The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Perjalanan Ke Kota Mertur #5



*Prok Prok Prok*


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari balik hutan.


*Tap Tap Tap*


Suara langkah kaki yang berjalan mendekat kearah Deorsa dan Owen, yang ternyata adalah seorang laki-laki dengan jubah hitam muncul dari balik hutan.


“Waaah, kau hebat dapat mengalahkan kedua peliharaanku dengan cepat.” Ucap laki-laki itu.


Laki-laki itu menggunkan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, tetapi dia tidak memakai kupluk jubahnya, seakan dia sengaja untuk memamerkan bekas luka bakar pada wajahnya.


“Siapa ka-” Deorsa tiba-tiba tersentak, begitu juga dengan Owen yang merasakan sebuah aura negatif yang sangat besar dari laki-laki misterius itu.


Deorsa dan Owen langsung memasang kuda-kuda dengan senjata yang dihunuskan kearah laki-laki itu.


“Heey… kenapa kalian terlihat kesal begitu.” Laki-laki itu kemudian mengeluarkan tangannya dari balik jubahnya.


Mimik wajah laki-laki itu menjadi sinis. “Justru aku yang kesal, karen akalian telah membunuh peliharaanku.” Ucap laki-laki itu dan mengeluarkan cakar tajam di tangannya.


*SWOSH*


Laki-laki itu langsung melesat cepat kearah Deorsa, dan tanpad Deorsa sadari, laki-laki itu sudah ada didepan matanya.


Deorsa sangat terkejut melihat kecepatan laki-laki itu, mata Deorsa bahkan tidak bisa membandingi kecepatan pergerakannya.


*CRAT*


Sebuah serangan dari cakar laki-laki itu berhasil merobek perut Deorsa, yang padahal dia menggunkan zirah pelindung.


zirah itu sobek layaknya kertas, darahpun langsung mengalir dari luka Deorsa, tetapi Deorsa masih dapat menahan rasa sakitnya dan berusaha untuk menyerang balik dengan kapaknya.


*Bgom*


Tetapi laki-laki itu dapat menghindarinya dengan sangat mudah. “Kau memang kuat. Tetapi kau lambat.” Ucap laki-laki itu setelah melihat serangan Deorsa yang meninggalkan retakan ditanah dari serangannya.


Deorsapun merasa sangat kesal, karena ini pertama kalinya ada seseorang yang dapat melukainya.


“HEAAGH!” Owen tak berdiam diri, dia melompat keudara dan kemudian melesat cepat kearah laki-laki itu dengan pedangnya yang siap menebas kepala laki-laki itu.


*TING*


Suara lengkingan keras dari pedang Owen yang tertahan oleh ujung kuku cakar laki-laki itu membuat Owen sangat terkejut.


“A-APA!?” Ucap Owen yang sangat tidak percaya melihat itu.


Pedang Owen dibuat khusus menggunkan besi kualitas tinggi, dan ditanam sebuah sihir penetrasi agar dapat menembus segala macam zirah besi untuk melukai lawannya.


Tetapi kuku cakar dari laki-laki itu dengan mudah menahan serangannya. Laki-laki itu kemudian menyeringai ke Owen. “Apa kau ingin bermain juga?” Ucap laki-laki itu.


“Siapa laki-laki itu?” Ucap Hugo yang masih bersembunyi didalam kereta Jason.


Owen kemudian mencoba menyerang laki-laki itu kembali, tetapi serangannya masih dapat ditahan dengan cakarnya.


Deorsa kemudian meraih sakunya, dan kemudian mengambil sebuah botol kaca dengan cairan berwarna biru yang kemudian Deorsa minum.


Dan tak lama, sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul pada luka deorsa yang seketika menyembuhkannya.


“Hoooh… kau punya potion yah?” Ucap laki-laki itu.


“Owen!” Teriak Deorsa. “Gunakan formasi B.”


Mendengar itu, Owen kemudian membuat jarak cukup jauh dari laki-laki itu, kemudian mengarahkan telapak tangannya kea rah laki-laki itu.


“Magic of Wind-Driving Mist.”


