the heart that chooses

the heart that chooses
12. Kesempatan



Disebuah ruang rawat VIP di sebuah rumah sakit di Kota X terlihat seorang wanita yang tergolek lemas di atas pembaringan pasien, degan selang infus serta selang oksigen yang menempel.


"Shila sayang, bagunlah nak. kami semua disini sagat menyayagimu" kata Luchiana sambil mengelus pucuk kepala Meyshila yang masih belum sadarkan diri setelah menjalani oprasi pada bagian kepal.


"Mas... bagai mana ini, Anak kita sudah satu minggu belum sadarkan diri dari koma. Apa lebih baik kita bawa dia berobat ke luar negri" Kata Luchiana panik, beralih menatap Dominick yang terduduk di atas sofa.


"Tenanglah sayang, Mas tau kalau kamu saat ini mencemaskan anak kita. Tapi tenanglah Mas tau jika Shila dapat melalui semua ini dan akan segera sadar. Karnea dia sudah berjanji, bahwa dia tidak akan pergi ninggalin kita semua. Apabila tanggung jawabnya belum terselesaikan" Kata Dominick sambil berjalan menghampiri Luchiana yang terduduk di tepi pembaringan, kemudian menggemggam tagan kanan Meyshila degan erat.


"Anneliese saat ini masih syok dan enggan untuk segera kembali ke Amerika, sedangkan Kevin sendiri masih bersi keras untuk bersatu degan Meyshila walaupun Nyonya Dame Davin menentangnya degan keras" Kata Luchiana sambil memeluk pinggang suaminya yang berdiri di smapingnya.


"Masalah ini biar Mas yang cari jalan keluarnya, yang terpenting Meyshila harus segera sadar. Karena keputusan anak kita yang akan menjadi acuan dari permasalahan ini untuk kedepannya" kata Dominick sambil meyakinkan istrinya yang terlihat khawatir.


---- Kediaman Methyu ----


Suasana yang biasanya nyaman dan tentram di sebuah rumah, berubah menjadi sagat mencekam ketika perdebatan yang tiada hentinya terjadi setiap hari selama seminggu ini. Dimana Kevin yang terang-terangan menentang keputusan Oma Dame Davin yang memintanya agar melepaskan Meyshila dan bersatu degan Anneliese sesuai degan rencana Meyshila sebelum mengalami kecelakaan tragis itu.


Methyu dan Meghan yang melihat perdebatan antara anak dan orang yang sagat ia hormati, tidak dapat membela siapapun dalam masalah ini. Apalagi setelah megetahui hubugun kerjasama yang megikat keluarga Dominick degan Dame Davin yang tidak bisa diangap remeh.


°°°°


Sedangkan Gavin sendiri malah sibuk mereparasi mobil kesayangannya di sebuah bengkel di kota Y, setelah memutuskan pulang dan meninggalkan Oma Dame Davin yang masih igin tinggal di kota X.


"Dasar wanita bodoh, suda tau kecepatan mobil ini sagat tinggi. Malah dibawa ugal-ugalan, sampai nabrak pohon yang diam tak bersalah" guman kevin kesal, sambil menatap mobil kesayangan nya yang masih dalam perbaikan.


"Bro... !! gue jadi penasaran, bagai mana keadaan cewe yang membuat mobil lo jadi bonyok sampai reparasi kaya gini" kata Akzan montir bengkel setelah mereperasi mobil tersebut, kemudian menghampiri Gavin yang berdiri di depannya.


"Terakhir gue tau dia koma, memangnya kenapa lo tanya keadaannya" Gerutu Gavin sambil beralih duduk di sebuah kursi panjang di ikuti oleh Akzan sahabatnya.


"Soalnya gue penasaran, keadaan mobil lo aja parah, apalagi keadaan sipengemudinya" seru Akzan menatap Gavin yang terlihat tenang.


"Kata orang, terkadang rasa penasaran akan cepat memicu kematian mendadak. Gue harap dia akan segera sadar dan bertanggu jawab atas kebodohan yang ia perbuat dalam hidupnya" kata Gavin sambil bersandar di kursi degan mata terturup.


---Rumah Sakit----


Luchiana yang masih setia menunggu di ruang rawat tertidur sambil memegang tagan anak perempuannya yang masi setia menutup mata,Tiba-tiba ia merasakan pergerakan dari genggamanya.


"SHILA....!!!" seru Luchiana terkejut, menatap kedua mata yang sagat ia harap kan terbuka. sekarang menatapnya degan sayup.


