
Matahari yang kian menaik, menandakan hari yang semakin siang. Seorang gadis dan seorang pria yang berada dalam satu kamar terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dimana sipria sedang sibuk memperhatikan layar leptop yang menampilkan gambar seorang pria yang sedang melakukan sebuah presentasi, sedangkan si gadis sibuk memperhatikan layar hendphon yang menampilkan tutorial dan trik dalam mengobati tangan yang terkilir dari aplikasi youtube sambil mempraktikannya langsung pada tangan sipria yang berada di sampingnya.
"Gue udah praktikan beberapa trik dan cara yang sesuai dengan di youtube, tapi kenapa Lo belum memperlihatkan tanda jika tangan Lo udah membaik" keluh Meyshila merasa bosan dengan kegiatannya yang sedari tadi memijit tangan Gavin yang terkilir sesuai petunjuk yang di lihatnya di youtube.
"Jangan ribut, Lo liat ngak gue sedang apa" Tegur Gavin kembali memperhatikan layar Leptopnya, membuat emosi Meyshila nyaris meledak kala pandangannya kembali tertuju pada tangan Gavin yang terlihat bengkak.
"Jika bukan gara-gara rasa bersala yang muncul dalam diri gue, mungkin gue udah tendang pria kurang ajar ini keluar dari kamar gue" keluh Meyshila dalam hati, tak sadar jika tangannya kini meremas kuat tangan Gavin yang bengkak, hingga membuat siempuh memekik kesakitan dan refleks mematikan leptopnya yang tadinya masih tersambung dengan seseorang yang sedang melakukan presentasi.
"AAKKKHH...." pekik Gavin mengadu kesakitan, membuat Meyshila terkejut.
"Lo kenapa ? Apanya yang sakit ?" tanya Meyshila sambil menatap panik Gavin yang masih mengadu kesakitan.
"LO MAU TANGANG GUE DI AMPUTASI HA.." Bentak Gavin, membuat Meyshila kebingungan dengan perkataan Gavin.
"Siapa juga sih yang mau amputasi tangan lo, udah baik ya gue tanggung jawab. Sampai rela-rela ngehabisin data dan waktu gue hanya untuk nontong youtube agar tangan lo bisa membaik" Ketus Meyshila tak kalah garang, membuat Gavin mendegus kesal sambil mengusap lengangnya yang masih terasa sakit.
"Sudahlah.., ngak ada gunanya kita berdebat. lebih baik sekarang Lo pekin semua barang-barang, karena entar sore kita akan kembali ke kota Y" kata Gavin membuat Meyshila terkejut bukan main.
"Tunggu.." pekik Meyshila ketika Gavin hendak keluar dari kamar.
"Hm.. ada apa lagi ?" tanya Gavin sambil menatap Meyshila yang berlari menghampirinya.
"Pokoknya gue ngak mau kembali ke kota Y" serkas Meyshila, membuat Gavin kembali menghelanafas mencoba untuk bersabar menghadapi sosok gadis keras kepala yang berdiri di hadapannya.
"Mau tidak mau Lo tetap akan ikut gue" tegas Gavin, membuat Meyshila mengernyikan dahi akan perkataan Gavin yang begitu meyakinkan.
"Kenapa lo seyakin itu..?" tanya Meyshila mencoba mencari sesuatu yang membuat Gavin seyakin itu.
"Karena Kevin dan Anneliese" jawab Gavin membuat Meyshila semakin bingung.
"Jangan bertele-tele, katakan apa yang sebenarnya Lo ketahua dan tidak gue ketahui" tantang Meyshila sambil memajukan kepalanya dengan tatapan tajam mencoba mengertak Gavin.
