
Malam semakin larut suasana yang tenang dan senyap membuat dua anak manusia itu, seperti enggan meninggalkan Rooftop kediaman Dame Davin. Dimana mereka saat ini sedang berbaring di atas bangku panjang yang saling berhadapan, dengan sebuah meja persegi memberi jarak di antara mereka.
"Lo tau ngak kesan pertama gue terhadap Lo ?" tanya Gavin, memecah keheningan.
"Pasti gue ngeselinkan di mata Lo" jawab Meyshila sambil menatap lagit malam, membuat Gavin yang berbaring sedikit menoleh ke arahnya.
"Betul" kata Gavin spontan. Membaut Meyshila mencibir, akan pernyataan Gavin terhadapanya.
"Gue itu emang ngeselin, tapi kenapa Lo selalu ngatain gue perempuan aneh ?. Apa hubungannya coba ?" tanya Meyshila, sambil mengigat perkataan Gavin yang selalu mengatainya aneh.
Gavin terdiam, degan mata yang tertutup menikmati semilir angin malam yang menerpa permukaan kulit wajahnya. Membuat Meyshila geram hendak melempari Gavin dagan vas bunga yang ada di atas meja, karena berani menguji kesabarannya yang menunggu jawaban Gavin atas pertanyaanya.
"Lo itu dari awal perjumpaan membuat kesan gue jadi down, dan berpikir kalau Lo itu orang teraneh di dunia ini. Pertama, Tubuh kecil Lo itu udah berani nabrak mobil gue yang jelas-jelas diam terparkir di depan gedung perusahaan Oma. Sehingga gue harus ngangkut Lo ke rumah sakit akibat perintah Oma. Kedua, Hari dimana Lo dan sepupu gue Kevin seharusnya menikah. Harus berakhir tragis degan mobil kesayangan gue yang jadi korbanya dan harus mendapat polesan di bagian manapun. Ketiga, Lo tiba-tiba hadir di dalam keluarga gue tanpa permisi" Tutur Gavin yang membuka mata dan berbalik menatap Meyshila, yang tadinya hendak mengambil Vas bunga sesuai degan rencana pikiranya yang hendak melempar kearah Gavin. Terurungkan dan malah terkejut mendegar penyataan Gavin barusan.
"Gue ngak setujuh degan pernyataan Lo yang ke dua, mana ada mobil Lo yang jadi korban. Yang ada itu gue yang jadi korban kecelakaan dan harus berada di rumah sakit, akibat kejaran sepupu Lo Kevin dan si pengemudi motor yang ugal-ugalan entah siapapun dia gue ngak peduli" ketus Meyshila mengebuh-ngebuh, membuat Gavin tertawa cekikikan.
"Lo itu emang perempuan aneh, buat apa coba Lo kabur dari Kevin yang terkenal tampan dan baik hati" celetuk Gavin di sela tertawanya, membuat Meyshila mengeram akan tingkah Gavin yang malah menertawainya.
"Gue kabur karena Kevin mencinta gue. Dan gue ngak mau nikah degan orang yang mencintai gue" jawab Meyshila tegas, membuat Gavin berhenti tertawa dan malah menatap Meyshila, entah tatapan itu mengartikan sesuatu yang tak dapat di mengerti Meyshila yang juga menatapnya.
"Sepertinya Lo belum ngerti apa itu cinta. Gue sarani, lebih baik Lo tarik kata-kata Lo barusan dari pada Lo akan menyesalinya di kemudian hari" tegas Gavin
Membuat Meyahila bergidik ngeri degan ucapan Gavin yang terdegar seperti mantra di telinga Meyahila.
Gavin menghembuskan nafasnya kasar, Kemudian menatap mata Meyshila lembut "Apabila Cinta itu sudah hadir di diri seseorang, maka orang itu pasti akan berharap agar bisa selalu bersama degan orang yang mereka cintai dalam keadaan apapun" jelas Gavin menatap Meyahila yang terlihat bingung.
