the heart that chooses

the heart that chooses
31. Kelakuan pasangan muda



Seiring berjalannya waktu kini usia pernikahan Gavin dan Meyshila memasuki bulan ke enam, situsi di antara mereka tidak terlalu baik dan tidak terlalu buruk. Sejak Kevin dan Anneliese tiba-tiba menghilang entah kemana dan tidak mengganggunya, Mereka berdua menjalanin bahtera pernikahan dengan mengikuti arus kehidupan tanpa adanya kepastian dalam hubungan mereka kedepannya, pasangan mudah itu tidak pernah mencampuri urusan masing-masing dan hanya berperang sebagai sepasang suami istri jika mereka sudah berada di kediaman Dame Davin.


Gavin yang super sibuk dalam memenej waktu antara Perkuliahan dan Perkantoran membuat jarak diantara mereka semakin renggang, hingga jarang memberi waktu kepada Meyshila yang kini telah menjadi istrinya. Dame Davin yang menyadari hal itu, segera membuat rencana dengan memasukkan Meyshila kedalam dunia perkantoran sebagai perwakilan dari perusahaan Dominick dalam Proyek kerjasama mereka. Walaupun kedua insan itu harus disibukkan dalam dunia perkantoran yang menguras tenanga dan pikiran.


Usulan Dame Davin mendapat penolakan keras dari Meyshila dengan melakukan berbagai cara, agar tidak ikut serta dalam dunia perkantoran. Walaupun itu semua tidak membuat Dame Davin bergemin sedikitpun, hingga Gavin ikut terseret dalam hal ini.


"Lepasin dia Oma, jangan buat gadis itu semakin menderita dengan keputusan Oma yang selalu mengekannya..." kata Gavin putus asa, karena perbincangan sedari tadi Dame Davin tetap bungkam. Namun sekali mengeluarkan pernyataan, Dame Davin mampu membuat Gavin bungkam seketika.


"Kau ingin istrimu terlepas dari oma ?, maka dari itu berikan Oma seorang cucu yang imut, maka Oma akan mengabulkan permintaanmu" pernyataan Dame Davin bagaikan pukulan telat bagi Gavin, hingga membuatnya bungkam seribu bahasa.


Dame Davin yang melihat kebungkaman cucunya, tersenyum samar terulas di ujung bibirnya. " Selama ini Oma bersabar dan tetap diam, berusaha agar tidak ikut campur dalam pernikahan kaliaan. Akan tetapi Oma lihat....!! semakin Oma diam, kalian berdua semakin mempermainkan Oma dan pernikahan kalian. Jadi jagan salahkan Oma kalau kali ini kembali ikut campur setelah Kevin menghilang dan tidak mengganggu kalian lagi" tegas Dame Davin, membuat Gavin semakin gusar.


"Oma...!!! Gavin selama ini ngikutin kemauan Oma, tapi kali ini biarkan Gavin menjalani ini semua dengan kemauan Gavin dan Shila" kata Gavin putus asa, sambil mengusap kasar wajahnya.


"Kau tau nak.. kehidupan ini hanya sekali, waktu yang kau jalani tidak akan mampu kau kembalikan. Kesempatan yang datang harus kau pergunakan dengan baik, sedangkan nafsu semata yang menguji perasaan emosional dalam mengambil keputusan dalam hidup akan menjebakmu jika engkau tak mampu berpikir dengan rasional. Apa sekarang kau memgerti penjelasam Oma.. ?" tegas Dame Davi sambil menatap lekak mata Gavin yang juga menatapnya, kemudian mengangukkan kepala.


"Yang perlu kamu ketahui, selama Oma masih bernafas. Oma tidak akan pernah berhenti untuk selalu ikut campur dalam kehidupanmu, walaupun kini kamu sudah menikah ataupun nantinya kamu sudah mempunyai seorang anak dan menjadi sebuah kekuarga kecil" Kata Dame Davin, membuat mata Gavin tiba-tiba memanas dan tanpa mengatakan apapun, ia segera keluar dari ruang kerja Dame Davin.


"Kenapa gue jadi melo gini, biasanya juga gue tegar dan cuek tanpa perasaan memghadapi Oma" decak Gavin kesal sambil menyeka kasar air mata yang sempat keluar dari kedu matanya, kemudian segera berlalu dari depan pintu ruang kerja Dame Davin.


Sedangkan di dalam ruangan tersebut selepas kepergian Gavin. Dame Davin menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sambil menghelanafas berat, kemudian bertekat bahwa dia tidak akan membiarkan cucunya itu kembali merasa kesepian dan rasa sakit akan kasi sayang yang tak pernah diperolehnya dari kedua orang tua yang meninggalkannya sedari bayi.


