
Setelah menikmati keindahan sunset. Dominick dan keluarga kembali ke rumah, karena suasana malam yang saga digin degan turunnya hujan yang sagat deras.
"Kenapa Papa dan Mama mala melamun sih, padahal film di Tv sagat bagus loh" Tanya Meyshila degan wajah cemberut, sehingga Dominick dan Luchiana tersenyum melihat wajah anaknya yang terlihat menggemaskan.
"Maaf ya sayang, mama dan papa tadi melamun. Kalau gitu, kita lanjut nontonnya. kamu ngak usah cemberut gitu, nanti cepat tua.." kata Luchiyana sambil mengacak rambut Meyshila yang masi cemberut di sampingnya.
"Pa...!! mama doain Shila biar cepat tua tu, padahal Shila masih anak-anak, umur juga masih18 tahun tau" Adu Meyshila pada Dominick yang juga berada di samping kirinya degan wajah yang semakin di buat cemberut.
Dominick yang mendegar aduan Meyshila berusaha menahan tawanya, sampai akhirnya dia tidak mampulagi dan mulai tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat anak dan istrinya memasang wajah cemberut di hadapannya.
"Kalian berdua ini, sunguh mampu membuatku seperti orang konyol" kata Dominick sambil mengucek ujung matanya yang sedikit berair karena tertawa.
"Apa kalalian berdua tau, bahwa diluar dari zona keluarga. Papa ini sagat disegani dan di takuti oleh orang lain dan musuh, hanya di depan kalianlah papa dapat memperlihatkan ekspresi yang sebenarnya" kata Dominick sambil menatap kedua wanita yang sagat ia sayangi. Luchiyana dan Meyshila yang bahagia mendegar hal itu segera memeluk Dominick.
"Pa...pa..., ka..lau.. begitu..., apa papa bisa selamatkan Shila untuk esok hari" kata Meyshila sambil menatap wajah kedua orang tuanya.
Luchiayana terkejut mendegar perkataan Meyshila, kemudian beralih menatap Dominick yang terlihat mematung menatap Meyshila tanpa berkedip sedikitpun.
*** 07.35 ***
Suasana pagi yang begitu menyejukkan. Dimana cahaya matahari yang tertutupi oleh awan, sehingga membuat seorang pria yang masih tertidur seperti enggan meninggalkan tempat nyaman itu. Tiba-tiba suara ketukan yang sagat kencang membuatnya risih dan menutup telinga degan bantal.
"MEY.., cepat bawa kunci cadagan kamar Gavin. Sepertinya anak itu masih menikmati mimpi di pagi ini" Teriak Dame Davin degan suara kencang, tak lama kemudian Pelayan bernama Mey itu segera datang dan menyerahkan sebuah kunci.
Dame Davin yang sudah tidak sabar membuka kamar itu memasukkan kunci dan memutarnya, kemudian ia segera memutar knop pintu dan masuk ke dalam kamar yang masih terlihat gelap degan tirai yang masih tertutup.
"GA...VIN..., Oma menghitung satu sampai tiga. Kalau kamu masih belum bagun, jagan harap ledning mcqueen masih bisa berada di garasi" ancam Dame Davin sambil berdiri di samping tempat tidur Gavin degan melipat tagan di depan dada. Sehingga yang tadinya tertidur lelap, buru-buru bagun dan berlari masuk ke dalam kamar mandi tanpa mempedulikan orang yang barusaja membangunkannya degan kalimat mantra.
Beberapa menit kemudian, Gavin yang sudah keluar dari kamar mandi terlihat terkejut. melihat Dame Davin yang masih setia menunggunya sambil terduduk di sofa panjang yang terletak di samping dinding kaca kamar Gavin. Degan sigap Gavin berlari masuk ke dalam ruang ganti tanpa mempedulikan tatapan Dame Davin yang megintimidasi agar Gavin segera bersiap-siap dan tidak membuang waktunya.
"Astaga, Bagai mana bisa Oma tiba-tiba muncul dan membangunkanku. Bukannya dia masi berada di kota X bersama keluarga paman Mhethyu, kapan coba dia sampai dikota Y " kata Gavin, segera memilih beberapa pakaian yang tergantung di dalam lemari ruang ganti dan segera memakainya.
