
Kini tibala hari yang sagat dinantikan oleh pihak keluarga Dominick dan pihak keluarga Mhethyu. Dimana kedua anak yang sagat mereka sayangi dan cintai akan melangsungkan acara pernikahan di hotel bintang lima milik keluarga Mhethyu, degan fasilitas ballroom yang sagat luas degan dekorasi wedding yang menawan.
Di sebuah kamar berlantai atas, di sala satu hotel itu terlihat seorang pria berjas putih, bersandar sambil memandang ke arah luar yang memperlihatkan kemacetan jalanan diakibatkan kendaraan yang begitu ramai memenuhi jalanan.
"Kenapa kata-kata wanita itu terus membayangi ku..!! apa gue sudah sagat keterlaluan memaksakan diri sampai ketahap ini" kata Kevin sambil memukul dinding kaca di depnnya.
sedangkan dikamar yang satunya terlihat seorang wanita yang menggunakan gaun penganting muslim berwarnah putih sedang asik di dandani oleh beberapa pelayang. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, terlihat seorang wanita degan gaun kebaya berwana putih tersenyum menatap semua orang di dalam ruangan.
"Bagai mana, apa semuanya sudah selesai" kata Luchiyana sambil mendekat ke arah wanita yang sedang di dandani.
"Iya Nyonya, nona muda sudah siap. Tinggal menggunakan jilbab dan_ _" kata pelayan terhenti. Tiba-tiba tersela oleh Meyshila.
"Lebih baik kalian semua keluar, biar gue sendiri yang menggunakan jilbab dan cadar itu atau tidak sama sekali" kata Meyshila ketus. sehingga Luchiana menjentingkan tagan sebagai tanda agar semua pelayan yang ada di dalam ruangan segera keluar. Melihat tanda itu para pelayan segera keluar dari ruangan.
Kini tinggal Luchiana dan Meyshila di dalam kamar. Luchiana yang hendak memakaikan jilbab di kepala Meyshila terhenti ketika Meyshila menarik tagan Luchiana dan mengenggamnya degan erat sampai jilbab itu terlepas dan terjatuh kelantai.
"Ada apa sayang, kok tagan mama di tarik..?" kata Luchiana sambil memperhatikan wajah Meyshila yang terlihat gelisa.
"em...em...mama..!!, Shila sedang nunggu sesorang yang akan membantu Shila menggunakan jilbab dan cadar itu. Jadi mama tidak keberatan kan nungguin sila 20 menit lagi, soalnya aku sagat gugup kalau ada mama disamping Shila" kata Meyshila gugup degan tagan yang masih menggenggam tagan Luchiana.
"Baiklah mama akan segera keluar, tapi igat satu hal. Mama tidak mau menunggu lebih dari 20 menit, karna acaranya tinggal 30 menit sayang" kata Luchiana melepas tagan Meyshila sambil mengelus pucuk kepala Meyhila dan berlalu keluar dari kamar.
Setelah kepergiaan Luchiana, Meyshila segera mengambil hendphon dan menghubungi seseorang. setelah panggilan itu berakhir Meyshil yang hendak keluar dari kamar terhenti ketika dua orang bodyguard yang berdiri di depan kamarnya merentangkan tagan.
"Tenanglah gue tidak igin kabur, gue hanya igin nungguin seseorang yang akan membantu gue di dalam" kata Meyshila kepada kedua Bodyguard di hadapannya.
"Baik nona" kata kedua bodyguar segera menurungkan kedua tagannya yang menghalangi pandagan Meyshila.
Meyshila yang masih berdiri di depan pintu sambil celingukan menunggu tidak mempedulukan bodyguard yang berdiri di depannya seperti patung. Sampai akhirnya pandagan Meyshila tertuju pada seorang wanita yang berjalan ke arahnya degan menggunakan kecamata hitam serta gaun putih sebatas lutut yang terlihat anggun.
"Akhirnya dia datang juga. kalian berdu minggir, wanita itu yang akan membantu gue nyelesain dandanan gue. jadi jagan sampai kalian menghalanginya, kalian mengerti..?" kata Meyshila ketus, sambil menatap kedua bodyguar yang sepertinya mengerti degan perkataannya. sehingga memberikan jalan kepada wanita berkecamata hitam itu untuk masuk kedalam kamar mengikuti Meyshila yang menariknaya setelah berada di depannya.
