the heart that chooses

the heart that chooses
29. Status



Langit malam yang begitu Indah dengan taburan bintang yang berkerlap-kelip serta cahaya bulan yang terpancar begitu menawan, membuat seorang gadis dengan baju tidur bergambarkan kelinci kecil itu seperti enggan meninggalkan balkom kamarnya yang saat ini ia tempati untuk menikmati malam yang semakin larut.


Namun suara mesin mobil yang baru saja memasuki area pekarangan rumah membuat pandangan gadis itu kini teralihkan, ketika mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang pria bertubuh tegap dengan jas putih turung dari dalam mobil dan melangkah masuk melewati pintu utama kediaman Dominick, mata gadis itu membulat seketika. Dengan kecepatan kilat gadis itu berbalik dan berlari masuk ke dalam kamarnya dan melompat ke atas tempat tidur, kemudian membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Gawat...!!! sekarang gue harus gapain sekarang..!" kata gadis yang tak lain adalah Meyshila dengan panik sambil bersembunyi di dalam selimut dengan napas yang berpacu cepat.


Sedangkan langkah panjang seorang pria terdengar jelas dengan sepatu pantofel yang ia kenakan bergantian membentur lantai marmer mendekat ke arah sebuah kamar.


*C**eklek*...


Pintu kamar terbuka, terlihat Gavin masuk ke dalam kamar dengan penampilan yang masih menggunakan stel jas putih yang ia gunakan tadi siang di acara pernikahannya. Langkahnya terhenti tatkala pandangnya tertuju pada ranjang yang memperlihatkan seseorang yang sedang tertidur dengan keseluruhan tubuh yang tertutupi selimut. Kemudian kembali melangkah mendekati meja rias yang tak jauh dari tempat tidur yang berada di dalam kamar bernuansa putih itu.


"Ssstttt..." desis Gavin, sambil menyentuh wajah lebamnya yang terlihat dari pantulan cermin meja rias.


Meyshila yang bersembunyi dari dalam selimut mencoba untuk mengintip untuk melihat apa yang membuat pria itu berdesis. Hingga sebahagian wajahnya mulai terlihat, matanya kini tertuju pada sosok Gavin yang masih memperhatikan wajah lebamnya pada pantulan cermin.


"Astaga..! Apa dia baru saja di hajar oleh seseorang ?" pekik Meyshila pelan sambil memperhatikan wajah Gavin dari balik selimut yang diangkatnya sedikit.


"Walaupun dalam keadaan lemah, pukulannya cukup keras juga" kata Gavin, sembari berbalik menjauh dari meja rias sambil melepas jas putihnya dan melemparkannya ke atas sofa panjang yang terletak di depan ranjang dalam kamar tersebut kemudian ikut mendudukan tubuhnya yang terlihat kelelahan. Sejenak mata Gavin memandang ranjang dimana Meyshila yang masih setia tertidur sambil membelakanginya dengan selimut yang melilit tubuhnya namun kepalanya agak sedikit terlihat.


Gavin mengusap kasar wajahnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil memejamkan mata.


***flashback***


*Kevin yang baru saja sadar, tanpa mengubris teguran dari ayahnya dan juga Dominick yang mencegahnya agar tidak bangung dan turung dari ranjang pasien. Tiba-tiba saja Kevin melepas selang infus dari sebelah pungung tanganya, kemudian mencoba dengan sekuat tenagah untuk bangkit hingga kini mampu berdiri di hadapa Gavin yang hanya menatapnya datar.


tanpa aba-aba dan peringatan, Kevin tiba-tiba melayankan sebuah pukulan kuat yang berhasil mengenai sudut bibir Gavin yang terlihat mengeluarkan sedikit darah. Mhethyu dan Dominick yang melihat hal itu sontak terkejut, akan Gavin yang tidak mencoba menghindar sedikitpu. Sedangakan Kevin yang masih lemah sempat terhuyung, kemudian kembali


"Kenapa Lo ngak nolak permintaan Oma untuk nikahin Shila ? " Sentak Kevin marah, sambil mencengkram kera kemeja putih Gavin dengan tatapan tajam nanmenyiratkan kepedihan yang dirasakannya. Dimana gadis yang sangat ia cintai kini bersatu dengan seorang pria yang tak lain adalah adik sepupunya Gavin yang sangat ia sayangi.


