
Di cuaca buruk seperti saat ini, dimana hujan dan angin kencang yang berlangsung sepersekian jam, menit, detik yang berlalu. Tidak menghentikan langkah seorang Kevin Austyn Mhethyu dalam mencari keberadaan seseorang yang sangat ia inginkan. Hingga tidak mempedulikan kesalamatan dirinya yang sedang mengendarai mobil sambil memperhatikan situasi di sekitarnya yang terlihat kabur akan derasnya air hujan.
dreet... dreet... dreet...
Getaran hendphon dari dalam saku jas Kevin bergetar, membuat siempuh segerah mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera di layar panggilan.
"Ada apa, kalau tidak ada hal yang penting lebih baik kumatikan saja tel__" kata Kevin terhenti, tatkala suara dari sebrang membuatnya menghentikan niatnya.
"*Lebih baik kamu segeraka kemari, karena s**eseorang yang kau cari kini akan segera sah menjadi milik sesorang" suara seorang wanita dari seberang telefon sana*.
"*S**ekarang juga kirim serlok lokasinya. Aku akan segera ke sana" kata Kevin marah, kemudian memutuskan sambungan telefon dan menaikkan lajukan mobilny**a melesat membelah jalanan yang tergenang air hujan*.
Di lain sisi dimana sosok wanita yang baru saja memberikan kabar melalui sambungan telfon kepada Kevin adalah sosok Anneliese yang kini terlihat sedang bersembunyi dari balik dinding yang menghubungkan antara ruang keluarga dan ruang tamu di kediaman Dominick, sambil memperhatikan situasi ijab kabul yang akan segera dimulai dan hanya di hadiri oleh seorang penghulu serta dua keluarga besar saja.
Sejenak Anneliese memperhatikan ekspresi Dominick yang terlihat bahagia duduk di samping penghulu sambil memeperhatikan sosok pria berjas putih yang sebentar lagi menjadi menantunya kini duduk di hadapanya sambil terdiam, sedangkan Luchiyana terlihat sibuk berbincang dengan Dame Davin di sudut ruang keluarga dimana acara ijab kabul itu akan berlangsung.
"Maafkan Anne mama.. papa..., aku harus menghentikan pernikahan ini" suara lirih Annelies, segera berlalu menaiki anak tangga dengan membawa sebuah alat kejut listrika di sebelah genggamannya.
Sedangkan Luchiyana yang terlibat perbincangan serius dengan Dame Davin, tiba-tiba merasa gelisa.
"Sepertinya aku harus segera melihat keadaan Meyshila, entah mengapa aku tiba-tiba merasa gelisah" kata Luchiyana yang di angguki oleh Dame Davin.
Luchiyana segera berlalu menuju kamar Meyshila yang berada di lantai dua tanpa mempedulikan panggilan dari Dominick yang menatapnya bingung. Sesampainya di depan kamar Meyshila, samar-samar Luchiyana mendengar suara perdebatan yang sagat di kenalnya. Dengan perlahan ia mendekat dan mendapti Annelise yang mencoba menyerang Meyshila dengan alat kejut listrik di genggamanya.
"Anne... apa yang coba kau perbuat dengan alat itu terhadap adikmu" pekik Luchiya, sambil menatap Anneliese.
"Anne..., Anne hanya ingin Shila mendengarku, tapi dia malah menolak dan menentangku dengan menerima pernikah yang juga membuatnya bersedih" kata Annelies, kemudian beralih menatap tajam Meyshila yang berdiri sambil memegang sebuah bantal yang digunakannya untuk menghindar dari alat kejut listrik di genggaman Anneliese.
"Shila menerima pernikahan ini demi Lo juga kak, tapi kenapa sekarang kakak malah mendukung Shila dengan Kevin. Pria yang jelas-jela kakak sukai dari dulu sampai rela mengejarnya keluar negeri dan meninggalkan kita semua. Apa saat ini kakak sudah menyerah mengejar cinta Kak Kevin, atau jagang-jagan Pria itu sudah tidak menarik lagi buat kak Anneliese" kata Meyshila lantang penuh penekanan, membuat emosi Anneliese memuncak. Sejenak Annelies menatap sebelah tangannya yang menggenggam erat alat kejut listrik itu, kemudian beralih menatap Meyshila.
"Pria itu dari dulu sampai sekarang tetaplah pria hebat dalam segala hal, akan tetapi kau adalah satu hal yang selalu membuat hidupnya tidak tenang dan selalu berada di hati dan pikirannya. Membuatku igin menyingkirkan__" kata Annelies sambil berjalan mendekat ke arah Meyshila, membuat Luchiyana panik dan segera berlari dan menarik paksa tangan Anneliese. Sebelum akhirnya benda yang sedari tadi Anneliese genggam terlemper dan terhempas jauh ke depan pintu kamar Meyshila yang terbuka.