01.30
Di sebuah kamar yang terlihat luas, terlihat seorang pria berjas putih masih enggan untuk bergeser dari tempatnya semula dan masi fokus menatap ke arah luar dinding kaca yang memperlihatkan sinar matahari yang semakin terik. Tiba-tiba sebuah tagan menempel diseblah kiri bahunya, degan reflek pria itu membalikan badang untuk menatap siapa pemilim tagan yang telah mengagetkannya dari lamunan.
"O..Om..Omaaaa Damedavin..!!" kata Pria itu degan suara gugup, kemudian ditarik paksa oleh tagan yang mengagetkannya agar segerah berpindah dari sana untuk menghindari sinar matahari yang terpantul dari dinding kaca yang membuat pandagan kedua orang itu saling menyilaukan jika saling memandang satu sama lain.
"Dasar anak bodoh, kau igin segera kriput ngalahin oma yang masih mulus-mulus gini degan berdiri menghadap ke arah sinar matahari yang terik seperti itu" kata Dame Davin sambil menatap Kevin yang masih terlihat terkejut degan kedatangan wanita paru bayah itu degan kulit putih, mulus dan kencang.
"Ini benar-benar oma bukan, gue tidak mimpikan..!!" kata Kevin tidak percaya, sambil memegang bahu Dame Davin.
"Oma datang kemari bukan degan bayangan. Tapi Oma datang kemari degan wujud asli, degan harapan bisa menyelamatkan cucuku dari sesuatu yang di sembunyikan oleh kedua orang tua itu" kata Dame Davin degan suara tegas sambil menghempas tagan Kevin, sesaat kemudian Dame Daven menghampiri Kevin dan memeluknya degan kasih sayang. Sehingga membuat Kevin merasa bahagia sampai tak terasa air matanya tak terbendung lagi.
"Maksud Oma..!!! Kevin atau Gavin yang berada dalam masalah, sehingga mengharuskan oma sendiri yang turun tagan menyelamatkan" Kata Kevin melepas pelukan dari oma dan memandangnya degan bingung.
"Astaga Kevin..!!! kau ini cucu oma yang paling pintar dan pekah, Apa yang membuatmu berubah menjadi bodoh seperti Gavin" kata Dame Davin sambil menampol kepala Kevin.
"O..M..A..!!! " teriak seseorang degan suara keras, yang tiba-tiba muncul dari arah depan pintu kamar Kevin yang tidak tertutup.
"Gavin... !!!" kata Kevin sambil melihat ke arah sumber suara teriakan yang menperlihatkan seorang anak remaja pria degan balutan jas tuxedo putih berpadu degan kemeja hitam yang membuatnya terlihat memukau. berjalan mendekat ke arahnya, sedangkan oma terlihat marah dan segera menabok keras kepala Gavin.
"hehehehe..!! Gavin tidak akan marah degan perbuatan Oma barusan. tapi kalau itu Kevin, pasti Gavin akan membalasnya degan kuat" kata Gavin tertawa renyah sambil menatap Kevin degan tatapan mengejek.
"Gav... sekarang lebih baik kamu keluar, Oma ada urusan degan sepupumu ini. kamu lebih baik pergi ke ballroom sambil menemui paman dan bibi mu" kata Dame Davin defan tatapan yang tidak igin dibantah.
"Baik Oma bawel...!!" kata Gavin segera berlari keluar dari kamar tersebut sebelum ia mendapat pukulan dari Oma yang sagat ia sayangi. Sebelum benar-benar keluar dari Kamar, Gavin sempat berbalik ke arah Oma dan kevin " Aku akan keluar, tapi tidak igin menemui paman atau bibi. Tapi Gavin igin menemui calon istri dari kak Kevin, pasti orangnya jelek iakan" kata Gavin disalini degan senyuman mengejek.
"Ga..Vin...!!! lo belum tau Meyshila, dia itu sagat cantik dan baik hati di banding degan cinta pertamamu yang ninggalin lo" Teriak Kevin sambil melempar tatapan tajam ke arah Gavin yang segerah menghilang dari tatapan Kevin dan Dame Davin setelah mendegar teriakan kakak sepupunya.
"Oma, Kevin tidak rela jika Gavin yang pertama kali melihat calon istriku degan gaun pengantin. Aku igin yang pertama yang melihatnya, tidak peduli degan keluarga ataupun orang lain" kata Kevin degan wajah cemberut ke arah oma, sedangkan Dame Davin terlihat syok degan perkataan Kevin.
