The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Ujian #1



Mataharipun telah terbit. Adam kembali kerumahnya dan bersiap untuk pergi ke akademi dan juga ujian akhir sudah sangat dekat.


“Ibu aku berangkat!” Adam pamit kepada ibunya untuk berangkat ke akademi.


Adam menjalani sisa waktunya diakademi dengan sangat baik.


Dia tidak menyia-nyiakan waktunya sedikitpun. Selama itu juga ia lebih banyak menghabiskan waktunya di akademi, dan perpustakaan dari pada dirumahnya sendiri, untuk melatih dan belajar menggunakan sihir miliknya lebih dalam.


Dia berlatih bersama Antonio dan Amalia di akademi, atau di lahan kosong tempat mereka dulu pertama bertemu, sampai lupa waktu hingga hari menjadi gelap.


Dan ketika dirumah, Adam menghabiskan waktunya hanya untuk belajar dikamarnya. Membaca teori sihir, sejarah sihir, penggunaan sihir, dan lain-lain.


Buku demi buku Adam baca dan terkadang dia sampai lupa waktu. “Okee!!…” Adam sangat bersemangat untuk mengikuti tes terakhirnya ini. Dia sangat berharap bisa masuk ke akademi khusus dan menggapai cita-citanya.


Irene juga terkadang yang lewat didepan kamar Adam, dan mengintip anaknya yang sedang belajar dengan gigihnya.


Ini semua dilakukan oleh Adam untuk bisa lulus dan masuk ke akademi umum. Irene hanya bisa berdo’a dan mendukung yang terbaik untuk anaknya.


Dan seminggu pun sudah berlalu, hari untuk menjalani ujian akhir telah tiba.


Namun ayahnya Adam belum juga kunjung pulang, yang seharusnya perjalanan itu selama 2 hari, tetapi sudah seminggu ayahnya belum kunjung pulang.


Adam sangat mengkhawatirkan keadaan ayahnya, tetapi Adam sama sekali tidak ingin kehilang fokus untuk melanjutkan ke akademi khusus.


Karena Adam ingin ketika ayahnya pulang nanti dia ingin memberika sebuah kejutan untuk ayahnya yang pulang sangat terlambat.


Sebelum berangkat ke akademi untuk mengikuti ujian akhir Adam menghampiri Irene.


“Ibu do’akan aku.” Ia meminta ibunya untuk mendo’akannya agar ia dipermudahkan dalam ujian itu.


“Ibu akan selalu mendoakanmu.” Ucap Irene sambil memeluk Adam.


Adam membalas pelukan Irene. “Oh ya bu… kira-kira apakah ayah akan pulang malam ini?” Tanya Adam dengan wajah yang sedikit memelas karena sangat khawatir dengan ayahnya.


Melihat betapa kerasnya Adam belajar, dan berlatih selama seminggu ini, Irene sebagai orang tua merasa bersalah dengan Adam, karena membuat Adam, anak tunggal mereka harus belajar sekeras ini demi masa depannya, ditambah ayahnya (Jason) yang terkadang jarang sekali berada dirumah. Kemudian Irene memegang pipinya Adam.


“Kau tidak perlu cemas Adam. Kau fokus saja pada ujian mu. Ibu yakin ayahmu saat ini juga mengharapkan kau untuk mengejar mimpimu.” Ucapnya untuk menghibur Adam.


Mendengar itu, Adam merasa sedikit lebih baik. “Baiklah. Jika dia pulang nanti akan ku kejutkan dengan hasil ujian ku nanti.” Ucap Adam dengan senyuman percaya dirinya.


“Sudah kau cepat berangkat, nanti kamu telat.”


“Baik bu. Aku berangkat.” Ucap Adam.


Adam berangkat dengan penuh semagat dan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Dia membuka pintu depan rumahnya dan disana ternyata sudah ada Antonio dan Amalia yang menunggunya.


Adam berjalan sendiri, dan Ketika dia sampai didepan gerbang desanya…


Antonio mengangkat tangannya sembari menyapa Adam. “Yo! Apa kau sudah siap?” Tanya Antonio.


“Tentu saja!” jawab Adamsambil tersenyum lebar.


“Adam apa kau istirahat dengan cukup” Tanya Amalia dengan khawatir karena melihat wajah Adam yang sedikit pucat.


“Tenang saja aku baik-baik saja.” Jawab Adam kepada Amalia agar tidak perlu mengkhawatirkannya. Sebenarnya belakangan ini tidak memiliki jam tidur yang cukup.


“Adam! Apa kau yakin akan mendapatkan rekomendasi akademi khusus?” Tanya Antonio.


“Tentu saja. Aku belajar semalaman untuk itu.” Jawab Adam dengan wajah percaya dirinya sambil menyilangkan kedua tangannya.


Dan mereka berangkat ke akademi bersama.


Sesampainya mereka di akademi…


*Ding Dong*


Terdengar suara bell.


"Bagi murid tingkat angkhir diharapkan berkumpul di Aula akademi sekarang!” “Terimakasih"


"Sepertinya ujian akan segera dimulai.” Ucap Antonio. “Ayo cepat ke aula!"


"Iya ayo!" Seru Adam.


***


Mereka bertiga berjalan menuju aula akademi. Dan sesampainya di aula, terdapat beberapa murid disana.


