
Adam dan Antonio berusaha untuk meyakinkan Amalia, tetapi tetap saja, pilihan Amalia sudah bulat.
Amalia menolak untuk mengikuti ujian tahap ke 2. Dia lebih memilih untuk teteap tinggal bersama keluarganya didesa. Dia memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa dia jelaskan kepada Adam dan Antonio.
Adam dan Anotnio tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang mereka bisa lakukan adalah menghargai pilihan Amalia.
Amalia berjalan mendekati Lewis.
Lewis yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka, Lewis sudah tahu apa tujuan Amalia mendekatinya.
“Kau ingin keluar?” Tanya Lewis.
“Iya pak.” Jawab Amalia dengan seingkat.
Kali ini Amalia terlihat berbeda, sebelumnya dia sempat malu-malu, kini dia berani berdiri dengan tegap, dan menatap mata Lewis secara langsung. Dia benar-benar sudah membulatkan pilihannya.
“Baiklah kalau itu pilihanmu.” Balas Lewis.
Lewis sedikit takjub dengan Amalia. Belum pernah selama ini ada murid yang berani menatap dirinya seperti Amalia.
Dan tatapan itu sempat mengingatkannya kepada seseorang, namun Lewis tidak yakin siapa orangnya.
Semua murid tampak sedikit kecewa dengan pilihan Amalia, terutama Adam dan Antonio. Mereka selalu bersama sewaktu kecil hingga sekarang, dan ini adalah pertama kalinya mereka berbeda pilihan.
“Amalia-” Adam mencoba untuk meyakinkan amalia sekali lagi, tetapi langit secara tiba-tiba menjadi mendung.
Semua murid menatap kelangit dan terheran. “Padahal tadi sangat cerah.” Ucap Marco.
*ZRAAASSHHH!!!*
*DUAAARRR!!!*
Tiba-tiba sebuah kilatan petir muncul dari langit dan menyambar area didekat Lewis dan yang lainnya.
*WOOSSSSHH*
Diikuti dengan terpaan angin yang sangat kencang dan petir menyambar tidak jauh dari tempat Adam dan yang lainnya berada.
Hantaman kilat itu sangat keras, sehingga membakar area sekitar sambaran petir itu. Adam merasa kalau sambaran itu sangat tidak biasa, dan datanglah sebuah firasat yang mengatakan sesuatu yang berbahaya telah datang.
Dan sepertinya firasat itu tidak hanya datang kepada Adam saja.
Semantara Marco benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya hari ini. Dia sudah melihat sihir teleportasi (sihir tingakat atas) yang hanya dikuasai oleh para jendral, kini tiba-tiba muncul sebuah sambaran petir yang sungguh hebat.
Begitu juga dengan Tristian, walau dia tidak banyak bicara, dia percaya dengan level kekuatan para bangsawan. “Sial. Apalagi ini.” Ucapnya dalam hati.
Dan ketika suasana sedekit mereda, Marco melihat kearah Clara yang dia perhatikan hanya diam saja.
“Ap-Apa petir ta-di adalah miliknya?” Ucap Clara yang terbata-bata.
Marco tidak mengerti dengan apa yang Clara bicarakan. “Dia?” Tanya Marco kepada Clara.
Dengan tangan yang gemetar, Clara mengangkat jari telunjuknya, dan menunjuk kearah asap yang mengebul.
“Ha! Belum juga Ujian di mulai, tetapi sudah ada yang gugur satu.” Terdengar suara perempuan dari balik asap bekas kilatan petir itu menyambar.
*Tap Tap Tap*
Dan datanglah seorang perempuan berambut pirang ponytail, lengkap dengan setelan akademi sihir seperti Adam, namun itu terlihat sedikit lebih rapih dengan kemeja putih dan dasi berwarna hitam yang menambah kharismanya. Dia berjalan dengan celana sutra abu-abu ditambah sepatu hitam. Dan juga jubahnya yang dihiasi rantai emas yang menjadi tali pengikat jubah sihirnya.
Dan pada bagian dada jubah itu, terdapat lambang prisai bersayap burung elang yang mengepak lebar, melambangkan kekuatan dan kebebasan, dan prisai yang melambangkan perlindungan yang telah menjadi lambang akademi khusus kerajaan Genoveva.
“Oh Pharsa. Akhirnya kau datang.” Ucap Lewis.
*Pharsa River. Dia adalah adik perempuan Lewis River yang berumur 16 tahun. Dia memiliki wajah yang cantik. Berbeda dengan kakaknya yang selalu tenang dan berwibawa, Pharsa adalah gadis yang selalu menunjukan wajah yang arogan dengan tatapan sinis*
Pharsa kemudian berjalan mendekati Amalia yang sebelumnya tengah berbicara dengan Lewis. “Yah baguslah kau tidak ikut seleksi ini.” Ucap Pharsa, “Lagian kau tidak akan lulus juga.” Lanjutnya.
“Pharsa. Jaga bicara mu.” Ucap Lewis.
Mata Marco melotot lebar-lebar, dia benar-benar tidak percaya, tubuhnya juga ikut bergetar. “Ho-i, a-apa kau bercanda.” Ucap Marco, “Apa itu semua ulahnya seorang?”
“Maafkan dari perkataan adikku.” Lewis sedikit membungkukkan badannya. “Dia memang selalu seperti ini.”
“Kak, yang benar saja!” Balas Pharsa. “Kau membungkuk kepada orang desa.” Pharsa sungguh sangat kesal dengan sifat kakaknya itu, dia tidak peduli dengan marga kebangsawanannya, seolah itu hanyalah sebuah pelengkap nama. Belakangnya.