Lain halnya dengan Meyshila yang sedari tadi cemas menunggu kedatangan Gavin di kamarnya, namun tak urung pria itu kembali juga setelah kepergiannya satu jam yang lalu. Hingga ia memutuskan untuk menyusul Gavin dengan segera turung kelanta satu.


"Dasar pria kurang ajar, gue udah lumutan tapi belum kembali juga. Guekan cemas akan nasib dia terhadap Oma yang juga bisa menindasnya" gerutu Meyshila sambil berjalan turung dari lantai dua, Namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok asisten pribadi Dame Davin yang lewat sambil berjalan tergesah-gesa dengan membawa sebuah alat musik biola di tangannya.


"Asisten Oma ini kayanya sagat mencurigakan, diliat dari gerak geriknya yang celingukan sambil berjalan cepat dengan sebuah biola. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya, gue harus segera mengikutinya jangan sampai gue kehilangan jejak" cerutu Meyshila segera mengendap-endap sambil mengikuti Fenix yang merupakan asisten pribadi Dame Davin.


setelah Fenix sampai di depan sebuah ruangan yang terletak di Paviliun bagian belakan kediaman Dame Davin, Pria itu segera masuk dan menutup rapat pintu tersebut. Meyshila yang semakin penasaran mencoba untuk mendekat, walaupun merasa agak sedikit takut akan suasana sepi dimana tidak ada satupun terlihat para pelayan yang biasanya sibuk berlalu lalang seperti di kediaman utama Dame Davin.


"Walaupun gue seharunya menyusul Gavin, tapi kesempatan seperti ini harus gue pergunakan untuk mengetahui rahasia yang di sembunyikan oleh Asisten Oma ini" gumam Meyshila sambil mencoba mendekat ke arah pintu ruangan tersebut.


Sedangkan di dalam ruangan tersebut ternyata Gavin sudah berada di sana dan kini berhadapan dengan Fenix yang menyodorkan sebuah biola yang tadi di bawanya kepada Gavin.


"Untuk kali ini sesuai dengan permintaan tuan muda, saya akan membiarkan anda memainkan biola itu selama setengah jam saja. Jangan sampai menimbulkan masalah besar jika samapai nyonya mengetahui, bahwa saya melanggar perintahnya untuk tidak membiarkan anda memainkan sebuah alat musik. Hanya untuk sekedar penghiburan tuan muda" peringatan Fenix kepada Gavin dengan sopan.


"Tentu Fenix..!!! kamu tahu aku menganggapmu sebagai kakak, mana mungkin aku membuatmu dalam masala" kata Gavin sambil merangkul pundak Fenix yang terdiam kaku. Kemudian segera berlalu menghadap pada lukisan besar yang memperlihatakan potret sebuah keluarga kecil pada dinding bangunan tersebut, sambil memposisikan biola pada sebela bahunya dan mulai mengesekkannya hingga menimbulkan sebuah irama musik yang terdengar merdu.


Sedagkan Meyshila yang sedari tadi sibuk mencoba untuk mengintip dari balik cela pintu yang terlihat kecil itu, terkejut tatkala tiba-tiba sebuah lantunan irama musik biola yang terdengar lembut dari dalam ruangan tersebut memenuhi pendengaranya. Hingga pergerakannya terhenti, dan perlahan sebelah tanganya mencoba menyentuh area jantungnya yang terasa berdetak cepat.


"Ini alunan musik sangat menyentuh hati, apa lagi kalau sampai permainan musiknya terpampang jelas di depan mata gue" gumam Meyshila sambil melompat berusaha mengintip dari atas pintu yang terdapat sebuah lubang udara yang tidak bisa di jangkaunya. Namun naas, baru beberapa kaki lompatan kaki Meyshila salah mendarat dan mengakibatkannya terjatuh.


BRUKKK.....


Gavin yang mendengar hal itu memghentikan permainannya, sedangkan Fenix yang terkejut segera keluar dan mendapati tubuh Meyshila yang terduduk di lantai sambil meringis kesakitan.


"Apa yang nona lakukan disini ?" tany Fenix, tanpa bergemi dari tempatnya berdiri untuk membantu Meyshila berdiri.


"Gue sedang bermain prosotan, emangnya kenapa" ketus Meyshila. Tak habis pikir akan kelakuan sekertaris Oma Dame Davin yang terlihat menjengkelkan dimatanya.


