the heart that chooses

the heart that chooses
26. Kejutan Hari Ini



Di perjalanan pulang sedari arena balap liar. Meyshila tak henti-hentinya menangis, membuat konsentrasi Gavin yang sedang menyetir di sampingnya menjadi terganggu. Secara mendadak Gavin menepikan mobilnya ke bahu jalan yang terlihat lengah.


"SHILA..." Sentak Gavin, membuat tangis Meyshila terhenti. Kemudian memalingkan wajahnya kesamping, sehingga mata Meyshila yang masih bekaca-kaca berserobot degan mata tajam Gavin yang juga menatapnya.


Gavin menghela nafas berat, kemudian kembali menatap Meyshila "gue benar-benar bingung melihat tingkah Lo yang kaya gini, berbanding terbalik degan sikap awal Lo yang arogan" kata Gavin datar. Membuat Meyshila mulai berpikir akan tingkahnya yang baru saja ia sadari agak sedikit berubah, selama ia berada di kediaman Dame Davin.


"Kok gue bisa bersikap lemah kaya gini ? padahal yang hanya tau sifat gue, hanya keluarga inti" gumam Meyshila dalam hati, sambil berfikir mencari jawaban akan kebingungan akan sikapnya sendiri.


"Apa kecalakaan yg Lo alami dulu, mengalami benturan keras di bagian kepala sehingga membuat sikap Lo agak sedikit berubah" sindir Gavin sambil memeringkan wajahnya, mencoba memperhatikan perubahan ekspresi Meyshila yang mulai kesal.


"Emangnya kenapa dengan kepala gue ? berubah ? Apanya yang berubah ?, gue tetaplah Meyshila. Tidak ada perubah sedikitpun dalam diri gue, ngak usah sok tau !!!" ketus Meyshila sambil memalingkan wajah, menghindari tatapan Gavin yang sedari tadi memperhatikannya.


"Walaupun sifatnya agak sedikit berubah, tapi sikap judesnya tetap mengalir di dalam darahnya" gumam Gavin dalam hati, kemudian kembali ke posisnya bersandar di kursi pengemudi.


"Oke.. terserah gue ngak peduli" balas Gavin tatkala segit, kemudian segera melajukan mobilnya membelah jalanan yang terlihat sunyi.


----------- 08.30 ---------


Suasana kampus di pagi hari ini terlihat ramai dengan Mahasiswa yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing. Sedangkan tiga sosok pria yang berada di taman kampus, mala santai duduk sambil menikmati udara sejuk di bawah pepohonan.


"Vin... !! Lo tau ngak, kemarin malam gue lihat penampakan sosok wanita berambut panjang dengan pakaian putih di dalam mobil Lo" kata Akhzan heboh.


"Ngak usah ngarang Zha, bukanya kemarin Lo teriaknya polisi. Sekarang ngaku-ngaku liat setan" kata Bintang, tak percaya akan perkataan Akhzan.


"Gue benaran Bintang..." jelas Akhzan penuh penekanan. "Kemarin gue teriak memanggil Polisi itu karena igin segera membubarkan kerumunan anak-anak di arena balap liar, sebelum setan di mobil Gavin itu keluar dan menculik kita semua ke alam lain" sambung Akhzan sambil begedik ngeri akan apa yang di bayangkannya. Sedangkan Bintang hanya mengeleng kepala akan tingkah sahabatnya yang luar biasa itu.


Gavin yang sedari tadi diam sambil berkutik degan hendphonnya, kini menatap kedua sahabatnya.


"persoalan kemarin, pembahasanya sampai disini saja. Jangan sampai mata-mata Oma gue tau, dan bertindak jauh degan menghancurkan motor sport yang gue pake kemarin malam" kata Gavin, kemudian segera berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang terlihat terkejut.


"Oma Gavin benar-banar protektif, sampai setiap inci kehidupan Gavin selalu di intilin" kata Bintang, menyadarkan Akhzan dari keterlamunan.


"Dari semua kelebihan yang Gavin miliki, sepertinya beban kehidupanlah yang menjadi kekurangannya. Mulai dari kehilangan kedua orang tua sedari kecil, urusan kantor yang seharusnya orang dewasalah yang mengelolanya. Mala seorang anak kecil berusia 13 tahunlah yang harus turun tangan langsung mengelolanya. Dan sekarang, kebabasanya dalam melakukan sesuatu dan mengekspresikan diri kini dikendalikan oleh orang lain" kata Akhzan sedih, karena merasa gagal menjadi seorang sahabat yang mengetahui fakta kehidupan Gavin sejak kecil, namun selama ini tidak terlalu mengertinya.


