the heart that chooses

the heart that chooses
13. Perjalanan Waktu



Malam yang gelap, sebuah mobil melaju degan kencang di jalanan yang terlihat lengang.


"Gavin, Lo ngapain ke rumah Alma malam-malam gini." seru Akzan yang duduk di samping Gavin yang sedang mengemudi.


"Nanti Lo tau sendiri, sekarang tunjukin ke gue mana rumah Alma" balas Gavin sambil menurungkan kecepatan mobilnya, setela memasuki daerah perumahan.


"Lo tau rumah gue kan, rumah Alma persis di depan rumah gue" Kata Akzan sambil menatap Gavin yang sedari tadi fokus mengemudi.


Tak butuh waktu yang lama, mobil yang di kendarai Gavin dan Akzan memasuki sebuah pekaragan rumah yang terlihat luas. Mereka berdua segera turung dan masuk ke dalam rumah minimalis, setelah tua rumah memepersilahkannya.


---- Rumah Sakit ----


"Mas bagai mana ini, kata dokter...!!! Bosok Shila sudah di perbolehkan pulang ke rumah....!!!" Kata Luchiyana sambil menatap Dominick yang duduk di sofa ruang rawat Meshila, degan leptop di pangkuannya.


"Bukannya baik jika anak kita sudah di perbolehkan pulang" Kata Dominick santai sambil fokus bekutik degan leptopnya.


"Mas...!!! Aku sedang serius bicara degan mu, bisa tidak kerjaan itu kamu tinggalin sebentar. Aku mengkhawatirkan Shila yang sebentar lagi akan pergi dari sisi kita" Kata Luchiyana degan nada tinggi, sehingga membuat Dominick menghelanafas dan segera meletakkan leptonya ke atas meja yang berada di depannya.


"Sayang, kecilkan suaramu. Shila bisa saja terbagung" Kata Dominick sambil menoleh ke arah pembaringan pasien, dimana Meyshila terlihat sedang tertidur membelakanginya.


"Kalau aku tidak seperti tadi, Mas tidak akan mempedulikan perkataanku" kata Luchiyana degan wajah di tekuk. Sehingga Dominick segera memeluk istrinya sambil tersenyum.


"Iya, Mas yang salah. Sebenarnya Mas igin menjelaskan semuanya nanti setelah kita pulang dari rumah sakit. Tapi melihatmu yang seperti ini, mas akan menjelaskan semuanya sekarang juga" kata Dominick melepas pelukannya, kemudian menyandarkan kepala Luchiyana pada dadanya.


Dominick mulai menjelaskan semuanya kepada Luchiana secara terperinci, mulai dari terjadinya perjanjian itu sampai gagalnya pernikahan Meyshila. Luchiyana yang mendegarkan penjelasan suaminya terkadang hanya mengangguk dan sesekali mengerutkan dahi akan ketidak sukaannya mengenai penjelasan Dominick, sedangkan Dominick yang sedari tadi memperhatikan tanggapan istrinya mencoba untuk menenangkan agar tidak menimbulkan perdebatan yang dapat membuat mereka menjauh.


"Jadi maksud Mas, kita haru menyerahkan anak kita, tanpa bisa berbuat apa pun lagi. degan kemurahan dan kebaikan hati Dame Davin, dia tidak akan menuntut kita dan memilih memaafkan perbuatan Mas yang lancang tanpa sepengetahuannya" Kata Luchiana tegas. sambil menatap Dominick, mencari kebenaran dari kesimpulan hasil pemikirannya. Dominick hanya mampu mengangguk tanpa bisa mengeluarkan kata-kata untuk membenarkan perkataan Luchiyana.


Tanpa Dominick dan Luchiyana sadari, bahwa Meyshila ternyata hanya berpura-pura sedang tertidur. dan sedari tadi mendegarkan semua isi percaka antara kedua orang tuanya yang membuatnya menahan keras suara isak tagisnya agar tidak keluar, degan mencengkram keras sudut selimut yang melekat pada tubuhnya.


"Pa.., Ma.., Maafin Shila yang tidak sempurna dan tidak berguna ini. Shila yang seharusnya mengerti dan melindugi kalian, malah egois dan memikirkan diri sendiri. Tapi mulai saat ini, Shila akan berusahan sekuat mungkin menghadapi semuanya. Kalian berdua adalah sumber kekuatanku, tanpa kalian entah hidupku akan terasa hampa dan tak bermakna. Aku benar-benar menyayangi kalian sampai kapapun" Gumam Shila dalam hati yang terasa sesak dan sakit tanpa bekas.