Kemudian muncul lingkaran sihir hijau terang yang sangat luas, hingga Hugo, Rio, dan Jason juga ikut terkena area lingkaran sihir Owen. Kemudian lingkaran sihir itu mengeluarkan kabut putih tebal membuat penglihatan orang-orang menjadi sangat terbatas.


Dan tidak hanya itu, Deorsa mengeluarkan aura sihir coklat terang.


*BAK*


Deorsa menghentakan kakinya ketanah dengan kuat.


“Magic of Earth-Boundary Wall.


Lalu munculah banyak pilar dinding setinggi 3 meter yang mengelilingi laki-laki itu.


Tetapi laki-laki misterius itu hanya diam dengan senyuman tipis diwajahnya, menyaksikan kehebatan Deorsa dan Owen.


Tiba-tiba, dari balik kabut laki-laki itu merasakan sesuatu akan mendekat.


Dan sebuah batu besar melesat cepat kearahnya.


*Set*


Laki-laki itu pun melesat kekanan untuk menghidari hantaman dari batu besar itu.


Tetapi batu besar lainnya muncul dan laki-laki itu tidak sempat untuk menghindar, yang kemudain dia memukul keras batu itu hingga hancur berkeping-keping.


*BRAK*


“Hm?” Gumam laki-laki itu.


*Crat*


Sebuah serangan benda tajam dari balik kabut yang secara tiba-tiba membuat tangannya terpotong.


Laki-laki itu sedikit terkejut melihat tangannya yang terlepas dan jatuh ketanah.


“Hoooh… Kalian boleh juga.” Ucap laki-laki itu sambil tersenyum. “Kalian membuat kabut untuk membatasi pandanganku, dan pilar dinding untuk meredam suara yang dihasilkan oleh langkah kaki kalian.”


“Kemudian pria besar itu melakakuan serangan jarak jauh hingga membuat lawan jadi terfokus kepadanya, dan jika sudah lengah, pria berpedang itu akan melancarkan serangan jarak dekat.” Lanjut laki-laki itu.


Deorsa dan Owen pun terkejut, mendengar lawannya dapat membaca tak-tik mereka secara detail seperti itu.


Laki-laki itu kemudian mendongakkan kepalanya, matanyapun menjadi merah menyala dan taringnya mulai tumbuh keluar dari mulutnya. “Baiklah, jika kalian ingin bermain seperti itu. Aku akan mengikuti alur permainan kalian.” Ucap laki-laki itu dengan senyuman sinis.


***


Rio yang sedang bersembunyi, dibuat tidak dapat melihat apapun kecuali bayangan dari Hugo dan Jason yang berada disampingnya.


“Ini kabut milik Owen.” Ucap Owen.


“Benar, sepertinya dia cukup tangguh." Sambung Rio.


“Apa maksud anda tuan?” Tanya Jason.


“Itu adalah serangan kombinasi seragan milik Deorsa dan bawahannya, dan mereka menyebutnya kabut pembunuh.”


“Itu adalah kabut yang digunkan untuk melawan musuh yang dinilai berbahaya.” Sambung Hugo.


Jason terkagum mendengar itu, melihat seorang ahli sihir yang bertarung didepannya, Jasonpun teringat dengan Anaknya (Adam), yang dari dulu ingin menjadi seorang ahli sihir.


*Tang Ting*


*BRAAK BRUK*


Seketika suara hantaman benda keras, benda tajam menjadi sangat liar dari dalam kabut.


Yang kemudian secara perlahan suara itu mulai mereda, dan akhirnya mengilang.


“Wah, sepertinya sudah selesai.” Ucap Rio.


“Fyuuh…” Hugo menghela nafas panjang sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya. “Kita selamat.” Ucap Hugo.


Jason tiba-tiba menjadi semangat, dan percaya kalau Anaknya akan dapat menjadi ahli sihir seperti para pengawal itu.


Samar-samar sebuah bayangan mendekati kereta kuda Jason.


Hugo, Rio kemudian berdiri tegap untuk memberikan sambutan kepada pengawalnya itu yang telah berhasil mengalahkan musuh.