"Maksudnya ?" tanya Meyshila
"Cinta itu bukan hanya pada lawan jenis saja. Tapi terhadap orang-orang yang ada di dalam hidup Lo, contohnya kedua orang tua, saudara ataupun sanak keluarga yang lo sayangi. Mau dia sejahat apapun terhadap Lo, pasti pada akhirnya Lo akan memaafkannya. Karena jika kita mencinta seseorang, maka otomatis kita akan menyayanginya. Berbeda jika kita menyayangi seseorang, belum tentu kita mencintainya. Dalam hierarki emosi dan perasaan, cinta ini memiliki kedudukan lebih dalam daripada sayang. Ketika kita mencintai seseorang, seringkali logika kita nggak berjalan" jelas Gavin, membuat Meyshila mengangguk-angguk kepala.
"Lo dapat pengertian itu dari mana ?" tanya Meyshila
"Banyak..., di buku, internet, maupun di dalam kehidupan, terutama dari orang yang kita cintai" jawab Gavin sambil mengulas senyum manis, yang membuat pandangan Meyshila terkunci degan wajah tampan Gavin di bawah sinar bulan yang menyinarinya.
"Awas" sentak Gavin, membuat Meyshila tersadar.
"Awas jatuh cinta kan ?" kata Meyshila memutar bolanya males, sedangkan Gavin tergelak tertawa.
"Awas salah fokus banteng" kata Gavin, yang mendapat tatapan tajam Meyshila.
"Banteng...!!! enak aja gatain gue, Lo udah bosan hidup. Sini biar gue bunuh Lo sekarang" ketus Meyshila, bangkit berdiri dan menghampiri Gavin yang masih berbaring di bangku panjang depanya.
"Emang enak kok ngatain Lo, liat coba muka Lo yang sekarang sudah memerah. Bagaikan banteng yang siap menyeruduk sa--" celutuk Gavin terhenti, tatkala Meyshila berhasil menarik kerah jaket Gavin. Sehingga siempu tersentak bangkit dari pembaringanya dan terduduk sambil menatap mata Meyshila yang terlihat sipit akan tajamnya tatapan yang di lemparkan perempuan di hadapanya.
"KALIAN BERDUA SEDANG NGAPAIN" teriak seseorang dari arah belakang meyshila, membuat keduanya terkejut.
"Suara itu bukan suara Oma Dame Davin tapi suara itu--" kata Gavin terhenti, tatkala Meyshila melompat dan mencoba bersembunyi di balik punggung Gavin yang terduduk di atas bangku.
"Suara itu jangan-jagan suara setan perempuan penunggu Roofrop ini kali Vin..!!!" kata meyshila sambil menarik jaket yang di gunakan Gavin untuk menutupi dirinya yang sedang bersembunyi di balik punggung lebar Gavin, sehingga membuat siempu kesulitan bernafas.
"Lo benar-benar mau bunuh gue saat ini ha.." sentak Gavin, sambil berusaha melepaskan tangan Meyshila pada jaketnya. Tanpa mereka sadari seseorang tegah berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Jadi kalian kira saya ini setan penunggu Rooftop ini" suara seorang wanita menghentikan aktivitas keduanya yang saling tarik menarik jaket yang di gunakan Gavin sehingga menjadi lecet.
"OMA LILI" kata Gavin terkejut, menatap seorang wanita paruh baya degan stey kekinian yang berdiri di hadapanya sambil berkacak pinggang.
Mayshila menengok dari balik punggung Gavin, mencoba melihat seseorang yang di panggil Oma Lili oleh Gavin. Sehingga kepalanya perlahan terlihat, membuat wanita paruh baya itu semakin mendekat. Kemudian menarik kerah jaket Meysila, sehingga mau tak mau Meyshila keluar dari persembunyianya.
"Jadi ini anak gadis yang menjadi istri siri kamu selama ini tanpa sepengetahuan Oma ?" tanya Oma Lili sambil memperhatikan Meyshila yang kini berdiri di hadapanya sambim memasang wajah judesnya.