°°°°°


Sedangkan Gavin dan Akzan yang kini masih berada di rumah Nur Azahra Almaira yang biasa di kenal degan sebutan Alma.


"Bagai mana, Lo setujukan jadi asisten pribadi gue, tenang aja gue ngak akan ganguin jadwal kuliah Lo. soalnya gue juga saat ini sedang mendaftar di sebuah universitas di kota Y ini" kata Gavin sambil menatap Alma dan seorang wanita paru baya yang duduk di depannya.


"Iya gue setuju, tapi bukannya Lo igin kuliah di luar negeri, kok daftarnya disini" Kata Alma penasaran.


"Hal itu Lo gak perlu tau, kedatagan gue kesini hanya igin mastiin Lo nerima kerjaan dari gue dan tidak pusing lagi cari kerjaan lain untuk biaya pegobatan orang tua Lo" kata Gavin degan nada santai.


"Terimakasi banyak Gavin, Lo udah bantuin gue dan nyokap gue. Dan sekali lagi gue minta maaf atas pertanyaan gue barusan" Kata Alma tulus dan merasa bersalah setelah mendegar tanggapan Gavin barusan.


"Alma Lo ngak perlu ngerasa bersalah ke Gavin, sifatnya memang kaya gitu kalau di singgung masalah pribadi" timpal Akzan tertawa, sambil menatap Gavin yang terlihat kesal.


"Tersera.." kata Gavin pada Akzan, kemudian beralih menatap wanita paru baya yang sedari tadi duduk diam disamping Alma. Gavin segera berpamitan dan mendoakan kesembuhan wanita paru baya itu. Setelanya Gavin melajukan mobil sport nya meninggalkan kediaman Alma, sedangkan Akzan jalan kaki kembali ke rumah nya degan kesal. karena Gavin tidak menemaninya sampai ke depan rumah dan mala berlalu pergi begitu saja.


* Kediaman Mhethyu *


Kevin yang sedari tadi terlihat mondar mandir di depan sebuah kamar sambil meremas kedua tagannya hendak masuk, akan tetapi rasa takut membuanya ragu untuk segera membuka pintu kamar tersebut.


klikkkk....


pintu kamar terbuka, Dame Davin yang baru saja keluar dari dalam kamar merasa heran degan kemunculan Kevin yang berdiri di depan kamarnya. Mata mereka saling beradu pandang, hingga akhirnya Dame Davin masuk kembali ke dalam kamar di ikuti oleh Kevin di belakangnya.


"Sekarang katakan apa yang mengganggu pikiranmu, sampai belum tidur selarut ini" kata Dame Davin segera duduk di sofa dalam kamarnya sambil menatap Kevin yang terlihat gelisa duduk di depannya.


"Oma...!! selama ini, Kevin tidak perna meminta sesuatu kepada Oma. Tapi kali ini, Kevin benar-banar memohon kepada Oma agar melepaskan Meyshila dan tidak mengganggunya" kata Kevin bangkin dari tempat duduk dan segera berlutut di depan Dame Davin dega wajah tertunduk.


"Wanita itu..!, apa kau mencintainya sampai rela melakukan hal ini didepan oma" kata Dame Davin sambil menatap Kevin yang mendongakkan kepala menatapnya degan ekspresi bigung.


"Kenapa..? apa kamu belum mengetahui jawaban pastinya. Lebih baik kamu segera keluar dan pergila tidur. Oma masih punya urusan lain yang harus dikerjakan" tukas Dame Davin yang hendak pergi, namu Kevin segera mecegah degan meraih sebelah tagannya.


"Oma, Aku hanya igin menjaga wanita itu dan selalu memberikan kebahagiaan di dalam hidupnya. Hanya itu, aku tidak igin yang lain" Kata Kevin degan suara lemah, tak terasa air matanya juga ikut menetes. akan rasa tidak tahu harus berbuat apa lagi, sehingga Omanya mau memahaminya.


Dame Davin menghela nafas dalam melihat tingkah cucunya. Sebelum akhirnya ia meraih bahu Kevin dan membimbingnya duduk di tepi kasur, kemudian menghapus air mata cucunya yang belum berhenti mengalir.


"Kamu taukan sifat Oma bagaimana..?" tanya Dame Davin pada Kevin yang masih terdiam.


