
Malam yang sagat mencekam bagi seorang gadis yang saat ini sedang mencoba melakukan sebuah kenekatan demi menunjukkan pemberontakannya akan ketidak adilan yang diterima setelah mendengar keputusan, bahwa dirinya akan segerah melangsungkan pernikahan dalam jangka waktu satu pekan ini dengan seorang pria tanpa ada perasaan cinta di antara mereka.
Gadis itupun memulai rencananya dengan mencoba menggantung diri degan sebuah tali yang melekat di bagian leher jenjangnya, dan sebuah kursi yang kini menopan tubuhnya. Namun pada saat kursi itu mulai bergerak, nyali gadis kecil itu menciut dan segera mengurungkan niatnya dan mencoba mencari cara lain.
Mata gadis itu mulai berpencar mencari sesuatu, sampai akhirnya pandanganya kini tertuju pada sebuah pisau kecil yang tertancap pada sebuah apel yang terletak di atas meja kecil di kamarnya. Perlahan gadis itu mendekat dan meraih pisau itu, kemudian mengarahkannya pada pergelangan tangannya. Gadis itu tampak berpikir keras sambil meniman-niman kesakitan yang akan ia alami, sebelum akhirnya pisau itu ia lempar ke sembarang arah.
"Arrrggg...!!! Apa yang harus gue lakuin sekarang, untuk sekedar memberontak dengan cara bunuh diripun nyali gue ngak ada" keluh seorang gadis yang tak lain adalah Meyshila yang kini terduduk sambil menangis di atas lantai marmer meratapi nasibnya.
Sedangkan di sebuah kamar yang terlihat luas dengan perpaduan warna gelap namun terlihat elegan, terlihat seorang pria tegap sedang beradu argumen dengan seorang wanita paruh baya yang malah terlihat santai namun tegas.
"Satupekan mulai dari hari ini, pernikahan kalian akan segera dilaksanakan" tegas Dame Davin sambil melempar senyuman manis yang menyiratkan sesuatu yang membuat dahi Gavin berkerut seketika.
"Apapun rencana dan alasannya, Gavin tidak akan menerima keputusan kalian semua mengenai pernikahan ini" tegas Gavin sambil menatap tajam Dame Davin.
"Mau tidak mau, setuju atau tidak setuju, kau dan Shila akan tetap menikah. Ini semua demi kebaikan kita semua" Jelas Dame Davin masi dengan senyumanya.
"Kebaikan kita semua ? apa maksud Oma kebaikan untuk kelangsungan perusahaan kalian berdua tanpa mempedulikan perasaan kami. Dan hanya mementingkan diri kalian sendiri dan nama baik kalian, dengang menjebakku dengan seorang gadis cengeng dalam sebuah pernikahan politik" Sindir tajam Gavin hendak berdiri, namun perkataan Dame Davin kali ini membuat niatnya terurungkan dan kembali terduduk.
"Apa seburuk itu pemikiranmu terhadap Omamu yang selama ini menemanimu dan merawatmu semenjak kepergian kedua orang tuamu" kata Dame Davin, membuat Gavin menghelanafas dalam-dalam. Kemudin menatap lekat Omanya yang juga menatapnya.
"Apa Oma ingin melihat Gavin segera menyusul papa dan mama ke alam sana, agar tidak menyusahkan Oma" kata Gavin dengan nada serak, berusaha menahan rasa sesak yang saat ini memenuhi rongga dadanya.
"Oma tidak akan membiarkan mu menyusul kepergian kedua orang tuamu, sebelum permintaan Oma kaliini terpenuhi" tegas Dame Davin sambil menatap lekat cucunya.
"Terus sampai kapan oma akan mengatur kehidupan Gavin, kalau sampai Gavin tidak ingin meneriman permintaan Oma kaliini ?" sentak Gavin, membuat mata Dame Davin memerah akan air mata yang ditahannya agar tidak terjatuh.