"KEVIN.. LEPASKAN ADIK SEPUPUMU" peringatan Mhethyu yang tidak di hiraukan oleh Kevin. Sedangkan Gavin yang masih membungkam membuat emosi Kevin semakin memuncak, sehingga satu hantaman berhasil mengenai pelipis sebelah kanan Gavin.


"Kevin Cukup" Suara dingin Dominick, kemudian beralih melepas cengkraman Kevin dan menarik Gavin keluar dari sana, sebelum terjadi sesuatu yang lebih menghawatirkan. Kevin yang melihat hal itu lantas membuatnya marah dan meremas dadanya yang terasa sakit melihat Dominick yang lebih memilih Gavin dibanding dirinya*.


****flasback off***


Gavin yang kembali tersadar dari lamunannya, kembali menatap Meyshila yang terlihat tertidur di atas ranjang dengan selimut yang masih membelenggu tubuhnya, namun wajah cantiknya yang begitu tenang terlelap di mata Gavin membuat si pemandang merasa gusar sehingga mengusap kasar wajahnya.


Sejenak Gavin menghembuskan nafas berat, kemudian mulai bernyanyi dengan suara lemah.


"Hidup penuh liku-liku


Ada suka ada duka


Semua insan pasti pernah


Merasakannya" Nyanyi Gavin sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang, tanpa mempedulikan bajunya yang lengket akan keringat yang seharian dipakainya.


----- 03. 45 -----


Mata Meyshila yang tadinya terpejam, perlahan mulai terbuka. Perasaan haus yang mengerogoti terongkongannya terasa sakit, sehingga membuatnya mau tidak mau bangkit dari tidur hendak keluar dari kamarnya. Namun sebuah objek membuat matanya membulat sempurna, dimana Gavin yang tampak terlelap di atas sofa panjang yang masih dengan pakaian yang acak-acakan.


"Astaga..." pekik Meyshila kembali, segera turung dari ranjang sambil berlari kecil mendekat ke arah Gavin yang masih tertidur. Gadis itu berjongkok sambil memandang wajah terlelap di hadapannya, kemudian perlahan jari telunjuknya mencoba beberapa kali menusuk pipi Gavin sehingga menimbulkan pergerakan yang menandakan jika siempuh sedang merasa terganggu.


Melihat hal itu, Meyshila segera bangkit dan perlahan mundur sambil membekap mulutnya kuat-kuat agar suara teriakan yang hendak meledak tidak keluar dan membuat seisirumah terkejut mendengarkannya.


Sedangkan Gavin yang tadinya terganggu dengan tidurnya, tidak memperlihatkan tanda akan matanya yang hendak terbuka. Sehingga Meyshila sedikit bernapas lega, kemudian segera berlalu keluar dari kamarnya.


Sesampainya di area dapur, Meyshila segera berlari mengambil sebotol air yang berada di dalam kulkas dan segera meminumnya hingga tandas.


"Haaaa..., tengorokan gue lega..." gumam Meyshila, kemudian kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Sehingga membuat emosinya seketika naik, dan refleks meremas botol plastik itu dengan kedua tangannya hingga tak berbentuk.


"Gue harus mulai memikirkan sebuah rencana yang harus di gunakan agar pria yang kini berstatus sebagai suami gue itu bisa tak tahan berada di sisi gue dan perlahan pergi dengan rasa benci yang harus gue terima dari sikap dan prilaku yang akan gue lakuin terhadapnya" tegas Meyshila dengan penuh tekat akan pemikirannya.


------- Pagi --------


Suasana sarapan pagi di kediaman Dominick begitu menyenangkan, dimana canda tawa serta gurauan kecil terlihat memenuhi seisi rung makan. Akan tetapi seorang gadis dengan rambut yang masih acak-acakan dengan pakean tidur bergambar kelinci kecil masih menempel ditubuh mungilnya terlihat cemberut.


"Kalian semua jahat, mentang-mentang penampilang kalian semua terlihat rapi dan bersi tapi jangan ngetawain gue kaya gini. Karena semua ini salah dia.." keluh Meyshila, sambil menunjuk Gavin yang terlihat asik menikmati sarapan paginya dengan segelas kopi dan sepotong sandwich di piringnya.


"Kanapa malah nuduh gue, bukanya Lo yang ngak mau bangung dari tadi. Makanya gue berbaik hati membawa lo langsung ke meja makan" kata Gavin sambil menatap datar Meyshila yang sedari tadi terlihat menahan emosi akan kejadian tadi, dimana Gavin yang seenaknya membopong tubuh Meyshila yang masih terlelap di atas ranjang dan membawanya ke ruang makan tanpa sempat membasu muka.