"Iy...a Oma.. Aku dari dulu mengetahui, jika Oma tidak pernah setuju apabila harga diri manusia di rendahkan ataupun di sakiti degan alasan apapun. Dan Oma sudah membuktikannya degan membantu orang lain secara sembunyi-sembunyi tanpa igin di ketahui. Tapi kenapa sekarang Oma melakukan hal berbeda degan Shila..?" kata Kevin panjang lebar membuat Omanya tertawa akan perkataan kevin yang seperti anak kecil.


"kalau sudah tau, kenapa masih bertanya" Kata Dame Davin tertawa, kemudian melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya yang perlu kamu ketahui yaitu, terkadang apa yang kamu lihat dan degarkan belum tentu itu semuanya benar. Terkadang terselip sebuah rahasia yang membuat seseorang harus melakukan hal yang berbeda atau bertentangan degan prinsip atau kepribadiaanya, semua itu dilakukan untuk mencapai tujuannya dalam hal kebaikan. Tapi kembali lagi, itu semua tergantung dari niat masing-masing orang" kata Dame Davin sambil menghela nafas sambil termenung memikirkan sesuatu.


"Jadi niat Oma pada Shila, baik atau buruk..?" Tanya Gavin menatap Dame Davin sambil mencari kebenaran akan jawaban yang akan dia dengar.


"Tenanglah Oma lakuin ini, karena Oma mempunyai tujuan dan niat baik. Jika kamu percaya degan Oma, maka Oma tidak igin kamu mempertanyakan alasan megapa oma lakuin ini semua kepada keluarga Dominick. Apa kamu sekarang mengerti..?" Kata Dame Davin degan tegas menatap Kevin yang akhirnya mengangguk atas perkataan Oma.


"Aku mengerti, dan aku yakin rencana Oma kepada tuan Dominick pasti memiliki rahasia tersembunyi, yang cepat atau lambat Kevin akan segera mengetahuinya sendiri tanpa harus mempertanyakan" Kata Kevin kepada Oma dan segera berlalu keluar dari kamar setelah memeluk Omanya.


Setelah Kevin keluar Dame Davin mendapatkan telfon dari seseorang, Dalam percakapannya Dame Davin beberapa kali menyebut nama Gavin dan Alma. Setelah panggilan itu terputus, ia kembali terduduk di kursi dalam kamarnya.


"Ternyata mereka berdua sekarang sudah besar. yang satu masa bodo degan sekitarnya dan yang satunya terlalu peka degan sekitar. Dan sekarang mereka berani membuat masal tanpa mempedulikan keadaan Omanya yang sudah tua. Tapi sudahlah selama masala yang mereka perbuat tidak merugikan orang lain, aku akan tetap diam sambil memantaunya dari jauh" Gumam Dame Davin sambil tersenyum membayangkan kelakuan kedua cucunya yang memiliki sifat yang bertolakbelak belakang.


▪▪▪▪


-- 1 Minggu Kemudian --


Pagi yang cerah, degan sinar matahari yang menembus kaca jendela kamar. membuat seorang anak perempuan yang berbaring di atas tempat tidur terbagung, karena merasa terganggu degan sinar matahari yang mengenai badanya.


"Astaga... bisagaksi matahari ngertiin gue. Gue tu masi gantuk baget" Kata Meyshila sambil mencoba mengerjap matanya yang terlihat silau, degan sinar matahari yang masuk dari jendela kamarnya yang terbuka.


"Seharunya kamu yang gertiin matahari, dia tu sudah baik mau bagunin kamu. Masa ia kamu ngak hargain" kata Luchiana yang berdiri di samping tempat tidur sambil memperhatikan Meyshila yang terlihat kesal.


"Mama gapain pagi-pagi gini ke kamar Shila, bukanya mama banyak kerjaan kalau jam segini" Kata Meyshila yang sudah mendapatkan kesadaran sepenuhnya setelah terbagun dari tidurnya.


"Khusus hari ini, mama dan papa tidak akan bekerja. kami berdua akan menemanimu ketempat yang igin kamu datagi dan menghabiskan waktu sepuasanya. Jadi cepatlah beraiap-siap, mama tunggu kamu dibawah oke" Kata Luchiana yang segera meninggalkan Meyshila yang terlihat terkejut degan perkataannya.


"Waktu....!!!, mengapa Lo cepat banget datang, gue sebenarnya belum siap degan ini semua" Kata Meyshila sambil mengacak rambut panjangnya karena merasa frustasi. Lalu kemudian bangkit dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


..30 menit kemudian......