"Yang Gue ketahui bahwa Kevin dan Anneliese sedang menyusun sebuah rencana besar untuk menyerang kita di kota X, dan yang tidak Lo ketahui__" kata Gavin menggantung, sambil mendekatkan kepalanya ke arah Meyshila hingga jarak mereka hanya terpaut sepuluh centi meter saja. Meyshila yang mulai gugup tetap mencoba untuk bertahan dan menatap kembali kedua bola mata coklat milik Gavin yang juga menatapnya.
"Bahwa kita harus segera kembali ke kota Y, untuk mendapatkan keamanan dari kuasa Oma Dame Davin yang dapat menghalangi rencana mereka untuk sementara. Selagi kita menyusun sebuah rencana untuk menghadapi mereka" lanjut Gavin disertai seulas senyuman menatap mata jerni Meyshila, hingga membuat si gadis menatap keheranan.
Dan tanpa di sangka Gavin langsung memberikan sebuah kecupan singkat di sebelah pipi cabi Meyshila, yang membuat siempuh berjingkrat kebelakan sakin terkejut dengan perlakuan yang diterimannya barusan. Sedangkan sipelaku segera berlalu keluar dari dalam kamar meninggalkan si gadis yang masih terkejut sambil mengusap kasar pipinya menggunakan kedua tangannya yang memunculkan bercak merah pada sebelah pipinya.
"Dasar pria kurang ajar, seenaknya saja cium pipi orang tanpa permisi. Gue aduin ke komnas Ham baru tau rasa" gerutu Meyshila, membuat si pria yang ternyata masih berada di belakan pintu kamar yang tertutup rapat itu berdiri mematung sambil sesekali meneleng-nelengkan kepala akan perlakuannya yang tanpa sadar ia perbuat barusan.
"Apa yang baru saja gue lakuin, dasar bodoh..., kenapa juga setan tiba-tiba lewat, Gue jadi khilafkan.." kata Gavin sambil mengeleng kepala dan segera berlalu dari depan pintu kamar Meyshila.
--------- 15.45 ----------
Di ruang keluara di kediaman Dominick, suasana memgharukan sangat terasa. Dimana Meyshila dan Gavin berpamitan hendak kembali ke kota Y.
"Ma... pa... Shila akan ikut Gavin kembali ke kota Y. Sesuai dengan perkataan papa yang meminta Shila untuk ngikutin perkataan Gavin" kata Meyshila lesu, membuat kedua orang tuanya menatapnya senduh
"Shila sayang... maafkan Mama dan Papa, jika selama ini kami selalu menuntutmu untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauanmu" kata Luchiyana penuh sesal dengan suara serak menahan rasa sesak di dadanya yang muncul tiba-tiba ketika melihat Meyshila yang lebih memilih duduk di samping Gavin dibandingkan duduk di sampingnya.
"Tenanglah... Shila udah ngiklasin semuanya, Jadi Mama dan Papa tidak perlu merasa bersalah kaya gini" kata Meyshila tidak enak hati mendengar perkataan Mamanya.
"Papa tau kamu adalah anak yang baik nak, dibalik sikapmu yang judes dan terbilang ketus terhadap semua orang. Tapi kamu tidak pernah bersikap seperti itu terhadap kami, terutama terhadap kakakmu Anneliese. Walaupun kami sering memeperlakukan kalian dengan sagat berbeda, dimana kakakmu yang selalu kami manjakan. Tapi kami malah mengorbankan dirimu, putri kecil kami yang tak tahu apa-apa dan harus terjun langsung dikehidupan keras papa" kata Dominick, tak terasa air matanya menetes. Membuat Luchiyana dan Meyshila ikut meneteskan air matanya, sedangkan Gavin yang mendengarkan hanya terdiam sambil menatap dalam Meyshila yang berada di sampingnya. Meyshila yang menyadari tatapan Gavin, segera menhapus kasar jejak air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Papa jangan buat image Shila jatuh di hadapan pria kurang ajar kaya dia yang suka natap orang seenaknya" sindir Meyshila sambil menatap tajam Gavin, membuat Gavin yang merasa tersindir berdecak kesal dengan perkataan Meyshila yang selalu mengatainnya pria kurang ajar. Sedangkan Dominick dan Luchiyana yang melihat tingkah kedua pasangan muda itu merasa lucu dan malah tertawa.