"Udah liat orang jatuh bukannya nolongin malah diintrogasi, gue pites juga ini orang baru tau rasa" *g**erutu Meyshila dalam hati, berusaha berdiri namun kakinya yang terasa sakit tidak mendukung kemauannya. Hingga sebuah tangan tiba-tiba terulur menarik tubuhnya kedalam gendongan yang membuatnya terkejut buakan main melihat si pelaku tersangka*.


"Kak Fen, kembalikan barang itu ketempatnya semula dan kau juga bisa kembalila bekerja. Jangan sampai Oma mencarimu" kata Gavin tegas, yang mendapat anggukan dari Fenix. Kemudian segera berlalu sambil mengendong tubuh Meyshila yang menegang.


"Kenapa tadi Lo disana ?" tanya Gavin dingin, sambil berjalan tanpa melihat ke arah Meyshila yang berada di gendongannya.


"Emangnya kenapa kalau gue disana ?" balas Meyshila. bukannya menjawab pertanyaan Gavin, Meyshila malah balik bertanya. Membuat langkah Gavin yang sedang mengendongnya terhenti, kemudian menatap tajam Meyshila yang mencoba menghindari tatapannya. Dan tanpa ada tanggapan satu sama lain, Gavin kembali berjalan menuju kediaman utama Dame Davin.


Sesampainya di kediam utama, Gavin segerah berlalu menuju lantai dua dimana kamar keduanya berada. Tanpa mempedulikan pandangan dari beberapa pelayang yang terkejut melihat pemandangan antara kedua majikannya yang tidak pernah mereka lihat.


Perlahan Gavin meletakkan tubuh Meyshila di atas sofa yang berada di dalam kamar tersebut, kemudian segera berlalu keluar tanpa mengatakan sesuatu. Membuat Meyshila mengerucutkan bibir akan sikap cuek Gavin yang seolah tidak peduli kepadanya.


"Dasar pria tidak punya perasaan, pergi saja lo ke nera__" teriak Meyshila tertahan, tatkala kemunculan Gavin dengan aura dingin dari ambang pintu di susul dengan kemunculan bik May yang membawa sebuah wadah kecil yang berisi esbatu dan juga handuk kecil.


"Sudah sakit masih bisa mengumpati orang, udah bosan hidup. Kalau ia sini bergulat, gue ladenin sampe kaoo" ledek Gavin dengan sikap tengilnya. Membuat emosi Meyshila yang gampang naik memuncat seketika, membuat Bi May yang memcoba mengompres kaki Meyshila ikut merasakan hawa tegang akan situasi yang kini tercipta antara kedua majikannya yang saling melempar tatapan tajam satu sama lain.


"Sepertinya sebentar lagi akan terjadi perang dunia, saya harus segera bertindak sebelum pasangan muda ini membuat kekacauan" gumam bi May dalam hati dan segera bertindak layaknya orang yang sedang kesurupan dengan berteriak histeris dikuti pergerakan tubuh yang kejang-kejang, disertai mata yang melotot ke arah Meyshila yang terlihat terkejut dan ketakutan. Sedangkan Gavin yang mengetahui sedari awal kepura-puraan bik May hanya terdiam saja melihat tinggkah konyol yang dilakukan oleh kepala pelayannya, namun sedetik kemudian dia mendapati respon Meyshila yang terlihat sagat ketakutan hingga berinsuk memeluk tubuhnya sendiri pada sudut sofa dengan tubuh yang bergetar. Gavin yang melihat hal itu segera bertindak dengan membawa bik May secepatnya keluar dari dalam kamar.


"Sudah cukup bi May" kata Gavin memghentikan pergerakan bi May yang masih asik berakting, setelah berhasil keluar dari dalam kamar.


-------- 04. 30---------


Gavin yang terbiasa terbangung di jam seperti ini untuk sholat subuh. Begitu terkejut tatkala mendapati tubuh Meyshila yang meringkuk begitu dekat disampingnya sambil memeluk kuat sebelah tangan Gavin agar tidak terlepas darinya. Sejenak Gavin terdiam sambil mencoba mengigat kejadian sebelumnya, hingga posisi mereka bisa berakhir seperti itu.


---- flashback ------


Setelah kepergian bi May. Gavin yang berbalik hendak masuk ke dalam kamar, berhenti tepat di ambang pintu. Ketika Meyshila yang tiba-tiba berlari ke arahnya dengan berurai air mata yang langsung memeluk tubuh tegap Gavin, sedangkan Gavin yang tidak siap akan tubrukan tubuh Meyshila yang kuat. Hingga mengakibatkan keduanya limbang dan hampir terjatuh, jika sampai Gavin tidak sempat berpegang pada daun pintu yang dapat di jangkaunya untuk menahan keseimbangan agar mereka tidak terjatuh.


