangan Meyahila kini fokus menatapnya.
"Malam ini, Cowok di depan gue terlihat sagat lepas. Seperti orang yang tidak memiliki beban sedikitpun. Berbeda dengan sikapnya yang terlihat emosi beberapa waktu yang lalu di Bar Zzz, membuat gue takut dan--" gumam Meyshila dalam hati, sambil mengigat kejadian yang lalu dimana Gavin menatapnya tajam tanpa berpaling sedikitpu.
"Shila" panggil Gavin, tapi belum ada tanggapan dari Meyshila yang masih setia melamun.
"MEYSHILA DOMINICK SERAFINO" teriak Gavin persis di samping daun telinga Meyshila, membuat si empuh segera menoleh ke semping. Membuat wajah mereka saat ini saling berhadapan degan jarak yang cukup dekat, dimana hembusan nafas keduanya saling menerpa ke wajah mereka satu sama lain.
"Lo tadi panggil nama panjang gue apa.. ?" tanya Meyshila bingung. Akan ketidak fokusannya, setelah berhasil menjauhkan wajahnya dari Gavin.
Gavin jadi tersadar akan perkataanya barusan "Kok gue tadi panggil nama dia dengan embel-embel nama belakang gue" gumam Gavin dalam hati, kemudian berpikir untuk memberikan tanggapan tepat kepada Meyshila.
"Tidak ada siara ulang, kalau mau. Lo harus bayar gue degan sebuah lolucon yang lucu" tantang Gavin sambil tertawa melihat Meyshila yang kini memasang wajah judesnya, dan kembali mengerutuh akan sikap Gavin yang kembali menyebalkan baginya.
"Dasar pria kurang ekor, gue tadi sebenarnya igin berterimakasi karena telah menolong gue dari pengaruh minuman beralkohol. Tapi kalau melihat sikapnya yang menyebalkan kaya gini, gue ingin pletak kepalanya saja. Biar geger otak sekalian" umpat Meyshila kesal degan nada cepat, membuat Gavin malah tertawa cekikikan.
"Kayanya gue udah mulai nerima ini anak masuk jadi anggota keluarga gue" gumam Gavin dalam hati, sambil mengalihkan pandanganya ke arah langit malam. Mencoba menentralkan perasaannya, yang selalu igin tertawa jika melihat wajah judes Meyahila.