"Sampai Oma bisa melihatmu berbahagia dan tidak bersedih lagi di dunia ini" gumam Dame Davin dalam hati.
"Jawab Gavin Oma" kata Gavin menyadarkan Dame Davin dari lamunannya.
"Sampai kamu memenuhi permintan Oma kaliini untuk menikahi Shila" kata Dame Davin tegas, Gavin yang hendak menjawab Omanya terhenti tatkala Dame Davin kembali bersuara.
"Sebelum kamu menolak permintaan Oma untuk kesekian kalinya, lebih baik kamu mendengarkan alasan Oma dan coba pekirkan baik-baik. Karena ini semua ada sangkut pautnya dengan Kevin dan Anneliese" Kata Dame Davin dengan penekanan di akhir kalimatnya, sehingga membuat Gavin merasa terkejut dan menatap penuh selidik ke arah Omanya.
"Apa yang sebenarnya Oma dan Paman Dominick rencanakan, kenapa Kevin dan Anneliese harus terlibat juga dalam permainan ini" tanya Gavin penuh selidik.
"Semua ini berawal dari kepergiaan Oma dua minggu yang lalu untuk membahas proses kerjasama baru dengan tuan Dominick, namun sebuah Fakta mengejutkan kami berdua. Mengenai Kevin dan Anneliese yang ternyata hanya berpura-pura memiliki hubungan. Demi menutupi rencana besar Kakak sepupumu dalam mengembangkan sebuah perusahaan yang saat ini di kelolanya di Amerika, agar bisa menekan perusahaan Oma dan Tuan Dominick dalam mendapatkan Meyshila" jelas Dame Davin, membuat Gavin terkejut sekaligus bingung. Tak lama kemudian tawa Gavin terdengar nyaring membuat Dame Davin menatap bingung cucu kesayangannya.
"Oma...!!! kak Kevin tidak akan melakukan hal konyol seperti itu, apalagi mengenai seorang gadis cengeng seperti Meyshila" kata Gavin tak percaya akan perkataan Omanya.
"Oma penasaran apakah kamu masih bisa tertawa seperti ini setelah melihat semua ini" kata Dame Davin sambil menyodorkan sebuah iped kepada cucunya.
Dengan perlahan Gavin meraih Iped itu dan memperhatikan secara detail kata demi kata serta foto demi foto yang tertera, sehingga mata Gavin kini beralih fokus menatap ke arah Omanya.
"Apa kamu sekarang sudah percaya dan mulai mengerti dengan situasi saat ini ?" tanya Dame Davin sambil menyeringai, membuat Gavin secara spontang menganggukkan kepala.
"Hanya kamu satu-satunya harapan Oma, supaya bisa mengubah pola pikir kakak sepupumu itu agar kembali ke jalan yang benar dan melupakan opsesinya terhadap Meyshila. Sehingga semuanya dapat terselamatkan dari perubahan sikap Kevin yang perlahan-lahan menjadi seorang monster penghancur saat ini" tegas Dame Davin bersunguh-sungguh, membuat mulut Gavin bungkam seketika.
"SHILA.... MEYSHILA... SHILA..." suara teriakan perempuan membuat perbincangan Dame Davin dan Gavin terhenti dan segera bangkit dari tempat duduknya berlari keluar dari dalam kamar Gavin.
"Ada apa ini ? kenapa kamu berteriak di depan kamar Meyshila ?" tanya Dame Davin panik, setelah keluar dari dalam kamar Gavin dan mendapati Luchiyana yang berdiri dengan mata sembab di depan pintu kamar Meyshila yang berada di samping kamar Gavin.
"Dari tadi Shila tidak keluar dari kamar dan tidak merespon panggilanku" kata Luchiyana panik dan kembali menggedor pintu kamar putrinya, namun kembali tidak ada respon dari siempuh.