"Ma...Ma..., Ha..Us.." kata Meyshila terbata. Luchiana yang mendegar perkataan itu, tersenyum dan segera mengambil air yang berada di atas meja dan membantu Meyshila minum.


Tak lama setelah Meyshila sadar, ruangan yang tadinya sepi kini berubah menjadi ramai setelah kehadiran keluarga Dominick dan keluarga Methyu. Pertemuan antar kedua keluaraga yang berada di ruang rawat itu terasa canggung, dimana mereka hanya terdiam degan pikiran masing-masing dan hanya sling melempar tatapan.


"Shi...la.. segaja mengumpulkan kalian semu saat ini, karena..!!! Shila tidak mampu menyimpan masalah ini terlalu lama" kata Meyshila bersandar di kasur pembarigan pasien, sambil menatap wajah semua orang yang berada di dalam ruangan.


"Kesalah yang mungkin tidak dapat kalian maafkan, tapi tidak membuatku menyesal setelah melakukannya" kata Meyshila degan suara rendah, tapi masih terdegar jalas di telingan semua orang yang berada di dalam ruangan degan terdiam.


"SHILA.., Apa kau sadar degan perkataanmu barusan" sentak Dominick sambil menatap Meyshila yang masih terlihat lemah dan pucat.


"Aku sagat sadar, makanya Shila bertindak sebelum semuanya terlambat" Kata Meyshila degan tegas menatal semua orang degan mata berkaca-kaca.


"Bertindak kata mu....? apa kau tau tindakanmu membuatku hampir gila, gue tidak bisa bayakan jika harus kehilanganmu selamanya" kata Kevin frustasi menatap Meyshila yang masih mampu megatakan hal yang membuatnya merasa perih pada dadanya yang tak terlihat.


"Lebih baik kita semua keluar, biarkan Ketiga anak muda ini menyelesaikan permasalah mereka" Sela Dame Davi sambil menatap Meyshila, kemudian berlalu keluar di ikuti oleh yang lain.


"Bagai mana kalau mama tidak keluar dan tinggal disini sambil jagain kamu" kata Luchiana menghampiri Meyshila.


"Tidak perlu ma, disini ada ka Anneliese dan Ka Kevin


jadi mama tidak perlu khawatir. Shila hanya igin meluruskan semua dan tidak menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya" kata Meyshila berusaha meyakinka Luchiana yang segera keluar setelah merasa lega.


Setelah yang lain keluar, kini tinggal Meyshila, Anneliese dan Kevin yang berada di dalam ruang rawat tersebut. Meyshila meminta Anneliese dan Kevin agar mendekat ke arahnya, keduanya segera mendekat. degan cepat Meyshila meraih tagan Anneliese dan Kevin dan menyatukannya degan genggamannya.


Kevin dan Anneliese terkejut degan tindakan Meyshila, mereka berdua igin melepaskan genggaman Meyshila. Akan tetapi diurungkan karena Meyshila menggelengkan kepala degan kuat dan mulai menangis sambil mengeluarkan kata-kata yang membuat Anneliese dan Kevin menghela nafas dalam.


Sedangkan yang terjadi di depan ruang rawat Meyshila, terjadi perdebatan segit antara Dominick dan Dame Davin. Mhethyu dan yang lain yang mencoba menenangkan kedua orang yang saling melempar kata kata tajam hanya dapat terdiam setelah mendegar kalimat ancaman.


"Bagai mana Tuan Dominick, semuanya sudah jelas bukan. Anda sagat licik degan membuat rencana degan segerah menikahkan anak anda, agar bisa membebaskannya dari kontrak perjanjian kita" kata Dame Davin sinis kepada Dominick.


"Anda betul Nyonya, akan tetapi rencana itu gagal karena perbuatan anak saya sendiri. Maka dari itu saya meminta maaf atas kelancangan saya" Kata Dominick sambil mengepelkan kedua taganya menahan amarah.


"Kali ini saya memaafkan tindakan mu yang sagat berani tanpa sepengetahuan saya" Kata Dame Davin degan senyum sinis menatap kepalan tagan Dominick.


"Terimakasi atas kemurahan hati anda nyoya Dame Davin, yang mau memaafkan tindakan lancang saya" Kata Dominick degan suara rendah sambil menetralkan perasaan kacau yang dirasakan nya.


"Saya memang sudah memaafkan anda, akan tetapi kontrak perjanjian yang telah kita sepakati akan saya majukan setelah keadaan Meyshila sudah membaik dan sembuh total, serta audah diperbolehka keluar dari rumah sakit ini" Kata Dame Davin tegas, namun tetap tenang memperhatikan perubahan ekspresi Dominick.


