
*Brak*
Adam mendobrak pintu depan rumahnya.
“AYAH! IBU!” Teriak Adam.
“Ada apa Adam. Kenapa kamu mendobrak pintu rumahnya?” Ucap Irene dari dapur.
“IBU, KAMU TIDAK AKAN PERCAYA INI.” Ucap Adam dengan semangat yang berapi-api.
“AKU LULUS BU. AKU LULUS MASUK AKADEMI KHUSUS.”
“HAAH!?” Teriak Irene yang sangat terkejut dan tidak percaya.
“Ada apa pagi-pagi gini sudah ribut.” Ucap Jason yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Adam kemudian memperlihatkan surat yang baru saja dia dapat kepada orang tuanya.
“INI YAH, AKU LULUS MASUK KE AKADEMI KHUSUS.” Ucap Adam.
Adam sangat Bahagia, begitu juga dengan ibunya (Irene) yang selalu berdo’a untuk kelulusan Anaknya.
Irene kemudian memeluk Adam dengan sangat erat. “Selmat nak.” Ucap Irene.
*Tap Tap Tap*
Jason menghampiri Adam dan Irene, kemudian dia mengambil surat pengumuman itu dan membaca isi surat itu.
Wajah Jason sangat serius ketika membaca isi surat pengumuman itu, seperti benar-benar ingin tidak ada kalimat kata yang terlewat.
“menyatakan Adam Gritz LULUS” sebuah potongan kalimat yang terus dibaca oleh Jason secara berulang-ulang.
Melihat ayahnya itu, Adam menjadi sedikit bingung, kenapa dia terlihat tidak senang seperti Ibu dan dirinya.
Jason kemudian menoleh ke Adam dengan wajah yang sangat serius. “Adam, kamu yakin ingin menjadi seorang ahli sihir?” Ucap Jason.
Seketika wajah gembira Adam dan Irene langsung pudar. “Ayah?” Ucap Irene yang terkejut mendengar ucapan suaminya (Jason.).
“A-Apa maksud ayah?” Tanya Adam balik.
Jason kemudian menyodorkan luka-lukanya kepada Adam, termasuk juga tangan kanannya yang telah hilang. “Kamu tahu luka yang ayah dapatkan ini.” Jason mulai meninggikan suaranya.
Adam semakin bingung dengan apa yang terjadi.
“Ayah sudah.” Ucap Irene yang berusaha menenangkan Jason.
“Sebaikanya kau tidak usah bermimpi menajadi ahli sihir.” Ucap Jason.
Jason kemudian masuk kedalam kamarnya, yang kemudian langsung diikuti oleh Irene. “Ayah, tunggu…” Ucap Irene.
Adam yang masih terkejut dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya, hanya bisa terdiam di ruang tamu, bersama dengan surat pengumumannya yang sudah dikucel dan dilempar kelantai oleh Jason.
Terdengar dari ruang tamu, suara Jason dan Irene yang tengah mengobrol, namun suara itu tidak terlalu jelas apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
Adam termenung beberapa saat dirang tamu. Tak lama Irene keluar dari kamar Jason seperti habis menangis, yang kemudian menghampiri Adam di ruang tamu.
“Adam, ini adalah keputusanmu. Jika kamu ingin melanjutkannya, kamu harus meyakinkan ayahmu.” Ucap Irene dengan tersedu-sedu.
***
Adam kemudian merenungkan apa yang sebenarnya terjadi. “Apakah ini ada hubungannya dengan penyerangan yang ayah alami?” Pikir Adam.
Setelah itu dia mencoba mencari sebuah alasan untuk meyakinkan ayahnya agar Adam bisa lanjut ke akademi khusus. “Apakah aku harus memberitahunya?” Pikir Adam kembali.
Namun Adam langsung membuang pikiran itu, yang mungkin saja jika dia memberitahu Jason, masalah akan menjadi semakin rumit.
Adam menunggu Jason untuk keluar dari kamarnya di ruang tamu, tetapi Jason sama sekali tidak keluar dari kamarnya.
Hari sudah sore, Adam berinisiatif untuk memberi makan kudanya yang memang sudah waktu makan malam untuk kudanya. (Kuda peliharaan Adam diberi makan 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore.)
*Ngiik*
Kuda Adam mendengus saat melihat Adam membawakan jerami kering.
*Set*
*Ngiiiik*
Kuda Adam kembali mendengus.
“Makan yang banyak yah.” Ucap Adam sambil mengelus-ngelus punggung kuda miliknya.
Namun tak lama.
“Crek*
Terdengar suara pintu luarnya yang dibuka oleh seseorang, yang ternyata adalah Jason yang akan memberi makan kudanya, tetapi Adam sudah memberinya makan terlebih dahulu.
Melihat kudanya sudah diberi makan oleh Adam, Jason langsung membalikan badannya, dan ingin kembali masuk kedalam rumah.
“Ayah tunggu!” Teriak Adam.