"Tenanglah, Gavin akan mendobrak pintu itu dan kita akan segera melihat keadaan putrimu. Jadi tenangah.." kata Dame Davin membuat Gavin yang berdiri di belakang Omanya mendelik kesal, namun tetap maju kedepan dan mulai mengambil ancang-ancang hendak mendobrak pintu kamar Meyshila.
Brak...
setelah tiga kali percobaan, akhirnya pintu kamar itu terbuka. Dengan perlahan Semua orang melangkah masuk ke dalam kamar yang nampak gelap tanpa adanya pencahayaan dengan hati-hati, tak jarang kaki mereka menendang atau menginjak sesutu yang tergeletak di atas lantai pijakan yang berserakan dimana-mana.
Gavin yang masih mematung di depan pintu, segera masuk dan merabah bagian tembok kamar itu sampai akhirnya menemukn saklar lampu dan menyalakannya.
"Aaaaaa...." jerit Seorang gadis secara tiba-tiba, membuat Luchiyana dan Dame Davin ikut terkejut dan berteriak "Aaaaaa.." sedangkan Gavin segera mendekat dan menarik tangan Meyshila dari kaki Luchiyana, yang ternyata tidak sengaja terinjak ketika lampu kamar Meyshila tiba-tiba menyala.
"Makanya jadi orang jangan tidur kaya kebo, Lo liatkan akibatnya. Semua orang jadi panik, sampai-sampai orang berteriak dan masuk ke dalam kamar Lo juga ngak sadar" serkas Gavin kemudian menepis halus tangan Meyshia dari genggamannya, kemudian segera berlalu keluar dari sana. Membuat ketiga wanita tersebut memandang bingung kepergian Gavin.
"HWAA.. AAAAA.. AAAAA...." teriak histeris Meyshila tatkala tanganya yang terinjak tadi mulai berdenyut kesakita.
"Astaga... maafkan mama sayang, mama benar-benar tidak sengaja nginjak tangan kamu barusan. Pasti sakit sekali, mama akan mengobatinya" kata Luchiyana segera merangkul tubuh lemah anak bungsunya yang masih tergeletak di atas lantai marmer dekat tempat tidur di kamar tersebut. Sedangkan Dame Davin yang melihat keakraban dari ibu dan anak itu merasa terharu dan segera keluar dari sana tanpa mengeluarkan sepata katapun agar tidak mengganggu suasana.
----------------- 23.45 -------------
Malam semakin larut, suasana sunyi dimalam ini terasa menenangkan. Membuat Luchiyana dan Meyshila saling mendekap satu sama lain, dengan mata mereka berdua yang masih tetap terjaga sampai jam yang kini menunjukkan pukul 23.45.
"Mama... kenapa mama belum juga tertidur ?" tanya Meyshila sambil mendongakkan kepalanya, menatap kedua mata Luchiyana yang terlihat berkaca-kaca menatapnya. Luchiyana hanya dapat menggeleng kepala sebagai jawaban atas pertanyaan anaknya, dan tak berani mengelurkan suara serak akibat rasa sesak yang menumpuk di bagian rongga dadanya.
"Mama... apa mama percaya dengan Shila ?" tanya Shila lagi. Membuat Luchiyan mengangguk dan kembali tidak mengeluarkn suara.
"Kalau gitu mama bisa mengatakan kepada Shila apa yang sebenarnya terjadi, agar Shila tidak merasa di permainkan seperti ini oleh papa yang sedari awal mengutus Shila ke rumah ini dan sekarang semakin menjauhkan Shila dari kebebasan untuk kembali ke rumah kita" kata Meyshila serak, membut air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata Luchiyana lolos begitu derasnya.
"Maafkan sikap mama dan papa yang selalu egois dan selalu menekanmu ataupun memaksamu agar selalu memenuhi permintaan kami selama ini" kata Luchiyan dengan suara serak, membuat Meyshila menatapnya lekat.