Anneliese segera berlari hendak mengambil kembali alat kejut listrik yang tergeletak di depan pintu kamar Meyshila, namun tiba-tiba sebuah kaki menginjak alat itu dengan sepatu pantofelnya. Pandangan Anneliese terangkat dan mendapati tatapan tajam dari Dominick, sehingga membuatnya terkejut dan hendak kabur keluar dari sana. Namun sebelah tangannya di tahan, sehingga membuat langkahnya terhenti.
"Papa tidak menyangka kau akan berbuat senekat ini, jadi maafkan papa kali ini harus kasar dengan mengurungmu di dalam kamar sampai ijab kabul itu selesai Anneliese" Tegas Dominick dengan rahang mengeras membuat Anneliese ketakutan, kemudian dengan kasar Dominick menarik paksa pergelangan tangan Annaliese yang merontah ingin di lepaskan dan menyeretnya masuk ke dalam kamar yang tak jauh dari kamar Meyshila.
"Apa papa tidak merasakan kesedihan yang di alami oleh Meyshila dalam pernikahan ini" kata Anneliese dengan suara lantang.
"Badai pasti berlalu, begitu juga dengan Kesedihan yang berganti dengan kebahagiaan, kami selaku orang tua hanya mampu mendoakan agar kalian tetap selalu berbahagia dan melewati setiap rintangan yang akan datang sili berganti. jadi papa minta sekarang renungkan sikapmu, dan jangan coba melakukan sesuatu yang dapat merugikan orang lain terutama dirimu sendiri nak" kata Dominick dengan suara tenang, kemudian segera berlalu keluar tanpa mempedulikan panggilan dari Anneliese yang meminta agar di keluarkan dari dalam kamarnya.
Sedangkan Gavin yang baru saja keluar dari toilet yang berada di lantai dua tidak jauh dari kamar Meyshila dan Anneliese. Pandangannya tidak sengaja melihat keberadaan Dominick yang berjalan cepat memasuki sebuah kamar, dengan langkah panjang Gavin segera mengikutinya.
"Hentikan tangis kalian dan segeralah turung ke bawah, karena semua orang sedang menunggu kita" kata Dominick tegas dan hendak keluar dari sana, namun suara Meyshila menghentikan langkahnya.
"Shila belum siapa untuk menikah pa..." teriak Meyshila, membuat langkah Dominick terhenti, kemudian berbalik mentap anaknya yang juga berdiri menatapnya.
"Jangan coba-coba membuat kekacaun Shila" sentak Dominick sambil menatap tajam Meyshila. Sedangkan Luchiyana segera menegahi situasi menegangkan itu dengan mengaja turung putrinya, namun Meyshila tetap diam dan enggang untuk bergerak dari tempatnya.
"Apa papa tidak merasakan ketakutan yang Shila rasakan saat ini, apa papa juga tidak memikirkan kehidupan yang harus Shila lalui setelah keluar dari rumah ini dan apa papa tau ke___" kata Meyshila berderai air mata sambil menatap senduh Dominick yang menghentikan perkataanya.
"Cukup Shila, papa tidak akan berubah pikiran sedikitpun mengenai pernikahanmu ini. Cepatlah turung, dan biarkan mama mu meperbaiki riasan wajahmu. Jangan sampai keluarga calon suamimu melihat wajahmu yang seperti ini" kata Dominick tegas kemudian segera keluar tanpa mempedulikan tangisan Meyshila. Sedangkan Gavin yang sedari tadi diam-diam menguping perdebatan antara anak dan papa itu, dari balik dinding dekat pintu kamar Meyshila gelagapan dan segera berlari ke arah tangga hendak turung ke lantai satu, namun suara berat Dominick menghentikan.
"Gavin...!!! apa yang kau lakulan disini" kata Dominick sambil berjalan mendekat ke arah Gavin yang berada di anak tangga pertama hendak turung ke bawah.
"Paman..!!! tadi Gavin dari toilet di lantai dua ini, karena toilet di lantai satu di gunakan oleh bibi Meghan" kata Gavin sambil tersenyum.
"Ooo.. baiklah lebih baik kita segera turung kebawah karena Shila juga akan segera turung bersama mamanya" Kata Dominick segera merangkul bahu Gavin dan turung bersama.
Sedangkan Kevin yang baru saja tiba di depan kediaman Dominick, sejenak terdima di dalam mobil sambil memindai keadaan dimana penjagaan terlihat ketat dengan banyaknya bodyguard yang menjaga di setiap sudut dan setiap areanya. Kemudian tanpa pikir panjang lagi, Kevin segera turung dari dalam mobil sportnya dan berjalan mendekat ke arah gerbang besar yang menjulan tinggi.
Seorang bodyguard berjalan mendekat ke arah Kevin, membuat Kevin segera memasang wajah ramahnya.