"Lo gila ya..!! lepasin gue..." kata Gavin dengan suara tinggi. Namun tidak di hiraukan oleh Meyshila yang mala semakin mengencangkan pelukannya, akan rasa takut yang menguasai dirinya saat ini.


"Gue sesak nafas Shila..., lepasing gue..." kata Gavin dengan suara serak, sambil berusaha melepaskan kedua tangan Meyshila yang bertengger kuat pada pinggangnya.


"Hwaa.... gue ngak mau lepasin Lo... nanti gue di tinggal sendiri dan di culik setan gimana. Pokoknya gue ngak mau... hiks.. hiks..." Histeris Meyshila berusa menggapai tubuh Gavin yang mulai terlepas dari pegangannya.


"SHILA Sadar... !!! tatap mata gue sekarang.." tegur Gavin mencoba menyadarkan Meyshila yang kini terlihat sagat ketakutan di hadapannya.


Meyshila yang mendengar teguran Gavin, perlahan menghentikan tingkahnya yang berusaha kembali memeluk Gavin. Hingga perhatiannya kini tertuju pada mata coklat Gavin yang mencoba menyalurkan rasa ketengan pada Meyshila yang menatapnya dengan mata sembab.


"Gue ngak akan tinggalin Lo sendiri oke, jadi Lo sekarang tenang dan kita masuk kedalam kamar untuk istirahat. Jangan sampai Oma dan pelayan yang lain kira Lo kerasukan gara-gara kelakuan Bi May" kata Gavin mencoba untuk menenagkan Meyshila, yang malah membuat gadis itu semakin histeris mendengar penuturannya.


"Hwaa... gue takut.. Mama.. Papa.. Oma.. " histeris Meyshila ketakutan, membuat Gavin terkejut segera membekap mulut Meyshila dengan telapak tangannya dan menggiring tubuh Meyshila agar segera masuk ke dalam kamar dan mengkuncinya. Sehingga tidak mengundang perhatian seisi rumah atas kelakuan Meyshila yang terbilang luar biasa tak terkontor sakin ketakutannya. Hingga Gavin yang kelelahan sedari tadi menenangkan Meyshila, tak sadar hingga berakhir terlelep bersama di atas ranjang dengan posisi yang saling mendekat.


------- flashback off ----------


Gavin yang tersadar dari lamunannya, hendak bangkit dari posisnya. Namun sebuah suara menghentikan pergerakannya, hinga berbalik kebelekan dan mendapati Meyshila yang mengigau dalam tidurnya sambil bergerak gelisah dalam tidurnya.


"Jangan.. Janga tangkap saya.. hiks.. hiks.." racau Meyshila menyadarkan Gavin dari lamunannya, kemudian menatap wajah Meyshila yang terlihat gelisa dalam tidurnya hingga mengeluarkan air mata yang membuat Gavin panik dan berusaha membangungkannya.


Setelah melihat Meyshila yang mulai tersadar dari tidurnya, Gavin segera menyodorkan segelas air yang segera di terima oleh Meyshila dan meminumnya sampai tandas.


"Sekarang lebih baik kita sholat subuh, sebelum waktunya habis" kata Gavin sesekali menguap, namun Meyshila yang masi terdiam enggan berpindah dari posisinya yang masih terduduk di atas ranjang sambil memandang wajah bantal Gavin yang terlihat lucu di matanya.


"Lo dengar gue ngak sih Meyshila Dominickaaaa.." kata Gavin dengan suara dibuat-buat agar terdengar manis, akan tetapi Meyshila malah mencebikkan bibir ke arah Gavin.


"Tinggal pilih yang mana bagian tubuh lo yang akan terlebih dahulu dipatahkan oleh papa gue setelah mendengar panggilan Lo barusan" kata Meyshila mencoba menakut-nakuti Gavin. Namun Gavin malah tersenyum miring, sambil mendekati Meyshila dengan tampang tengilnya. Dan tanpa aba-aba mengangkat tubuh Meyshila kedalam gendongannya, hingga membuat si gadis menjerit sakin terkejutnya dengan perlakuan Gavin yang secara tiba-tiba terhadapnya.


"Papa Lo ngak ada di sini, dan lo berani gancam gue. Emang lo udah ngerasa berani dan tidak takut dengan setan yang ngerasukin Bi May tadi malam ?" kata Gavin dengan songongya, tanpa menyadari perubahan wajah Meyshila yang kembali menegang sambil mencengkram kaos baju Gavin.