"Tapi permintaan kami kali ini hanya kamu dan Gavinlah yang dapat melakukannya, semata-mata demi menyelamatkan kehidupan kakakmu Anneliese dan juga Kevin. Agar terhindar dari permusuhan dan pertumpahan dara dengan Keluarga mereka sendiri kelak suatu hari nanti" jelas Luchiyana membuat alis Meyshila hampir saling bertautan sakin berkerutnya, mendengar penuturan Mamanya barusan.
"Jadi maksud mama, Shila dan Gavin harus mengorbankan perasaan kami masing-masing dalam pernikahan ini, demi kebahagiaan Kak Anneliese dan juga Kak Kevin ?" tanya Meyshila dengan suara tinggi, membuat Luchiya kembali menitihkan air mata sambil menganggukkan kepala mendengar penuturan putri bungsunya.
"Kenapa hati ini selalu sakit ketika mama dan papa selalu lebih mementingkan perasaan saudara perempuanku dibanding perasaanku sendiri" gumam Meyshila dalam hati, merasa sesak yang masih bisa ia tahan agar tidak membuat mamanya merasa bersala atau malah lebih mengasihaninya.
"Semoga kamu mengerti dengan situasi saat ini, dan tidak berusaha membuat kekacauan apapun sampai hari itu tiba Nak" kata Luchiyana dengan nada penuh peringatan, sambil merangkul tubuh mungil Meyshila yang berbaring di sampingnya.
Meyshila yang melihat respon mamanya merasakan kesedihan yang teramat dalam, dimana dirinya kembali harus berkorban demi kebahagiaan kakaknya yang selalu dianggap lemah di mata kedua orang tuanya. Sehingga dirinya sendiri tak mampu menolak ataupun memberontak, karena dianggap lebih kuat menghadapi kehidupan keras ini dan tanpa mempedulikan sisi kerapuhan seorang Meyshila yang selama ini di sembunyikannya. Agar kedua orang tuanya tetap merasa tenang tanpa memikirkannya terlalu jauh.
"Shila... mama mohon sama kamu, untuk kali ini terimalah permintaan kami dalam pernikahan ini. Dan mama akan berjanji, tidak akan meminta hal yang egois lagi terhadapmu mengenai kakakmu" kata Luchiyana memohon sambil berderai air mata, membuat hati Meyshila semakin perih melihat kelakuan mamanya yang sagat mementingkan persaan kakaknya, dibanding perasaannya yang kini terasa sakit akan permintaan yang sagat sulit utuk disetujuinya.
°°°°° 1 PEKAN KEMUDIAN °°°°°
Di sebuah hotel berbintang lima, terlihat kerumunan manusia yang sedang sibuk berlalulalang sambil mengecek setiap inci dari sudut Bolroom yang telah tertata rapi dengan nuansa putih yang terlihat elegan dan telah siap untuk digunakan hari ini dalam perhelatan akbar penikahan antara dua anak dari pemilik perusahaan terkenal seasia.
"Bagaimana persiapan disana, apa semuanya berjalan sesuai dengan rencana" tanya seorang pria dari balik telfon.
"Iya tuan, semuanya sudah saya siapkan sesuai dengan perintah tuan" kata seorang berjas hitam sambil memperhatikan situasi dari luar Bolroom.
"Kalian harus melakukan tugas kalian dengan sangat hati-hati, jangan sampai Oma dan Paman Dominick mencium pergerakan kita. Karena gadis yang saya incar hari ini harus menjadi milik saya, atau nyawa kalian yang jadi taruhannya. Kalian mengerti" kata seorang pria dari balik telfon, kemudian memutuskan sambungan telfon itu sambil menyeringai.
Tiba-tiba dari arah belakan seorang wanita mendekat dan menyentuh sebelah bahu pria tersebut yang terlihat terduduk di depan dinding kaca di sebuah Apertemen sambil menikmati segelas anggur merah di atas meja kecil di sampingnya.