"Pasti ini perbutan paman Galu" keluh Gavin dalam hati. Kemudian Gavin mengeluarkan suara "Oma salah paham, ini anak kerabat Oma Dame Davin dari kota X. Orang tuanya sagat sibuk degan perusahaannya, sehingga anaknya di titip di sini untuk sementara" jelas Gavin, sedangkan Meyshila membulatkan mata akan perkataan Gavin barusan.
"Dititip..!!! emannya gue itu barang apa, sampai-sampai harus dititip segala. Dasar alasan konyol" gumam Meyshila dalam hati, kemudi beralih menatap Oma Lili mencari kebenaran. Apakah Oma Lili itu percaya atau tidak degan perkataan Gavin.
"Oke, sekarang kalaina berdua segera turung ke bawah dan kembali ke kamar kalian masing-masing" perintah Oma Lili, membuat keduanya mengangguk dan segera berlalu. Namun baru beberapa langkah, suara Oma Lili menghentikan mereka.
"Tapi jagan harap Oma akan melepaskan kalian berdua, Besok kalaina harus menjelaskan semuanya. Gavin kamu malam ini akan tidur bersama Oma di kamar kamu, Sedangkan anak gadis itu tidur di kamar lain. Jagan sampai dia berbuat macam-macam dan berusaha menggodamu lagi" tegas Oma Lili yang membuat Gavin mengeran frustasi akan pemikiran Omanya, sedangkan Meyshila menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu.
"Siapa juga memiliki pikiran untuk sekamar degan cucunya yang menyebalkan, apalagi memiliki pikiran untuk menggoda. Otak gue ngak ngeheng juga kali" gerutu Meyshila dalam hati.
Tatapan Meyshila dan Oma Lili sama-sama tajam apalagi degan mata mereka yang sema-sama sipit, membuat Gavin yang melihat keduanya ikut merasakan hawa permusuhan.
"Sudahlah.., kalian berdua ini membuat kepalaku pusing saja. Lebih baik kita masuk karena malam semakin larut, hawanya juga semakin panas--" kata Gavin mencoba menengahi, tapi terhenti tatkala Meyahila menyelahnya.
"Hawa panas..?, mana ada malam selarut ini dan sedingin ini di katakan panas. Lo udah gila ya ?" sentak Meyshila, kemudian berlalu dari sana pergi meninggalkan Oma Lili dan Gavin yang saling menatap cengong akan perkataan Meyshila yang mengatai Gavin Gila.
"Oma liatakan sikap judes perempuan itu, mana mungkin dia mau menggoda cucu Oma yang emang ganteng baget ini" kata Gavin sambil merangkul Omanya hendak pergi dari sana mengikuti Meyshila yang sudah terlebih dahulu berlalu dari sana.
"Walaupun sikapnya barusan terlihat berbeda degan kebanyakan gadis yang malah teran-terangan berusaha merebut hatiku agar mau di jodohkan degan cucuku, Tapi aku tidak akan tertipu degan sikap anak perempuan dari kerabat Dame Davin yang satu ini. Karena bagiku, dia itu memiliki motif tersembunyi terhadap cucu kesayanganku" tegas Oma Lili dalam hati sambil berjalan mengikuti langkah Gavin yang merangkulnya.
Suasana di kediaman Dame Davin di pagi hari ini terdegar Riuh degan teriakan suara dari Oma Lili dan juga Meyshila yang berada di dalam rumah, Sehingga membuat Gavin yang sibuk mencuci mobil di halaman depan merasa terganggu akan suara kedua wanita yang terdegar saling bersautan.
"LALA..., CEPAT KE DAPUR. BANTU OMA NGIRIS BAWANG" Teriak Oma LiLi kepada Meyshila yang sedang mengepel di ruang keluarga.
"Ginini kalau tinggal di rumah orang, mau tak mau harus bekerja keras membina hati agar bisa berkesinambungan untuk kelancaran hidup kedepannya" kata Meyshila degan alat pel yang berisi air pada gendongannya, sambil berjalan menghentakan kaki menuju arah dapur dimana Oma Lili memnaggilnya.