"Lebih baik saat ini, kita tidak perlu membahas masalah kontrak perjanjian karena...." kata Meghan terhenti ketika Dame Davin menatapnya dega tajam.


"Tau apa kamu soal ini, lebi baik kamu diam" kata Dame Davin tegas sambil menatap Mhethyu yang segera menutup rapat mulut istrinya.


"Dan untuk anda tuan Dominick, lebih baik anda menjelaskan peraturan dan hukum yang berlaku bagi pihak yang berusaha mengingkari perjanjian yang sudah di sepakati. Namu masi mencari cara lain untuk mengingkarinya" Kata Dame Davin sambil bergantian menatap Dominick dan Luchiana yang terlihat menegang menahan amara.


"Baik Nyonya, saya akan mencoba memberikan pengertia kepada istri dan anak saya mengenai ini setelah semuanya membaik" Kata Dominick setelah berhasil menguasai dirinya yang hampir mengila akibat perkataan Dame Davin.


°°°°°


"Bagai mana apa kalian berdua mengerti perkataanku, Gue mohong demi kebahagiaan kita semua dan orang tua kita" Kata Meyshila yang masih setia degan menggenggam tagan Anneliese dan Kevin.


"Apa gara-gara benturan di kepalamu sehingga Lo berpikir liyar mengenai diriku dan Kakak mu" kata Kevin menarik tagan nya dari genggaman Meyshila, sambil meraba kepala Meyshila yang di perban.


"Sepertinya benturannya sagat keras, sampai kamu berpikiran gila. Bagai mana mungkin kamu berpikirran seperti itu dan meminta kakak dan kevin bersatu tanpa cinta..!!!" kata Annelies menatap Meyshila yang memgerucutkan bibirnya kedepan.


"Tanpa cinta..???, kalau kalia berdua belum siap untuk menikah, maka kalian bisa bertunagan terlebih dahulu. Sedangkan aku akan melakukan peranku sebagai anak yang baik buat papa dan mama" Kata Meyshila degan memelas seperti anak kecil degan mata berbinar.


"Gue akan mencoba membujuk Oma agar melepasmu, dan Gue juga akan mencoba melepasmu tanpa harus kau paksa bersatu degan Anneliese seperti rencanamu yang berantakan" Kata Kevin degan suara tegas dan hendak keluar, namu sgera di cegah oleh Meyshila degan menahan pergelangan tagan Kevin.


"Lo mau liat Gue mati atau idup, jagan coba-coba membuat semuanya menjadi berantakan. Gue akan tetap menjalankan semuanya setelah waktunya tiba, dan kalian berdua ngaboleh ikut campur masalah gue. kalian lebih baik mengerti san tidak membantah" kata Meyshila sambil menatap bergantian Ķevin dan Anneliese yang saling berpandangan.


"Oke kami megerti degan kemauanmu, akan tetapi kamu harus segera sembuh dan segera keluar dari rumah sakit ini" kata Kevin sambil memegang kedua bahu Meyshila degan lembut, sehingga membuat Anneliese yang berdiri di sampingnya menutu mata sekejap akan kejadian yang di lihatnya.


---- Kota Y ----


"Lo tau gak alamat rumah Nur Azahra Almaira..?" tanya Gavin sambil membantu Akzan memoles mobil kesayangan nya yang sedikit lagi selesai.


"Tentula gue tau, secara rumah gue dan rumah dia itu tetanggan" kata Azkan sambil menoleh ke arah Gavin.


"Nanti antarin gue kesa setelah pekerjaan lo selesai gimana..?" tanya Gavin sambil menatap Akzan yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.


"Lo dan Alma ada hubugan apa..?, jagan-jagan Lo pacaran tanpa restu dari gue...!!" kata Akzan penasaran.


"Mana ada, otak lo to mau di reparasi biar ngak dongkol" kata Gavin kerus, sambil beranjak pergi ninggalin Akzan yang terlihat berpikir.


"Tumben anak masa bodo itu nanyain keberadaan orang lain, biasanya dia baru akan berpikir jika sesuatu itu ada hubugan degan nya" Kata Azkanbyang masih sibuk menebak akan permintaan sahabatnya yang terbilang langka.


"Gue hanya kasihan degan orang tuanya yang memerlukan duit untuk berobat, makanya gue igin memberinya pekerjaan sebagai asiste pribadi gue dalam perusahaan caban yang di percayakan oleh Oma untuk gue kelola" Kata Gavin yang menghampiri Akzan sambil membawa 2 gelas kopi.


