The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Hari Penentuan #4



*Tap Tap Tap*


Yang kemudian terlihat 2 orang yang menaiki podium pidato kepala akademi. “Mereka adalah Lewis River dan Theron Brontes.”


Adam sangat terkejut melihat laki-laki yang berada disamping Lewis, karena itu adalah laki-laki berjubah hitam yang dia lihat dipasar waktu itu.


“Baiklah, bapak akan perkenalkan sekali lagi, mereka adalah Lewis River dan Theron Brontes, dan mereka pembina akademi khusus yang akan menjemput salah dua dari murid kita.” Ucap pidato kepala akademi.


“Yaitu Adam Gritz dan Antonio Brute.” Lanjutnya dengan sedikit meninggikan suaranya.


*Prok Prok Prok*


Semua orang bertepuk tangan untuk memberikan apresiasi kepada Adam dan Antonio yang telah berhasil lanjut ke akademi khusus.


“KYAA... ANTONIO!” Semua siswi menyoraki nama Antonio.


“Hah? Adam lulus?” Ucap Marco yang tidak percaya denga napa yang dia dengar.


“Dipersilahkan untuk Adam Gritz dan Antonio Brute untuk naik keatas podium.” Perintah kepala akademi.


Adam dan Antonio kemudian berjalan menuju podium, diiringi dengan suara sorakan dari para murid dengan gembira.


Namun didalam hati Adam, dia sedikit bertanya. “Kenapa dia waktu itu berada disana?” “Apakah hanya kebetulan?” Ucap Adam dalam hatinya.


Pertanyaan-pertanyaan itu seketika menghilang dari dalam kepalanya, sesaat dia melihat anak tangga untuk naik keatas podium.


“Mungkin itu hanya kebetulan.” Ucap Adam dalam hati untuk meyakinkan dirinya.


Adam dan Antonio kemudian berdiri disamping kepala akademi. “Saya ucapkan selamat kepada Adam dan Antonio karena telah berhasil lulus ke akademi khusus, dan ini adalah kali pertama siswa dari akademi kita yang berhasil melanjutkan Pendidikan ke akademi khusus.”


*PROK PROK PROK *


Suara tepuk tangan semakin memenuhi aula, tidak hanya para murid, tetapi guru-guru yang berbaris dibelakang podium juga ikut bertepuk tangan, diikuti dengan sorakan yang sangat meriah.


“Dan Lewis River yang akan mejadi Pembina untuk Antonio Brute, sedangkan Theron Brontes akan menjadi Pembina bagi Adam Gritz di akademi khusus mereka.”


(Akademi khusus adalah pusat pendidikan sihir yang diawasi langsung oleh kerajaan Genoveva, yang dimana para lulusan akademi diharapkan dapat mengabdi kepada kerajaan.


Dan bukan sembarang orang yang dapat masuk kedalam akademi khusus, karena akademi khusus juga menjadi cerminan suatu kerajaan itu sendiri, jadi hanya orang-orang dari kasta tertinggi yang dapat masuk kedalam akademi khusus.


Namun beberapa tahun terakhir, aturan itu dirubah karena itu sangat bertolak belakang dari motto kerajaan yang berbunyi “Keadilan merata bagi rakyat kerajaan.”


Maka dari itu dibuatlah ujian seleksi akademi khusus pada setiap akademi umum di desa-desa, sehingga rakyat kecil dapat berkesempatan untuk masuk ke akademi khusus.


Akademi khusus terbagi menjadi 5 aspek, yaitu: pelayan kerajaan, militer, kesehatan, pendidikan, dan keamanan.


Aspek pelayan kerajaan adalah bidang yang mempelajari politik and bisnis dalam dan luar kerajaan untuk mencapai kesejahteraan rakyat Genoveva secara menyeluruh.


Aspek militer adalah bidang yang fokus pada pertahanan kerajaan jika terjadi penyerangan yang dapat membahayakan rakyat Genoveva.


Aspek kesehatan adalah bidang yang memperdalam ilmu pengobatan dari teknik sihir, dan mempelajari berbagai macam jenis tanaman herbal untuk menciptakan berbagai macam potion.


Aspek pendidikan adalah bidang yang fokus pada ilmu pengatahuan untuk kemajuan teknologi. Dan teknologi ini diharapkan dapat memajukan segala aspek dalam kerajaan Genoveva.


Dan yang terakhir adalah aspek keamanan, yang dimana adalah bidang yang berfokus untuk mengayomi rakyat Genoveva.


Dari masing-masing aspek akademi khusus ini, mereka memiliki seorang Pembina yang akan mengawasi, serta mengajari para murid selayak seorang guru.


Lewis sendiri adalah seorang pembina akademi khusus dari aspek militer, sementara Theron pembina dari aspek keamanan.)


Mendengar Theron Brontes yang akan menjadi pembinanya, Adam kembali tersentak. “Tidak mungkin.” Ucap Adam dalam hatinya.