"Enak sekali kalian semua tertawa tanpa kehadiran Oma" Suara seorang wanita paruh baya yang muncul dari ambang pintu ruang keluarga, di ikuti dengan kemunculan beberapa orang yang membuat suasana kian rame.
"Maaf Oma, tapi Shila ngak ketawa tuh.." jawab asal Meyshila yang mendapat jitakan langsung dari wanita paru baya yang melewatinya.
"Sakit Oma.." keluh Meyshila yang membuat Gavin yang duduk di sampingnya tersenyum tipis. Namun sebuah suara membuat perhatian mereka teralihkan ke arah si gadis yang mengambil tempat di samping Meyshila.
"Kenapa kalian begitu cepat ingin kembali ke kota Y ? bukannya santai-santai dulu di kota X, guekan masih kangen sama sepupu judes gue" celetuk Tory yang duduk di samping Meyshila.
"Lo yang masi kangen tapi gue ngak" judes Meyshila membuat semua orang di ruangan tertawa.
"Dari dulu sampai sekarang, paman lihat kamu masih belum saja berubah. Semoga suamimu memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi sikap judesmu itu" celetuk Antonio sambil menatap Gavin yang malah tersenyum mendengarkan, sedangkan Meyshila yang berada di tengah antara Gavin dan Tory berdecak kesal.
"Tapi baru kali ini gue iri dengan nasib baik sepupu gue ini" kata Tory sambil merangkul bahu Meyshila yang berada di sampingnya, sedangkan Gavin hanya diam, terkesan tak tertarik dengan topik pembicaraan Tory.
"Iri kenapa ?" tanya Meyshila penasaran.
"Hhkkkmm... Mau bagai mana lagi, sepertinya nasib gue emang harus berjodoh dengan gadis judes disamping gue ini" celetuk Gavin sambil menatap Meyshila, mencoba mengembalikan suasana yang tadinya canggung menjadi agak rilex. Namun Meyshila yang tidak mengerti akan perkataan Gavin, mala tersulut emosi dan mencoba untuk menentangnya. Gavin yang menyadari hal itu segera menghentikannya dengan terlebi dahulu menyauti semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Kayanya kami berdua sebaiknya segera berpamitan, karena sebuah pekerjaan mendesak yang mengharuskan saya kembali secepatnya ke kota Y" sela Gavin berpamitan kepada semuanya, membuat Meyshila semakin megerucutkan bibir akan kekesalannya pada Gavin yang belum sempat tersalurkan.
"Kami baru saja sampai anak mudah, tapi kau sudah berani mengajak cucuku pergi bersamamu. Apa kau mau berbuat macem-macem dengan cucuku ?" tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam ke arah Gavin.
"Mana Gavin berani Oma, kehidupan Gavin saja masih seperempat abad dari kehidupan Oma. Jadi tenang saja, Gavin tidak akan macem-macem dengan cucu Oma ini" celutuk Gavin, membuat tawa semua orang di ruangan pecah. Sedangkan si gadis yang jadi topi pembicaraan hanya mengeram kesal sambil memasang senyum paksa.
"Sudah... sudah..., kalau pembicaraan ini terus berlanjut. Kalian berdua akan kemalaman sampainya, lebih baik kalian segera berangkat" kata Dominick, mencoba menyudahi topik pembicaraan yang tidak akan ada habisnya jika masih berlanjut.
Gavin dan Meyshila beranjak untuk berpamitan dengan keluarga besar Dominick, kemudian segera berlalu dari kediaman megah tersebut menggunakan sebuah mobil sport hitam yang di kendarai Gavin dan Meyshila dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Disempanjang perjalanan yang di tempuh selama empat jam lamanya, Meyshila terlihat terdiam dan terkadang melamun. Sangat berbeda dengan prediksi Gavin yang mengira Meyshila akan menumpahkan seluruh kekesalan yang sedari tadi ia tahan terhadapnya, hingga perbuatan Gavin membuat Meyshila terkejut bukan main.
