the heart that chooses

the heart that chooses
17. Pilihan



Di sebuah taman yang indah, tampak seorang wanita paruh baya dan seorang gadis muda sedang duduk di sebuah Gazebo sambil memgobrol di tegah taman yang sagat sejuk. Tak jarang air mata beberapa kali lolos dari pelupuk mata gadis mudah itu degan mudahnya, wanitah paruh baya degan santai menarik gadis muda itu ke dalam pelukannya degan kasih sayang yang mampu membuat si gadis muda itu merasakan ketenangan.


"Maaf....';' ini bukan salah orang tua saya, tapi ini semua kesalahan saya. Gara-gara saya yang lahir waktu itu, anak dan menantu anda yang menjadi korban kecelakaan dalam perjalanan bisnis yang seharusnya papa saya yang tangani" suara Meyshila serak diselangi isak tangis dalam dekapan Dame Davin yang terlihat menghelanafas pelan mendegar penuturan Meyshila.


"Sebenarnya ini semua bukanlah salah siapapun, tapi ini adalah sebuah takdir. Dimana semua kehidupan manusia di dunia ini sudah ditentukan oleh sang maha pencipta dan semua itu harus di jalani degan keikhlasan" gumam Dame Davin dalam hati sambil mengeratkan dekapannya pada Meyshila yang masih menangis.


"Saya akan memaafkan dan menghilangkan rasa dendamku terhadap papamu, asalkan kamu mendegarkan perkataan saya dan memilih tinggal bersama. Tanpa berusaha memberontak dan berbuat macam-macam seperti tadi" Tegas Dame Davin sambil melepaskan dekapannya dan menatap kedua mata Meyshila.


Setelah beberapa detik mereka berdua saling menatap, akhirnya Meyshila bersuara.


"Saya akan mencoba melakukannya, walaupun itu sebenarnya sagat sulit. Karena aku sagat menyanyangi mereka melebihi diriku sendiri" kata Meyshila degan suara bergetar, membuat Dame Davin tersenyum mering.


"Rasa sayang itu adalah kelemahan terbesar seseorang. Jadi jagan sampai orang lain menyadari kelemahanmu, dan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri" kata Dame Davi degan penekanan, membuat Meyshila mengernyikkan dahi.


"Saya bukan orang lain, dan saya juga bukanlah orang jahat. Tetapi saat ini, saya adalah walimu yang akan menggantikan peran kedua orang tua mu dalam menjaga dirimu serta cucuku Gavin. Jadi mulai sekarang panggil saya degam sebutan Oma, jagan berbuat kekacauan degan keras kepalamu itu. Apa kamu mengerti..?" jelas Dame Davin.


"Tapi bagai mana degan cucu anda yang selalu membuat keonaran dan membuat orang lain jengkel apalagi kesal" tanya Meyshila.


"Dia akan membuat keonaran dan membuat orang lain jengkel, apa bila sesuatu itu membuatnya terusik sehingga ia tertarik untuk mekakukannya" jelas Dame Davin sambil memperhatikan Meyshila.


"Jika kamu mau mengenalnya lebih dekat, kamu sendiri yang akan mengetahui sifat aslinya yang berbanding terbalik dari apa yang terlihat dari luar" sambung Dame Davin degan santai sambil memperhatikan ekspresi Meyshila yang terlihat sedang berpikir.


"Siapa juga yang mau mengenalnya lebih dekat, malahan gue akan menghindar darinya sejauh mungkin. Agar bisa terhindar dari masalah" gumam Meyshila dalam hati.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan situasi mereka dari lantai atas, di balik dinding kaca yang menampakkan sosok pria berkulit putih degan rambut kecoklatan memberi tatapan tajam sambil menyelidik setiap ekspresi yang diperlihatkan oleh dua objek yang diperhatikannya.


"Oma jago juga nenangin macan betina.." kata Gavin sambil terkekeh "Tapi lama kelamaan kalau di perhatikan, sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang sagat serius. Apa jangan-jangan mereka berdua sedang membahas gue yang kece badai ini, tapi terserah gue ngak pedulu" lanjut Gavin degan pedenya sambil tersenyum, kemudian menutup dinding kaca kamarnya degan tirai yang ditarik turung dan segera beranjak pergi.


°°°°°°°°°°°°°°


"Mas...! aku kagen baget sama Shila. Biasanya jam segini Shila pasti sudah stay di depan Tv sambil ngerecokin kita berdua degan perkataan nya yang tidak masuk akal" kata Luchiyana, duduk di samping Domknick sambil melihat siaran Tv di ruang keluarga.


"Kamu yang sabar, nanti kalau waktunya sudah tepat. Kita berdua akan mengunjungi Shila. Tapi untuk saat ini, Mas tidak mengijinkanmu menemuinya apalagi menelfonya" Kata Dominick lantang, sambil menatap Luchiyana yang sedari tadi hanya melihat ke arah Tv namun pikirannya tertuju pada putri bungsunya itu.