"Kevin..!!" suara lembut seorang gadis memanggil pria yang tak lain adalah Kevin Austyn Mhethyu yang merupakan kakak sepupu Gavin yang ternyata selama ini masih menyimpan obsesi besarnya terhadap seorang gadis bernama Meyshila dengan selalu membawa foto gadis itu kemanapun dia pergi.
"Adaapa Annelies ? apa kamu berubah pikiran untuk membantuku mendapatkan adikmu yang kuincar selama kita berpura-pura memiliki hubungan selama setahun lebih ini ?" tanya Kevin sambil menatap seorang gadis cantik yang kini berdiri di sampingnya dengan gaun seksi yang memperlihatkan kedua paha mulusnya.
"Selama ini aku berada di sampingmu dan selalu mendampingimu dalam setiap kegiatan, mana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu ?" balas Anneliese, membuat Kevin memicinkan matanya.
"Kau benar-benar sudah bermetavosa dari ulat bulu kecil menjadi seekor kupu-kupu yang luar bisa dalam mengelabuhi lawannya. Kau tau Anne, selama kita berdua saling bekerja sama seperti ini maka semuanya akan mudah kita raih" kata Kevin sambil mencium punggung tangan Anneliese yang tadinya memegang sebelah bahunya.
"Tentu..., kau lihat sendirikan bagaimana kau dan aku mendapatkan dan mengembangkan perusahaan yang hampir bangkrut itu, menjadi perusahaan yang kini mulai di kenal dikalangan pebisnis itu tanpa bantua keluarga kita terutama orang tuamu" kata Annelies menarik pergelangan tangannya dari genggamn Kevin, kemudian meraih foto Meyshila yang tergeletak di atas meja di samping minuman anggur Kevin.
"Kembalikan foto itu kepadaku sekarang, aku tidak ingin siapapun menjauhkan foto itu dariku termasuk kau Anne" suara tegas Kevin, membuat langkah Annelies terhenti. Sejenak Annelies memandang wajah Meyshila yang terlihat tersenyum dalam foto itu, kemudian berbalik mengembalikan foto adiknya itu kepada Kevin yang diraih dengan cepat oleh pria itu kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Sebegitu terobsesinya kau dengan adikku, sampai-sampi kau tidak mau mempedulikan perasaanku yang begitu setia mendampingimu selama ini Kevin" gumam Annelies sambil menatap senduh kearah Kevin yang kembali meneguk habis secangkir anggur merahnya.
"Annelies, lebih baik kamu segera bersiap-siap. Karena sebentar lagi kita akan berangkat kelokasi untuk melihat pertunjukan yang akan mengejutkan semua orang terutama bagi sepasang penganting yang tak lama lagi akan menjadi pasanganku" kata Kevin sambil tertawa, membuat bulu kuduk Annelies merinding melihat ekspresi menakutkan Kevin.
-------- 10.30 ---------
Suasana Hotel berbintang lima di kota X kini terlihat ramai di padati oleh para undangan yang berdatang hendak menghadiri pesta pernikahan antara Meyshila dan Gavin.
Keluarga besar dari pihak Dame Davin dan Dominick mulai sibuk menjamu para tamu yang hadir di Bolroom dimana pesta pernikahan itu akan segera dimulai. Namun sesekali Dame Davin dan Dominick saling melempar senyuman yang membuat Mhethyu papa dari Kevin yang tidak sengaja melihatnya, merasakan keanehan dari gerak gerik keduanya yang nampak saling memberi kode rahasia yang hanya merek berdualah yang tahu.
"Apa ini hanya perasaanku saja, atau memang Mama dan Dominick sedang menyembunyikan sesuatu" pikir Mhethyu, kemudian kembali memperhatikan Dame Davin dan juga Dominick yang terlihat sibuk menyalami para tamu penting mereka.