"Dibalik wajah cantik Dame Davin, eh tapi cantikkan aku sih kemana-mana. Orangnya itu sagat menakutkan, apa lagi kalau sudah mengeluarkan perintah, pasti harus di turuti. Kalau tidak, pasti moncongnya akan keluar. Tapi kali ini dia sagat keterlaluan, bagaimana bisa si penyihir itu berani meninggalkan cucu kesayanganku degan seorang anak gadis tanpa ikatan apapun. Ditambah degan seluruh pelayan yang menghilang entah kemana, degan rumah sebesar ini bagai mana kedua anak itu akan membersihkannya" dumel Oma Lili sambil fokus mengupas bawang merah, sehingga tidak menyadari keberadaan Meyshila yang baru saja memasuki area dapur degan alat pel di gendongannya.
"Oma Gavin yang satu ini, terlihat sagatlah aneh bin selamat. Coba lihat bagai mana dia mengupas bawang sambil mengoceh, Kalau boleh memilih. Keberadaan Oma Dame Davin lebih baik di banding Oma Liliput yang satu ini" Gumam Meyshila sambil termenung mengigat Dame Davin yang sudah satu pekan ini belum pulang dari kota X.
Oma Lili yang sedang sibuk mengiris bawang berhenti, ketika melihat keberadaan Meyshila yang berdiri di ambang pintu ruang dapur degan penampilan yang terlihat berantakan. Dimana rambut Meyshila yang tidak terikat rapi sehingga anak rambutnya menempel di bagian wajahnya, baju yang terlihat kotor akibat tumpahan air pel dari alat pel di gendongannya, serta butiran keringan menetes dari wajahnya yang terlihat kusam.
"Percuma punya wajah cantik, mulus dan putih jika tidak di rawat degan baik" sindir Oma Lili kepada Meyshila yang mulai tersadar dari lamunannya.
"Shila emang cantik, Oma Lili pasti irikan sama Shila" sinis Meyshila sambil menatap Oma Lili yang terlihat kesal.
"Oma juga pernah muda seperti kamu, tapi Oma lebih cantik dan pandai merawat diri. Hingga umur lanjut seperti ini, Oma masih terlihat muda dan fres" balas Oma Lili tak mau kalah.
"Tapi bintang mudanya saat ini Shila, bukan Oma Lili yang udah lanjut usia. Buktinya para pria ngantriko untuk jadi pacar Shila, sampai-sampai sepupu Gavin yang bernama Kak Kevin hampir jadi suami Shila satu tahun lalu" Ejek Meyshila, sambil menatap sinis ke arah Oma Lili.
"Tapi hanya Hampir ..!!! itu tandanya kamu belum terlalu cantik. Pasti Kevin baru nyadar akan pilihannya yang salah memilih kamu jadi pendamping hidupnya satu tahun lalu, sehingga segera menghentikan pernikahan itu sebelum terlambat" tuduh Oma Lili sok tau. Sambil menatap tajam Meyshila.
"Oma ini sok tau banget, mending bahas yang lain aja" usul Meyshila, sambil berjalan menuju depan meja makan dimana Oma Lili sedang duduk. mencoba menghintikan perdebatan yang tidak memiliki faedah dan menguras tenanganya percuma.
"Oh iya..!!! mending kamu bantu ngiris bawan merah yang sudah Oma kupas kulitnya" kata Oma Lili sambil menyodorkan bawan merah yang sudah ia kupas ke hadapan Meyshila yang berdiri di depan meja makan.
"Oma Lili ngak liat shila udah kecapean kaya gini setelah mengepel ruang keluarga yang luas itu, akibat peraturan yang tidak mengijinkan sembarang pelayan yang boleh masuk di ruangan khusu itu kecuali bibi May. Mending Oma saja yang lanjuti ngir bawan merahnya, toh tinggal sedikit lagi" keluh Meyshila sambil berlalu keluar dari ruang dapur, membuat Oma Lili ngedumel degan suara cemprennya, melihat kelakuan Shila.