“Pharsa, sebaiknya kau juga minta maaf kepada mereka.” Ucap Lewis.
“Hmph! Tidak mau.” Balas Pharsa sambil memalingkan wajahnya.
“Apa-apaan dia itu.” Ucap Adam dalam hatinya.
Melihat Lewis dan Pharsa bertengkar, membuat perasaan Amalia menjadi tidak enak. “Ti-tidak apa-apa kok pak. Lagi pula tipe sihirku hanya penyembuh, bukan untuk menyerang.” Ucap Amalia.
“Pffftt, Hahahahaha.” Tiba-tiba Pharsa tertawa lepas. “Apakah itu benar? ‘Pak’? Kau dipanggil dengan sebutan ‘pak? Hahahahaha.”
Tetapi sebenarnya, sebutan ‘pak’ itu membuat Lewis merasa tidak nyaman. Lewis merasa kalau masih terlalu awal untuk dipanggil ‘pak’. Kemudian Lewis menoleh kearah Amalia.
“Namamu Amalia kan?”
“I-iya pak.”
“Hahahahahaha.” Tawa Pharsa semakin jadi.
Lewis kemudian tersenyum lebar kepada Amalia. “Tolong jangan panggil aku ‘Pak’. “Ucap Lewis. “Panggil dengan ‘Kak’ saja.”
Amalia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tetapi sepertinya dia harus menurutinya. “I-iya baik pa-, maksudku kak.” Ucapnya.
“Hey Marco.” Panggil Clara.
Marco yang sedang bengongpun langsung menoleh. “Ya!”
“Apa kau masih ingin melanjutkan ujiannya?” Tanya Clara.
Setelah melihat kekuatan Lewis dan Pharsa membuat rasa semangat Clara menjadi hilang. dia merasa tidak percaya diri, jikalau dia lulus, pasti di akademi khusus akan lebih banyak orang dengan kekuatan sihir yang setara dengan mereka.
“Ti-tidak tau.” Ucap Marco yang masih ragu. Kemudia Marco menoleh ke Tristian. “Kau bagaimana Tristian?”
“Lanjut.” Jawab Tristian dengan singkat.
Keraguan Marco semakin kuat, tetapi baginya, masuk akademi khusus adalah sebuah kesempatan besar untuk memikat pujaan hatinya yang selama ini kerap menolak cintanya.
Dan keraguan didalam dirinya pun sirna ketika membayangkan jika cintanya diterima oleh pujaan hatinya.
Clara yang melihat wajah Marco yang besirna-sirna itu merasa jijik.
*Duak*
Clara menendang bokong Marco dengan cukup keras, membuat Marco tersungkur ketanah. “Marco!” Ucap Clara yang kesal. “Cepat jawab pertanyaanku!”
“Aduh.” Marco mengusap-ngusap bokongnya, agar rasa sakitnya cepat hilang. “Yah, selama kita tidak macam-macam dengan mereka. Kita akan baik-baik saja.” Balas Marco sambil berusaha berdiri.
Mendengar itu, niat Clara yang ingin mengundurkan diri mulai goyah, melihat sifat Lewis yang penuh charisma, dan juga tidak pandang bulu membuat rasa percaya diri Clara muncul kembali.
“Iya kau benar, selama kita baik kepada mereka, mereka akan juga baik kepada kita.” Ucap Clara dengan semangat.
Dan tiba-tiba Antonio berjalan mendekati Pharsa.
“Hoi rambut ekor kuda.” Ucap Antonio dengan aura sihir yang menyala disekitar tubuhnya.
Sontak membuat Marco dan Clara langsung terkejut.
Ucapan Pharsa membuat membuat Antonio sangat kesal.
“Minta maaf kepada Amalia.” Ucap Antonio dengan aura merah yang keluar dari tubuhnya.
“Heeeh?” Pharsa menoleh.
Kemudian Adam menghampiri Antonio. Adam sedikit mendorong tubuh Antonio agar tidak mendekati Pharsa.
“Antonio tenanglah.” Ucap Adam.
Begitu juga dengan Amalia yang berusaha menenangkan Antonio. “Amtonio sudahlah.” Ucapnya.
“Hmph. Emosinya memang sangat mudah tersulut.” Ucap Tristian dalam hatinya.
Melihat Antonio yang lancang kepadanya, membuat emosi Pharsa juga ikut tersulut. Dan tatapan sinisnya muncul kembali.
“Apa kau bilang anak desa?” Balas Pharsa.
“Kubilang ‘minta maaf’.” Ucap Antino.
“Dalam mimpimu.” Balah Pharsa dengan tatapan sinisnya.
“Kalian jangan bertengkar.” Ucap Lewis. “Lebih baik kita melanjutkan ke tahap ke 2 ujiannya.”
Marco sangat khawatir dengan ucapan Antonio akan membuat Pharsa marah, dan mencoba untuk menenangkan Antonio. “Be-benar Antonio. Kita masih ada ujian yang harus diselesaikan.” Ucap Marco.
Antonio langsung menurutinya, aura sihir Antonio perlahan menghilang, dan Antonio kembali mundur dan kembali ke teman-temannya.
Ketika suasana sudah kondusif Lewis melanjutkan ujian seleksi ke tahap ke 2. “Baiklah ujian seleksi tahap ke 2 akademi khusus.”
Ucap Lewis. “Adam, Antonio, Marco, Clara, dan Tristian.”
Suasana menjadi penuh tekanan, yang dimana ini adalah ujian terkhir mereka, dan selangkah lagi menuju akademi khusus.
“Kalian akan bertarung melawan Pharsa.”