"Lo ko bisa tau orang tuanya sakit dan membutuhkan duit, jagan bilang kalau lo dan dia sudah berbagi banyak rahasia setelah berpacaran" Tuduh Akzan kepad Gavin setelah mengambil alih satu gelas kopi ke tagannya.


"Otak lo betul-betul sudah konslet, lebih baik ganti otak Lo degan otak udang biar lebih berfungsi" celetuk Gavin santai, sambil menyeruput kopi panas di tagannya.


"Untuk gue sahabat yang megerti, seandainya orang lain yang mendegar perkataan lo yang kasar itu. Gue jamin satu pukulan keras akan kau terima" kata Akzan sambil menggeleng kepala melihat sahabatnya yang tersenyum tanpa perasaan bersala.


"Makanya jagan langsung nebak kalau belum tau yang sebenarnya" Kata Gavin sambil tersenyum sinis ke arak Akzan.


"Makanya Jelasin ke gue, hubugan Lo dan Alma sebenarnya seperti apa. sampai lo sendiri yang terkenal malas memcampuri urusan orang lain dan juga memiliki mulut pedas, bisa perhatian mendadak ke orang lain yang belum lo kenal degan baik" kata Akzan menyelidik mencari kebenaran dari sahabatnya.


****flashback***


Gavin degan senang hati menceritakan kepada Akzan megenai pertemuannya degan Alma di kota X, pada saat dirinya igin meghadiri pesta pernikahan sepupunya Kevin yang berlangsung di sebuah hotel terkenal. Harus terlambat sedikit karena insiden dimana dia harus menolong seorang anak perempuan seumurnya yang sedang kesusahan dalam menggendong seorang wanita tua yang tetlihat pingsang di tegah jalan, dimana kendaraan sibuk lalu lalang tanpa henti.


Gavin turung dari mobil dan membantu anak perempuan itu degan membawa wanita tua yang bersamanya, masuk ke dalam mobil miliknya serta mengantarnya ke sebuah rumah sakit. Disana anak perempuan itu memohan kepada Gavin agar meminjamkan uang utuk pegobatan ibu nya, tanpa pikir panjang karena waktu yang semakin mepet Gavin menyanggupi dan segera mentransfer uang kerekeni wanita itu.


Mobil Gavin yang hendak meninggalkan area parkir rumah sakit terhenti ketika anak perempuan itu berdiri tepat di depan mobil Gavin. Dahi Gavin berkerut menatap tingkah perempuan yang baru saja ia tolong malah menghalanginya.


"Gavin...!!! lo tau gue kan, Gue mohon untuk pertama kalinya dalam pertemana kita ini. Gue hanya igin agar Lo memberikan pekerjaan kepada gue sebagai ganti rugi untuk duit yang lo berikan, serta bantuan agar gue bisa dapat duit buat berobat nyokap gue yang saat ini sedang sakit. Gue sagat butuh Gav..!!! keluarga gue saat ini bangkrut..." kata Alma menitihkan air mata, sambil berdiri di posisi semula tanpa bergerak.


Hendphon Gavin tiba-tiba berbunyi, setelah melihat nama yang tertera di layar degan cepat panggilan itu terhubung. Tak lama kemudian panggilan berakhir, Alma yang masi setia menunggu jawaban Gavin hanya bisa menatap degan mata berkaca-kaca. Gavin yang melihat Alma yang seperti itu merasa iba dan segera turung dari dalam mobil dan menghampiri Alma.


"Gue akan bantu Lo dapetin kerjaan dan membiayai pegobatan nyokp lo, tapi saat ini gue harus pergi. Nanti gue hubungin lo atau ke rumah lo langsung setelah ueusan gue disini selesai" Kata Gavin sambil menyingkirkan Alma dari depan mobilnya, kemudian segera berbalik masuk ke dalam mobil meninggalkan Alma yang mematung menatap kepergiannya.


--------


"Jadi ceritanya gitu, tapi gue penasaran kok lo bisa temanan degan Alma..?" tanya Akzan pada Gavin yang terlihat sibuk memencet hendphon.


"Lo mau cepat mati ha..!!, ngak usah sok penasaran. yang penting Lo nanti harus temaning gue ke rumahnya, Gu mau istirahat dulu lo lanjutintu reperasi mobil gue sampai seperti baru lagi" Kata gavin segera berlalu masuk ke dalam gedung.


"Sahabatko kaya gitu, makan ati aja gue liatnya. Tapi gue termasuk orang beruntung sih bisa berteman degan orang-orangan sawa seperti dia, yang memiliki sifat apa adanya tanpa di buat-buat hanya untuk terlihat baik" gumam Akzan menatap kepergian Gavin.