The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Babak ke 2



*DUUUAAARRR*


Sebuah Ledakan dahsyat terjadi. Membuat dinding batu Tristian hancur berkeping-keping, dan membuat tanah berguncang di area tersebut. Hawa panas yang ditimbulkan sanggup membakar pohon-pohon disekitar ledakan, dan para hewan yang berada di radius sekitar 1 kilometer pada lari ketakutan.


Sementara itu Amalia, Marco, dan Clara yang berada tidak terlalu jauh, mereka tidak merasakan panas sama sekali dari hawa panas yang dihasilkan dari ledakan tadi, serta pohon-pohon yang didekatnya tidak terbakar, sementara pohon yang lainnya terbakar membara.


Kejadian itu sangat cepat, ketika bola api Antonio meledak, area tersebut langsung tertutup kebulan asap hitam pekat dan langsung disusul hawa panas yang membakar sekitar.


"ADAAM!!! ANTONIOOO!!! TRISTIAAAN!!!" Teriak Amalia, Marco dan Clara.


Mereka terkejut dan panik melihat ledakan yang sangat besar dan mereka yang berjarak sangat dekat dengan ledakan itu.


Kobaran api dan kebulan Asap itu tidak tidak kunjung padam. Ditambah cuaca yang panas dan hanya angin sepoy-sepoy, membuat asap itu tidak cepat padam.


Marco, Clara mereka yang terlihat panik melihat Adam dan yang lainnya disana.


Tetapi yang lebih parah dari mereka adalah Amalia, air mata yang sudah mengalir ke pipi, dan nafas terengap-engap yang membuatnya susah untuk bernafas.


Dia melihat dengan jelas bahwa Adam berada tepat disamping Pharsa disana. "ADAAAAMMM!!!!" Amalia teriak sekuat tenaga.


Amalia kemudian berlari mendekati kebulan asap berniat untuk sesegera mungkin untuk mengobati Adam.


Namun Amalia ditahan oleh Marco dan Clara.


Dengan nafas tersedu-sedu. "Le-Lepaskan aku. Adam....Adam..." Ucap Amalia.


Marco menghalangi jalan Amalia berusaha menenagkan Amalia. "Tenang Amalia, disana sangat berbahaya, kobaran api masih menyala disana." Balas Marco.


Dan Clara yang memeluk Amalia "Iya, kita tunggu hingga asap itu hilang." Ucapnya.


Sementara Lewis hanya diam dan tetap menyaksikan kobaran api yang menyala-nyala tanpa mempedulikan apapun.


"Tapi...Adaaam..." Lanjut Amalia dengan tersedu-sedu.


***


Ledakan bola api yang sangat dahsyat itu belum pernah diciptakan Antonio sebelumnya.


Antonio kelepasan meluapkan seluruh sisa energi sihirnya dan akhirnya menciptakan sihir tingkat atas yaitu (Magic of Flame- The Great Fire Ball) tanpa disadarinya.


Antonio yang kehabisan energi sihir dan setengah pingsan hanya tertunduk lemas ditanah. dan ketika bola api itu meledak dia tidak dapat berbuat apa-apa.


Sementara Tristian yang juga telah banyak menggunakan energi sihirnya tertunduk lemas ditanah.


dia sempat ingin menggunakan sihir dinding tanahnya tetapi tubuhnya sudah tidak kuat lagi.


sehingga dia hanya bisa menyaksikan Adam yang tepat berada disamping Pharsa.


5 menit berlalu dan asap mulai menipis, dan terlihat 2 orang yang sedang membopong satu orang disana.


Ketika amalia melihat itu Amalia kemudian mendorong Marco dan langsung menghampiri mereka. "Adam!" teriak amalia sambil berlari.


Diikuti juga dengan Clara, dan Marco setelahnya. "Amalia tunggu." Ucap Clara.


Setibanya Amalia sampai disana, Adam sudah tidak sadarkan diri, Antonio kemudian memerikasa denyut nadi pada lehernya, tetapi dia tidak merasakan apapun disana.


Tristian sangat terkejut dan langsung menempelkan telinganya ke dada Adam untuk mendengarkan detak jantungnya. Tristian terkejut ketika mendengar detak jantung Adam. "Detak jantungnya sangat lemah." Ucapnya.


Amalia kemudian langsung menggunakan teknik sihirnya, dia menaruh keduatangannya didepan dada dan merapatkan kedua telapak tangannya. kemudian muncul gelembung air berwarna biru terang. Dan Amalia langsung menempelkan gelembung air itu ke dada Adam.


"Magic of Water-Holy Healing" Ucap Amalia.


Clara kemudian menghampiri Antonio yang langsung tergeletak ditanah setelah membopong Adam.


Dengan nafas terengah-engah dan mata yang sudah sayu. "A-Adam, A-dam."


Dengan wajah sedikit panik, Clara mencoba untuk menenangkan Antonio. "Tenanglah, Amalia sedang berusaha untuk mengobatinya."


Antonio meneteskan air mata, dia benar-benar menyesal akan perbuatannya itu.


Clara kemudian membuat segel tangan dan kemudian muncul lingkaran sihir berwarna biru toska tepat diatas kepala Antonio. "Magic of Water-Regeneration" Ucapnya.


Kemudian muncul butiran-butiran energi sihir yang berjatuhan pada lingkaran sihir itu.


(Kemampuan Holy Healing Amalia adalah kemampuan untuk menyembuhkan luka fisik seperti Adam dan Kenrick yang mendapat luka yang sangat serius akibat serangan sihir. Sementara Regeneration milik Clara adalah untuk meregenerasi energi sihir seseorang, mengingat Antonio yang hampir memakai seluruh energi sihirnya. Jika energi sihir seseorang benar-benar habis maka tubuh akan menjadi lemah dan butuh beberapa hari untuk memulihkan kondisi tubuh kembali, dan yang terburuknya adalah seseorang akan mengalami koma.)


