
“Jason kenapa?”
Samar-samar Adam mendengar seseorang menyebut nama ayahnya.
“Dia kenapa?”
“Tidak tahu.”
Dan semakin lama, semakin banyak orang yang mempertanyakan ayahnya itu.
Rasa penasaran Adam kemudian langsung berubah, Adam menjadi panik dan mulai menerobos kerumunan orang-orang.
Dan tepat didepan rumahnya, dengan pintu rumah yang terbuka lebar, terdapat Antonio dan ibunya yang sedang menangis kejar melihat keadaan Jason yang terluka parah serta tangan kanannya yang sudah tidak ada.
“AYAAAH!!!” Teriak Adam yang langsung berlari mnghampiri ayahnya itu.
Jason dengan setengah sadar. “Nak…” Balas Jason deengan suara pelan.
Irene yang juga berada disamping Jason, tak kuasa menahan rasa tangis dan langsung memeluk Adam dengan erat.
Sementara Antonio yang berada disana dengan mimik wajah menyesal, Antonio hanya bisa terdiam melihat keadaan sahabatnya itu.
Dan para warga desa yang melihat kondisi Jason, mereka merasa iba dan kasihan.
“Apa yang terjadi kepada ayahku?” Tanya Adam kepada Antonio.
“I-itu…”
***
Sebelum berangkat bekerja, Jason terlebih dahulu selalu memberi makan kudanya. Dan itu sudah menjadi rutinitas paginya.
Namun setelah selesai memberi makan kudanya, tiba-tiba Jason mendengar ada keributan didalam rumah. “Heey! ini masih pagi, jangan berisik!” Ucapnya dengan sedikit kesal.
“Ini yah si Adam susah sekali dibanguninnya.” Balas istrinya (Irene Gritz).
“Adam Cepat bangun nanti kamu terlambat masuk akademi!” Lanjut Jason.
“Iya... yaah.” Jawab Adam.
*Siiigh* Jason menghela nafasnya.
Jason kemudian berjalan dan duduk di meja makan.
Sehabis dari kamar Adam, Irene kemudain menuju dapur dan melanjutkan masaknya. “Adam itu selalu saja susah kalau dibangunin.” Ucap Irene dengan sedikit kesal kepada anaknya itu.
“Mungkin dia semalam belajar sampai larut.” Jawab Jason sambil menyereput kopi panas yang sudah disiapkan Irene diatas meja makan.
*Tok Tok Tok*
Tetapi Jason lebih tergoda oleh kopi panas dan membaca koran pagi yang baru saja dia dapatkan dari pengirim berita harian desanya tadi ketimbang membukakan pintu.
“Bu, Ada yang mengetuk pintu.” Ucap Jason hendak ingin menyeruput kopi paginya.
"Oh iya pak." Jawab Irene yang sedang menumbuk kentang rebus hingga halus, dan langsung berjalan kepintu depan dan membukakan pintunya.
*Clek*
Irene membuka pintu dan ternyata itu adalah ternyata itu adalah Amalia dan Antonio, kedua teman Adam sedari kecil.
"Adam! temanmu sudah datang menunggumi!" Irene meneriaki Adam agar Adam bergegas.
Tidak lama kemudian Adam keluar dari kamarnya dan siap untuk berangkat ke akademi.
"Ayah! Ibu! Aku sudah siap." Ucap Adam.
Setelah Adam berangkat kini gilaran Jason yang harus pergi bekerja.
Jason menyiapkan kudanya, kemudian mengikatkannya ke kereta kayu sederhana untuk dijadikan alat transportasinya.
“Bu… Ayah berangkat ya.” Pamitnya kepada istrinya.
Irene kemduian memberikan sebuah rantang kayu kepada Jason. “Ini yah bekalnya.” Ucap Irene.
Jasonpun mengambil rantang tersebut. “Terimakasih ya bu, Ayah berangkat.”
“Hati-hati dijalan.” Balas Irene.
Jason pergi dengan kudanya untuk pergi ke pasar untuk menawarkan jasanya sebagai kurir barang.