"GAVIN...!!!" teriak Dame Davin yang sudah tidak sabar lagi menunggu. Gavin yang mendegar suara itu, segera berlari terbirit-birit keluar dari ruang ganti degan rambut yang masih berantakan.
"Oma...!! bisa ngak Gavin tenang satu hari saja, liat sekarang penampilan cucumu yang berantakan kaya gini" kata Gavin sambil memperlihatkan wajah memalas di hadapan Dame Davin yang masi santai duduk menatap tanpa igin menanggapi perkataan Gavin.
"Nanti siang Oma ada tamu dari luar kota, jadi kamu yang harus menyelesaikan segera pekerjaan di kantor. Setelahnya kamu harus sudah ada di rumah tepat pukul 14.00, dan kalau kamu telat_ _" Kata Dame Davin degan tegas, namun terhenti ketika Gavin menjawab degan cepat.
"Oma, jagan selalu mengancam Gavin degan kalimat mantra yang membuatku tertekan. Nanti aku mati muda bagai mana coba..." saggahan Gavin, mencoba agar argumenya di degarkan oleh Omanya.
"jagan coba-coba menentang Oma, kalau tidak_ _" kata Dame Davin degan memberikan jedah. Gavin yang sudah tau kalimat selanjutnya, menghelanafas degan kuat dan menatap Dame Davin.
"Baiklah, sepertinya nasib Gavin selalu kalah telak dari Oma" Kata Gavin pasrah, mendegar pengakuan cucunya Dame Davin segera berdiri dan hendak keluar dari kamar Gavin. Namu pada saat melewati Gavin yang berdiri sambil tertunduk, diam-diam Dame Davin tersenyum kecil ke arah Gavin. Lalu kemudian berbalik dan menatap Gavin.
"Oma sampai tadi subuh, Kevin yang mengantar Oma sampai kesini" kata Dame Davin sambil menatap wajah Gavin yang langsung terangkat dan terlihat ceria.
"Terus Kevin sekarang dimana Oma..?" tanya Gavin antusias.
"Dia sudah pulang, katanya dia harus segera kembali ke luar negeri untuk selesekan kuliahnya. Tapi tenang dia nitip salam untuk kamu dan menitipkan kotak ini" kata Dame Davin sambil menyodorkan sebuah kotak kecil, Gavin degan wajah kecewa segera mengambil kota dan membukanya.
"Dasar, anak nakal. Doa mu akan segera terkabulkan, kamu akan segera bertemu degan orang yang akan membuatmu kewelahan degan sikap dan tingkah lakunya. Oma jadi penasaran..." Gumam Dame Davin dalam hati sambil berjalan dan tersenyum keluar dari kamar Gavin. Sedangkan Gavin masih menatap jam tangan pemberian Kevin.
"lebih baik gue segera siap-siap dan berangkat ke kantor, dari pada Oma datang lagi sambil membawa mantra ancaman dan membuatku semakin tertekan" kata Gavin segera masuk ke dalam ruang ganti.
----- Kediaman Dominick -------
Disebuah taman yang terlihat indah, degan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang menghiasi. serta suasana yang menyejukkan degan kicauan burung yang saling bersautan. Terlihat Dominick menghelanafas berat sambil menatap Meyshila yang enggan melepaskan taganya yang bergelayut di tangan Luchiyana, bagaikan lem yang sagat merekat dan tidak dapat dilepaskan.
"Hm...!! bagai mana kalau kita semua masuk ke dalam rumah, sepertinya barang-barang kamu belum mama siapkan" saut Luchiyana, sambil menarik tangan Meyshila yang bergelayut di tangannya. Kemudiaan di ikuti oleh Dominick dan masuk ke dalam rumah.
sesampainya di kamar Meyshila, Luchiana segera membimbing Meyshila duduk di atas tempat tidur. dan ia mulai mempersiapak semua keperluan anak nya mulai dari pakean sampai barang barang yang dapat menghilangkan rasa bosan Meyshila yang sering kali muncul dan membuatnya tidak semangat melakukan apapun. Sedangkan Meyshila yang melihat Luchiyana merasa gelisah dan memilih merebahkan badanya di atas tempat tidur sembari memejamkan kedua matanya. Tak betuh waktu yang lama, akhirnya Meyshila tertidur lelap degan hembusan nafas yang teratur. Luchiyana yang sudah selesai degan kegiatannya hanya menatap Meyshila sembari tersenyum, kemudian segera keluar dan menutup rapat kamar Meyshila.