Tiba-tiba suara tembakan terdengar dari arah pintu masuk Bolroom, terlihat segerombolan pria berjas hitam muncul dengan senjata api di sebelah tangan mereka. Membuat para tamu mulai ketakutan dan berhamburan hendak keluar dari area Bolroom.
Mhethyu yang terkejut segera menghubungi para bodyguardnya agar segera masuk untuk membantu mengevakuasi para tamu penting yang hadir, serta mengamangkan para pemberontak yang berani mengacaukan pesta pernikahan keponakannya dan anak dari sahabatnya.
Kericuan di Bolroom hotel berbintang lima tempat terselenggarakannya acara pernikahan itu tidak dapat tercegah, suara tembakan silih berganti. Hingga seseorang muncul dari arah pintul Bolroom dengan langkah panjang. Kemudian dengan aksinya yang lincah memainkan senjata, mampu melumpuhkan seluruh para penjahat dalam waktu sepuluh menit dengan senjata api yang di pegangnya.
"Kevin... kamu Kevinkan anak papa..." panggil Mhethyu pada seorang pria tegap yang membelakanginya saat ini dengan pakean tuksedo hitam, yang baru saja berhasil mengalahkan para penjahat dengan aksinya yang mengagumkan.
Pria itupun perlahan berbalik dan memperlihatkan senyum manisnya, "Ayah ternyata tidak pernah salah mengenali anak sendiri" celetuk Kevin sambil berjalan mendekat ke arah Mhethyu, kemudian memeluknya.
"Tentu saja, Ayah sangat menegenalmu nak. Pasti kamu kembali kenegara ini demi menghadiri acara pernikahan adik sepupumu dan merelakan kepergian cinta pertamamu (Meyshila) ke sisi Gavin yang sebentar lagi menjadi suaminya" tebak Mhethyu, segera merangkul tubuh putranya yang sagat ia rindukan karena kesibukan masing-masing yang membuat merek tidak pernah berjumpa selama setahun lebih.
"Kali ini tebakan Ayah salah besar, Karena Kevin datang kemari hanya ingin merebut gadis kesayanganku dari tangan adik sepupuku sendiri" gumam Kevin dalam hati sambil menyeringai dalam dekapan Mhethyu.
"Lebih baik kita segera mengecek keadaan Meyshila dan yang lain, jangan sampai terjadi sesuatu terhadap mereka" kata Kevin, setelah melepas pelukan Ayahnya dan segera berlari keluar menuju ke kamar rias milik Meyshila, yang di ikuti oleh Mhethyu di belakangnya.
Pada saat Kevin sampai di sebuah kamar yang tak jauh dari area Bolroom, dengan perasaan senang yang tak bisa di sembunyikan. Dengan cepat ia membuka pintu tersebut dan segera masuk, Namun ia terkejut ketika mendapati isi kamar itu terluhat kosong dan hanya terlihat peralatan mekup dan sebuket bunga mawar putih yang tergeletak diatas meja rias.
"Shit..., gadis itu kabur lagi. Ini semua gara-gara bodyguard bodoh yang tak becus menjaga gadis kecil itu" umpat Kevin. Kemudian menendang kursi kayu di sampingnya dengan emosi, hingga kursi itu melayan menghantam dinding dan menimbulkan bunyi yang lumayan keras.
"Kevin... apa yang terjadi, kenapa kau terlihat emosi" tegur Mhethyu, melihat perubahan ekspresi anaknya yang terlingkupi emosi.
"Gadis Kevin menghilang Ayah, aku harus segera pergi mencarinya" kata Kevin dengan nada tinggi, kemudian segera berlalu keluar tanpa mempedulikan teguran Ayahnya yang berusaha mencegahnya.
"KEVIN.... KEVIN... AYAH MINTA AGAR KAU SEGERA BERHENTI.." Teriak Mhethyu sambil mengejar putrnya yang kini telah menghilang dari pandangannya.