"Saya kesini hendak menghadiri pesta pernikahan sepupu saya dan gadis saya, maksud saya gadis yang akan menjadi pasangn adik sepupu saya" kata Kevin sambil menyodorkan kartunamanya kepada si bodyguard.
"Maaf tuan, anda dilarang memasuki kediaman ini dan sebaiknya anda segera pergi dari sini sebelum kami__" kata bodyguard itu terhenti tatkala segerombol pria berjas hitam tiba-tiba turung dari dalam mobil yang terparkir di belakang mobil Kevin, kemudian berjalan mendekat membuat seluruh Bodyguard yang berjaga di sekitar kediaman Dominick meningkatkan keamanan.
"Cepat kalian urus para bodyguard ini, karena saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni mereka" kata Kevin memerintah anak buahnya, kemudian dengan sigap ia menyerang setiap orang yang mencoba menghalangi jalanya untuk memasuki kediaman Dominick.
Suasana menegangkan tidak hanya terjadi di luar kediaman Dominick dimana Kevin dan anak buahnya melakukan penyerangan secara brutal, akan tetapi di dalam kediaman Dominick juga terlihat lebih menegangkan. Dimana Gavin mengucapkan kalimat ijab kabul dengan hanya satu tarikan nafas membuat orang-orang yang menyaksikannya bersorak "SAH" dan merasa terharu samapai menitihkan air mata, sedangkan Meyshila yang berada di samping Gavin merasakan tubuhnya yang seketika menegang setelah mendengar suara lantang pria yang kini sah menjadi suaminya.
Tiba-tiba dari arah belakang Kevin muncul degan pakean yang terlihat kusut serta dahi yang terluka dengan darah yang masih menetes mengenai kemeja putih dan juga jas hitam yang melekat di tubuhnya, sambil menatap sedih ke arah gadis yang selama ini memenuhi pikiran dan hatinya kini mencium punggu tangan pria lain yang merupakan adik sepupunya yang selama ini dianggapnya sebagai saudara kandung.
Meghan yang tidak sengaja melihat keberadan Kevin yang masih berdiri mematung menatap interaksi antara Meyshila dan Gavin, merasa terkejut tatkala melihat penampilan putra tunggalnya yang acak-acak serta luka pada dahinya yang mengeluarkan darah.
"KEVIN.." Pekik Meghan, membuat semua orang terkejut dan berdiri menatap ke arah pandang Meghan. Dimana Kevin juga menatap mereka dengan pandangan terluka.
"PERNIKAHAN INI TIDAK SAH.." teriak Kevin dengan suara yang mengemah, kemudian berjalan mendekat dengan pandangan yang hanya tertuju pada Meyshila yang berdiri di samping Gavin. Namun Dame Davin tiba-tiba berdiri di depan Kevin sambil menghalangi pandangan Kevin terhadap Meyshila.
"Lebih baik kita ke rumah sakit untuk mengobati lukamu" tegas Dame Davin, membuat Kevin berdecak kesal.
"Luka di dahi Kevin tidak ada apa-apanya di bandingakn luka di hati Kevin saat ini Oma" kata Kevin marah, dan hendak melalui tubuh Dame Davin mendekat ke arah Meyshila. Namun dengan cepat Dame Davin mencekal pergelangan tangan cucunya, dan menariknya ke dalam dekapannya.
"Maafkan Oma nak, kau dan Gavin adalah cucu kesayangan Oma. Selamanya akan tetap seperti itu, walaupun saat ini kau mengalami tekanan. Oma akan selalu ada untukmu dan membimbingmu kembali ke jalan yang benar, jadi saat ini tenanglah dan istirahatlah nak di sisi Oma" kata Dame Davin lembut terdengar di telinga Kevin, dengan perlahan kelopak mata Kevin terpejam di dekapan Dame Davin. Membuat Meghan panik dan segera menghampiri mereka.
"Mama...!!! apa yang mama lakukan pada Kevin ?" tanya Meghan panik.
"Tenanglah, anakmu tidak apa-apa. Mama tidak bermaksud buruk sedikitpun terhadap cucu Mama, tapi mama hanya menyuntikan sedikit obat penenang, agar anakmu bisa tenang dan bisa dibawa ke rumah sakit untuk segera di tangani" Jawab Dame Davin tenang, membuat Meghan seketika menitihkan air mata melihat keadaan putranya yang seperti itu. Sedangkan Gavin dan Meyshila terlihat terteguk melihat keadaan Kevin yang terlihat kacau dan menyedihkan.
"Mama..!! apa yang terjadi dengan Kevin" Suara panik Mhethyu dari arah depan pintu ruangan keluarga kediaman Dominick, kemudian berjalan menghampiri Dame Davin yang masih mendekap tubuh lemah Kevin.