"Kev..!! Oma tidak salah degar kan, coba kamu ulagi nama calon istrimu" tegas Dame Davin, sehingga membuat Kevin bingung degan perkataan Oma.
"Kevin...!!! jawab Oma, kamu barusan sebut nama Meysila bukan..?" tanya Oma degan tegas, membuat Kevin segera menganggukan kepala membenarkan. Melihat respon yang di berikan cucunya Dame Davin tiba-tiba merasa lemas sehingga tidak mampu menopang keseimbagan dan terjatuh duduk kelantai. Kevin yang panik segera membantu Omanya agar segera beristirahat di tempat tidur yang berada di kamarnya itu.
02.00
Di kamar yang satunya. terlihat seorang peganting wanita yang sudah siap degan gaun putih indah degan jilbab dan cadar yang hanya memperlihatkan mata indahnya, sedanf duduk sambil menatap ke arah cermin. Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, seorang wanita berumur empat puluhan masuk degan wajah ceria.
"Sayang, akhirnya kamu sudah siap. dimana wanita yang membantumu memakai jilbab" tanya Luchiana sambil berjalan mendekat ke arah peganting wanita.
"Kok di tanya tidak menjawab, malah mengelengkan kepala. sakin gugupnya ya kamu sampai tidak mampu menjawab mama" Kata Luchiana sambil memeluk putrinya degan erat, matanyapun terasa panas sehingga buliran kristal menetes dari pelupuk matanya degan deras. Sedangkan peganting wanita itu hanya mampu mengusap bahu sang mama tanpa mengeluarkan kata-kata dan ikut menangis dalam peluka yang terasa hagat.
"Sudah jagan menagis lagi, nanti mekup nya luntur. Sekarang waktunya tinggal sepuluh menit lagi sebelum acaranya di mulai. Lebih baik kamu lepas cadarmu itu agar tidak sesak, biar mama yang memoles sedikit bedak ke pipimu yang basa agar tampak lebih cantik" kata Luchiana yang tagannya hendak melepas cadar tersebut, namun segera dicegah oleh sipengantin wanita.
"Kenapa sayang, mama hanya igin memoles sedikit bedak di pipimu. Mama juga hanya igin menatap wajah bahagiamu yang akan segera menjadi nyonya Kevin Mhethyu" kata Luchiana sambil menurungkan tagan yang mencegahnya dan segera membuka cadar tersebut, tanpa ada perlawanan lagi dari sipenganting wanita yang terlihat menagis kembali.
"ANNELIESE....°¤° " teriak Luchiana syok, setelah berhasil membuka cadar penganting wanita
"iya mama, ini Anneliese..." kata Anneliese degan intonasi suara takut, serta air mata yang tidak berhenti mengalir.
-----Braaakkkkk---
Terlihat dua orang manusia yang saling mengaduh kesakitan akibat tabrakan yang terjadi karena ketidak fokusan mereka saat berjalan.
"Lo punya mata ngasi, asal nabrak orang aja" kata Seorang wanita degan ketua, sambil memegang kedua lutut nya yang tetlihat memar.
"Gue punya tapi Lo nga punya ya..? liat baju gue jadi berantakan dan badang gue jadi sakit semua gara-gara Lo" Kata Gavin yang tak kala ketus menjawab dan segera meraih hendphon yang tergeletak di sampingnya.
Sedangkan wanita yang menabraknya tidak mempedulikan kata-kata Gavin, malahan ia segera meraih hendphon dan sebuah kunci mobil yang terletak di samping kakinya. kemudian buru-buru berlari meninggalkan Gavin degan kaki terpincang menuju arah lift.
"Hay... dasar kurang ajar, bukannya bantuin malah kabur. seandainya gue ngapunya urusan penting, gue pastiin Lo akan menanggung semua kesalahan ini" Kata Gavin tegas, kemudian segera berdiri dan berlalu tanpa mau mempedulikan wanita yang hendak masuk ke dalam lift tersebut.
"Dasar Pria kasar, gue sumpahin agar berjodoh degan wanita macan. biar hidunpnya tidak damai karena ketakutan" kata Meyshila menunduk sambil memperhatikan luka memar di kedua lututnya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Meyshila yang hendak masuk berhenti. badan nya menegang dan kaku seketika setelah melihat orang yang hendak keluar dari dalam lift.