"Kata Lo kali ini ada benarnya, Gavin dengan beban kehidupannya tidak pernah terlihat terbebani dan malahan terlihat biasa-biasa saja. Jadi gue berkesimpulan, bahwa Gavin sudah mengerti dan menerima jalan hidupnya selama ini" jelas Bintang, yang di angguki oleh Akhzan.


"GA...VIN.." Teriak Shila, tatkala melihat sosok Gavin yang muncul dari arah berlawanan, namun siempuh tidak menggubris dan masih terus berjalan ke arah Meyshila degan tatapan tajam.


"Adaapa lagi degannya...? kesambet setan atau jagan-jagan dia___" gumam Meyshila sambil berpikir, sehingga tidak menyadari keberadaan Gavin yang kini berdiri di hadapanya.


"Ikut gue sekarang, dan jagan banyak tanya" kata Gavin sambil menarik paksa pergelangan tangan Meyshila.


"Aaaa.. Vin.. tangan gue sakit tau..." pekik Meyshila sambil berusaha melepaskan cengkraman Gavin dari pergelangan tangannya. Namun kekuatan pria itu sagat kuat dan entah mengapa pendegarannya seperti tuli dan mengabaikan suara rintih kesakita Meyshila.


Setelah sampai di parkiran, Gavin menghempaskan tubuh Meyshila ke dalam mobil sport hitamnya dan segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya degan kecepatan tinggi melesat keluar dari area parkir kampus.


"Lo sebenarnya kesambet apaan, cepat turunin gue.." teriak Meyshila frustasi, namun Gavin kembali tidak menggubrisnya dan malah makin menambah laju kecepatan mobilnya. Membuat Meyshila yang duduk di sampingnya menutup mata sambil mencengkram seat belt pada tubuhnya.


Gavin melirik ke arah Meyshila, mencoba melihat keadaan gadis yang saat ini duduk di sampingnya yang kini terlihat ketakutan degan tubuh yang bergetar. Melihat hal itu, Gavin tiba-tiba menginjak pedal rem sehingga menimbulkan bunyi pergesekan besi pada mobilnya.


Meyshila yang terhuyung ke depan terkejut merasakan mobil yang ditumpanginya degan Gavin tiba-tiba terhenti. Meyshila tidak berani membuka mata sedikitpun dan kekeh untuk menutup matanya sampai Gavin menghilang dari sampingnya.


"Buka mata Lo sekarang atau gue sendiri yang akan buka mata Lo" kata Gavin dingin, membuat Meyshila menelengkan kepala tak urung membuka matanya juga. Sehingga Gavin degan perlahan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Meyshila sambil meniupnya degan hembusan yang terasa hangat menerpa wajah Meyshila. Sehingga tubuh gadis itu semakin menegang, dan perlahan mencoba membuka matanya.


"HWA...HAAA....." Teriak Meyshila terkejut, tatkala wajah tampan Gavin yang kini berada lima centimeter dari hadapannya.


"Mbbmmee..emme..." racau Meyshila, ketika Gavin berhasil membekap mulut gadis itu degan tangannya.


"Diam.." kata Gavin tajam, membuat mata Meyshila berkaca-kaca menatap Gavin yang juga menatapnya.


Perlahan bekapan pada mulut Meyshila terlepas, Gavin berdehem berusaha menormalkan kecanggugan yang dirasakannya ketika pertama kali ini berada di jarak yang begitu dekat degan Meyshila.


"Gitu saja nangis, cengeng baget jadi cewe" serkas Gavin, hendak turun dari mobil. Tiba-tiba sebelah tangannya di cekal oleh Meyahila.


"Lo bilang gue cengeng.., memangnya kenapa kalau gue cengeng. Kalau Lo ngak suka sikap gue yang kaya gini, mending Lo pura-pura saja ngak liat gue atau degar suara tangis gue" ketus Meyshila sambil sesenggukan degan wajah yang sudah basa akan air mata yang masih mengalir deras dari kedua matanya.


"Khwa.... haaa... haaa..." suara tawa Gavin, mengalihkan tangis Meyshila menjadi terhenti, sehingga menatap bingung ke arah Gavin.


"Lo itu emang lucu kalau sedang di kerjain" kata Gavin, sambil mencoba menetralkan tawanya.