°°°°°°°°°° RUANG KELUARGA °°°°°°°°°°°°°°°°
Suasana ruang keluarga yang biasanya hangat dan nyaman degan pembahasaan ringan, kini terasa menegangkan. Dimana Oma Lili mengintrogasi kedua anak mudah yang berbeda jenis itu di hadapannya degan membombardir beberapa pertanyaan yang membuat keduanya merasa frustasi akan pertanyaan yang menurut mereka tidak masuk akal.
"Sekali lagi Gavin tegaskan bahwa berita yang Oma Lili dapatkan dari paman Galu itu hanyala kesala pahaman semata. Dimana Shila yang kalian anggap sebagai istri sirih Gavin itu, adalah anak dari kerabat oma Dame Davin. Dan dia merupakan putri yang di titipkan karena kedua orang tuanya yang sagat sibuk menjalankan bisnis mereka" tegas Gavin, membuat Oma Lili fokus memandang Meyshila yang terlihat santai degan memainkan jari-jarinya layaknya seorang anak kecil.
"Kalau diperhatikan, wajah anak gadis ini sagatlah familiar. Entah mengigatkan saya dengan seseorang yang sagat saya kenal" gumam Oma Lili, masih menatap wajah Meyshila.
"Lala..!! berasal dari kota mana, sepertinya kamu bukan asli orang sini..?" tanya Oma Lili, membuat Gavin dan Meyshila saling memandang dan mengernyitkan dahi akan nama yang di sebut Oma Lili pada meyshila.
"Nama saya bukan LaLa tapi Shila. Asal dari kota X dan memang bukan penduduk asli kota Y ini" jelas Meyshila degan menekankan nama Lala dan Shila, membuat Oma Lili mengangguk kepala.
"Jadi kamu dari kota X, saya sangat tahu nama-nama orang terpandang dari kota X. Terutama anak dari teman saya yang terkenal di dunia bisnis. Jadi kamu tidak bisa menipu saya anak mudah, sampai ngaku-ngaku jadi anak pebisnis yang super sibuk. pasti orang tuamu menipu Dame Davin, sehingga kamu bisa berada disini" sinis Oma Lili, kepada Meyshila yang terlihat santai. Tanpa mau menjelaskan asal usul keluarganya.
"Oma Lili udah beberapa kali sudah salah paham, Shila betul anak terpandan dari keluarga Do--" kata Gavin terhenti, tatkala Meyshila menyahut.
"Sekarang Oma Lili memang boleh belum percaya, tapi Shila pastikan Oma Lili akan menyesal. Karena tidak mempercayai fakta itu" tantang Meyshila, kemudian hendak berlalu dari sana, namun Oma Lili mencegahnya degan mengatakan hal lain.
"Kalau masalah kamu mengenai bukan istri siri cucu saya, maka tidak ada masalahkan jika cucu saya Gavin saya jodohkan degan teman pebisnis saya yang sebentar lagi datang dari Arab degan cucunya. Bagai mana menurutmu anak mudah...?" tantang Oma Lili pada Meyshila yang tiba-tiba terdiam, perlahan Meyshila memutar tubuhnya menghadap Oma Lili. Dan melempar tatapan datar yang tak siapapun bisa mengerti apa yang sebernya ia rasakan dalam hatinya saat ini.
"Shila ngak peduli degan perjodohan cucu Oma Lili, jadi lakukanlah apa yang ingin Oma Lili lakukan. Karena Shila juga memiliki hal yang harus di lakukan agar bisa segera pergi dari kediaman ini" Jawab Meyshila, kemudian segera berlalu dari sana. Tanpa kedua wanita berbeda usia itu sadari, bahwa Gavin sedari tadi memperhatikan mereka degan tatapan datar, Namun saat Meyshila menjawab perkataan Oma Lili. Ekspresi yang Gavin perlihatkan sagat berbeda. Terlihat sepercik kekecewaan di wajah Gavin, akan perkataan Meyshila.
-------- Makan Malam --------
Makan malam ini terlihat berbeda, di mana Gavin yang duduk di depan Meyshila terlihat tidak nafsu makan. Dimana Oma Lili dan Meyshila yang saling berseblahan di meja makan, tak berhenti saling menyindir satu sama lain. Hingga akhirnya sebuah tangan menarik paksa pergelangan tangan Meyshila yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tertumpah di atas piringnya kembali.
