
Meyshila dan kedua temanya kini berjalan memasuki area kanting sambil bersenda gurau, namun sebuah suara mengalihkan perharian mereka bertiga. membuat pandangan mereka tertuju pada sosok pria berkulit putih degan jambul khas di kepalanya, yang sedang duduk sendirian di pojok kanting degan semangkuk soto ayam yang tinggal setengah di hadapannya.
Ketiga gadis itu menghampiri si pria dan segera mengambil tempat duduk, dimana Alma berada di samping si pria yang tak lain adalah Akhzan, sedangkan Delisa dan Meyshia duduk di depan mereka.
"Hai Akhzan.." sapa Delisa degan ramah, sedangkan Meyshila hanya tersenyum singkat ke arah Akhzan yang malah menatapnya degan senyuman lebar.
"Pantas aja gue ngak liat lo di lapangan, ternyata malah asik nongkrong disini. Pasti godain bak Rina ya.. " kata Alma sambil menatap curiga ke arah Akhzan.
"Enak aja nuduh orang sembarangan, gue itu orang ganteng. Ngak perlu ngerayu, para cewe akan mendekat" kata Akhzan degan pedenya, membuat ketiga cewe di mejanya mendegus.
"Kepedean baget Lo jadi orang. Gavin yang famous di kalangan cewe, malah biasa-biasa aja. Sampai nolak gitar spanyol yang Lo rebutin tu degan si Bintang" celetuk Alma, membuat Akhzan tiba-tiba tersedak kuah soto. Meyshila dan Delisa panik melihat perubahan wajah Akhzan yang memerah dan berusaha bangkit menepuk punggung Akhzan agar berhentik terbatuk. Sedangkan Alma tercengang melihat tingkah kedua temannya yang sigap.
"Alma.. lebih baik Lo pesanin kita berdua ketoprak mbak Rani, dari pada membahas gosip gitar Spanyol yang membuat Akhzan bisa mati mendadak" kata Meyahila beralih menatap Alma yang hanya diam memandang, setelah membantu Akhzan yang mulai bernafas lega setelah tersedak.
"Eh... iyaya.. gue tadi kelaparan malah gurusin gosip gitar spanyol, Lo si Akhza nanya-nanya gue. Liatkan jadinya, untung kedua sahabat gue masi bisa nolongi Lo" Kata Alma degan cengiran khasnya, seperti barusan tidak terjadi apa-apa. Membuat Meyshila dan Delisa menggeleng kepala menatap punggung Alma yang kini menjauh.
"Shil.., Del..., apa benar yang Alma omongin barusan..?" tanya Akhzan degan wajah serius.
"iya, barusan di lapangan olahraga Gavin menolak wanita itu dan tidak mempedulikannya" jelas Delisa, sedangkan Meyshila hanya cuek sambil memainkan ponselnya.
"Dasar si Gavin, anak itu bebar-benar teguh degan prinsipnya. Godaan kaya gitar spanyol aja, ngak bisa menggoyahkan pertahanannya" kata Akhzan sambil kembali menikmati soto ayam yang masih tinggal sedikit.
"Emang prinsip apa yang di pegang teguh oleh Gavin..?" tanya Delisa penasaran, sedangkan Meyshila masih asik degan ponselnya.
"Mau tau aja Lo, tapi tenang. Gue akan bocorin sedikit, tapi Lo harus janji nga akan bahas hal ini ke Gavin. Dan mengenai gosip yang Alma katakan, Lo harus ceritai ke gue degan selengkap-langkapnya. Gimana setuju...?" kata Akhzhan sambil menatap Delisa yang menganggukan kepala sebagai tanda setuju, sedangkan Meyshila tidak bergeming dari ponselnya.
"Sebenarnya Gavin itu memiliki prinsip bahwa 'Cinta itu suci' dimana hatinya tidak mudah terketuk oleh yang namanya wanita, sampai-sampai kata playboy tidak ada di dalam kamus kehidupannya. Jagankan mempermainkan hati seseorang, memberikan kesempatan kepada wanita untuk mendekatinya saja di tutup rapat olehnya. Kehidupannya hanya di isi degan kesibukan membantu Omanya menjalankan perusahaan semenjak di bangu Sekolah Menengah Pertama, dan dia hanya percahaya satu hal. Bahwa hatinya akan terbuka degan sendirinya jika sudah menemukan orang yang tepat buatnya" jelas Akhzan panjang lebar degan wajah serius kepada Delisa, membuat Meyshila terkesiap dan meletakkan ponselnya akan fakta yang baru ia ketahui mengenai laki-laki yang di agapnya menyebalkan.
