the heart that chooses

the heart that chooses
5. Perjumpaan Dame Devin




* Kediaman Dominick *


Anneliese yang berada di dalam kamar sedang sibuk belajar untuk menghadapi ujian pelulusan, sedangkan Meyshila berada di ruang keluarga bersama degan kedua orang tuanya sambil menonton tv.


"Shila..! mama perhatikan sikap kamu kepada Kevin sagatlah tidak sopan, Apa yang membuatmu bersikap seperti itu kepada Kevin..?" tanya Luchiyana menatap Meyshila sambil mencari kebenaran atas pertanyaannya.


"Ah...!!! ^-^ mama bicara apaan sih, kemarin Shila itu terkejut melihat Kevin yang tiba tiba muncul. Makanya Shila refleks berbicara kasar kepadanya" kata Mayshila berusaha membela diri.


"Apa kamu pikir mama itu bodoh ha..., mama juga perna muda. Jadi tidak usah berbohong seperti itu, karna mama megetahuinya Shila" jelas Luchiyana kepada Mayshila yang terlihat salah tingkah.


"Apa yang kamu ketahui sayang megenai anak bungsu kita ini...?" tanya Dominick yang juga ikut penasaran.


"Apa kamu bersifat judes dan kasar kepada Kevin, sebagai usaha pencegahan agar rasa cinta yang kamu miliki kepada Kevin tidak tumbuh terlalu dalam" tanya Luchiyana degan nada tegas, sehingga membuat Dominick dan Mayshila terkejut mendegar sambil melototkan mata kearah Luchiyana.


"Tidak mama..•¡•,, Rasa cinta Shila tidak bisa dibagi degan orang lain kecuali degan Mama, Papa dan kak Anneliese, Bagai mana mungkin mama berpikir bahwa Mayshila mempunyai perasaan kepada Kevin" Bantahan Mayshila atas perkataan Luchiyana degan tegas, kemudian beranjak berlalu dari sana ke arah kamar.


"Kamu keterlaluan sayang menggoda anak bungsu" ejek Dominich kepada istrinya yang tertegun melihat kepergian Mayshila.


"Tersera papa, mana ada seorang ibu tidak mengenal baik anaknya sendiri. Nanti kita lihat kebenaran dari perkataan mama" tantang Luchiyana kepada suaminya yang sedari tadi menertawakannya.


--------- Satu Bulan Kemudian----------


Di gedung Group Alfrod Center terlihat para karyawan sedang sibuk melaksanakan pekerjaan sesuai degan tugas masing masing, sedangkan Dominick dan Antoniyo serta beberapa karyawan mengikuti rapat. Tiba tiba sekertaris Zek masuk menghampiri Dominick dan menyodorkan hendphone sambil berbisik, seketika Dominick dan Antoniyo saling berpandagan kemudian menghentikan rapat yang belum selesai.


Kini Antoniyo berada di ruang kerja pribadi Dominick sambil berdiskusi, diikuti juga degan sekertaris Zek.


"Akhirnya hari ini datang juga" kata Dominick degan sedikit jedah kemudian melanjutkan perkataannya " "barusan mereka menelfon, memperigatkan agar hari ini segerah menyerahkan jaminan yang telah dijanjikan kepadanya. apa Kak Antoniyo dan Tory siap..?" tanya Dominick kepada Antoniyo yang sedang duduk di hadapannya.


"Kami berdua sudah siap, Kakak sudah menjelaskan semuanya kepadaTory dan dia mau megerti. Bagai mana degan kalian berdua, apa kamu sudah meberitahukan kepada Meyshila megenai hal ini..?" kata Antoniyo sambil menatap Dominick.


"Aku belum memberitahukan semua ini kepada Mayshila..!!" kata Dominick degan suara lesu sambil tertunduk.


"A..Ap..Apa..!!! bagai mana mungkin kau belum memberitahukan masalah ini kepada putrimu, Kamu tau sendiri Meyshila itu sagat keras kepala. Bagai mana kalau iya tidak setuju dan menolak, apa yang akan terjadi nantinya.." suara Antoniyo yang terkejut, degan nada frustasi akan kelakuan adiknya.


"Karena keras kepala Meyshila makanya aku belum memberitahukannya. Aku tau siapa putriku itu, jadi tenanglah. Diperjalanan nanti aku akan menjelaskan semuanya, semoga dia mau megerti" kata Dominick berusaha menenangkan Antoniyo yang masih terlihat frustasi.


