the heart that chooses

the heart that chooses
16. Situasi Baru



Pagi ini Gavin masih terlelap degan suasana kamar yang seperti biasanya gelap, dimana gorden yang menutup dinding kaca kamarnya belum terbuka sama sekali. Dame Davin yang baru masuk segera menarik semua gordeng dan membuat sinar matahari masuk dan menyilaukan mata Gavin yang terpejam dan perlahan terbuka sambil mencoba menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke matanya.


"Dasar pemalas, apa kamu lupa bahwa hari ini adalah hari pertama kamu masuk kuliah. Cepat bangung dan siap-siap, Oma menunggu di meja makan" Kata Dame Davin tegas dan segera berlalu keluar setelah melihat Gavin yang mulai terbangung. Sedangkan Gavin hanya mampu berdecak kesal, dan segera melaksanakan apa yang di perintahkan Omanya.


Gavin yang sudah siap segera turung dari lantai dua menuju arah meja makan sesuai degan perintah Omanya, Namun tiba-tiba terhenti ketika mendegar suara barang pecah dari arah kamar tamu yang tidak jauh dari tangga yang di lalui oleh Gavin. Gavin yang cuek dan hendak berlalu begitu saja terhenti ketika mendegar suara tangisan dari arah kamar tamu.


Gavin hanya mendegus dan berbalik menuju arah kamar tamu, setelah membuka kamar degan kunci yang menempel di pintu. Gavin segera masuk dan memindai isi kamar yang terlihat berantakan degan barang - barang yang berhamburan serta pecahan beling. Namun objek utama yang mampu membuat wajah Gavin terlihat panik yaitu sosok anak perempuan yang tergeletak lemas sambil menangis di lantai kamar degan kaki yang mengeluarkan darah segar.


Degan sigap Gavin mengangkat tubuh mungil anak perempuan (Meyahila) dan membaringkannya di atas tempat tidur degan langkah hati-hati agar tidak menginjak pecahan beling yang berserakan di lantai. Sedangkan Meyshila tidak memberontak di gendongan Gavin dan malah memilih menangis meratapi kakinya yang sagat sakit degan darah yang tidak berhenti mengalir keluar.


"Kalau mau mati, jagan di rumah ini. Lo bisa bunu diri di luar sana" kata Gavin ketus dan segera berbalik hendak keluar dari kamar, namun terhenti ketika mendegar suara tangis Meyshila yang melengking di telinganya.


"Hwaaaaa... siapa yang mau bunuh diri, Hwaaaa... kaki gue masih berdarah. TOLONGIN GUE CEPAT BODOHHHH.." teriak Meyshila sambil menangis meratapi kakinya yang tak berhenti berdara dan terasa perih.


Gavin yang sebenarnya merasa iba melihat kaki Meyshila yang terluka, berubah menjadi kesal setelah mendegar teriakan dan umpatan Meyshila yang mengatainya bodoh. Sehingga Gavin memilih keluar meninggalkan Meyshila yang masih menangis.


Meyshila yang melihat kepergian Gavin merasa kesal dan mengumpatinya degan perkataan yang tidak karuan, sebagai pelampiasan rasa sakit pada telapak kaki yang masih mengeluarkan darah. Tak lama berselang, Gavin tiba-tiba muncul degan kotak p3k yang berada di tangannya. Tanpa mempedulikan perkataan Meyshila yang mengatainya, di iringi tangis yang membuat pandagannya menjadi kabur.


" Shut-up " sentak Gavin. Seketika Meyshila terdiam dari tagisan dan umpatan, sakin terkejutnya mendegar suara seseorang yang tidak ia sadari kini duduk di hadepannya.


Gavin mencoba meraih kaki Meyshila, namun degan cepat Meyshila menepis tangan Gavin degan kuat. Sehingga wajah Gavin terlihat memerah menahan emosi yang seperti igin meledak, akibat perbuatan Meyshila.


"Lebih baik Lo diam dan tidak ngelawan, kalau tidak kaki Lo akan patah " Ancam Gavin degan tegas, sambil memegang kaki Meyshila yang berdarah. Meyshila terdiam sembari memperhatikan proses yang dilakukan Gavin dalam mengobatinya.


"HWAAAAA... GUE TAKUT LIAT DARAH...." teriak Meyshila tiba-tiba. Melihat luka di kakinya semakin mengeluarkan darah, ketika Gavin mencoba mencabut beberapa pecahan beling yang menempel di telapak kakinya.