CCIIIIIIIIIIIIIKKKK........
Suara besi yang yang saling bergesekan berdecit, ketika Gavin mendadak mengijak rem mobilnya. Tubuh Meyshila yang hendak terlonjak kedepan tertahan di tempat ketika sebuah cengkraman kuat menahan bahunya dari samping di bantu dengan seat belt yang juga menempel di tubuhnya.
"Aaaa... Lo mau bunuh gue !!" kesal Meyshila, membuat Gavin yang masih menahan bahu Meyahila sontak memberikan kode melalui ekor matanya yang mengarah kedepan. Meyshila yang melihat hal itu, lantas mengikuti arah pandang Gavin menghadap kedepan dan mendapati sorot lampu lalu lintas yang berwarna merah, mendandakan kepada pengendra agar bergenti sejenak.
"Kalau mau berhenti pelan-pelan juga kali, ngak usah bikin panik. Dasar pria kurang aj__" kata Meyshila terhenti tatkala terdengar suara ketukan berulang kali dari sisi kaca jendela mobil Gavin. Sehingga perhatian keduanya kini teralihkan kepada si pengetuk yang berada persis di samping mobil mereka.
Kaca mobil yang diturungkan setengah oleh Gavin, menampakkan sosok si pengemudi motor dengan helm full face disertai jaket kulit yang melekat di tubuh rampingnya. Membuat Gavin menatanya dengan perasaan tidak asing dengan motor sport putih yang di tungganggi si pengetuk, Sedangkan Meyshila yang berada di samping Gavin mencoba untuk celingukan dari balik kepala Gavin yang menghalangi pandangannya dari si pengemudi motor.
Dan detik dimana kaca Helm full face itu terbuka mata sayu si pengemudi motor itu berserobot langsung dengan mata tajam Gavin, membuat pandangan mereka saling bertemu. Dimana Gavin merasa tidak asing dengan si pengemudi motor dan si pengemudi motor sendiri merasa penasaran dengan keberadaan seseorang yang terhalang dari Gavin yang tepat berada di depan kaca mobil yang setengah terbuka. Hingga pandangan itu berakhir ketika suara klakson dari beberapa kendaraan yang berada di belakan mereka membuyarkan pandangan mereka.
Gavin yang tersadar segera menaikkan kaca mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan si pengemudi motor sport putih yang masih terdiam.
"Kenapa tadi ngak nyapa kawan aneh Lo yang seenaknya ngetuk-ngetuk kaca mobil orang" kata Meyshila, yang masih penasaran dengan sipengemudi motor yang sempat membuat Gavin terdiam.
"Kawan dari mana, gue aja ngak kenal" jawab Gavin asal sambil fokus mengemudi. Membuat Meyshila mengerucutkan bibir akan jawaban Gavin yang kurang memuaskan baginya.
"Pembohong...!!! Kalau Lo emang ngak kenal dia, mana mungkin kalian saling tatap-tatapan gitu. Sampai gue dan kendaraan lain yang jelas-jelas ada di sana di cuekin" kata Meyshila mencoba menyudutkan, namun mendapatkan arti lain dari pemikiran Gavin.
"Lo cemburu ya sama sipengemudi motor sport tadi ? kalau iya sih ngak papa juga" kata Gavin dengan pedenya, membuat Meyshila tiba-tiba merasa emosi.
"Tidak ada kata Cemburu dalam kamus kehidupan gue terhadap Lo, mau Lo sama wewe gombel, kuntilanak atapun dengan si pengemudi motor sport tadi gue ngak peduli" Serkas Meyshila menekankan kata cemburu, kemudian memalingkan wajah dari Gavin yang diam-diam tersenyum dengan tingkah Meyshila yang kali ini terlihat lucu di matanya.