Jasonpun langsung memberhentikan langkahnya. “Kenapa?” Tanya Jason tanpa menatap dan membalikan tubuhnya ke Adam.
Tetapi walau Jason sudah berhenti, Adam malah tidak bisa mengeluarkan kata-kata dalam mulutnya. Seakan mulutnya sangat berat untuk digerakan.
Adam dan Jason sempat berdiam-diaman beberapa saat, dan Jason kembali melangkahkan kakinnya dan masuk kedalam rumah.
“Ayah aku ingin ke akademi khusus!” Teriak Adam dengan sedikit keras.
Mendengar itu, Jason kembali memberhentikan langkahnya, dan kemudian dia membalikan tubuhnya menoleh ke Adam.
“Aku tidak peduli jika ayah melarangnya, aku akan tetap pergi ke akademi khusus dan menjadi seorang ahli sihir.” Jelas Adam dengan wajah seriusnya.
Jason kemudian, menghampiri Adam, dengan wajah kesal. “Adam, kamu tidak tahu apa-apa tentang sihir.” Ucap Jason.
“Sihir adalah senjata mematikan yang dapat membunuh orang-orang. Tidak peduli sehebat apa sihirmu iti, karena diluar sana pasti ada orang yang tidak suka kepadamu, dan kau bisa saja dibunuh olehnya.”
“DAN LAGI, KAU ITU TIDAK PUNYA BAKAT SIHIR!” Teriak Jason.
Mendengar itu, seketika dada Adam terasa sesak, dia tidak menyaka kata-kata itu kelaur dari ayahnya sendiri.
Tetapi Adam berusaha untuk tidak termakan oleh ucapan ayahnya, dan mencoba untuk menggerakan mulutnya dan mengeluarkan semua apa yang sudah Adam pikirkan.
“Ayah aku tidak peduli ucapanmu itu, tetapi ini adalah kesempatan sekali seumur hidupku untuk melangkah lebih jauh untuk meraih apa ayng aku inginkan.” Balas Adam.
“Sihirku memanglah sangat lemah dan mungkun aku tidak berbakat sama sekali. Bahkan sihirku tidak bisa mengalahkan Antonio, namun dengan sihirku yang seperti ini, aku justru diterima di akademi khusus, bukankah ini adalah takdir unutuk ku?” Lanjut Adam dengan sedikit meninggikan suaranya.
Emosi Jason semakin meluap. “Takdir? TAHU APA KAMU SOAL TAKDIR?”
Jason tidak menyaka kalau Adam akan menyakalnya sampai sekeras ini, Jason menatap mata Adam, ini pertama kalinya Jason melihat keseriusan pada mata Adam.
Melihat keseriusan pada mata Adam, seketika membuat amarah Jason menjadi luluh. “Adam, ayah melakukan ini untuk kebaikan kamu.” Air mata Jason mulai membendung.
Dan kemudian air matanya mulai jatu membasahi pipinya. “Kamu masih bisa melanjutkan hidup didesa ini, kamu tidak perlu bertemu dengan orang-orang aneh yang memiliki sihir diluar nalar.” Ucap Jason dengan sedikit tersedu.
“Ayah punya beberapa kenalan yang bisa membuatmu langsung bekerja, dan kamu bisa melanjutkan hidup disini, bersama ayah dan ibu.” Lanjut Jason.
Serangan yang Jason alami, meninggalkan luka yang sangat dalam, bukan hanya luka fisik teteapi mental Jason juga.
Jason tidak ingin jika anaknya akan bernasib seperti para tantara pengawal yang terbunuh mengenaskan seperti yang Jason lihat waktu itu.
Adam sedikit tersentak, Adam sangat mengerti dengan keadaan ayahnya yang ingin melindunginya, yang dimana Adam adalah anak satu-satunya.
Adam kemudian maraih tangan Jason, dan menggenggamnya kuat-kuat. “Ayah, jika kamu ingin aku hidup damai, maka kamu harus membiarkan aku untuk lanjut ke akademi khusus dan menggapai apa yang aku inginkan.” Ucap Adam dengan wajah serius.
“Aku berjanji, jika aku telah berhasil menjadi ahli sihir nanti, aku akan kembali dan hidup bersama dengan ayah dan ibu disini.” Jelas Adam. “Aku tidak akan pergi kemana-mana lagi.”
“Tetapi, bagaimana jika ada orang yang ingin mencelakakanmu?” Tanya Jason.
Adampun tersenyum. “mencelakakan ku? Memangnya aku ngapain samapi ada orang yang ingin mencelakakan ku? Aku pergi ke akademi khusus hanya untuk belajar.” Jawab Adam.
Mendengar itu, pikiran Jason perlahan-lahan mulai berubah. “Apa kamu janji kamu hanya ingin belajar disana?” Tanya Jason untuk memeperjelas janji Adam.
“Iya yah, aku hanya ingin belajar.” Jawab Adam.
Jason mengusap air matanya dengan tangan kirinya. “Baiklah kalau begitu.” Balas Jason dengan senyuman tipis diwajahnya.