"Menurut Mas, apa Shila kuat menjalani kehidupan degan orang lain tanpa keberadaan kita disisinya..?" tanya Luchiyana degan mata yang berkaca, menahan bendungan air mata yang sebentar lagi akan keluar.


Dominick tertegun mendegar pertanyaan Luchiyana, lalu kemudian mencoba menghelanafas dalam.


"Mas yakin Shila bisa melalui semua ini. Kita hanya dapat mendoakan yang terbaik buat kedua putri kita. Karena kejadiaan ini tidak dapat dicegah walaupun Mas memiliki kekuasan, tapi itu semua tidak berguna jika harus melawan takdir Tuhan" kata Dominick lembut, membuat Luchiyana tidak mampu lagi menahan rasa sesak, sehingga bendungan air di pelupuk matanya lolos degan deras mengalur di pipi mulusnya.


"Aku ngak boleh lemah degan keadaan ini, aku akan selalu berjuang untuk kebahagiaan keluargaku" gumam Dominick dalam hati penuh tekat.


••••19.30••••


Aktifitas makan malam terasa sagat hening, hanya Meyshila dan Gavin yang saling melempat tatapan sinis yang membuat Dame Davin mengeluarkan suara, karena hanya waktu makan malamlah mereka bisa berkumpul dan dapat digunakan untuk saling berkomunikasi.


"Gavin, besok kamu dan Shila berangkat bersama ke Kampus. Jagan lupa kamu harus awasi dan jaga dia degan baik" Tagas Dame Davin disela makan malam mereka bertiga.


Gavin dan Meyshila yang sedari tadi saling melempar tatapan sinis selama aktivitas makan malam, kini beralih memandang Dame Davin degan wajah terkejut setelah mendegar penuturan Dame Davin.


"Oma yang benar saja. Apa kata teman-teman Gavin, kalau mereka melihat ada seorang gadis di mobil aku besok. Dia juga sudah besar tidak perlu di jaga kali.." keluh Gavin pada Dame Davin degan wajah memelas.


"Katakan saja kalau Shila adalah kerabat kita, apa susanya kamu menjaga Shila yang menurutmu sudah besar. Lagian Oma sudah mendaftarkan Shila di kampus yang sama degan kamu, tapi beda jurusan" Jelas Dame Davin degan santai.


"A..Ap..Apa..?, bagai mana bisa..?, terus jurusan Shila apa..?, apa kedua orang tua Shila tau hal ini..!!" tanya Meyshila sekaligus.


"Oma dan kedua orang tua kamu sudah sepakat degan hal ini. Dan soal jurusan, papa kamu memilih jurusan manejemen. Katanya.., Agar dalam kehidupan ini kamu bisa memenej waktu degan baik" jelas Dame Davin di sela aktivitasnya mengunya makanan.


"Tapi--" kata Meyshila ingin berkomentar, namun di potong oleh Gavin.


"Pokoknya besok Gavin ngak mau berangkat ke kampus bersama degan dia" kata Gavin sambil menetap tajam Meyshila, yang juga mendapat tatapan tajam dari orang yang ditatap.


BRAK


Gebrakan meja makan membuat Gavin dan Meyshila terkejut kemudian saling menunduk sakin takutnya degan aura kemarahan yang begitu terasa dari seorang Dame Davin.


"Kalian berdua sepertinya igin sekali di hukum, baiklah kalau itu keinginan kalian. Besok Shila akan di anatar jemput oleh supir pribadi serta kamu akan dalam pegawasan Gavin selama di kampus. Sedangakan Gavin, setelah jam kuliah kamu berakhir. Kamu sudah ada di rumah dan tidak ada yang nama nya keluar sebentar degan teman-teman kamu degan alasan apapun. Apa kalian berdua mengerti..?" Tegas Dame Davin degan suara lantan sambil melempar tatapan tajam pada dua anak yang sedang menunduk ketakutan di depannya.


"IYA OMA" suara lantang Gavin dan Meyshila serentak, degan posisi yang masih memunduk.


"Kalau begitu kalian berdua lanjut makannya, jagan sampai Oma mendegar suara bising kalian yang mulai berdebat membuat darah tinggi Oma mendidih lagi" kata Dame Davin tegas, kemudian segera berlalu meninggalkan kedua anak manusia yang saling terdiam degan hati yang kesal akan hukuman yang baru saja mereka dapatkan.


"Kedua anak itu benar-benar bisa membuatku mati berdiri, samoga saja aku masih diberi kekuatan untuk menghadapi sifat keras kepala dan ke egoisa mereka" kata Dame Davin yang kini berada di dalam kamarnya sambil bersandar pada sandaran tempat tidurnya.


"Tapi sebelum aku meninggal, tujuanku yang sesungguhnya harus tercapai. Dengan cara apapun akan kulakukan, walaupun aku harus memaksa keduanya untuk bersatu. Ini semua demi kebahagiaan dan masa depan seorang Serafino muda ku (Gavin), setelah melalui begitu banyak kesedihan yang kini masih membayanginya" gumam Dame Davin sambil menitihkan air mata.