"Sayang, Shila dimana...?, apa barang-barangnya sudah kamu siapkan. Tinggal beberapa jam lagi kita akan berangkat ke kota Y, nyonya Dame Davin sudah menelfonku barusan" kata Dominick sambil menatap Luchiayana yang baru turun dari kamar Meyshila.
"Shila lagi tidur di kamar nya, aku juga sudah menyiapkan semua keperluaanya selama disana" kata Luchiyana sembari mendekat ke arah Dominick yang duduk di sofa ruang keluarga.
Dominick yang melihat raut wajah istrinya yang terlihat gelisah, segera menarik tangan Luchiyana dan menjatuhkan ke dalam pelukannya. Luchiyana yang merasa nyaman, tidak dapat menahan rasa sedih yang sedari tadi ia tahan di depan Meyshila. Suara tagis yang terisak di pelukan, membuat Dominick ikut bersedih sehingga air matanya ikut luluh degan perasaan berkecamuk. Namun ia segera menghapus air matanya yang keluar, sebulum Luchiyana menyadari bahwa pria yang sagat ia cintai juga memiliki kelemahan dan hati yang rapuh.
Berselang beberap jam kemudian, Dominick masuk ke dalam kamar Meyshila. Terlihat di atas tempat tidur Meyshila masih belum terbangun, entah apa yang sedang ia mimpikan. Sehingga tidak menyadari bahwa badanya sudah berada di gendongan Dominick yang membawanya keluar dari kamar dan turun dari lantai dua. kemudian segera keluar dari dalam rumah menuju ke arah mobil yang sudah terparkir di depan pintu utama, dimana Luchiyana yang sedang berdiri di dekat mobil tersebut.
"Mas..!!, Shila nya kenapa di gendong. Kenapa tidak di bagunin, nanti dia bangun dan terkejut tiba-tiba sudah berada di dalam mobil bagaimana..?" tanya Luchiyana panik melihat Shila berada di gendongan Dominick. Sedangkan Dominick tidak merespon perkataan Luchiyana dan segera memasukkan Meyshia ke dalam mobil, setelah Luchiyana degan sigap membuka pintu mobil bagian tengah.
Mobil Dominick kini melaju meninggalkan kediamannya degan kecepatan sedang, selama perjalanan Luchiyana yang mencoba beberapa kali berbicara dan bertanya kepada Dominick mengenai Meyshila yang akan tinggal degan orang lain dan di kota yang berbeda degannya nanti. Tidak menerima tanggapan yang memuaskan dari jawaban Dominick, sehingga membuatnya frustasi dan nekat membenturka kepalany di dashboard mobil. Dominick yang melihat kelakuan istrinya panik dan memberhentikan mobil, kemudian beralih menatap Meyshila yang masih tertidur nyenyak di jok bagian tengah. Setelahnya, Dominick menatap Luchiyana yang meringis kesakitan karena kebodohan nya sendiri sehingga membuat kepalanya menjadi lebam.
Dominick mengeluarkan kotak p3k dari dalam dashboard mobil dan segera mengobati jidat Luchiyana yang terlihat memar, diantara mereka berdua tidak ada yang mengeluarkan suara. Sampai akhirnya Dominick mulai menjalankan mobil dan mulau menjelaskan sesuatu yang berhasil membuat mata Luchiyana membulat sempurna sakin terkejutnya mendegar pernyataan Dominick.
"Sebenarnya aku bisa melakukan apa saja dan menolak kesepakatan yang dapat mengancam perusahaan apalagi keluargaku. Namun kali ini, aku tidak dapat berkutik ketika Dame Davin muncul dan mulai mengincar perusahaan dan keluargaku melalui kerjasama ini. Dimana sebuah kejadian masa lampau yang melibatkanku harus bertanggung jawab atas kematian anak dan menantunya dalam sebuah kecelakaan tragis" jelas Dominick degan perasaan sedih, membuat Luchiyana yang mendegarkan merasa sedih dan penasaran degan kejadiaan masa lalu itu.