Sedangkan Gavin yang hendak menuju Ballroom dimana acara akan berlangsung berhenti, setelah melihat rombongan. dimana Oma Dame Davin yang dipapah oleh paman Mhethyu beserta sepupunya Kevin yang di ikuti oleh beberapa bodyguard berjas hitam, berjalan ke arah sebaliknya menuju ke sala satu kamar yang agak jauh dari kamar Kevin sebelumnya.
"Apa terjadi sesuatu, sehingga wajah mereka terlihat tegang seperti itu. buat apa mereka semua masuk ke dalam kamar yang berada di ujung sana" kata Gavin bingung sambil berjalan perlahan ke arah kamar yang baru saja di masuki oleh oma dan yang lain.
Meyshila terlihat sedang berlutut sambil memeluk kedua kaki seorang wanita disertai air mata yang mengalir begitu deras tanpa henti. wanita yang berumur empat puluhan itu tidak tega melihat keadaan Meyshila yang seperti itu, sehingga membuatnya berjongkok sambil melepaskan tagan Meyshila yang memeluk kedua kakinya.
"Shila sayang, bibi akan melepaskanmu. Pergilah secepatnya dari sini sebelum suami dan anak bibi serta keluargamu menemukan kita di dalam lift yang tante tahan sedari tadi" Kata Meghan sambil memegang bahu Meyshila yang tadinya bergetar sakin kerasnya menagis, terhenti setelah mendegar perkataan yang justru membuatnya terkejut.
"bi..bi... bibi Meghan" kata Meyshila terbata-bata kemudian memeluk Meghan degan kuat.
"Cepatlah pergi sayang, karena sebentar lagi lift ini akan terbuka. Bibik tidak akan bisa membantumu lebih jauh lagi setelah keluar dari lift ini, jadi kamu harus berusaha lari secepat mungkin dan jagan berbalik kebelakan ataupun mengangkat wajah. karna wajah mu bisa saja langsung terlihat di cctv, kamu mengertikan..!!" kata Meghan segera melepaskan pelukannya dan mencium pucuk kepala Meyshila.
"Terimakasi banyak bibi atas pengertiannya, Shila berdoa agar bibik Meghan baik-baik saja. dan semoga keluarga bibi dan kakak Kevin mau menerima kakak Anneliese sebagai keluarga baru bagi kalian" Kata Meyshila, mencium pipi kanan Meghan dan segera berlari keluar setelah pintu lift terbuka.
Meghan yang melihat kepergian Meyshila meneteskan air mata kemudian membungkam mulut sendiri degan talapak tagannya. Kemudian segera memencet tombel lift, sehingga lift itu segera tertutup menujuh ke lantai atas.
sesampainya di lantai atas Meghan yang hendak menuju ke kamar Kevin berhenti, setelah mendegar kegaduhan yang terjadi di kamar yang berada di arah yang berlawanan degan kamar Kevin. Degan langkah yang cepat Meghan akhirnya sampai di kamar tersebut. Suasana mencekam terasa sagat menakutkan dimana semua orang terlihat tagang dan barang-barang yang berantakan dimana mana.
"Cepat kalian semua cari Shila keseluruh area hotel sampai ketemu, kalau perlu nyawa kalian yang jadi taruhannya kalau sampai kalian gagal menemukannya" Kata Kevin degan suara tegas sehingga membuat semua bodyguard yang ada di sana berhamburan keluar dari kamar.
"KEVIN..!!! hentikan semua ini, atau kamu igin melihat mama mati berdiri ha..." sentak Meghan menatap anaknya, kemudian beralih menghampiri Annelies yang duduk ketakutan di dalam pelukan Luchiana sambil menangis.
"Mama sendiri yang juga menginginkan Shila, tapi mengapa sifat mama jadi seperti ini. Terserahlah, Kevin mau ke ruang Cctv mencari tau keberadaan Meyshila" Kata Kevin yang hendak berlalu dari kamar tersebut tanpa mempedulikan Anneliese yang masih menangis di pelukan Luchiana.
"jagan harap kamu bisa keluar dari kamar ini sebelum meminta maaf kepada Anneliese" kata Meghan degan tegas, sambil menatap Kevin yang berdiri di depan pintu.
"Mama tau sendiri jika Kevin menginginkan Shila bukannya Anne" kata Kevin degan tegas menata Meghan dan segera berlalu tanpa mempedulikan teriakan Meghan yang memanggilnya kembali.