Sementara Marco mendekati Tristian yang berada disebelah Adam. "Tristian Apa kau baik-baik saja."


"Iya, aku baik baik saja." Balas Tristian dengan wajah yang masih terkejut dengan kejadian itu.


"Bagaimana itu bisa terjadi." Tanya Amalia.


"Sungguh. itu diluar dari rencana sebelumnya." Kemudian Tristian menceritakan semuanya, dan tidak ada yang menduga kalau hal ini akan terjadi.


Semua orang mendengakan kepalanya kelangit. "Apakah akan turun hujan?" Ucap Clara.


Semua bergeming menatap langit, dan tak lama, kilat pun muncul dan mulai menyambar satu-persatu.


*JDAAR*


Dan semakin lama petir menyambar semakin banyak seperti akan ada badai yang akan menerjang.


Tetapi semkin diperhatikan, petir itu tidak seperti petir yang bisa mereka lihat ketika sedang terjadi badai dan Marco menyadari itu (Karena memiliki elemen petir).


Dari balik dalam hutan, dia merasakan energi petir yang sangat kuat, dan itu baru pertama kalinya dia merasakan kekuatan sebesar itu.


"Disana!" Teriak Marco sambil menunjuk kedalam hutan arah energi itu berasal.


Semua orang sontak menoleh kearah yang Marco tuju, dan tidak butuh waktu lama semuanya juga merasakan energi sihir yang dengan apa yang Marco rasakan.


Dengan wajah sangat kesal Antonio menyadari itu. "Pharsa." Ucap Antonio.


"Hah? Pharsa?" Ucap Tristian.


"Bukankah dia sudah terkena telak seranganmu tadi, bagaimana bisa?" Ucap Marco.


Dan dari balik hutan itu Pharsa berjalan keluar dari dalam hutan.


tidak ada luka seperti seperti sebelumnya dia muncul dengan kondisi prima seperti pertamakali datang.


"Seranganmu tadi boleh juga." Ucapnya.


Semua orang terkejut dengan kemunculannya.


"Hey, bukankah ujian sudah selesai, kau terkena telak dalam serangan barusan." Teriak Marco.


"Walau terkena telak, bukan berarti aku kalah bodoh." Balas Pharsa.


"Kak Lewis, bagaimana ini." Teriak Clara.


Lewis berada tetep di tempatnya, tidak bergerak sama sekali, dia hanya diam dan memerhatikan. "Apa yang dikatakan Pharsa benar, ujian belum selesai sebelum kalian mengalahkan Pharsa atau menyerah kepada Pharsa." Balas Lewis dengan santainya.


Semua seketika terdiam, mereka kesal, marah, dan tidak percaya dengan apa yang Lewis katakan. Terutama Antonio, yang melihat Adam terluka parah dan tak sadarkan diri karena serangannya.


"SIAAAL!" Ucap Antonio dalam hati.


Sempat terlintas dipikirannya kalau pertarungan dilanjutkan akan menambah korban lagi, Antonio ingin menyerah dan tidak akan melanjutkan ke akademi khusus.


Tetapi teringat sesuatu kalau Adam sangat ingin masuk ke akademi khusus, dan dia merasa bertanggung jawab atas perbuatannya.


Antonio kemudia mencoba utnuk berdiri.


Clarapun sedikit terkejut. "A-Antonio, pengobatanmu belum selesai."


Tubuh Antonio belum sepenuhnya pulih meski seluruh tubuhnya terasa lemas, dia memaksakan untuk berdiri tegap.


"Haah...Haah..." Walau hanya untuk berdiri, sudah membuat nafas Antonio sedikit terengah-engah.


"Antonio." Ucap Clara sambil memberi isyarat untuk tetap memulihkan keadaannya dengan sedikit menarik bajunya.


Tetapi Antonio tidak menghiraukannya.


Tristian yang melihat itu, tanpa berkata sepatah katapun dia juga ikut berdiri.


"Bukankah kalian kurang satu orang." Ucap Marco yang tiba-tiba ikut berdiri bersama mereka.


Antonio sedikit terkesima dengan kedua temannya, mereka memiliki nyali yang kuat walau mereka sadar kalau mereka tidak mampu untuk mengalahkan Pharsa.


"Marco bukankah kau sudah menyerah diawal. kenapa kau ikut-ikutan sekarang." Tanya Tristian.


"Yaah, aku tau kalau aku tidak sekuat kau maupun Antonio." Jawab Marco.


"Tetapi setelah melihat Adam yang tetap ikut bertarung hingga akhir, sampai mempertaruhkan kesalamatannya kau sedikit malu kepada diriku sendiri." Lanjutnya.


Mendengar itu, membuat Tristian sedikit tersenyum. "Akupun juga tidak percaya dengan itu" Balas Tristian sambil melirik ke Adam.


Antonio sudah kembali mengatur nafasnya, dan kemudian mendekati Tristian dan Marco. "Oke. mari kita selesaikan ini."


Sambaran petir kembali muncul dan kini petir mulai tidak terkendali. "Hooooh." Pharsa menyeringai.


Antonio menoleh kearah Lewis yang hanya sibuk menonton mereka. "Hey, tidak apa-apa kan jika kita ganti pemain?"


Lewis sama seklai tidak menanggapi pertanyaan Antonio.


"Maka akan kuanggap itu 'iya'." Lanjut Antonio.