
Meyshila yang kini beranjak dari dekapan Dame Davin, perlahan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya degan air mata yang masil berlinan akan kerinduannya kepada kedua orang tuanya yang sampai saat ini belum menghubungi atau menemuinya.
"Hay gadis aneh" sentak Gavin ketika melihat keberadaan Meyshila yang baru saja muncul dari anak tangga tetakhir dari lantai dua, Namun degan cepat. Meyshila membalikan tubuhnya dan berusaha menyembunyikan wajahnya ketika Gavin mulai mendekatinya.
"Dasar, dianya yang aneh malah gue yang di bilang aneh. Merusak suasana hati saja" Gumam Meyshila degan suara serak namun masih dapat di degar jelas oleh Gavin yang mencoba memperhatikan wajah Meyshila yang disembunyikan dari balik tangan.
"Sepertinya, anak ini sedang menangis, rasa kepekaan gue ngak bisa di booingin soalnya" gumam Gavin dalam hati.
"Lo lagi nangis ya.." tuduh Gavin segan spontan
Meyshila menggelengkan beberapakali kepalanya degan wajah yang masih saja tertutup rapat degan kedua tangannya. Membuat Gavin semakin penasaran dan degan satu sentakan, Gavin berhasil menarik kedua tangan Meyshila dan memperlihatkan wajah yang terlihat memerah serta kedua matanya yang sembab.
Sakin terkejutnya, tanpa sadar Meyshila memeluk dan berusaha menyembunyikan wajahnya pada bidang dada Gavin agar tidak terlihat. Sehingga orang yang di peluk tiba-tiba saja terdiam, bagaikan di sengat listrik yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
"Kok bunyi jantungnya sangat kencang, apa jagan-jagan dia serangan jantung" Gumam Meyshila panik, dan segera sadar atas apa yang baru saja ia perbuat.
Meyshila sudah tidak mempedulikan wajahnya yang kini terlihat kacau setelah menangis, dan malah memperhatikan wajah Gavin yang terlihat syok akan kelakuannya yang baru saja memeluk pria yang menurutnya aneh..
"S-O-R-Y--" kata Meyshila terbata-bata dan hendak berlari ke arah kamarnya yang tidak jauh dari jangkauannya saat ini, namun sebuah tangan menahan pergelangan tanganya.
"Enak aja mau kabur, Lo harus tanggung jawab" kata Gavin degan tegas.
"HA.." kata Meyshila bingung.
"Lo kira gue itu bokap Lo yang tiba-tiba saja bisa di peluk" kata Gavin sambil menatap tajam mata Meyshila yang mulai berkaca-kaca, akibat perkataannya.
"HWAA... Shila kangen mama dan papa" teriak Meyshila sambil mengeluarka isak tagis yang membuat seisi rumah Dame Davin panik, termasuk Gavin yang saat ini berada di hadapannya.
Dengan cepat Gavin membekap mulut Meyshila, sebelum Oma dan Para pelayan mendatanginya. Kemudian membawa Meyshila masuk ke dalam kamar degan susah payah. Karena pemberontak akan perlakuaan Gavin, yang membuat Meyshila panik sendiri. Apalagi melihat pria tersebut mengunci pintu kamar dan memasukkan kunci tersebut ke dalam saku celananya.
Suara Ketukan dan gedoran dari Dame Davin dan para pelayan dari arah luar kamar Meyshila, membuat Gavin mendengus.
"Gue akan lepasin tangan gue dari mulut lo, tapi janji dulu satu hal sama gue" kata Gavin mencoba bernegosiasi degan Meyshila yang masih terlihat panik dan secara perlahan menganggukkan kepalanya.
"Lo harus bilang ke mereka bahwa Lo baik-baik saja saat ini. kemudian gue akan segera keluar dan tidak berbuat macem-macem sama Lo, gimana..?" kata Gavin, yang kembali mendapat anggukan kepala dari Meyshila yang mengerti.
tangan Gavin perlahan terlepas dari mulut Meyshila, sehingga degan cepat Meyshila berteriak.
"Shila ngak papa, kalian semua bisa pergi" suara lantang Meyshila membuat semua orang yang berada di luar kamarnya bernafas lega.
"Betul, kamu baik-baik saja. kalau gitu buka kamarnya sekarang" tegas Dame Davin. Sehingga mau tak mau, orang yang berada di dalam kamar segera membuka kamarnya.
Perlahan Meyshila membuka pintu kamarnya, tanpa di duga Dame Davin menyelonong masuk dan memindai isi kamar Meyshila.
Gavin yang bersembunyi di balik tirai pada dinding kaca kamar Meyshila, merasa panas dingin ketika Dame Davin perlahan mendekat ke arahnya.
"Semoga Oma tidak menemukanku, dan tidak mempersulit keadaan yang tidak sesuai degan kenyataan yang ada" gumam Gavin dalam hati, degan perasaan was-was.
"Oma... jagan kesana, awas ada kecoa" panik Meyshila, melihat Dame Davin yang semakin mendekat ke arah Gavin.