"Ma.. Pa... Anne pergi dulu, mungkin Anne pulang agak sedikit terlambat" kata Anneliese segera bangkit dari tempat duduk nya setelah mendapat anggukan dari Dominick dan berlalu tanpa menghiraukan Meyshila yang menatapnya, sedangkan Gavin abai aja dengan sikap acuh tak acuh Anneliese.


"Hati-hati sayang... jagang ngebut di jalan" suara perigatan Luchiyana penuh perhatian, membuat Meyshila mentap nanar ke arah mamanya. Akan rasa iri terhadap kakaknya yang selalu mendapatkan perhatian dalam hal sekecil apapun dari kedua orang tuanya.


Sedangkan Gavin yang sedari tadi diam sambil memperhtikan situasi, hanya menghela nafas dan secara tiba-tiba menghentikan aktifitas makannya. Membuat perhatian Dominick dan Luchiya beralih menatapnya, akan tetapi Meyshila sendiri malah sibuk mengunya sandwich tanpa mau melihat Gavin yang berada di hadapannya.


"Kenapa makanannya ngak di habiskan ? apa masakan mama tidak enak nak..?" tanya Luchiyana bingung melihat Gavin yang tiba-tiba menghentikan aktifitas makannya dan hanya melempar senyum manis kearahnya.


"Masakan mama sangat enak, tapi berhubung ada suatu hal penting yang harus Gavin sampaikan kepada papa dan mama sekarang juga" kata Gavin dengan tatapan datar, membuat perhatian Meyshila kini beralih menatapnya dengan rasa pensaran bercampur dengan rasa was-was akan hal penting yang hendak di sampaikan pria yang kini berstatus sebagai suaminya.


"Hal penting apa yang hendak kau sampaikan nak ?" tanya Dominick, kemudian meminum segelas air dan beralih menatap serius ke arah Gavin.


"Aku ingin segera moboyong Meyshila yang kini berstatus sebagai Istriku kembali ke Kota Y, karena pekerjaan disana membuatku harus segera kesana" kata Gavin membuat Luchiyana merasa terkejut, terutama Meyshila yang kini memperlihatkan eksprisi keterkejutan yang laur biasa. Sampai-sampai air yang hendak ia teguk kini berhamburan keluar bersamaan dengan mata yang membulat sempurna, serta wajah yang memarah sakin menahan sakit pada tenggorokannya .


"Shila... kamu tidak apa-apakan nak ? kata Luchiyana panik segera menghampiri Meyshila sambil menepuk-nepuk punggun putrinya yang terlihat tersedak air dan sulit bernafas. Sedangkan Dominick dan Gavin yang ikut panik segera bangkit dari tempat duduk dan mendekat ke arah Meyshila.


"Hiks... Hiks... Hiks..." tiba-tiba suara tangis Meyshila keluar disela-sela batuknya, membuat semua orang yang melihatnya menjadi lebih panik.


"Yang mana yang sakit nak ? tunjukkan kepada papa, biar papa panggilin dok__" kata Dominick panik berjongkok di hadapan Meyshila, Namun sebuah tangan tiba-tiba melingkar di lehernya hingga membuat perkataannya terpotong.


"Hikss. Hiks... Papa jangan panggil Dokter, Shila.. hanya butuh papa dan mama.... Tidak mau yang lain... Hwhaaaaaa..." tolak Meyshila dengan suara serak, membuat Dominick yang memeluk Meyshila merasakan getaran pada tubuh putrinya.


Gavin yang melihat interaksi antara anak dan orang tua itu terlihat mematung entah apa yang ada dipikirannya kini, hingga kesadarannya kembali lagi ketika Luchiyana tiba-tiba menarik pergelangan tangan Gavin dan mengajaknya bergabung dalam rangkulan hangat keluarga Dominick yang saling berpelukan.


"Mama ngapain ngajak-ngak dia gabung dengan kita. Dia itu jahat, mau pisahin Shila dengan kalian" ketus Meyshila, sambil menatap tajam Gavin yang malah melempar senyum miring membuat Meyshila yang melihatnya mulai emosi dan perlahan melupakan kesedihan yang baru saja dirasakannya.


Dominick yang mendengar perkataan ketus putrinya segera melepas rangkulan yang tadinya saling terkait diantara mereka berempat hingga kini terlepas, membuat ketiganya menatap bingung ke arahnya.