***
Sesampainya dipasar, suasananya sudah sangat ramai dan sibuk, orang-orang lalu lalang mengangkut barang dagangan atau ada yang menawarkan dagangannya kepada calon pembeli, dan tidak sedikit juga anak kecil yang berlarian disana.
Lalu Jason berjalan ke tempat dimana ia sering menunggu calon pelanggannya, yaitu di sudut pasar.
Tetapi disana sedang sepi tidak seperti biasanya yang selalu ramai dengan kuda-kuda dan kereta persis seperti Jason, yang berbaris sepanjang jalan itu.
“Tumben sepi, apa mereka kesiangan atau sedang mengantarkan barang?” Tanya Jason dalam hatinya.
Lalu Jason memakirkan kuda dan keretanya dan mulai menawarkan jasanya kepada orang-orang yang ada disana.
Namun tak lama, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah cukup bersama dengan 1 orang berpakaian rapih seperti bangsawan, dan 3 orang berselimut zirah besi lengkap mendekatinya.
Jason sedikit terkejut melihat mereka. “Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Jason.
Laki-laki tua itu sedikit tersenyum kepada Jason. “Apakah kamu bisa membawa kami ke kota Mertur?”
Mendengar itu, tanpa pikir panjang Jason langsung menyanggupi permintaan laki-laki tua itu. “Oh. bisa pak, silahkan.” Balas Jason.
Merekapun melanjutkan pembicaraan mereka mengenai harga untuk menyewa jasa Jason.
Setelah menyepakati harga, Jason meminta izin kepada laki-laki tua itu. “Tetapi tuan, izinkan saya pulang untuk mengambil perlengkapan yang lain dulu.” Ucap Jason.
Perjalanan ke kota Mertur sangatlah jauh, dan bisa memakan waktu selama 2 atau 3 hari perjalanan.
“Oh… baiklah lagipula kami tidak sedang terburu-buru.” Jawab laki-laki tua itu sambil mengaguk.
Jason kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih pak.”
*Splats*
Jason memecut kudanya untuk bergegas menuju kerumahnya agar tidak membuat pelanggannya menunggu terlalu lama.
*Tok Tok Tok*
Jason mengetuk pintu rumahnya dan tak lama Irene membukakan pintunya.
“Sudah pulang yah?” tanya Irene.
“Bu … tolong siapkan perbekalan ayah, soalnya ayah akan pergi dalam waktu yang cukup lama.” jawab Jason sambil masuk kedalam rumahnya dan mengambil tas yang biasa ia gunakan untuk perjalanan jauhnya.
Tanya banyak tanya Irenepun langsung melakukan apa yang diminta suaminya itu, dia menyiapkan sebalok roti putih dan air minum untuk perbekalan suaminya.
Jason pergi kedalam kamarnya dan mengambil baju ganti untuk perjalanannya.
“Ayah ini sudah siap perbekalannya.” Ucap Irene.
“Ah, terimakasih bu.”
“Memangnya mau kemana?” tanya Irene.
“Ayah dapat pelanggan yang ingin pergi ke kota Mertur, kira-kira perjalanan kesana butuh waktu sekitar 2 hari, jadi sepertinya aku akan pergi paling tidak selama 4 hari dan paling lama sekitar 6 hari.” Jawab Jason.
“Kalau begitu hati-hati diperjalanan nanti, dan jangan terlalu lama soalnya minggu depan Adam akan lulus dari akademi.”
“Iya bu, ayah usahakan akan pulang cepat. Kalau begitu ayah pamit ya.”
“Iyaa hati-hati.”
Dan akhirnya Jason pergi kembali kepasar menjemput pelanggannya yang sudah menunggunya dan langsung menuju kota Mertur.
***
*Drrr*
*Ktepak! Ktepak! Ktepak!*
Suara gesekan roda kayu dan hentakan telapak kuda mengiringi perjalan Jason menuju kota Mertur.