Ketika mobil Gavin berbelok memasuki sebuah pekarangan rumah megah yang sudah tidak asing di mata Meyshila, Seketika raut wajah Meyshila menjadi murung. Gavin yang menyadari hal itu, hanya terdiam sambil memperhatikan Meyshila dari kedua ekor matanya.
"Untuk sementara kita akan tinggal di kediaman Oma, nanti setelah mendapatkan izin, baru kita akan pindah ke Apartemen gue" Kata Gavin, segera keluar dari dalam mobil yang kini berhenti tepat di depan pintu utama kediaman Dame Davin, meninggalkan Meyshila yang masih berusaha mencerna perkataan Gavin.
"Kok dia tiba-tiba ngomong gitu...!! guekan jadi bingung.." gumam Meyshila keluar dari dalam mobil, segera menyusul langkah Gavin yang terlebih dahulu memasuki kediaman Dame Davin.
------ GREEN CAFE -------
Suasana Cafe terlihat ramai dengan pelanggan yang sedang menikmati minuman dan makanan yang telah di sajikan oleh para pelayan, Namun suara deru motor yang berasal dari depan Kafe membuat pandangan orang yang berada di samping dinding kaca menatap kearah motor sport putih yang baru saja terparkir rapi di parkiran cafe.
Sipengendara tersebut segera turung dan melepas helem full face yang melekat di kepalanya, sehingga siapapun yang melihat wajahnya akan merasa takjub akan paras cantik yang tersembunyi dari penampilan tomboy sigadis berjaket kulit.
"HADLEY... OMA DISINI..." teriak seorang wanita paruh baya dari balik dinding kaca dalam Cafe, membuat seluruh pengujung menatap aneh ke arahnya termasuk si gadis berjaket kulit yang malah tampak sembringa dengan segera berjalan menghampiri si wanita paruh bayah yang telah memanggilnya.
"Hay Oma Lili..." sapa Hadley, ketika sampai di hadapan Oma Lili yang langsung di peluknya.
"Kau terlambat 10 menit dari waktu perjanjian, maka dari itu oma akan menghukummu" ancam Oma Lili sambil mencubit kecil hidung Hadley.
"Hadley akan menerima apapun hukuman yang akan Oma berikan. Tapi sebelum itu, Oma harus tau alasan mengapa Hedley bisa telat 10 menit" kata Hadley mencoba bernegosiasi.
"Baiklah... katakan apa alasan yang membuatmu sampai telat 10 menit lamanya" tanya Oma Lili penasaran.
Sejenak Hadley menatap Oma Lili sambil tersenyum, sehingga membuat mata Oma Lili memicing curiga.
"Alasannya tak lain dan tak bukan adalah GAVIN...!!! cucu Oma Lili yang telah mengalahkanku di arena balap liar. Oma tau..!! aku tadi sempat bertemu dengannya pas perempatan lampu merah dekat kediaman Dame Davin, Tapi......" kata Hadley semangat, namun tiba-tiba ekspresinya berubah. Membuat Oma Lili menjadi penasaran.
"Tapi kenapa ?" tanya Oma Lili.
"Tapi dia sedang bersama seseorang di dalam mobilnya, entah itu cowok atau cewek. Yang jelas Hadley tidak terlalu jelas melihatnya, karena terhalang dengan kepala Gavin yang menutupi kaca jendela mobil yang hanya terbuka setengah" jelas Hadley sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Sepertinya orang yang dimaksud oleh Hadley adalah Shila. Tapi kenapa mereka begitu cepat kembali ke kota Y, padahal baru kemarin mereka melangsungkan pernikahan. Apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui...." gumam Oma Lili dalam hati sambil berpikir, kemudian menatap Hadley yang juga nampak berpikir di hadapannya.