the heart that chooses

the heart that chooses
15. Perpisahan dan Pertemuan 2



Mata Meyshila masih melotot. tanpa menggubris ajakan dari kedua orang tuanya dan seorang pengawal yang sudah beberapaki bolak balik masuk ke dalam rumah dan menghampiri mereka yang masih berada di dalam mobil agar segera masuk ke dalam rumah.


Dominick meminta agar pengawal tersebut meninggalkan mereka dan memberinya waktu untuk menjelasan sesuatu kepada putrinya agar mau masuk ke dalam rumah yang saat ini mereka datangi, setelah menempuh jarak lima jam perjalanan dari kota X ke kota Y.


Pengawal itu terlihat sedang berkomunikasi degan seseorang melalui alat yang menempel di sebelah kiri kuping nya, setelanya pengawal itu berlalu pergi meninggalkan Dominick dan keluarga nya yang masih berada di dalam mobil.


Dominick dan Luchiyana mencoba menenangkan Meyshila yang terlihat emosi dan berusaha tidak mempedulikannya. Setelah berusaha selama satu jam lamanya, Dominick dan Luchiyana menghela nafas lega. karena Meyshila akhirnya mau megerti degan sikap kedua orang tua nya yang ternyata tidak igin mengganggu atau membangungkannya di saat sedang tidur. Sehingga pada saat terbangun, Meyshila tampak terkejut. Tiba-tiba sekarang mereka bertiga berada di suatu tempat yang sagat asing menurutnya.


Seorang pengawal kembali menghampiri mereka bertiga yang masih berada di dalam mobil, Dominick yang paham degan maksud ke datangan pengawal tersebut segera membuka pintu mobil setelah mendapat anggukan dari Meyshila dan Luchiyana, yang ternyata juga ikut turung dari dalam mobil. kemudian mereke bertiga mengikuti seorang pegawal berjas hitam masuk ke dalam rumah mewah bernuansa klasik degan perasaan was-was, namun Dominick berusa bersifat biasa saja agar membuat Luchiyana dan Meyshila merasa tenang.


Sesampainya mereka di sebuah ruangan yang terlihat luas degan interior unik yang menghiasi setiap sudut ruangan. Pandangan mereka bertiga teralihkan dan fokus pada seorang wanita paruh baya yang duduk manis di sebuah sofa panjang sambil tersenyum ramah, menyambut kedatangan mereka bertiga yang malah terdiam degan melempar tatapan dingin ke arah wanita paruh baya (Dame Davin).


°°°°°°°°°°°°


Sedangkan di lain tempat, di sebuah gedung perusahaan yang menjulan tinggi. Terlihat para karyawan wanita maupun pria, sedang asik bergosip mengenai ketampanan dan kekaguman mereka terhadap seseorang yang berada di dalam ruangan lantai bagian tengah gedung Khusus karyawan.


Dimana sosok pria yang sedang di gosipkan itu, terlihat sibuk sambil memperhatikan lembar demi lembar berkas yang bertumpukan di atas meja kerjanya. Sesekali pria itu mencoba merenggangkan otot tubuhnya yang terlihat lelah, serta penampilan yang berantakan dimana lengan kemeja panjang yang digulung setengah siku, dasi yang di longgarkan dan kanci kemeja atas yang sudah terbuka.


Sesekali Pria itu memperhatikan jam yang melekat di pergelangan tangannya sebelah kiri, kemudian kembali fokus degan berkas yang ada di depannya. Namun beberapa saat perhatiannya teralihkan ketika sosok wanita cantik yang masih mudah masuk ke dalam ruangannya degan berpakean rapi ala anak kantor degan dress selutut dipadukan degan blazer.


"Selamat siang pak Gavin, sepertinya anda lupa. Ada janji pertemuan pada jam 02.00 di kediaman Direktur Dame Davin" kata wanita tersebut, dan tak lain adalah Alma. yang sekarang menjadi asisten pribadi Gavin.


"Mana mungkin gue lupa degan janji pertemuan itu, gue hanya igin memperlihatkan sedikit sikap pembangkan terhadap Oma" kata Gavin santai sambil memperhatikan berkas di hadapannya.


"Sebagai sekertaris gue akan diam dan menuruti perkataan bos. Namun sebagai seorang sahabat, gue tidak akan diam saja melihat lo bersikap sebaliknya. Lo lakuin semua kemauan Direktur karena rasa sayang, tapi lo sering baget membuatnya marah dan bersikap tegas karena kemauan lo sendiri. Sebenarnya apasi yang lo mau..?" Tanya Alma panjang lebar, membuat Gavin berdecak kesal. Dan memilih menutup berkas sambil menatap dingin ke arah Alma.


"Lo itu sahabat gue dan sekarang menjadi sekertaris pribadi gue. Untuk pertama dan terakhir kalinya, gue akan mengatakan hal yang harus lo igat betul. Bahwa di hidup ini, gue ingin merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Baik itu disegaja ataupun tanpa gue segaja lakuin, itu semua hanya untuk sekedar bersenang-senag saja. Jadi gue harap lo ngak perlu berusaha ngajarin atau halangin kemauan gue, lo harus ngerti itu" Kata Gavin tegas, tak lama kemudian ia tersenyum ke arah Alma, sedangkan yang ditatap malah ternganga keheranan mendegar penjelasan Gavin yang tidak masuk akal menurutnya.