Dame Davin yang hendak berbalik arah atas ucapan Meyshila. Terhenti, ketika mata tajamnya menemukan sesuatu. Yang tak lain adalah jari kaki Gavin yang terlihat dari balik tirai yang tidak tertutup degan baik.
"Sepertinya, kamu harus pintar-pintar kalau igin membohongiku" kata Dame Davin santai, membuat Meyshila yang melihatnya terkejut. Apalagi Gavin yang sedari tadi panas digin, kini merasa bahwa jantungnya seketika berhenti berdetak mendegar penuturan Omanya.
"Maksud Oma apa..?" tanya Meyshila panik.
"Mana ada kecoa di rumah ini, malahan---" kata Dame Davin menggantung, "Kucin lapar yang kamu coba sembunyikan, yang akan menerkammu kalau tidak segera di keluarkan. Apa kamu mengerti..?" lanjut Dame Davin sambil menatap wajah Meyshila yang terlihat kebingungan. Kemudian segera keluar meninggalkan Meyshila dan Gavin yang terdiam ditempat.
Sedangkan Gavin yang paham akan perkataan Dame Davin yang seperti menyindirnya.
"Sepertinya Oma mengetahui keberadaanku, tapi malah berpura-pura. Terserahlah, selama tidak menimbulkan masalah. Gue juga akan berpura-pura tidak menyadarinya" Gumam Gavin dalam hati.
Gavin keluar dari persembunyian dan berlalu begitu saja, melewati tubuh Meyshila yang tercengang degan tingkah laku yang diperbuat sepasang Oma dan Cucu itu yang membuat Otaknya Hang tiba-tiba.
-----08.30-----
Sedangkan Meyshila yang kini berada di taman sambil termenung, degan dua sosok gadis. Dimana yang satunya sedang asik membaca novel dan yang satu nya lagi malah asik memperhatikan beberapa Mahasiswa yang lalu lalang di sekitarnya.
"Lebih baik kita ke kantin aja yuk, soalnya gue pengen baget makan ketoprak mbak Rini.." celote gadis yang sedaritadi memperhatikan Mahasiswa yang berlalulalang melewati taman.
"Alma...!!! Tungguin Delis sama Shila.." Teriak seorang gadis yang segera menyimpan buku novel ke dalam tasnya, kemudian berenjak sambil menarik tangan Meyshila yang masih enggan berdiri dari tempatnya.
Delisa dan Shila yang sedang berlari mengejar Alma yang kini sudah tidak terlihat setelah memasuki gedung kampus tampak kesal.
"Delis sebel sama Alma, udah ngak nungguin mala udah menghilang aja dianya" kesal Delisa sambil memanyunkan bibirnya, membuat Meyshila yang berada di sampingnya tidak bisa menahan tawanya.
"Mulut Lo itu kaya ikan dori yang lagi ngerayu ikan paus, kalo manyun kaya gitu.." celutuk Meyshila sambil berjalan perlahan setelah memasuki gedung kampus akibat kelelahan berlari mengejar Alma yang sudah menghilang.
"Shila ma---gi---tu.." Kata Delisa pelan degan suara agak tercekik perlahan menghilan, degan pandagan di satu arah tanpa mempedulikan Meyshila yang masih tertawa disisinya.
Sedangkan Meyshila yang merasa aneh degan tingkah temannya yang tiba-tiba terdiam. Mencoba mengikuti arah pandang Delisa, yang memperlihatkan Keadaan ramai di sekitar lapangan olahraga yang letaknya di bagian tegah gedung kampus utama.
Delisa yang memiliki tingkat keingintahuan tinggi mengenai kejadian yang saat ini terjadi di tengah lapangan, menarik paksa tangan Meyshila yang seperti enggan mengikutinya.
"Shila.. kamu harus ikut, aku sagat kepo degan apa yang ada disana. Siapa tau ada jeckpot yang sedang menunggu kita disana" kata Delisa semangat menarik tangan Meyshila yang malah memperlihatkan ekspresi kesal akan paksaan dari temanya yang menyebalkan.
Sesampainya di sekitar lapangan. Delisa dan Meyshila menerobos kerumunan Mahasiswa yang sedang mengerubuni seorang gadis cantik degan tinggi semampai, berkulit putih serta rambut panjang yang berdiri sambil memegang buket bunga mawar merah. Degan pandangan yang hanya tertuju pada seorang pria yang masih asik bermain basket, tanpa mempedulikan gadis tersebut.
Pria yang masih asik bermain tak lain adalah Gavin Nikola Serafino, degan sikap cuek tanpa mempedulikan teman seperminnya yang sudah berhenti bermain basket dan malah ikut-ikutan memandangnya bersama degan kerumunan Mahasiswa yang ada di sekitar lapangan. Membuat si gadis degan buket bunga di tangannya mengeluarkan suara.