Semakin lama, semua murid tingkat akhir berdatangan memasuki aula akademi.


"Baiklah para murid yang sudah berkumpul diaula, mohon baris sesuai kelas kalian!" Suruh guru itu.


"Adam kau kelas 3-1 kan? Barisan kelasmu ada disana.” Ucap Antonio. “Aku dan Amalia ada dibarisan kelas 3-3.”


"Baiklah!" Jawab Adam.


Ketika para murid tingkat akhir telah berkumpul dan berbaris sesuai kelas mereka masing-masing. Tibalah Kepala Akademi, dia pria paruh baya namun masih dapat berjalan dengan tegap, dia terlihat siap untuk menyampaikan pidatonya.


“Selamat pagi, murid Akademi umum Roraima.” Ucap Kepala Akademi dengan suara sedikit serak. “Hari ini seperti yang sudah dijadwalkan, akan dilaksanakan ujian akhir kelulusan akademi.” Wajah Kepala Akademi terlihat sangat serius.


“Tetapi…”


“Ujian kelulusan kali ini akan sedikit berbeda dari sebelumnya.” Lanjut Kepala Akademi.


Ujian pada tahun ini akan diawasi langsung oleh anggota dewan Akademi khusus.”


“Apa?” Semua murid di aula terkejut mendegar itu.


“Diawasi langsung?”


“Hey apa akademi sudah memberitahu ini sebelumnya?”


“Tidak. Aku baru saja dengar.”


Seluruh murid berbisik satu sama lain, dan suasana menjadi tidak kondusif.


“SEMUANYA MOHON KONDUSIF!” Seru salah satu guru akademi yang tampak kesal.


“Saya paham perasaan kalian, saya sendiri baru mendapat berita ini tadi pagi.”


Lalu mucul seseorang berjubah putih mewah, dengan lambang kerajaan Genoveva (Burung Merpati putih yang sedang mengepakkan sayap dengan api yang membara), dari balik Kepala Akademi.


“Untuk lebih jelasnya, akan dijelaskan oleh tuan Lewis.” Kepala Akademi kemudian sedikit bergeser dan memberikan podium pidato kepada Lewis.


Seorang guru muda yang sangat tampan, dengan tubuh tinggi tegap, dan rambut pirang panjang yang di kuncir, serta sorotan mata yang tajam mengarah ke seluruh murid akademi Roraima.


Semua murid terpaku dengan Lewis, mereka baru pertama kali melihat anggota bangsawan asli, kharisma dan wibawa yang dipancarkan sangatlah terasa.


Lewis berdiri di samping kepala Akademi.


Aura dan kharisma yang dipancarkan oleh Lewis benar-benar menunjukkan kalau dia adalah seorang bangsawan kelas atas.


Kepala Akademi menjadi gugup, keringat mulai membasahi keningnya. “Ku dengar dia adalah salah satu jendral sihir kerajaan, dan baru menjadi anggota dewan kerajaan." Ucap kepala akademi dalam hatinya sambil melirik Lewis.


"Ya aku tau itu, aku bisa merasakan dia bukan sembarang orang. Tidak heran di usia yang masih sangat muda.”


Kepala akademi memberikan podium kepada Lewis.


Wajah dan pandangan Lewis mengarah lurus kedepan.


“Perkenalkan saya Lewis River, aku adalah jendral sihir dan anggota dewan akademi kerajaan Genoveva.” Ucap Lewis dengan lantang dan jelas.


Semua murid mendengarkan pidato Lewis dengan seksama.


“Saya diutus untuk menyeleksi para murid di akademi ini untuk bisa lanjut ke akademi khusus kerajaan Genoveva.”


“Pada Ujian sebelumnya kalian akan mengikuti ujian seperti biasa, dan yang 10 murid terbaik akan berkesempatan untuk ikut tes masuk keakademi khusus.”


“Namun sekarang sedikit berbeda, seleksi akademi khusus dan ujian kelulusan akademi umum akan terpisah. Kalian akan melaksanakan seleksi akademi khusus terlebih dahulu.”


Semua murid mendengarkan pidato dengan seksama, terlbih Adam yang sangat ingin masuk ke akademi khusus.


“Untuk penyeleksian akademi khusus memiliki 2 tahapan, pertama kalian akan menjalani tes kekuatan sihir, dan jika kalian lulus kalian akan berkesempatan untuk ujian masuk akademi khusus bersamaku, dan bagi yang tidak lulus, akan menjalani ujian kelulusan. Akademi umum disini” Lanjutnya.


Adam terkejut dengan perkataan “Tes kekuatan sihir”.


Mengingat Adam tidak memiliki kemampuan sihir yang besar.


Ditengah-tengah pidatonya, perhatian Lewis sedikit tertuju kepada seorang siswa. “Hmmm.” Tatapannya tertuju kepada Antonio.


“Mungkin itu saja penjelasan yang berikan, ada pertanyaan?”


Semua murid terdiam, tidak ada yang bertanya satu pun, bukan karena mereka sudah paham mengenai pidato Lewis, melainkan mereka sedikit takut bertanya kepadanya.


“Kalau begitu kita langsung mulai saja ujiannya.” Ucap Lewis.