"Sekarang kita lebih baik berwudhu sebelum waktu subuhnya lewat" kata Gavin segera menurungkan Meyshila dari gendongannya, setelah memasuki area toilet yang terlihat luas itu.


------- Ruang Makan Kediaman Dame Davin --------


Terlihat berbagai macam menu makanan yang tersaji di atas meja makan, membuat siapapun yang melihatnya akan tergiur dan akan melahapnya. Namun wanita paruh baya yang terduduk disana hanya menatap makanan tersebut tanpa menyentuhnya, hingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya.


"Apakah Nyonya igin saya memanggil terlebih dahulu tuan muda dan nona muda agar segera kemari ?" tanya Bi May dengan sopang. Membuat wanitah paruh baya yang tak lain adalah Dame Davin memberi tanggapan dengan anggukan kepala.


Bi May yang mengerti, hendak berlalu memanggil tuan dan nona mudanya. Namun baru beberapa langkah, niatnya terurungkan tatkala kemunculan dari kedua orang yang hendak dipanggilnya berada di ambang pintu ruang makan sambil berjalan beriringan lengkap dengan pakaian yang sudah terlihat rapi dikenakannya.


"Eh... tuan muda dan nona mudah usah sampai, silahkan kemari menikmati sarapannya" kat Bi May mempersilahkan.


Gavin yang hendak mendekat ke arah meja makan, terhenti tatkala merasakan seseorang tiba-tiba menarik lengang kemejannya. Hingga perhatiannya teralihkan ke samping, dimana Meyshila mencengkram kuat lengang kemeja Gavin dengan ekspresi ketakutan ke arah Bi May yang malah terlihat santai menyiapkan alat perlengkapan makan buat mereka berdua.


"Tenang... setannya udah keluar dari tubuh Bi May, Lo ngak perlu takut lagi. Percaya sama gue" kata Gavin serat akan nada ledekan ke arah Meyshila. Membuat perempuan itu mencebikkan bibir, namun Meyshila sepertinya masih enggang untuk melagkah mendekat ke arah meja makan.


"Cemeng banget jadi orang, baru setannya Bi May udah ketakutan kaya gini. Dimana tu gadis judes dan pemberani yang biasanya berbuat seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain ?" ujar Gavin sinis, membuat Meyshila memelototkan kedua matanya.


"Jangang bica sembarangan ya..., gue itu ngak takut, tapi gue hanya mempermainkan Lo doang biar tau rasa" ketus Meyshila, kemudian berlalu mendekat ke arah meja makan dengan perasaan gelisa. Karena pandangan Bi May yang tidak berhenti menatap ke arahnya sambil tersenyum.


Gavin yang melihat gerak gerik Meyshila yang terlihat gelisa akan keberadaan Bi May, segera bertindak dengan meminta Asisten rumah tangga itu agar segera menyiapkan sepatu pantofel yang akan digunakannya ke kantor. Padahal hal sekeci itu biasanya juga ia lakukan sendiri tanpa bantuan dari orang lain termasuk para pelayan yang bekerja di kediaman Dame Davin.


Meyshila yang melihat kepergian bi May segera menikmati sarapannya, tanpa menyadari senyum samar yang terbit dari bibir Gavin yang melihat perubahan ekspresi Meyshila yang mengemaskan dimata Gavin.


"Dasar gadis ketus sok kuat, katanya gak takut tapi kenyataan sebaliknya. Dia sangat buruk dalam menyembunyikan perasaan yang dirasakannya" gumam Gavin dalam hati sambil tersenyum samar, mencoba agar tidak ada seorangpun yang menyadari perasaan senangnya saat ini. Namun tanpa dia sadari sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah Dame Davin, yang sedari tadi diam duduk sambil memeperhatikan mereka semua malah ikut tersenyum simpul memandang Gavin dan Meyshila bergantia.


"Inilah alasan kenapa aku masih bisa bertahan hidup, dari kesakitan yang selalu membuatku merasa putus asa. Namun dengan melihat mereka berdua yang mulai ada kemajuan, aku akan berusaha lebih keras untuk menyatukan mereka hingga tiba saatnya aku akan pergi dari dunia ini" gumam Dame Davin sambil mencengkram perutnya yang tiba-tiba terasa sakit, tanpa membuat Gavin dan Meyshila yang menikmati sarapan mereka tersadar akan perubahan wajah Dame Davin yang berusaha menahan sakit perutnya dengan memasang waja datar.