"Mas.., bisa kamu jelaskan secara singkat dan padat tentang kejadiaan masa lalu yang melibatkan dirimu dan anak kita yang sekarang menjadi jaminan. Apa itu kejadian dimana hari Meyshila dilahirkan..?" kata Luchiana yang semakin penasaran.
Dominick beberapa kali menghelanafas sambil mencoba menenagkan perasaannya yang kacau degan pertanyaan Luchiyana yang membuatnya teringat kembali kejadiaan 18 tahun yang lalu. Dimana Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa pasangan yang merupakan rekan kerja dan sekaligus sahabat karib Dominick yang bernama Serafino dan juga istri sahabatnya yang bernama Nilkezer yang baru tiga bulan menjadi orang tua dari seorang bayi laki-laki.
Setelah kecelakaan itu, orang tua dari Serafino yang merupaka Dame Davin meminta pertanggung jawaban kepada Dominick. Karena mengakibatkan cucu laki-laki nya menjadi yatim piatu, Dominick yang merasa bersalah meminta maaf kepada Dame Davin. Namun perminta maafan itu di tolak oleh Dame Davin, dan malahan mengajukan sebuah syarat yang tidak wajar. Dimana Dominick harus menyerahkan bayi perempuan (Meyshila) yang baru lahir kepada Dame Davin atau anak pertamanya (Anneliese) yang masih kecil dan sering sakit-sakitan. Sebagai hukuman dimana Dominick harus merasakan hal yang sama degan nya, yaitu harus merasakan kehilangan orang yang sagat berharga di dalam hidupnya secara mendadak.
Dominick mencoba berbagai hal agar Dame Davin mau memaafkan nya, namun Dame Davin tidak bergemin. Dominick tidak menyerah, mengigat sahabatnya (Serafino) yang sagat baik dan selalu mau berkorban untuknya membuat Dominick rela berlutut di depan Dame Davin. Dame Davin yang merasa sedikit terkesan degan perjuangan Dominick dalam memperoleh maaf, memberikan keriganan degan memberikan waktu kepada Dominick dan keluarga nya agar bisa merawat dan membesarkan bayi perempuan (Meyshila) sampai besar dan lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Dan untuk menyembunyikan rahasia besar ini, Dame Davin dan Dominick bermain cantik degan menggunakan kerja sama antar perusahaan mereka. yang mengharuskan anak nya menjadi jaminan selama lima tahun dalam pengawasan Dame Davin. Sehingga keluarga besar Dame Davin dan saudara dari Dominick yang bernama Anthonio tidak curiga, dan malahan sempat membuat putrinya Tory ikut dalam permainan yang saudaranya buat.
°°°°°°°
Penjelasan Dominick terhenti ketika mendegar suara rintihan kesakitan yang terdengar dari arah job tengah di dalam mobil yang di kendarainya, dengan refleks Dominick menginjak rem mendadak sembari menengok kearah belakan bersama Luchiyana. Dan ternyata suara tersebut bersumber dari Meyshila yang mengadu kesakitan pada bagian kepalanya yang tak segaja terbentur di pintu mobil ketika mulai menggeliat dalan tidur nya.
Mata Meyshila mulai mengerjap dan perlahan-lahan terbuka. degan cepat Meyshila mencoba untuk mengembalikan kesadarannya, setelah pandaganya melihat situasi dima dirinya sekarang terbangun dan kini berada di dalam mobil degan tatapan kedua orang tuanya yang terlihat panik melihat nya. Sedangkan Meyshila malahan terlihat lebih panik dan gelisah setelah melihat keadaan di luar jendela kaca mobil yang memperlihatkan sebuah bagunan rumah degan desain klasik nan megah dan mewah di hadapanya.
"HA.... TIDAK...." jerit Meyshila di depan Dominick dan Luchiyana yang terlihat terkejut mendegar teriakan kencang anaknya.