Kota Mertur adalah kota perdangan yang dimana tempat pusat penyaluran barang antar kota. Dan diperjalanan, sesekali Jason mendengar pembicaraan yang terbilang cukup penting. “Pak kepala, untuk laporan penjualan kita dari bulan kemarin mengalami peningkatan sebesar 6% dari bulan sebelumnya, dan ini menjadi bulan ke 6 yang mengalami peningkatan penjulan dalam 1 tahun.” Ucap laki-laki yang seperti bangsawan itu.
“Sepertinya mereka berasal dari golongan bangsawan, tetapi mendengar penjualan meningkat pesat seperti itu sepertinya mereka bangsawan penting.” Ucap Jason dalam hatinya setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan itu.
Lalu tibalah Jason di percabangan jalur hutan Auda. Terdapat 2 jalur yang dimana masuk melewati hutan Auda dan jalur yang memutari hutan Auda. Jasonpun memberhentikan kudanya.
“Kenapa pak?” Tanya laki-laki tua itu.
“Ini tuan, Anda mau kita jlan memasuki hutan atau jalan memutarinya?” Tanya Jason.
“Sebenarnya kita tidak sedang terburu-buru, tetapi jalan memutar akan memakan waktu lebih.” Ucap si laki-laki tua.
“Kita lewat jalur masuk kedalam hutan saja pak, lagi pula kita membawa 3 orang pengawal. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ucap laki-laki bangsawan itu.
Jasonpun menuruti permintaan pelanggannya dan menarik tali kudanya menuju jalur memasuki hutan.
Perjalanan Jasonpun berlangsung tanpa kendala, dan tak terasa hari sudah mulia gelap.
Angin pun berhembus sedikit kencang, ditambah tidak ada cahaya bulan karena tertutup daun pohon hutan menambah suasana menjadi sedikit mencekam.
Jasonpun memperlambat laju kudanya dan menyiapkan barang yang sudah Jason siapkan dari rumah, Jason mengambil sebuah lampu pijar untuk menerangi jalan dihutan yang gelap.
“Pak sepertinya perjalanan dilanjutkan besok pagi saja.” Ucap laki-laki tua itu.
“Tapi tuan…” Belum selesai Jason berbicara, laki-laki tua itu memotongnya.
“Tidak apa-apa, sudah kubilang kita tidak sedang terburu-buru.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Baiklah, kita beristirahat disini.” Jawab sambil mengangguk.
Jasonpun langsung memberhentikan kereta kudanya di tempat datar hutan. Jason langsung mengeluarkan terpalnya yang sudah ia persiapkan dari rumah untuk alas duduk dan tidur untuk pelanggannya.
“Silahkan pak” Ucap Jason.
“Terimakasih” Balas laki-laki tua itu.
Kemudian Jason menuju bagian kolong kereta kudanya dan mengambil seikat kayu bakar yang dia simpan disana untuk dijadikan api unggun untuk menjadi penghagat pada malam hari.
“Wah, ternyata anda sudah menyiapkan semuanya ya.” Ucap laki-laki bangsawan yang terkesan kepada Jason yang begitu cekatan.
“Tidak kok pak biasa saja.” Ucap Jason dengan sedikit malu.
“Ngomong-ngomong siapa namamu?” Ucap laki-laki bangsawan itu.
Jason sedikit terkejut melihat seorang bangsawan yang tertarik untuk mengetahui Namanya. “Sa-saya Jason tuan, Jason Gritz.” Jawab Jason dengan sedikit terbata-bata.
“Jason ya.” Ucap Laki-laki bangsawan itu sambil menyodorkan jabat tangan untuk Jason. “Perkenalkan saya adalah Rio Belwick.”
Jasonpun menjawab jabat tangan Rio, yang kemudian Rio memperkenalkan laki-laki tua yang berada disampingnya. “Dan ini adalah tuan Hugo Belwick, dia kepala keluarga sekaligus gubernur perdagangan kota Mertur.”
Mendengar nama dan jabatan yang baru saja diucapkan Rio tadi, membuat Jason sangat terkejut.
“APA! GUBERNUR KOTA MERTUR?!?!” Ucap Jason dengan cukup keras dan membuat Rio yang ikut terkejut juga.