"Biar Mhethyu yang membawa Kevin ke rumah sakit, kalian semua tinggallah disini dan selesaikan acaranya" kata Mhethyu, segera mengambil alih tubuh lemah Kevin dari Dame Davin kemudian menggendongnya.
"Tunggu paman, Gavin akan ikut ke rumah sakit" selah Gavin sebelum Pamannya Methyu melangkah jauh.
"Aku juga akan ikut kalian ke rumah sakit" Sela Dominick, kemudian segerah meraih kunci mobilnya yang bertengger di atas nakas tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tapi acara pernikahnya belum selesai, kalian seharus___" kata Mhethyu terpotong.
"Yang terpenting proses sakralnya sudah selesai di lakukan oleh Gavin, sekarang ini nyawa anakmu yang terpenting. Cepatlah jangan buang-buang waktu" Kata Dominick sambil menepuk sebelah pundak Mhethyu, kemudian mereka bertiga segera beranjak dari sana. Sedangkan Meyshila yang merasa bersalah, segera berlalu dari sana di ikuti oleh Luchiyana.
"Aku juga harus ikut, aku harus berada di samping Kevin saat ini" suara lirih Meghan diselah isaknya dan hendak menyusul ketiga pria yang barusaja berlalu membawa tubuh lemah Kevin. Namun suara Dame Davin menghentikannya.
"Lebih baik kamu istirahat dan tenangkan diri, nanti kita semua akan ke rumah sakit setelah membereskan kekacauan yang baru saja di buat Kevin dan Anneliese" kata Dame Davin, mencegah Meghan yang hendak pergi.
"Karena rencana mama, Kevin jadi seperti ini. Aku sebagai orang tua tidak terima dan akan__" kata Meghan terhenti, tatkala tenggorokannya terasa sakit akan kata yang tak mampu ia ucapkan.
"Aku mengerti perasaanmu selaku orang tua. Tapi percayalah, Mama melakukan ini demi masa depan kedua cucu oma" kata Dame Davin tenang membuat Meghan menatapnya tajam.
"Demi kedua cucu Mama ?" kata Meghan lantang.
"Mama sendiri tau bukan jika Kevin sangat mencintai Meyshila sedangkan Gavin tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadap Meyshila, tapi kenapa mama lebih mendukung Gavin di banding Kevin yang jelas-jelas mencintai gadis itu ?" jelas Meghan marah.
Sejenak Dame Davin melirik kedua keluarga yang masih berada di ruang keluarga sambil menatapnya dengan tanda tanya akan jawaban Dame Davin atas pertanyaan Meghan, kemudian beraluh menatap mata Meghan yang mulai berkaca-kaca sebelum akhirnya menarik paksa pergelangan tangan Meghan dan menyeretnya ke subuah lorong yang terlihat sunyi di bagian samping kediaman Dominick.
"Kamu mau tau yang sebenarnya ? baiklah mama akan mengatakan semuanya Meghan" tegas Dame Davin, sambil menatap menantunya yang terlihat sedih.
"Sebenarnya Gavin dan Meyshila lah yang menjadi korban disini, mereka berdua harus mengorbankan perasaan mereka demi kebaikan Kevin dan Anneliese. Apa kau tau ? selama kepergian Kevin keluar negeri untuk meneruskan pendididkannya, selama itu juga aku memata-matai cucuku" kata Dame Davin membuat Meghan terkejut dan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
"Kevin yang selama ini kau kenal baik, sopan dan tidak pernah neko-neko. Kini berubah seiring berjalannya waktu, dia kini menjadi monster berhati dingin. Menghalalkan segala cara hanya untuk kepentingannya dan memaksa Anneliese yang memiliki wajah yang hampir menyerupai Meyshila untuk selalu berada di sisinya sebagai pelampiasan nafsu atas obsesinya dalam memiliki Meyshila. Dan bodohnya gadis kecil itu menuruti dan kini ia ikut terjebak dalam lingkar hitam Kevin, yang Mama harus hentikan dengan menyadarkan Kevin arti dari kehidupan yang suci lahir dari cinta yang tulus bukan dari obsesi dan nafsu semata yang menyesatkan" jelas Dame Davin bersungguh-sungguh, membuat Meghan yang tadinya masih terisak kini terdiam membisu akan penuturan Dame Davin mengenai putranya yang selama ini ia anggap baik-baik saja di luar sana. Tanpa perna merasa curiga akan perubahan yang juga ia sempat rasakan akan sikap putranya yang menutup diri darinya selama setahun lebih akir-akhir ini.
"Kevin.. putraku... maafkan mama nak" kata Meghan terbata-tabat di sela isak tangisnya, membuat Dame Davin menariknya ke dalam pelukannya yang hangat. Meghan membalas pelukan Dame Davin dan menangis sejadi-jadinya, membuat hati Dame Davin ikut merasa sakit kemudian menitihkan ait mata.