"Terserah, gue mana ngerti jalan pikiran orang macam Lo. yang memiliki sikap cuek terhadap perasaan semua orang yang berada di sekitar Lo" kata Alma pasrah, ia segera bangkit dari kursi dan beranjak keluar dari ruangan Gavin. Sedangkan Gavin terlihat acuh tak acuh degan tanggapan Alma, dan lebih memili fokus pada lembaran Dokumen.


"Dasar pria ngak peka, kalau saja seluruh staf dan karyawan di perusahaan ini tidak melihat dari segi ketampanan dan kekayaan Gavin, gue yakin mereka akan mencibir dan tidak akan mau bekerja degan seorang robat yang tidak memiliki hati. Lihatlah bagai mana semua karyawan wanita di perusahaan ini berusa mencari perhatian degan menggunakan pakean minim di atas paha serta dandanan menor" Gumam Alma degan pikirannya. Alama yang duduk di depan ruangan Gavin, menatap jengah pada setiap karyawan wanita yang beberapakali lewat sambil berjalan berlenggak lenggok menatap dan tersenyum kearah ruangan Gavin.


----16.30-----


Gavin yang sudah selesai memindai dan memeriksa setiap dokumen perusahaan Omanya. Segera bangkit dari kursi dan mengambil jas nya hendak pulang, Karena hari mulai petang.


Jam pulang kantor sebenarnya sudah berlalu setegah jam yang lalu, sehingga suasana kini terlihat sepih. Tinggal Gavin dan Alma yang kini berada di basement parkiran kantor, Alma dan Gavin segera masuk kedalam mobil mereka masing-masing dan melaju keluar menuju arah yang berlawanan.


Di dalam mobil Gavin beberapa kali memperhatikan hendphonya yang memperlihatkan beberapa panggilan tak terjawab dari Omanya (Dame Davin), setelahnya ia kembali fokus mengendarai mobil degan kecepatan tinggi melewati jalanan yang terlihat lengah.


Setelah menempuh perjalanan selama tigah puluh menit, mobil yang di kendarai Gavin memasuki pekaragan rumah megah bernuansa klasik, pandagan Gavin tertuju pada sebuah mobil Mercedes Benz hitam yang terparkir di depan mobilnya.


"Sepertinya tamu oma belum pulang, apa mereka nungguin gue. Tapi terseralah gue ngak peduli" kata Gavin segera masuk ke dalam rumah megah bernuansa klasik.


Baru saja Gavin membuka pintu utama dan hendak melangkah masuk, tiba-tiba ia mendegar suara jeritan tagisan. Tanpa pikir panjang, Gavin segera berlarih ke arah sumber suara. Gavin yang hendak segera masuk ke dalam ruang keluarga bertabrakan degan dua orang yang baru saja keluar dari ruangan tersebut, sehingga pandagan mereka bertiga saling beradu pandang.


Gavin bingung menatap wajah kedua orang di hadapan nya, yang terlihat bersedih degan mata bengkak seperti sehabis menangis. Sedangkan Dua orang itu yang tak lain merupakan Dominick dan Luchiyana juga menatap bingung ke arah Gavin, yang tiba-tiba muncul dan menabraknya.


"GAVIN..., bantu Oma. Oma sudah tidak bisa menahan anak perempuan ini" teriak Dame Davin panik, karena kekuatannya tidak cukup kuat menahan Meyshila yang memberontak dan hendak lari dari dekapannya.


Gavin yang mendegar teriakan Dame Davin segera masuk, tanpa mempedulikan Dominick dan Luchiyana yang menatapnya degan tatapan terkejut. Seperti menemukan sesuatu hal yang baru mereka sadari. Namun Dominick segera menarik tangan Luchiyana yang hendak masuk mengikuti Gavin yang masuk kedalam ruang keluarga. Sehingga Luchiyana hanya dapat menagis dan berlalu keluar degan cepat dan meninggalkan kediaman Dame Davin setelah Dominick membantunya masuk ke dalam mobil.


Mobil Dominick melesat keluar dari pekarangan Dame Davin. sedangkan Meyshila yang berlari keluar dari rumah dan hendak mengejar mobil orang tuanya terhenti, ketika Gavin berhasil meraih tubuhnya dan membopongnya kembali masuk ke dalam rumah degan susah payah. Karena Meyahila memberontak dan memukul punggung Gavin degan kencang agar segera menurunkan nya, namun Gavin hanya bisa meringis kesakitan.


Gavin melempar tubuh Meyshila ke atas sofa di ruang keluarga, Meyshila bangkit dan hendak berlari lagi. Namun terhenti ketika seorang wanita berjas putih mendekat dan menyuntikkan sesuatu tepat di tangan kanan Meyshila. Seketika tubuh Meyshila lunglai, matanya mulai memberat dan perlahan-lahan kesadarannya mulai hilang. Dengan sigap Gavin meraih tubuh Meyshila yang sudah kehilangan kedaran dan hampir terjatuh kelantai, Dame Davin segera memberikan intruksi kepada Gavin agar segera membawa Meyshila ke kamar tamu.