"Zek, kamu siapkan semu berkas dan keperluan yang di butuhkan dalam perjalananku nanti degan Antoniyo" kata Dominick tegas kearah Zek.


"Baik tuan saya akan segera menyiapkan semuanya" kata Zek pada Dominick.


* Sekolah *


jam menunjukkan pukul 11.30 semua murid pulang lebih awal setelah megikuti ujian akhir semester, Anneliese, Meyshila dan Kevin berada di depan gerbang sekolah sambil menunggu kedatagan Dominick.


"Kevin, lebih baik kamu pulang saja terlebih dahulu. Sebentar lagi papa pasti datang, nanti orang tua mu mencarimu" kata Annelies degan perasaan sungkan terhadap Kevin.


"Tenanglah, mereka tidak akan mencari aku. yang terpenting saat ini menjaga kalian berdua sambil menunggu kedatagan tuan Dominick" kata Kevin degan santainya sambil tersenyum menatap Anneliese.


"Dasar tukan caper (cari perhatian), siapa juga yang mau dijaga" gumam Meyshila degan suara kecil, tapi masih bisa didegar oleh Anneliese dan kevin yang berada di samping kiri kanannya.


Berselang beberapa waktu kemudian, Akhirnya mobil Dominick muncul. Dominick turung dari mobil menghampiri Anneliese, Mayshila dan Kevin yang berdiri di depan gerbang sekolah.


"Maaf papa telat jemput kalian, tadi ada kerjaan yang harus papa selesaikan" kata Dominick degan tersenyum


"Papa.. lebih baik kita segera pulang, kalau disini terus dara Meyshila bisa mendidih" kesal Mayshila kemudian berlalu terlebih dahulu, Tiga pasang mata menatap langkah Mayshila memasuki mobil.


"Tentu tuan Dominick, Kevin akan megantar Anneliese pulang kerumah degan selamat" kata Kevin sambil tersenyum kepada Dominick.


"Papa dan Meyshila ada urusan apa..? kenapa Anneliese tidak di ajak..!!" kata Anneliese degan wajah kebingugan menatap Dominick.


"E..e..em.. Papa hanya mau megajak adikmu untuk jalan jalan, lihat wajahnya yang cemberut itu. Siapa tau setelah papa megajaknya jalan jalan dia bisa ceria dan bisa menghilangkan sifat judesnya itu, Lain kali papa juga akan megajakmu jalan jalan." kata Dominick sambil berusaha menyembunyukan rasa gugup atas pertanyaan Anneliese. Kemudian segera berpamitan menuju kedalam mobil dimana Mayshila sedari tadi menunggunya.


"Dari cara bicara sepertinya tuan Dominick menyembunyikan sesuatu" gumam Kevin dalam hati sambil menatap kepergian Mayshila dan Dominick.



Sepanjang perjalanan Meyshila hanya diam sambil mendegarkan penjelasan Dominick, Sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan yaitu Kota Y setelah menempuh perjalanan selama tiga jam degan kecepatan tinggi.


Mobil Dominick terparkir didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Sebelum mereka turung dari mobil, Dominick menatap putri bungsunya yang sedari tadi hanya terdiam.


"Shila..!! kamu bisa marah dan membenci papa. karena telah melibatkanmu dalam dunia bisnis papa dan menjadikanmu sebagai sala satu jaminan tanpa persetujuan darimu. Kali ini kamu bisa menjadi dirimu sendiri, papa tidak akan memaksamu untuk menjadi seperti Anneliese" kata Dominick penuh penekanan degan rasa bersalah sambil menatap putrinya yang hanya tertunduk, Meyshila yang tidak menyadari air mata Dominick yang jatuh, sehingga Dominick segera menghapus air matanya kemudian megajak Meyshila masuk,karena Antoniyo dan Tory sudah berada di dalamam gedung.