Gavin yang terkejut, segara membungkus tubuh dan kepala Meyshila degan selimut yang berada di dekatnya dan hanya menyisahkan kaki Meyshila yang terluka.


Dengan telaten Gavin mengobati kaki Meyshila tanpa mempedulukan teriakan dan pergerakan dari sipemilik kaki yang merasa kesakit di dalam selimut. Lama kelamaan pergerakan dan teriakan itu mulai berhenti, Gavin segera menyelesaikan aktivitasnya dan membuka selimut yang melilit tubuh Meyshila sehingga menampakkan wajah yang terlihat pucat degan mata yang tertutup.


"Sit..!, dia pingsang, tidur, atau jangan-jangan sudah mati " kata Gavin panik, kepalanya perlahan mendekat ke wajah Meyshila. Sambil memindai apakah anak perempuan ini masih bernafas, dan malahan dengkuran halusla yang di degar dari mulut mungil Meyshila yang sedang tertidur akibat kelelahan menahan sakit pada telapak kaki nya.


"Aaarrrggg.." Gaving mengerang kesakitan, tiba-tiba seseorang dari arah belakang menjewer kupinnya degan keras. Spontang Gavin menjauh dari wajah Meyshila yang masih tertidur nyenyak dan menoleh ke belakang melihat tersangka sipelaku yang membuatnya kesakitan.


Gavin melepaskan tangan Dame Davin dari telinganya, kemudian menariknya keluar dari kamar agar tidak mengganggu ketenangan Meyshila yang baru saja tertidur.


"Apa dasar Oma sehingga menjewer kuping Gavin.." Tanya Gavin to the poin.


"Sudag tau masih mau bertanya, apa Oma harus jelaskan kembali apa yang baru saja terjadi..?" balas Dame Davin tak mau kalah.


"Aku rasa Oma keliru degan kejadiaan yang baru saja terjadi, tapi sudahlah Gavin tidak peduli. Jadi Oma ngak perlu bahas kejafiaan ini lagi " Kata Gavin hendak meninggalkan Dame Davin yang masih berdiri di depan kamar Meyshila.


Namun langkah Gavin terhenti ketika Dame Davin mencekal pergelangan tangannya dan menariknya agar Gavin kembali menatap matanya mencari sebuah kebenaran.


"Keliru kata mu..?, Oma menunggumu sedari tadi di meja makan dan kamu malahan berada di kamar tamu sambil mencoba mencium anak perempuan yang sedang tertidur..!" serkas Dame Davin, Gavin yang tadinya emosi tiba-tiba tertawa mendegar perkataan Omanya yang menurutnya tidak masuk akal.


"Siapa juga yang mau mencium..?, Gavin hanya mengecek keadaan anak perempuan itu. Apakah dia pingsang ataukah sudah mati, tapi ternyata dia sedang tertidur. Gavin ngak igin sampai ada kejadiaan bunuh diri di rumah ini gara-gara Oma yang memaksa seseorang berpisah degan keluarganya tanpa alasan yang pasti" penjelasan Gavin panjang lebar agar Omanya tidak sala paham dan segera melepaskannya.


"Sejak kapan kepribadiaanmu berubah sehangat itu, bukannya selama ini kamu berusaha agar tidak peka dan cuek terhadap sekitarmu..?" serkas Dame Davin membuat Gavin terpana.


"Apa yang baru saja gue lakuin, bukannya anak perempuan itu dari awal bertemu sampai sekarang selalu membuatku emosi dan kesal. Kenapa gue malah membantu dan mengobatinya" gumam Gavin dalam hati.


"Oma ini sedang gaur atau bagai mana, Gavin hanya igin menyelamatkan oma dari musibah kalau sampai anak perempuan itu berani bunuh diri gara-gara kelakuan Oma " serkas Gavin membuat Dame Davin malah tertawa terbahak-bahak.


"Astaga..., cucu Oma ini pandai juga cari alasan. Tapi apa kamu tau, anak perempuan yang berada di dalam kamar itu tidak sebodoh dan seberani itu untuk mengakhiri hidupnya hanya karena masalah seperti ini " jelas Dame Davin kepada Gavin sambil menahan tawanya.


"Terserah Oma, Gavin tidak mau membahas hal ini lagi " kata Gavin kesal, kemudian meninggalkan Dame Davin yang malah tertawa.