"Ini semua salah kalian sebagai orang tua, lihatlah akibat dari perbuatan kalian. Bagai mana bisa kedua anak yang masih labil megalami penderitaan dan menerima tekanan seperti itu" selah Dame Davin degan suara tegas walaupun wajahnya masih terlihat pucat.
"Gavin, segera susul sepupu mu. Oma tida igin sampai dia nekat menyakiti dirinya sendiri" perintah Dame Davin yang di angguki oleh Gavin yang segera keluar.
--- Di Area Parkir ---
Meyshila yang terlihat sibuk berlari kesetiap arah sambil memencet remot mobil yang sekarang ia genggam berhenti, setelah menemukan mobil yang sedari tadi dicarinya.
"Akhirnya aku menemukannya" kata Meyshila segera berlari ke arah mobil sport hitam yang terparkir tidak jauh darinya. kemudian ia segera masuk ke dalam mobil dan menghidupkannya " Maafkan gue.., gue harus pergi...!!! ini yang terbaik untuk kita semua, semoga kalian tidak marah karena keputusanku ini" kata Meyshila degan berlinang air mata, sesaat kemudian menancapkan gas mobil meninggalkan area parkiran hotel.
"SHILA.... SHILA... MEYSHILA DOMINICK.. BERHENTI.." Teriak Kevin yang histeris sambil berlari kencang mengejar mobil yang di kendarai Meyshila yang sudah pergi menjauh dari pandagannya.
Tiba tiba sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depannya, pegemudi motor itu membuka kaca helem dan memperlihatkan sebahagiaan wajahnya sambil menatap Kevin.
"Kev.. cepat naik kita kejar mobil gue yang dibawa lari oleh calon istri lo, gue nga igin sampai...." kata Gavin terhenti karena Kevin tiba-tiba duduk sambil memeluknya dari arah belakang dan memintanya segera jalan.
Gavin yang merasa risih degan perbuatan Kevin segera menancap gas motor sport itu degan kecepatan tinggi. karena tidak igin sampai kehilangan jejak mobil kesayangannya, walaupun mereka masih berada di area parkir. degan kemampuan megemudi yang dimiliki, Gavin mampu melalui celah mobil yang terparkir rapi disana dan segera keluar menuju jalan raya.
"Gav... itu mobil Lo, cepat sedikit. Kita hampir mendapatkannya" kata Kevin degan girang sambil memeluk Gavin degan erat karena kecepatan motornya semakin bertambah.
Meyshila yang sedang mengemudi degan kecepatan tinggi merasa was-was, karena baru kali ini dia mengemudi degan kecepatan maksimal. Tiba-tiba ia melihat sebuah motor sport mengikutinya dari arah belakang degan kecepatan tinggi hingga membuatnya semakin gelisa.
"Apa mereka itu begal, gue jadi merinding melihatnya" kata Meyshila semakin menancapkan gasnya sehingga membuat Gavin dan Kevin panik melihat Mobil Sport Hitam itu semakin menjauh darinya.
kkkyyyyuuukkkkkk....
bunyi rem mendadak terdegar dari motor yang di kemudikan oleh Gavin mebuat Bibir Kevin yang igin terbuka terbentur pada helem tengkorak yang di pake Gavin.
"Kak.. lo itu yang benar saja, masa helem gue lo cium paksa" kata Gavin sambil mengusap helem degan tagannya.
"Siapa juga yang mau cium helem jelek gitu, ini semua gara-gara Lo. Liatkan kita kehilangan jejak mobilnya, kalau lo tidak ngerem mendadak mulut gue nga akan berdara seperti ini" Kata Kevin sambil mengelus bibir bawah yang terasa perih akibat kepentok helem Gavin. sedangkan Gavin hanya tertawa sambil memberikan saputagan dari kantong celananya kepada Kevin.
"Lo mau mati apa, liat sana lampunya masi mera. makanya gue ngerem mendadak. kalau persoalaan mobil, gue bisa melacaknya degan mudah. jadi Lo tenang saja " kata Gevin sambil memencet hendphonya, tak lama kemudian lampu berwarna hijau Gavin menyimpan hendponya dan segera menjalanlan motornya lagi.
"Lo mau kemana, jagan sampai kita kesasar tanpa tujuan" teriak Kevin agar bisa di dengar oleh Gavin.
"Lo tenang aja, keberadaan mobil gue sudar terdeteksi. sekarang lo pegang hendphon gue dan bantuin ngarahin gue kesana" kata Gavin sambil memberika hendphonya ke arah Kevin yang masih memeluknya.