"Nak, sekarang katakan kepada Papa. Kamu mau kemana terlebih dahulh..?" Tanya Dominick kepada Meyshila yang terduduk di kursi bagian tegah, sedangkan Luchiyana duduk di samping Dominick yang sedang fokus mengemudi.


"Aku mau ke kebun buah atau tidak ke pinggir danau saja" kata Meyshila degan suara lemah sambil bersandar di jok mobil.


"Sayang, kenapa kamu memilih tempat seperti itu. Bagai mana kalau kita pergi ke moll sambil berbelanja barang kesukaanmu. Kali ini mama tidak akan protes degan kesukaanmu, mengoleksi boks minimalis yang hanya jadi pajagan saja" kata Luchiyana memberi sarang lain, agar anaknya tidak sampai membawanya ketempat terbuka yang terasa panas.


"Shila ngak mau ketempat yang ramai" kata Meyshila degan suara rendah sambil termenung.


"Kalau gitu, papa akan membawa kalian ke pinggir danau. Disana papa akan mengajak kalian naik perahu sambil memancing bagai mana..?" tanya Dominick sambil tertawa melihat perubahan ekspresi Luchiyana yang terlihat pasra degan keputusan suaminya.


"Iya" kata Meyshila singkat, degan pandagan kosong dimana pikirannya yang melayang kemana-mana.


Setelah menempuh waktu 1jam lamanya, akhirnya mereka sampai di sebuah danau yang terlihat tenang dan damai degan pemandagan pepohonan yang berjejer rapi di pinggir danau, serta kicauan burung yang merdu membuat mood Meyshila berubah membaik dan melupakan sejenak kekhawatiran yang melandanya.


"Mama pikir akan sagat panas berada di tempat terbuka seperti ini. tapi setelah merasakannya, mama beruba pikiran. Ternyata suasana disini sagatlah sejuk degan pepohonan yang rimbun dan agin yang menerpa, membuat otak dan tubuh menjadi rileks" Kata Luchiana tersenyum, sambil merangkul Dominick dan Meyshila yang berada di samping kanan kirinya.


"Bagai mana kalau kita mulai saja aktifitas kita degan melakukan berbagai kegiatan yang akan membuat kalian berdua merasa tambah semagat" kata Dominick sambil menatap Luchiyana dan Meyshila yang berada di sampingnya.


"Iya pa.. ma..., Shila ngak sabar. Seandainya kakak Anneliese belum pulang ke Amerika, pasti formasi kita lengkap dan menyenangkan melakukan hal di danau ini" Kata Meyshila sambil tertunduk.


"Mama dan Papa mengerti perasaanmu, akan tetapi kakak mu harus segera kembali kesana untuk menuntut ilmu dan mengejar cita-citanya. Jadi kamu jagan bersedih, karena Mama dan Papa selalu ada untukmu" kata Meyshila sambil memeluk Meyshila dan mencium pucuk kepala anaknya.


"Hay.... cepat kemari, papa akan mengantar kalian berkeliling sambil memperlihatkan pemandagan di sekitar danau ini degan perahu kayu" Teriak Dominick yang berada di atas perahu sambil melambaikan tagan, Luchiana dan Meyshila segera berlari ke arah Dominick.


Di danau hijau di kota X, Meyshila dan kedua orang tunya menghabiskan waktu degan melakukan berbagai kegiatan seperti Menaiki perahu yang di dayung oleh Dominick sambil melihat pemandagan hutan di pinggir danau, mereka juga melakukan aktivitas memancing yang menguji kesabaran. Hingga akhirnya menutup kegiatan degan menikmati santapan dari hasil pancingan yang di dapat. Setelahnya mereka bertiga menikmati suasana sunset yang memperlihatkan keindahan matahari yang terbenam degan cahaya keemasan yang di pancarkannya.


Dominick tersenyim menatap Luchiana dan Meyshila, yang terlihat bahagia di dalam rangkulannya.


"Kebahagiaan kalian adalah harta berharga yang aku miliki dalam hidupku, Seandainya waktu bisa di hentika. Aku igin menghentikannya dan igin selalu seperti ini. Kalau boleh aku egois, semoga hari perpisahaan itu tidak tiba esok harinya" Gumam Dominick dalam hati, tak terasa buliran air mata menetes ke pipinya, yang tidak di sadari oleh Luchiyana dan Meyshila yang masih setia menatap keindahan sunset.