Didepan pintu masuk, terlihat seorang pria degan pakean rapi menunggu kedatagan Dominick dan Meyshila, laki laki itu menyapa sambil membungkuk sebagai tanda hormat kemudian megajak kami menaiki lift khusus menuju lantai atas. Meyshila yang masih menggunakan seragam sekolah merasah risih ketika semua orang yang berada di dalam gedung menatap ke arahnya, Dominick yang megetahui itu segera meraih tagan putrinya dan berlalu masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas.


sesampainya di lantai atas Meyshila berjalan di belakang Dominick sambil memperhatikan situasi yang terlihat legah dibandingkan lantai paling bawah yang tetlihat ramai degan aktifitas para karyawan yang sedang bekerja.Tiba tiba Meyshila terkejut ketika seseorang menarik pergelangan tagannya.


"Kak Tory ..!!" Kata Mayshila terkejut melihat orang yang telah menarik tagannya.


"Iya ini aku,,, jadi yang dipilih oleh Paman Dominick ternyata kamu, aku kira Anneliese yang akan dipilih" kata Tory degan suara rendah takut seseorang mendegarnya.


"Tory kamu bisakan menjaga adik sepupumu, Paman dan papamu akan masuk kedalam ruangan bertemu degan Dame Devin" kata Dominick kepada Tory.


"Tenang Paman, Aku akan menjaga adik Shila degan baik" kata Tory degan tersenyum.


Sebelum masuk Dominick berbalik dan menatap Meyshila, tagannya megusap lembut pucuk kepala Meyshila dan menciumnya. "Papa sagat menyayangimu, maafkan papa" gumam Dominick dalam hati kemudian segera berlalu masuk kedalam ruagan bersama degan Antoniyo.


Meyshila yang mempunyai sikap yang gampang bosang jika sedang menunggu, mencoba untuk berjalan jalan disekitar lantai atas yang terlihat legah degan hanya terdiri dari satu ruagan besar degan desain unik yang baru saja dimasuki oleh papa dan pamannya. Sedangkan Tory sedang asik duduk di ruang tamu sambil video call degan pacarnya.


"Megapa di lantai atas gedung ini hanya terdiri dari satu ruangan saja degan ruang tamu yang sagat luas di bagian depan, terlihat luas dan nyaman seperti berada di rumah saja" gumam Meyahila dalam hati kemudian berjalan mendekat ke arah diding kaca sambil memperhatikan keindahan kota Y dari atas gedung lantai atas.


ceklek.........ceklek........


suara pintu ruangan itu terbukan, Meyshila dan Tory menghentikan aktifitas yang mereka lakukan, kemudian mendekat kearah seorang pria berjas hitam rapi yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Hay pak ganteng, perkenalkan saya Tory dan ini adik sepupu saya Meyshila. Kalau diperhatikan wajah anda Kelihatan masih muda, pasti umur anda masih sekitar 25 tahun, bagai mana kalau saya memanggil anda degan sebutan kakak" kata Tory mencoba akrab degan sosok pria tampan berjas hitam.


"Maaf nona, silahkan anda berdua masuk ke dalam ruangan, seseorang sedang menunggu anda" kata pria berjas hitam tanpa menanggapi ucapan Tory.


"Apa maksudmu degan seseorang, bukanya papa dan pamanku masuk ke dalam ruangan ini" tanya Meyshila degan suara keras membuat Tory terkujut, sedangkan pria berjas hitam tampak begitu tenang.


"Jika nona igin megetahui keberadaan tuan Dominick dan tuan Antoniyo lebih baik nona megikuti saya dan masuk ke dalam ruangan ini" kata pria berjas hitam tampak tenang sambil berlalu membukakan pintu ruangan, seketika Meyshila dan Tory masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Pria berjas hitam itu kemudian menutup pintu.


"Kenapa kalian berdua masih berdiri, silahkan duduk" suara seoran wanita paruh baya yang sedang duduk santai di sofa yang terdapat di depan meja kerja besar sambil menikmati secangkir teh.


Tory yang hendak duduk di sofa panjang dalam ruangan tersebut di cegah oleh Mayshila degan menarik pergelangan tagan Tory, Tory hanya berdecak kesal sambil menatap Meyshila.


"Saat ini saya tidak igin bermain main degan anda, lebih baik anda megatakan dimana papa dan paman saya disembunyikan" kata Meyshila degan suara keras, sambil menatap tajam ke arah sosok wanita paruh baya yang tak lain dia adalah Dame Devin. Sipemilik perusahaan yang terkenal terutama di kota Y dan memiliki pegaruh kuat di dunia bisnis, degan kekayaam yang tarhitung.