“Deorsa, kamu memang sangat bisa diandal-” Belum selesai berbicara, Rio tiba-tiba tersentak karena yang keluar dari kabut bukanlah para pengawalnya.


Begitu jugaa dengan Hugo yang sangat terkejut melihat itu.


Tubuhnya bergetar hebat, dan keringat mulai membasahi tubuhnya. “Tu-tunggu, di-mana para pengawalku?” Ucap Hugo dengan terbata-bata.


*Wuush*


Sebuah angin kencang tiba-tiba menerpa dan menyapu bersih kabut putih itu, dan terlihat Deorsa, dan Owen yang sudah terkapar tak sadarkan diri ditanah.


Tubuh Deorsa dan Owen sudah berlumur dengan darah, dan banyak luka sayatan kuku tajam dari laki-laki itu.


*Bruk*


Rio yang sangat terkejut, dibuat terjatuh lemas. Dia tidak percaya pengawalnya dapat dikalahkan oleh laki-laki itu.


Dan lagi, tidak ada bekas luka sama sekali pada tubuh laki-laki itu.


*Hup*


Laki-laki itu kemudian melompat kearah Hugo yang berada di kereta kuda milik Jason.


“Hmmm.” Laki-laki itu tersenyum lebar ketika melihat Hugo.


Tubuh Hugo seketika menjadi lemas, diapun juga ikut terjatuh.


Sementara itu, Jason yang melihat pelanggannya terjatuh ketakutan itu merasa kalau dirinya juga harus bertanggung jawab atas keselamatan para pelanggannya.


Jason kemudian mengepalkan tangannya, dan berusaha untuk memukul laki-laki itu.


Walau Jason sebenarnya juga takut, tetapi dia memasang wajah kesal dan marah. “PERGI KAU BRENGSEK!” Teriak Jason.


*Crat*


Sebuah cakaran menyabet wajah Jason.


*Crat*


Dilanjut dengan cakaran yang manyabet dari bagian dada hingga perutnya.


“AAAKKHHH!!!” Jason merintih kesakitan.


Melihat itu, ketakutan Hugo dan Rio semakin jadi.


*BRAK*


Tubuh Jason yang besar itupun terjatuh dari kereta kudanya ke tanah.


“Hmph.” Laki-laki itu terlihat sama sekali tidak tertarik kepada Jason.


Dan kemudian dia kembali menatap Hugo dengan sangat tajam.


“HEAAAAGH!” Jason kembali menyerang laki-laki itu dengan sebuah kapak kayu yang dia simpan dibawah kereta kudanya.


*CRAAAT*


“Eh? Kenapa tanganku terasa ringan?” Ucap Jason belum menyadari dengan apa yang terjadi.


Jasonpun melirik ke tangannya itu, yang ternyata sudah terlepas dari bahunya.


“Jangan ikut campur dengan urusanku.” Ucap laki-laki itu dengan tatapan sinis.


*Bruk*


Jason menjadi sangat syok, serta nafasnya menjadi sesak melihat salah satu tangannya yang terjatuh ketanah.


Tubuh Jason kembali terjatuh ketanah dan tidak sadarkan diri.


***


Perlahan-lahan, nafas Jason mulai bekerja normal kembali. Tubuh Jason kemudian merasakan sebuah getaran-getaran tipis, seperti sedang berusaha untuk membangunknanya.


Jasonpun menghiraukan getaran itu dan memilih untuk melanjutkan tidurnya.


Tetapi sebuah cahaya terang berusaha menembus kelopak matanya. Jason merasa sedikit terganggu akan hal itu.


Jason kemudian membuka kedua matanya sedikit demi sedikit, dan cahaya yang berusaha menembus kelopak matanya itu pun langsung menusuk ke mata Jason membuatnya menjadi silau.


Jason mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya tersebut, namun tidak bisa merasakan tangannya itu.


Jason mencoba melirik. “HAAAAAAAAA!!!!!” Jason teriak sejadi-jadinya.


Membuat sekelompok orang dengan seragam tentara kepolisian guild Polous masuk berlarian kedalam kamar Jason.