"Hay..., kalian ngomongin gue ya..!" celetuk Alma tiba-tiba. Mebuat ketiga orang yang sedang serius, terkejut menatap Alma yang berjalan mendekat degan membawa tiga piring ketoprak di tanganya.
"Del.. Shil.., kalian bisa jaga rahasia barusan kan. Hidup dan mati gue tergantung kalian sekarang, jagan sampai ember bocor satu ini mengetahuinya" Kata Akhzan sambil menatap Alma yang menatapnya sengit, kemudian Akhzan segera berlari meninggalkan meja kanting sebelum Alma meletakkan piring ketoprak dan akan menahannya.
"HAY.. JAGAN KABUR, URUSAN KITA BELUM SELESAI AKHZA SYAM DEVANENRA" teriak Alma lantang, membuat pandangan seisi kanting menatap ke arahnya.
••••• 12.30 •••••
Meyshila yang baru saja selesai mengikuti jam kuliah, kini berjalan keluar bersama Delisa dan Alma menujuh arah gerbang kampus yang jaraknya cukup jauh dari gedung yang mereka tempati.
"Kalian berdua mau ngak aku antar pulang ke rumah masing-masing..?" tanya Delisa sambil berjalan beriringan degan kedua sahabatnya.
"Sory Del, gue masih ada urusan penting. Lain kali aja gue ikut samo lo" tolak Alma sambil tersenyum.
"Oke Alma cantik, kalo Shila gimana..?" tanya Delisa
"Gue juga ngak bisa Del, tapi kalau Lo mau. Siap-siap aja di---" kata Meyshila mengantung, membuat Alma dan Delisa fokus menatapnya.
BRRREEMM....
Suar mobil dari arah belakang mengagetkan mereka bertiga, sehingga dengan spontang mereka berbalik kebalakang menatap mobil sport hitam yang berhenti tepat di belakang mereka.
Alma dan Delisa hanya terdiam sambil menatap ke arah mobil, sedangkan Meyshila berbalik badan dan hendak pergi mengambil langkah seribu. Sebelum masalah besar muncul, akibat emosinya yang sampai ke ubun-ubun hendak meledak sakin jengkelnya degan si penggendara mobil yang sagat menyebalkan baginya.
Sebelum terlalu jauh dari tempatnya semula, Langkah Meyahila tiba-tiba terhenti. Setelah badanya yang mungil, kini berada di sebelah bahu seseorang Yang membopong tubuhnya selayaknya karung beras.
Sakin terkejutnya dengan perlakuan yang di dapatnya, Meyshila memberontak dan memukul punggung si pelaku. Namu apa bole buat, si pelaku malah melangkah lebih cepat melewati kedua teman Meyshila yang hanya melongo melihat sahabatnya di perlakukan seperti itu.
Tubuh Meyshila di hempaskan ke dalam mobil yang membuatnya igin mengambil langkah seribu. Namun setelah melihat si pelaku, Meyshila tambah emosi. Degan memasang wajah cemberut, dimana alis yang hampir bersambungan, degan dahi yang berkerut, serta bibir yang mengerucut. Sedangkan si pelaku melempar tatapan tajam sambil mengoyangkan bahunya seperti peregangan.
"Lebih baik Lo diam dan jagan mencoba-coba untuk turun dari mobil ini. Kalau tidak, gue akan lakuin hal yang lebih dari ini" Ancam si pelaku, kemudian menutup pintu mobil degan kencang, Membuat Alma dan Delisa yang masih menatapnya terkejut di buatnya.
"Sory buat kalian terkejut, gue hanya lakuin ini karena teman Lo itu keras kepala" Kata si pelaku dan hendak masuk ke dalam mobil, namun terhentik dan berbalik menatap ke dua wanita yang masih menatapanya. "Alma igat gue tunggu Lo dan Akhzan tepat pukul 01.00 nanti, Lo Mengertikan..?" Sambung si pelaku dan mendapat anggukan kepala dari Alma yang terlihat syok mendapat perintah secara tiba-tiba.