"Dasar anak cuek, cepat atau lambat pasti dia akan berubah dan terbiasa menjadi pribadi yang lebih baik. Kita tunggu saja tanggal mainnya " Gumam Dame Davin pelan sambil mengulas senyum penuh arti dibibirnya.


* 12.30*


Dominick dan Antonio kini menikmati santap siang di Restoran Grend pada jam istirahat kantor, tak jarang mereka tampak terlihat serius membahas sesuatu di sela-sela menyantap makanan.


"Kau ini papa macam apa yang tega membuat putrinya menderita seperti ini" Tegas Antonio


"Aku harus tega kali ini, degan menjauh tanpa memberi atau mendapatkan kabar. Shila tidak akan memikarkan kami semua dan akan lebih kuat menjalani hari-harinya di kota Y " jelas Dominick.


"Shila baru remaja Dominick, pikirannya masi sagat labil. Jika kamu melakukan hal ini, aku yakin anakmu akan membenci kalian semua" Balas Antoniyo kesal.


"Mau bagai mana lagi, anakku itu sagat keras kepala. Penjelasan apapun tidak akan merubah sikapnya, dalam keadaan marah ataupun tidak. Shila akan tetap mencari cara agar aku membawanya pulang jika sampai aku datang kesana menemuinya" Tegas Dominick


"Yang kamu katakan memang benar, sifat anak dan orang tuannya tidak jauh berbeda. Sama-sama keras kepala " Serkas Antonio membuat Dominick menatapnya tajam.


"Sebagai sesama orang tua, Kalau bole aku sarani. Dalam jangka satu bulan ini, lebih baik kamu memikirkan langkah-langkah yang tepat sebelum bertemu degan Shila. Mengigat dia tidak pernah jauh dari kalian, pasti anakmu sagat merindukanmu " Jelas Antonio degan tegas, sehingga membuat Dominick berpikir keras akan perkataan Antonio barusan kepadanya.


"Sepertinya perkataan kak Antonio ada benarnya, lebih baik aku memikirkan solusi yang baik dalam menghadapi anakku yang satu ini" Gumam Dominick dalam hati.


**** Kediaman Dame Davin *****


Sebuah mobil sport mercedes yang baru saja terparkir di pekarangan rumah yang terlihat klasik nan megah. Terlihat seorang pria turun dari dalam mobil degan kecamata hitam yang melekat di kedua matanya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Semua pelayan yang di laluinya membungkuk sebagai tanda hormat atas kedatangan tuan mudanya.


"Lebih baik kerjakan tugas kalian dan tidak perlu mempedulikan saya" tegas Gavin, kemudian melanjutkan langkahnya memasuki ruang keluarga.


"OMA...GAVIN SUDAH PULANG DARI MELAKSANAKAN TUGAS" Teriak Gavin degan lantang sambil mengedarkan pandagannya mencari sosok Dame Davin di ruang keluarga yang terlihat luas. Seorang pelayan paruh baya masuk dan menghampiri Gavin.


"Maaf tuan muda, Nyonya besar bersam berada di taman samping rumah bersama Nona cantik " kata Bik May sambil menunduk.


"Anak itu sagat menyusahkan, Apa anak perempuan itu mencoba untuk bunuh diri" tanya Gavin penasaran.


"Tidak tuan muda, Nona cantik sebenarnya anak yang baik. Hanya saja dia seperti tertekan sehingga melempar barang-barang sambil menangis histeris memanggil kedua orang tuanya dan tidak igin makan sama sekali" jelas Bik May sambil menatap Gavin.


"Kenapa Oma malah membawanya ke taman samping rumah, bukannya di kirim ke RSJ agar bisa lebih tenang" kata Gavin asal.


"Astaga untung Nyonya besar baik dan mau menenangkan Nona cantik, tidak seperti tuan muda yang cuek dan juga sadis" balas Bik May tanpa sadar, mengatai orang di hadapannya yang kini memasang wajah sagar.


"APA YANG BARUSAN BI--" kata Gavin tegas namun belum selesai, Bik May menyelah perkataannya.


"MAAF ATAS KELANCANGAN SAYA TUAN MUDAH" kata Bik May lantan, kemudian berlari kocar kacil keluar dari ruang keluarga meninggalkan Gavin yang sedang menahan emosi.