Gavin mendegus kesal, namun mengikuti perkataan Dame Davin degan terpaksa. karena hanya dia sosok pria yang berada di ruangan tersebut, perempuan berjas putih itu hanya dapat tersenyum mengejek ke arah Gavin yang terlihat semakin kesal.


"Ya Allah bantu Gavin agar tidak mengeluarkan kata-kata hujatan buat wanita yang berada di gendonganku sekarang. kalau saja engkau berkenang, igin rasanya melempar wanita ini, yang sudah membuatku kesal dan kesakitan di sekujur tubuhku karena tingkahnya" Gumam Gavin sambil menatap wajah Meyshila yang kini berada di gendongannya.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


"Buat apa Mas mencegahku untuk berbicara degan anak laki-laki itu..!!" kata Luchiyana kesal.


"Buat apa juga kamu bicara degan anak yang tidak tau biduk permasalan ini" balas Dominick pada Luchiyana.


"Buat jelasin dan membuat anak itu mengerti, sehingga anak kita bisa terbebas dari Dame Davin. Apa kamu tidak liat, bagai mana Shila kita nagis seperti orang gila" kata Luchiyana frustasi melihat tingkah suaminya yang tidak memberikan respon yang sesuai degan keinginannya.


"Lebih baik kita cari tempat untuk membicarakan masalah ini, sebab aku tidak igin kamu mengganggu konsentrasiku pada saat mengemudi " kata Dominick tegas sambil menatap Luchiyana yang berhenti menangis di sampingnya.


Dominick segera menepikan mobil setelah menemukan Restoran di tepi jalan, lalu mereka berdua masuk ke dalam dan mencari tempat kosong. Setelah menunggu lima menit, pesanan mereka akhirnya tiba. Dominick dan Luchiyana segera menikmati minuman pesanan mereka sambil bercerita mengenai kejadian yang baru saja terjadi dan beberapa fakta yang baru mereka dapatkan.


"Sepertinya anak laki-laki yang di panggil Gavin oleh Dame Davin adalah anak dari Serafino, karena sejak awal aku melihatnya di acara pernikahan Kevin dan Meyshila yang gagal. Aku sudah melihat bayangan Serafino pada diri anak muda itu" Kata Dominick degan wajah serius, sambil menatap gelas minumannya


"Terus menurutmu, apa anak laki-laki itu mengetahui rencana Dame Davin yang neminta tuntutan balas mengenai kematian Serafino kepada keluarga kita..?" tanya Luchiyana pada Dominick yang menatapnya juga.


"Sepertinya anak laki-laki itu belum mengetahui semuanya. buktinya dia hanya menengok sebentar ke arah Meyshila yang berada di dekapan Dame Davin, kemudian matanya beralih menatap kita berdua untuk mencari penjelasan" kata Dominick sambil mencoba mengigat kembali bagai mana tatapan mengintimidasi, yang dilemparkan Gavin kepadanya.


"Menurutmu apa yang sekarang terjadi di kediaman Dame Davin, Mengigat sifat Shila yang keras kepala dan tidak segang memberontak. Apa dia tidak akan membuat masalah..?" Kata Luchiyana terlihat kawatir mengenai putrinya yang kini berada di kediaman orang lain.


"Tenanglah, aku yakin Dame Davin memiliki banyak cara dalam menenangkan Meyshila. Jadi kamu tidak perlu kawatir. Yang perlu kamu pikirkan dan syukuri saat ini, Dame Davin memberikan keringanan kepada kita. Hanya selama lima tahun, kita berpisah degan Shila. Kemudian kita semua dapat bersatu lagi seperti biasanaya" Kata Dominick sambil meraih tangan Luchiyana dan megenggamannya degan erat.


°°°°°°°°°°°°


Lain halnya degan situasi di sebuah rungan yang terlihat menegangkan, dimana Dame Davin dan Gavin saling beradu argumen mengenai seorang anak perempuan yang sekarang tinggal satu atap degan mere.


"Terserah apapun masalah Oma dan keluarga anak perempuan itu. Tapi Gavin tidak akan membiarkan Oma membuat kesalahan degan membuat mereka saling berpisah. Sudah cukup Gavin yang merasakan hal yang menyakitkan itu" Kata Gavin, hendak keluar dari Ruang kerja Dame Davin.


"Sudah cukup..?, apanya yang sudah cukup..!!!, Oma tidak akan memberikan penjelasan sedikitpun mengenai keberadaan anak perempuan itu. Sampai kamu sendiri yang akan menemukan tujuan anak itu sehingga berada di kediaman Oma" suara tegas Dame Davin, sambil menatap punggung Gavin yang terdiam membelakanginya.


"Aku tidak peduli degan tujuan anak perempuan itu berada disini, aku hanya peduli degan ketenanganku yang akan terusik karena perbuatan Oma" kata Gavin, kemudian segera keluar dari ruangan meninggalkan Dame Davin yang malahan terlihat tersenyum penuh arti.