"IYA BOS GAVIN.., GUE AKAN MENYERET SI BUAYA DARAT BIAR IKUT MENGHADAP BERSAMA GUE DI HADAPALO NANTI..." Teriak Alma lantang, setelah mobil hitam sport itu melaju keluar dari area kampus. Membuat Delisa yang berada di sampingnya, menutup rapat kedua telinganya.
Suasana di dalam mobil terasa hening. Si pelaku yang tak lain adalah Gavin, yang memilih fokus pada jalanan sedangkan Meyshila malah membuang muka ke arah samping jendela sambil menatap ke arah luar yang memperlihatkan jejeran bangunan yang di laluinya sepanjang jalan.
"Baiklah, kalau itu keiginan Lo. Gue akan memperlihatkan sedikit permainan yang bisa membuat perhatiannya tertuju ke arah gue" gumam Gavin dalam hati, disertai senyum misteriusnya.
Mobil yang dikendarai oleh Gavin dan Meyshila yang tadinya berjalan degan teratur di jalan yang tampak ramai, tiba-tiba bergerak secara ugal-ugalan melewati beberapa mobil yang di laluinya. Sehingga membuat tubuh Meyshila terlonjak dari tempatnya bergerak ke kanan dan kekiri.
"LO UDAH GILA YA" Sentak Meyshila yang panik, sambil berpegang di bagian atas mobil.
"APA...! GILA..., SIAPA YANG GILA..!!" Balas Gavin, sembari tersenyum dan malah makin menambah kecepatan mobilnya.
"GA....VIN... SIALAN.." Teriak Meyshila kencang, membuat Gavin malah Tertawa melihat kepanikan wanita yang ada di sampingnya.
Tanpa aba-aba sebuah Cairan bergejolak igin keluar dari dalam mulut Meyshila yang sudah di bekap oleh kedua tanganya. Gavin yang menyadari hal tersebut, segera membelokan mobilnya melewati area parkiran bawah tanah setelah memasuki sebuah are perkantoran dan memilih memarkirkan segera mobilnya di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi.
Setelah mobil itu berhenti, degan sigap. Meyshila segera keluar dan memuntahkan semua cairan yang ada di dalam mulutnya tanpa memperhatikan situasi yang ada di sekitarnya. Dimana para karyawan yang keluar masuk kantor di jam istirahat menatap aneh ke arahnya, sampai akhirnya Gavin yang berjalan keluar dan berdiri menyenderkan tubuhnya di samping mobil, degan memasang wajah datar dan tatapan tajam. Mampu menundukan pandagan para karyawan tersebut, sedangkan sesekali ia memperhatikan Meyshila tanpa rasa jijik dari arah paling dekat.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Lain halnya degan sepasang anak manusia yang terlibat perdebadatan dan tidak igin mengalah satu sama lain, sampai akhirnya sebuah suara menghentikan mereka berdua.
"BERHENTI..., Kalian ini masih berada di area kampus dan masih berani berdebat hal yang tidak penting selain masalah matah kuliah. Kalian mau mengulang satu semester di mata kuliah saya apa..!" kata Seorang dosen degan kumis tipisnya.
"TIDAK PAK" Teriak mereka bersamaan.
"Kalau gitu, cepat pulang sebelum saya beruba fiki--" kata Dosen tiba-tiba terpotong.
"Jagan berubah fikiran pak, saya dan ikan dori ini akan segera pulang" kata Akhzan sambil menekan kata ikan dori, kemudian menarik tangan Alma dan buru-buru menaiki motor sportnya. Kemudian melajukanya degan cepat, meninggalkan dosen degan kumis tipis yang malah terlihat tersenyum menatap kepergiaan kedua muridnya.
Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit, akhirnya Akhzan dan Alma sampai dan kini berada di dalam lift menuju lantai paling atas di gedung yang saat ini mereka tempati.
"Lo si tadi yang ajak gue berdebat, seandanya Lo langsung iyain aja perkataan gue. Pasti saat ini kita tidak akan telat 10 menit dari perjanjian sebelumnya" kata Alma kesal, sedangkan Akhzan memilih diam. Karena kekuatanya sudah terkuras habis setelah perdebatan panjang di kampus tadi bersama Alma.
TING....
Bunyi itu menandakan bahwa tujuan mereka sudah sampai, pintu lift terbuka dan mereka berdua segera keluar dan berjalan menujuh ke arah sebuah ruangan yang hanya satu di lantai tersebut.