"GAVIN NIKOLA SERAVINO... GUE SUKA SAMA LO, DAN GUE NGAK AKAN PERGI SEBELUM LO NERIMA GUE JADI PACAR LO SEKARANG JUGA. DAN SEBUKET BUNGA MAWAR INI BUKTI CINTA GUE YANG BEGITU DALAM BUAT LO" Suara lantang gadis tersebut, tanpa mempedulikan beberapa tatapan sinis, terkejut, mengejek ataupun kaguman atas keberaniannya yang menyatakan cinta kepada pria yang terkenal cuek sejak dulu di kerumunan Mahasiswa yang ada di sekitar lapangan.
Hening seketika melingkupi suasana yang ada di sekitar lapangan, setelah pernyataan cinta tersebut membuat Gavin menghentikan permainannya dan beralih berjalan degan tatapan datar ke arah gadis tersebut. Membuat semua orang merasa gelisa, akan jawaban yang akan di terima gadis tersebut dari seorang Gavin yang terkenal cuek sedari dulu. Termasuk mengabaikan perasaan setiap wanita yang menyukainya.
"PERGI ATAU GUE YANG PERGI" Kata Gavin degan penuh penekanan.
"G..U..E.., NGA..A..AKAN.. PER..GI..SEBELUM LO NERIMA GUE" jawab gadis tersebut lantang degan suara sedikit berget.
Gavin yang mengalihkan pandaganya, kemudian hendak meninggalkan gadis yang masih kekeh degan pendiriannya, tiba-tiba terdiam menatap sepasang mata sipit yang menatapnya tajam dari sekumpulan Mahasiswa yang terdiam di sekitar lapangan.
"Ternyata gadis aneh ini juga berada disini" Gumam Gavin dalam hati, sambil berjalan ke arah gadis degan tatap tajam itu.
"Gawat dia mendekat, alaram bahaya gue berbunyi" Gumam Mayshila dalam hati. sambil melempar tatapan tajam ke arah Gavin yang malah berjalan ke arahnya.
Semua pandangan kini mengarak ke arah Gavin yang kini memperlihatkan ekspresi tak terbaca, namun secara tiba-tiba satu alisnya terangkat ke atas degan senyuman miring ke arah gadis yang melempar tatapan tajam degan wajah memerah akibat menahan amarah atas perlakuan Gavin barusan, kemudian memaluluinya.
"Shil, Del, ke kanting yuk. Pertunjukannya juga udah selesai" teriak Alma sambil berlari ke arah ke dua sahabatnya yang masih menatap gadis yang baru saja di abaikan oleh Gavin.
"Ngak usah ngurusin cewe jadi-jadian kaya dia, saat ini pasti dia hanya menggunakan topeng kesedihan. Tapi nyatanya dia itu A*j*r" kata Alma ketus, kemudian berlalu sambil merangkul kedua sahabanya. Meninggalkan gadis yang kini merajut di depan kedua sahabatnya, Akibat merasa tidak terima degan perkataan Alma.
Sedangkan di lain tempat, Gavin dan seorang pria yang sedang asik bermain ponsel sambil menikmati kesejukan pepohonan yang berada di taman.
"Tatang..., besok kita satu ruangan. Jadi lo harus siapin tempat khusus buat gue" kata Gavin yang masih asik degan ponselnya.
"Sejak kapan nama gue berubah dari Bintang menjadi Tatang. Dan palingan besok pak Sakti yang nentuin sendiri kelompok dan tata urutan tempat duduk masing-masing" jelas Bintang kini menatap Gavin degan tajam.
"Ngak usah natap gue kaya gitu kali, gue juga ngak ngambil cewe yang lo taksir selama ini" celetuk Gavin sambil bermain ponsel.
"Emang lo tau cewe yang gue taksir.?" tanya Bintang degan nada mengejek.
"Siapa lagi kalau bukan Tata janeta yang baru saja nembak gue di lapangan" kata Gavin sambil beralih dari ponselnya dan menatap Bintang degan pedenya.
"Nama dia bukan Tata janeta, tapi Atea Zilque Subastian. Jagan asal ngubah nama orang git-" kata Bintang terpotong.
"Terserah guelah, dasar tatang. Makanya kalau benar-benar suka Lo harus ambil langkah untuk lebih serius, tapi kalau emang ngak ya lebih baik Lo menghindar darinya. Agar terbebas dari saiton yang dapat membuat Lo bertekut lutut di hadapannya" jelas Gavin degan bersunguh-sungguh, membuat Bintang tertawa terpingkal-pingkal melihat sahabatnya yang terkenal cuek malah berbicara bijak di hadapannya.
"Seandanya gue bukan sahabat yang gerti Lo dari kecil, mungkin Lo udah gue tampol. Sikap Lo ya sering berubah-ubah, yang kadang perhatian tiba-tiba bersikap cuek dan pendiam membuat orang kesal saja" kata Bintang sambil tertawa menatap Gavin yang malah terlihat sok cuek menangapinya.
"Lo juga kaya gue, bicaranya irit kalau belum terlalu kenal degan orang lain, tapi kalau udah kenal barbarnya kebagetan alay sumpah gue.." kata Gavin sambil menatap Bintang yang malah menganguk membenarkan penjelasan temanya.