"GAVIN...!!! APA-APAAN SI LO, GUE BELUM SELESAI MAKAN DAN BELUM MINUM" pekik Meyshila tatkala melihat sipelaku pemaksaan yang tak lain adalah Gavin, yang memberhentikan aktivitas makannya dan menariknya paksa untuk segera berlalu dari ruang dapur. sedangkan Oma Lili yang melihatnya, terlihat terkejut akan perbuatan cucunya.
"Dasar kelakuan anak muda. Pasti Gavin akan memarahi anak gadis itu agar mau meminta maaf kepadaku, karena telah berani melawanku" celetuk Oma Lili sambil menikmati kembali makanannya.
Gavin menghempaskan tangan Meyshila setelah sampai di kamar gadis tersebut dan menutup pintu kamar itu rapat.
"Lo mau marahin gue, karena ketidak sopanan gue terhadap Oma Lo itu" serkas Meyshila, membuat Gavin menghumbuskan nafasnya kasar. Kemudian menatap mata jerni Meyahila.
"Gue itu barusan nyelamatin Lo dari Oma gue, bukannya berterimakasi. Tapi malahan nuduh orang yang engga-engga" kata Gavin degan santai.
"Terimakasih..!!!, apanya yang terimakasih. Lo itu membuat aktivitas makan gue terganggu, dan sekarang gue juga belum minum. Keringni tenggorokan tau" ketus Meyahila sambil memasnag wajah judesnya.
Tapa menjawab perkataan Meyahila, Gavin segera berlalu keluar dari kamar, membuat Meyahila berdecak kesal akan tingkah Gavin yang menurutnya menyebalkan. Tak lama kemudian, Gavin kembali lagi degan membawa nampan yang berisikan sepiring nasi yang di lengkapi beberapa lauk pauk dan juga segelas air minum.
"Sekaran lanjutkan makan Lo, soal tadi gue minta maaf. Terutama perkataan Oma Lili yang melukai perasaan Lo" kata Gavin sambil menyerahkan nampan tersebut kepada Meyshila, kemudian segera berlalu dari sana. Membuat Meyahila terpaku sambil berusaha mencerna perkataan Gavin barusan.
"Apa jagan-jagan angin malam kemarin membuat otak anak itu jadi konslet, tak biasanya dia seperti itu. Dan malah terkadang dia sibuk ngusilin gue. Tapi terserahlah, gue mending lanjuti aktivitas makan gue yang sempat tertunda untuk memperoleh energi. Berhubung besok kegiatan perkuliahan akan di muali lagi setelah libur satuhari ini" kata Meyshila lirih, kemudian segera duduk di atas lantai marmer di kamarnya sambil menikmati makanan yang di berikan Gavin. Tanpa mempedulikan perkataan Gavin yang sempat membuatnya terpaku di tempatnya.
Sedangkan Gavin yang kini berada di kamarnya, malah sibuk berkutik degan leptopnya dan beberapa berkas di atas tempat tidurnya yang berserakan. Tanpa mempedulikan ocehan Oma Lili mengenai sikap Meyshila yang membangkan terhadapnya.
"Kalau sampai Oma Dame Davin tau kelakua Oma Lili seperti ini terhadap Shila, maka Gavin tidak bisa melakukan apapun untuk nyelamatin hidup Oma Lili dari tekanan Oma Dame Davin nantinya. Jadi Gavin sarankan Oma cobalah berdamai degan Shila, ngausah kaya anak muda yang mengutamakan ego sesaat karena umur Oma Lili itu sudah lebih matang" saran Gavin, membuat Oma Lili mengerucutkan bibir akan ketidak setujuannya. Namun mau bagai mana lagi, perkataan Gavin memang benar adanya.
"Kenapa aku harus memiliki besan penyihir seram kaya Dame Davin itu, membuat hidup aku jadi tak tenang saja" keluh Oma Lili degan dramatis, membuat Gavin menggeleng kepala akan tingkah omanya yang satu ini.