Alma dan Akhzan yang hendak masuk ke dalam ruangan, terhenti ketika mendegar suara perdebatan dari dalam ruangan yang tidak tertutup rapat. Mereka berdua segera mengendap-endap dan mencoba mengintip dari balik pintu kayu ruangan tersebut dan memperlihatkan sesuatu yang membuat mata mereka membulat sempurna.
"Astaga gue gak salah lihatkan..?" kata Alama tekejut degan suara rendah.
"Gue juga ngak nyangka si Gavin ternyata aslinya kaya gini" balas Akhza degan suarah rendah.
Pandagan mereka berdua memperlihatkan situasi di dalam ruangan yang terlihat kacau, kertas dan barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut berserakan kemana-mana. Penampilan kedua orang yang ada di dalam ruangan juga terlihat kacau, dimana si perempuan menjambak rambut si pria dan si pria sendiri malah mencubit kedua pipi cabi perempuan itu degan gemasnya, sampai terlihat agak memerah di balik kulit putih yang dimiliki si perempuan yang memperlihatkan wajah judesnya.
"HENTIKAN" Teriak Akhzan lantang, membuat kedua orang yang ada di dalam ruangan terkejut dan menghentikan aksinya. Sedangkan Alma yang juga terkejut hanya menatap Akhzan yang terlihat sagar.
"Ada apa degan si bapak buaya darat ini, tiba-tiba berteriak membuat orang jantungan saja dan jagan lupa degan tampan wajah sagarnya saat ini" gumam Alma dalam hati sambil menatap Akhzan horor.
Akhzan yang masih memasang wajah sagar berjalan masuk ke dalam ruangan sambil menatap kedua orang yang malah terdiam sambil menatapnya bingung.
Namun baru beberapa menit memasang wajah sagar, tawa Akhzan tiba-tiba pecah. Membuat ketiga orang yang menatapnya malah melongo, tak percaya akan tingkah Akhzan yang menurut mereka sagat aneh.
"Hentikan tawa lo, seduh telat masih berani tertawa di depan gue" tegas Gavin, membuat Akhzan segera menghentikan tawanya, kemudian kembali menyaut, "Alma cepat pungut kertas yang berserakan ini, dan segera menyusul ke lantai tegah bagian karyawan. Sedangkan selebihnya biarkan wanitah keras kepala itu yang membereskan kekacauan yang ada di ruangan ini" perintah Gavin tegas, segera keluar dari ruangan bersama Akhzan tanpa mempedulikan ocehan Meyshila yang tidak jelas akan banyaknya kata yang dilontarkan tanpa jedah.
Setelah kedua pria itu menghilang dari ruangan, Alma segera menghampiri Meyshila yang hanya terdiam berdiri dan enggan melakukan perintah Gavin.
"Shil.. untuk kali ini degarin gue, ini semua demi kebaikan Lo. Lebih baik Lo lakuin perintah Gavin, dari pada mengoceh hal yang tidak jelas. Karena sikap Gavin yang barusan menandakan bahwa ia benar-benar dalam mood swing, dimana perinrahnya tidak igin di tentang dan harus di laksanakan" Jelas Alma sambil menatap wajah Meyshila yang semakin berkerut akan ketidak setujuannya. Namun setelah menghelanafas dalam-dalam, akhirnya Meyshila menyetujui perkataan sahabatnya.
Alma segera merapikan kertas-kertas yang berserakan dan segera membawanya, meninggalkan Meyshila yang berada di dalam ruangan sendirian menata barang-barang ke tempatnya semula degan ogah-ogahan.
Setelah beberapa menit berlalu, Meyshila kembali menghelanafas setelah berhasil mengembalikan barang-barang ketempatnya semula, namun pandangannya tertuju pada sebuah barang yang terletak di samping meja kerja ruangan dan segera mengambilnya.
Benda tersebut merupalan foto figuran berukuran sedang degan bingkai hitam yang memperlihatkan gambar seorang wanita paruh baya yang di apit oleh dua anak laki-laki kecil yang saling tersenyum ke arah kamera. Dahi Meyshila tiba-tiba berkerut ketika menemukan sesuatu, setelah menatap foto itu degan serius.
"Astaga... kok gue baru sadar, bahwa wajah Kak Kevin dan Gavin hampir mirip. Apa jangan-jagan mereka saudara kandung, atau jagan-jagan saudara sepupu..?" pikir Meyshila sambil fokus menatap figuran foto yang ada di tangannya saat ini.