"Hwaaaa...hwaaa....." tiba-tiba suara tangis Meyshila pecah memenuhi seisi mobil Gavin. Sehingga membuat sosok pria yang tadinya asik tertawa, berubah panik dan kelimpangan. Sehingga tanpa berpikir panjang, Gavin menarik tubuh mungil Meyshila dalam dekapannya dan menyembunyikan wajah gadis tersebut pada dada bidangnya.


Meyshila berusaha memberontak dalam dekapan Gavin, namun kekuatan gadis itu kala besar dari sosok pria yang saat ini mendekapnya degan kedua tangan kekarnya begitu erat. Sampai akhirnya pergerakan Meyshila mulai melemah dan suara tangisnya mulai terhenti, barula Gavin melonggarkan dekapannya. Perlahan Meyshila berinsuk mundur menjauh dari tubuh Gavin, namun sebuah tangan mencengkram lembut dagunya dan mendongakkan kepalanya. Sehingga mau tidak mau mata coklat mereka saling beradu.


"Maaf...!!! gue lakuin ini karena seseorang memintanya" kata Gavin lirih, membuat dahi Meyshila berkerut.


"Seseorang...?" kata Meyshila bingung, tiba-tiba tangan Gavin yang tadinya masih menempel di dagu Meyshila dihempas paksa oleh siempu degan kasar.


"Hay__" sentak Gavin, namun terhenti tatkala mendapat tatapan tajam Meyshila.


"Ada apa hem ? ngak terima gue gituin ? atau Lo sama Oma Lili kerja sama untuk gerjain gue, sampai-sampai tas gue ketinggalangan di kampus gara-gara sikap Lo yang seenaknya memaksa seseorang mengikutimu" tuduh Meyshila degan judesnya, kemudian segera keluar dan membanting pintu mobil sport itu degan keras, sehingga membuat Gavin terkejut dan segera keluar mengejar Meyshila yang kini memasuki pintu utama kediaman Dame Davin.


"Berhenti ngikutin gue" ketus Meyshila pada Gavin yang mengekorinya dari belakang hendak naik kelantai dua.


"jadi cewe ngak usah kegeeran" balas Gavin, tiba-tiba langkah Meyshila terhenti. Badan mungil itu berbalik sambil melempar tatapan tajam ke arah pria yang berdiri tegap degan santai di hadapannya.


"Kalo gitu lebih baik Lo tanggung jawab atas perbuatan Lo pada gue, dari pada ngikutin gue kaya gini" tuduh Meyshila bersungut-sungut sambil berdecak pinggang.


"Tanggung jawab..?" kata Gavin sambil tertawa, akan pernyataan Meyshila yang menggelikan di telinganya.


"Iya.. cepat tanggung jawab sebelum ter__" kata Meyshila terhenti, tatkala Gavin bersuara.


"Gue baru lakuin kaya gitu, Lo udah minta pertanggung jawaban. Yang benar saja Meysh___" kata Gavin terhenti tatkala suara teriakan dari arah belakan mengejutkannya.


"SHILA" Pekik seseorang dari arah belakang, membuat Meyshila dan Gavin menatap ke arah suara.


"Ma.. Ma.." suara Meyshila terasa tercekik pada pangkal tenggerokannya, ketika melihat keberadaan Luchiyana.


"Kalian berdua benar-benar, cepat ikut dan jelaskan semuanya di hadapan semua orang" tegas Luchiyana menjewer sebelah kuping Meyshila dan Gavin, kemudian menggiring kedua anak remaja tersebut masuk ke dalam ruang keluarga yang tak jauh dari arah tangga dimana mereka tadinya berdiri.


Perbincangan yang tadinya terlihat hagat dan santai, kini terlihat menegangkan tatkala semua pandangan yang kini tertuju ke arah Luchiyana yang baru saja memasuki area ruang keluarga degan masih setiap menjewer telinga Meyshila dan Gavin.


"Ada apa ini ?" tanya Dame Davin bingung, melihat situasi saat ini.


"Mereka berdua telah melakukan kesalahan fatal, dan harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka degan menikah" tegas Luchiyana membuat semua orang terkejut, terutama Gavin dan Meyshila.


"Mama yang benar saja... Shila dan Gavin tidak melakukan kesalahan fatal, dan kami hanya bercanda saja" kata Meyshila tak percaya akan perkataan mamanya yang tak masuk akal, tiba-tiba memojokkannya seperti ini.