***


Adam dan Antonio kemudian dipersilahkan untuk kembali kebarisan, kemudian upacara kelulusan dilanjutkan dengan memberikan sebuah sertifikat kelulusan dan menyanyikan hymne akademi.


Setelah acara selesai, para murid dipersilahkan berkumpul dengan teman-temannya, yang mungkin ini adalah saat terakhir mereka bersama. Sementara Adam dan Antonio dipersiapkan untuk langsung berangkat ke akademi khusus yang terletak di ibu kota kerajaan Genoveva.


Sesaat sebelum Adam dan Antonio berangkat, seluruh murid berkumpul untuk mengucapkan beberapa kata untuk perpisahan mereka.


Terlebih kepada fans Antonio, mereka sedihdan juga senang dengan kepergian Antonio.


Tak lupa juga dengan Marco, Tristian, dan Clara yang mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka.


Mendengar itu, Antonio langsung meninggalkan kerumunan siswi akademi, dan menghampiri Amalia dan Adam.


“Kalian disana baik-baik ya.” Ucap Amalia.


Namun, Adam tidak bisa mengucapkan sepatah kata didepan Amalia, Adam merasa sedikit sedih dengan dirinya sendiri melihat orang yang selalu membantunya kini akan berpisah.


Tetapi Antonio terlihat biasa saja dengan perpisahan mereka.


“Adam, apa kamu sudah siap?” Tanya Lewis yang menghampirinya.


Sementara itu Theron yang berada disamping Lewis hanya menatapnya Adam dengan mata tajamnya. Adam masih bingung, kenapa Theron menatapnya. “Apakah ada yang aneh?” Pikir Adam.


Lewis kemudian mengeluarkan sihir teleportasinya. “Magic of Path - Teleportation.” Ucap Lewis.


Lingkaran sihir muncul mengelilingi Adam, Antonio serta pembimbing Lewis dan Theron.


“Baiklah, kita akan berangkat sekarang.” Ucap Lewis.


***


Disebuah mansion sihir Theron sedang duduk santai bertemankan secangkir kopi hitam dan 2 potong roti bagel sambil menikmati pemandangan matahari terbenam dari balkon mansion.


“Satu lagi hari yang melelahkan, akhirnya selesai juga.” Ucap Theron sambil meraih cangkir kopi hitamnya.


*Slurrrp*


Theron menyeruput kopinya dengan perlahan, dan mengambil sepotong roti dan langsung menikmatinya.


“Oh, ini enak.” Ucap Theron.


*Tap Tap Tap*


Terdengar suara langkah kaki dari lorong mansion yang menggema hingga balkon tempat Theron bersantai.


“Jika kau ingin meminta roti bagel ku, maaf kawan ini roti terakhirku.” Ucap Theron kepada seseorang yang menghampirinya.


“Hahaha… Aku tidak bermaksud untuk meminta rotimu.” Ucap Lewis yang datang menghampiri Theron.


“Lalu, kenapa kau kemari?” Tanya Theron sambil kembali menyeruput kopi hitamnya.


Lewis melirik ke Theron. “Memangnya aku tidak boleh untuk bertemu dengan kawan lamaku?”


Rasa curiga Theron semakin kuat, kini Theron menatap mata Lewis.


Melihat Theron yang mencurigainya, Lewis pada akhirnya tidak bisa menyembunyikan maksud dari kedatangannya.


“Baiklah, aku datang untuk meminta bantuan mu.” Ucap Lewis.


“Kemarin aku baru saja menggelar ujian masuk akademi khusus di akademi Roraima.”


“Disana, ada dua orang anak yang menjadi perhatian ku, tetapi aku hanya membutuhkan satu orang, akan sangat disayangkan jika dia tidak bisa lanjut ke akademi khusus. Dan aku teringat kalau kamu masih butuh satu orang siswa lagi untuk melengkapi kelas mu kan?”


Mata Theron semakin tajam menatap.


Begitu juga dengan Lewis yang tiba-tiba mimik wajah menjadi serius, membalas tatapan tajam mata Theron. “Aku ingin kamu menjadi pembimbingnya di akademi khusus mu.” Ucap Lewis.


Lewis dengan sekejap langsung merubah mimik wajahnya, kini dia tersenyum kepada Theron. “Boleh ya?” Lanjut Lewis.


Theron merasa sedikit kesal karena untuk mencari siswa akademi khususnya adalah tanggung jawab dia sebagai pembina, tetapi Theron tidak bisa menolak karena Lewis adalah anggota dewan sekaligus Jendral sihir (bisa dibilang Lewis adalah atasan Theron.)


“Hmph. Memangnya dia bisa apa? Sampai kau menyuruhku untuk jadi pembimbingnya.” Ucap Theron.


Lewis dengan santai mengambil sisa satu potong roti bagel milik Theron.


Theronpun langsung kesal. “HEY!” Teriak Theron.


“Kau mungkin tidak akan percaya, tetapi adik ku Pharsa sampai dibuat ketakutan karenanya.” Ucap Lewis.


Theron langsung tersentak mendengar itu, mengingat kalau Pharsa adalah murid akademi khusus terbaik tahun lalu.