"Sebaiknya kamu ikut apa kata Gavin nak, karena mulai saat ini kamu bukan hanya menjadi bagian dari tanggu jawab papa, tapi kini kamu juga menjadi bagian dari tanggung jawab Gavin selaku suamimu" Kata Dominick mencoba memberikan penjelasan kepada putrinya yang masih enggan dengan statusnya yang kini menjadi istri dari seorang Gavin Nikola Serafino.


Mendengar penuturan langsung dari mulut orang yang sagat di sayangi dan di hormatinya, membuat hati Meyshila berdesir akan rasa sakit yag tak terlihat namu terasa perih untuk dirasakan.


"Mereka semua tidak ada yang mau mengerti dengan perasaan gue" keluh Meyshila dalam hati, segera meninggalkan mereka bertiga yang berdiri mematung memandang kepergian Meyshila yang berlari tanpa mengatakan sesuatu.


"Papa dan Mama tenang saja, Gavin akan memberikan penjelasan kepada Meyshila mengenai hal ini" kata Gavin menenangkan kedua mertuanya dan segera berlalu menyusul Meyshila.


Sesampainya di depan pintu kamar Meyshila, Gavin segera masuk dan mendapati gadis itu tengah menangis dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Perlahan Gavin melangkah mendekati sisi ranjang, kemudian mendudukan bokongnya sambil memperhatikan gadis yang masih terisak itu.


"Berhentilah bersikap egois seperti ini Shila" kata Gavin, yang tidak ditanggapi oleh Meyshila dan malah semakin terisak.


"Gue lakuin ini semua karena ada sebabnya, jadi gue mohon cobalah untuk mengerti situasi sekarang dan berpikir jernih mengenai hal ini" kata Gavin, membuat gadis yang tadinya menangis sesenggukan. bangkit seketika dan berusa menyerangnya dengan pukulan dari tangan mungil Meyshila yang dapat di cekal dengan mudah oleh Gavin, hingga tak menyisahkan jarak yang begitu dekat di antara wajah mereka berdua.


"Tidak perlu berbelit-belit, kata saja apa yang sebenarnya Lo rencanain untuk ngancurin hidup gue" bentak Meyshila dengan nafas memburu, menerpa wajah Gavin yang masih setia mencengkram kedua pergelangn tangan Meyshila di hadapannya.


Sejenak Gavin terdiam sambil memperhatikan wajah Meyshila dari jarak yang sangat dekat ini, hingga terbitlah sebuah senyum manis dari bibir tipisnya yang membuat Meyshila mengernyitkan dahi akan kebingungan dari sikap pria yang baru saja ia bentak.


"Kalau lo penasaran dengan rencana gue, maka dengan senang hati gue akan mengatakannya.." kata Gavin dengan suara menggoda, membuat emosi Meyshila kian meninggih.


"Dasar ********... kurang ajar...." maki Meyshila berusaha melepas cengkraman Gavin dari pergelangan tangannya.


Namun semakin Meyshila berusa terlepas, maka semakin kuat juga Gavin menahannya. Sampai akhirnya keseimbangan mereka berdua hilang dan terjatuh membentur lantai marmer yang terasa dingin.


"Sssssttttttt.." ringis Gavin tatkala tubuhnya yang terlebih dahulu menyentuh lantai, di tambah bobot tubuh Meyshila yang lumayan menimpa sebagian tubuhnya. Sedangkan si gadis yang baru saja menyadari posisinya yang tengah menimpa tubuh seseorang segera bangkit dari posisinya.


"Ini semua sala Lo, gue ngak sala dalam hal ini ya.." kata Meyshila mencoba membela diri dari Gavin yang berusaha bangkit dari posisinya sambil menatap pergerakan Meyshila yang terlihat salah tingkah di hadapannya.


"Lo harus tanggung jawab, liatni tangan gue jadi terkilir gara-gara lo timpa dari atas" kata Gavin dengan dramatis, membuat Meyshila tib-tiba merasa bersala.


"Nanti gue tanya papa biar antar lo ke tukan pijit" jawab Shila spontang.


"Enak aja lo mau lari dari tanggung jawab dan melempar ke orang lain, gue maunya lo yang nyembuhin luka gue" serkas Gavin, membuat mulut Meyshila mulai komat kamit mengumpati Gavin dengan suara lirih. Sedangkan Gavin yang melihat perubahan Mood Meyshila yang tadinya bersedih malah sekarang terlihat kesal mengumpatinya, mnamun tak urung Gavin merasa marah akan hal itu.