"Tante tidak tau kejadian yang sebenarnya, jadi ngak usah bertele-tele seperti ini" kata Gavin santai, hendak berbalik meninggalkan ruang keluarga. Namun sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Gavin akan tetap bertanggung jawab atas kesalahan fatal yang dilakukannya dan akan menerima kuensikuennya" tukas dame Davin, membuat semua pandangan kini mengarah ke arahnya. Terutama Gavin yang kini berbalik badan menatap jengah, tak percaya akan perkataan Omanya.


"TIDAK.." pekik Meyshila membuat semua orang di ruang keluarga terkejut, "Ini semua hanyala kesala pahaman semata, Gavin tidak melakukan kesalahan fatal dan harus bertanggung jawaban terhadap Shila" kata Meyshila panik.


"Lebih baik kamu diam Shila, dan degarkan kami sebagai orang tua" tegas Dominick yang sedaritadi diam memperhatikan situasi.


"Paman yang seharusnya mendegarkan kami, karena semua ini tidak sesua degan pemikiran kalian semua" tegas Gavin, membuat Meyshila mendonga menatap Gavin yang kini terlihat serius di sampingnya.


"Ekhm..., lebih baik kita degarkan penjelasan mereka terlebih da__" kata Oma Lili yang berusaha menurunkan ketegangan, namun terhenti tatkala mendapatkan tatapan tajam dari Dame Davin.


"Oma tadinya hanya memintamu untuk membawa Meyshila segera kemari, tetapi tingkah kalian membuat rahasi kalian terbongkar dengan diam-diam memiliki hubungan khusus tanpa sepengetahuan kami. Dan berusaha menyembunyikannya" jelas Dame Davin.


"Apa oma meminta Gavin untuk segera membawa gadi ini hanya untuk melihat pertunjukan seperti ini. Oh satu lagi.. apa Oma memiliki bukti kuat kalau Gavin dan shila memiliki hubungan khusus. Kalau iya Gavin akan bertanggung jawab" tantang Gavin lantang, membuat Meyshila membulatkan mata akan penutaran pria yang berdiri di sampingnya.


"Fenix... perlihatkan semua bukti-bukti yang selama ini kau kumpulkan pada cucuku sekarang juga" tegas Dame Davin pada sekertarisnya yang sedari tadi berdiri di sisi ruang keluarga.


Fenix menyodorkan sebuah amplop coklat ke pada Gavin, degan cepat Gavin membuka amplop coklat itu dan melihat isinya. Dimana foto-foto kebersamaannya bersama Meyshila selama kepergian Dame Davin terlihat mesra degan pengambilang gambar yang sagat tepat, raut wajah Gavin seketika berubah tegang dan mengeras. Akan foto yang segaja di ambil di momen yang pas tidak sesua degan kejadian yang sebenarnya.


"Kalian benar-benar pandai dalam mengambil foto degan momen yang tepat, contohnya saja foto ini" kata Gavin dingin sambil memperlihatkan sebuah foto dimana tampak dirinya sedang menggendong tubuh lemah Meyshila dan hendak masuk ke dalam kamar gadis itu. Sehingga Meyshila ikut terkejut melihat foto tersebut.


"Itukan foto gue pada saat sedang sakit" kata Meyshila terkejut.


"Gue hanya igin membantu gadis lemah di foto ini, dan kalian degan entengnya mengambil dan menuduh secara sepihak seperti ini. kalian benar-benar licik" kata Gavin dan melempar semua foto-foto itu ke atas meja dan segera berlalu meninggalkan semua orang yang ada di ruang keluarga, Meyshila segera mengambil dan ikut terkejut melihat semua foto-foto yang hanya memperlihatkan momen kebersamaannya degan Gavin yang sagat pas.


"Astaga... semua foto ini hanya diambil di momen yang memperlihatkan kedekatan saja, tapi yang sebenarnya Shila dan Gavin itu tidak seperti ini. Dan malahan kami selalu bertengkar di setiap saat. Kumohon percayalah perkataanku" kata Meyshila frustasi akan kemungkinan yang akan terjadi. Jika sampai semua orang mempercayai foto kebersamaannya degan Gavin.


"Lebih baik kamu segera kembali kekamar, kemi semua selaku orang tua akan membahas ini dan akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kalian berdua" tegas Dame Davin, membuat Meyshila merasa panik dan tiba-tiba menangis sekencang-kencangnya.