Kevin segerah meraih hendphon tersebut dan melepaskan satu tagannya dari pinggang Gavin, kemudian memberikan arahan yang tertera di layar hendphon tersebut. Gavin yang sedari tadi mengikuti pengarahan Kevin merasa aneh, karena jalanan di depannya saat ini yang di maksud Kevin tampak macet dan ramai.
"Kev... lo yang benar baca petunjuk arahnya, masa ia jalanan macet dan rame kaya gini di lalui mobil gue" kata Gavin mengendarai motor degan kecepatan sedang sambil mencoba mendekat ke arah kerumunan di tegah jalan.
"Gue nga begok tau, liat saja sendiri. Petunjuk yang tertera mengatakan jika benda yang kita cari sekarang berada di daerah ini" Kata Kevin sambil menyodorkan hendphon ke depan helem Gavin.
"Gue ngabisa liat tau, kaca helemnya gelap. Lebih baik kita ikutin saja petunjuk itu" selah Gavin sedikit kesal.
Motor yang di kendarai Gavin dan Kevin semakin mendekat ke arah kerumunan, sehingga membuat objek yang di kerumuni terlihat jelas dari pandagan kedua pria tersebut. Gavin segera menghentikan laju motornya dan segera berlari kearah kerumunan di ikuti oleh Kevin di belakangnya.
Gavin dan Kevin berhasil menembus kerumunan orang-orang yang seperti panik serta penasaran degan kejadian yang baru saja terjadi, dimana objek yang di kerumuni orang tersebut adalah mobil sport hitam yang sudah penyok akibat menabrak pohon dipinggir jalan.
"Astaga mobil kesayangan gue" pekik Gavin sambil menatap nanar mobilnya yang sudah penyok dan mengeluarkan asap. Sedangkan Kevin sibuk mencari pengemudi tersebut di dalam mobil.
"Nak,,, pengemudinya baru saja di larilan ke rumah sakit" kata sala satu warga kepada Kevin yang terlihat panik sambil menengok ke jendela pengemudi.
"Pak di rumah sakit mana mereka membawa calon istri saya" kata Kevin panik, sedangkan Gavin terduduk lemas di samping mobil kesayangannya.
Setelah mendapat informasi dari warga, Kevin dan Gavin akhirnya sampai di rumah sakit. mereka berdua segera mencari infor masi mengenai korbang kecelakanan yang barusaja tiba di rumah sakit, Setelah mendapat informasi mereka segera menuju ke arah UGD.
"Gav... itu ruang mayat lo mau masuk kesana" kata Kevin degan wajah kesal melihat tingkah konyol Gavin yang berjalan tanpa sadar, hampir memasuki ruang mayat.
"Kalau gitu tunjukin jalan yang benar, biar gue ngak ke sasar" kata Gavin sambil berjalan mengikuti langka Kevin yang berjalan mendahuluinya.
setelah sampai di depan ruang UGD Kevin yang hendak masuk ke dalam dicekal oleh seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan.
"Maaf anda tidak diperkenankan masuk ke dalam, lebih baik anda menunggu pasien sampai operasinya selesai" kata susuter, kemudian hendak berlalu namun di hentikan oleh Kevin.
"Di oprasi..!!!, apa pasien di dalam sagat parah sehingga perlu di oprasi" tanya Kevin panik sambil mencengkram bahu suster tersebut degan kuat, sehingga suster itu merasa kesakitan akibat ulah Kevin.
"Kev... lo bisa tenag ngak, kalau lo kaya gini bagai mana calon istri lo bisa selamat. biarkan suster ini ngelakuin tugasnya" kata Gavin sambil melepaskan cengkraman Kevin, sehingga susuter tersebut segera masuk kembali ke dalam ruangan UGD.
"Gav... gue ini bodoh,, bodoh,,, bodoh,, " kata Kevin sambil berbalik dan meninju dinding tembok yang tak bersala. sehingga membuat tulang-tulang taganya berwarna keuguan dan mengeluarkan darah segar yang mengalir. Gavin yang melihat itu segera melayankan tinjuan keras mengenai pelipis kiri Kevin, sehingga membuat kepala Kevin terasa sakit. kemudian perlahan-lahan pandagan dan kesadaranya menurung dan terjatuh kelantai. Gavin segera mengangkat tubuh sepupunya itu dan berlalu dari depan ruang UGD menuju ruang rawat untuk Kevin beristirahat.