
*Byuur Byuur Byuur*
Setelah makan malam Adam mandi, untuk membersihkan keringat setelah beraktivitas.
Dan tak lama Adam keluar dari kamar mandi sambil telanjang dada, dan menggosok rambut yang masih basah dengan handuk putihnya.
Walau sihir Adam sangat lemah, tetapi dia memiliki tubuh yang cukup atletis karena turunan dari ayahnya yang besar dan kuat, dan sewaktu kecil dia serih berlatih bersama Antonio. “Huuuh. Memang mandi malam itu sangat menyegarkan.” Gumam Adam.
“Adam jika sudah selesai, tolong tutup rumput kering dengan terpal didekat kandang!” Suruh Irene yang sedang mencuci piring.
“Ayah kemana bu?” Tanya Adam.
“Ayah sedang dalam perjalanan ke kota Mertur. Kemungkinan dia pulang 3 hari lagi.” Balas Irene.
(Kota Mertur adalah salah satu kota tempat transit barang perdagangan untuk dikirim ke kerajaan lain.)
“Oh.” Adam sudah tidak terkejut dengan itu, memang sudah menjadi pekerjaan ayahnya yang menjadi kurir antar barang. Terkadang Jason (Ayah Adam.) pergi selama berminggu-minggu karena jarak mengirim barang sangat jauh, dan sebelum pergi berangkat Jason selalu pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan perbekalan perjalanannya.
Adam kemudian memakai kaos putih polos dan langsung mengerjakan perintah ibunya.
Walau rumahnya hanya diterangi oleh lampu minyak, dia dapat melihat dengan jelas terpal yang dimaksud ibunya. “Terpal, terpal...” Gumam Adam.
*Set*
Adam langsung menutup rumput kering dengan terpal dan mengganjalnya dengan batu pada setiap sudur terpal, agar tidak terbang terbawa angin atau dimakan oleh binatang ternak milik tetangganya.
Setelah itu Adam langsung menuju kamarnya.
Adam melirik kearah mejanya yang terdapat buku (Sumber kekuatan sihir) yang dia pinjam beberapa hari yang lalu di perpustakaan akademi.
Pada buku itu terdapat pembatas halaman yang terjepit diantara halaman buku, yang sepertinya Adam belum selesai membacanya.
Namun tubuh Adam sudah terasa lemas, yang memang akhir-akhir ini selalu Adam rasakan. “Sepertinya hari ini aku langsung tidur saja.”
*BRUUK *
Adam melempar tubuhnya kekasur.
“Haaaah...” Adam menghela nafasnya sambil menatap langit-langit kamar.
Adam sedikit teringat kejadian beberapa saat yang lalu, Adam baru pertama kali melihat Antonio semarah itu, dan mengeluarkan sihir yang sangat dahsyat.
Adam mengangkat tangannya, dan menatap telapak tangannya cukup lama.
“Sepertinya aku tidak dapat lanjut ke akademi khusus.”
Semakin lama Matanya mulai terasa begitu berat, rasa kantuk Adam mulai menguasai tubuh Adam.
Adam menurunkan tangannya dan langusung pergi tidur.
***
*Wuuush*
Udara dingin mencoba masuk melalui sela-sela jendela kamar Adam. “Ukhh...” Dan sedikit demi sedikit angin dingin mulai memenuhi kamar Adam.
Selimut tipis atau bisa disebut kain tidak dapat menjaga kehangatan tubuh Adam selama tidur, Perlahan Adam mulai membuka matanya.
“HOAAAAM…” “Dingin sekali.” gumamnya.
Adam kemudian melihat kearah jam yang menggantung pada dinding kamarnya.
Dengan pandangan yang sedikit kabur, Adam berusaha untuk melihat jamnnya.“ Jam 4 pagi.”
Karena masih terlalu dini, Adam mencoba untuk kembali tidur, namun angin dingin yang sudah memenuhi kamar membuat Adam susah untuk tidur dengan nyenyak.
Adam kemudian bagun dari kasurnya.
*kreeet*
Kini Adam meraih kursi pada meja belajarnya dan berniat ingin menyelesaikan buku yang dia pinjam.
Namun tak ada 10 menit dia membaca buku, kini rasa bosan mulai mengganggunya.
“Haaah...” Adam menghela nafas panjang.
Adam kemudian mendongakkan kepalanya dengan mnyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Adam melihat cahaya kuning dari lampu minyak yang menerangi langit-langit kamar, Tak lama Adam memejamkan matanya.
*Tek Tek Tek*
Suara jam dinding kini yang mengganggunya, Adam kemudian berusaha untuk melihat Jamnya dengan posisi itu.
Walau samar, Adam dapat melihat dengan jelas jamnya menunjukkan pukul 04:30.
Ini adalah situasi yang Adam tidak suka, dia tidak tahu apa yang dia ingin lakukan. Adam mencoba memikirkan susatu untuk dilakukan sebelum berangkat keakadmi.
Dan tiba-tiba Adam teringat sesuatu. “Mungkin kesana akan membantu.” Ucap Adam.
Sebelum pergi, Adam menyiapkan pakaian dan jubah akademinya, jadi jika adam kembali Adam bisa langsung berangkat ke akademi.
*Clack*
Adam kemudian membuka pintu rumahnya pelan-pelan agar tidak membangunkan ibunya.
*Swoooosh*
Dan benar saja, udara udara dingin langsung menerpa Adam, tetapi dia sudah terbiasa.
“Ok.” Gumam Adam dan mulai berjalan kesebuah tempat.
Ditengah dinginnya udara, dan hanya diterangi lampu-lampu minya milik tetangga, Adam menyusuri desanya.
*Tap Tap Tap*
Adam berjalan sedikit cepat, untuk membuat tubuhnya sedikit berkeringat untuk menghangatkan tubuhnya.
Dan tibalah Adam disebuah lahan kosong yang berada cukup jauh dari rumahnya.
Lahan kosong yang terdapat 1 pohon besar yang menjulang keatas.
“Siapa itu?” Dan ternyata Adam tidak sendirian disana, terdapat seseorang yang sedang duduk bersandar dibawah pohon.
Adampun berjalan menghampirinya, yang ternyata itu adalah Antonio.
Semakin Adam mendekati, Adam semakin mengenali siapa *Dia*.
“Tidak bisa tidur?” Tanya Adam sembari berjalan mendekatinya.
Begitu juga dengannya yang sama sekali tidak menoleh sedikitpun ke Adam, “Begitulah.” Jawab Antonio.
“Apa yang kau lakukan dipagi buta ini?” Lanjut Antonio.
Adam kemudian duduk disebelah Antonio. “Hanya mencari udara segar.”
“Biasanya kau belajar ketika ada waktu kosong.” Tanya Antonio.
Adam juga besandar pada sisi lain pohon besar itu. “Ada kalanya juga aku malas untuk belajar, Bodoh.” Jawab Adam sambil bercanda. “Kau sendiri ngapain pagi buta gini dilahan kosong?” Tanya Adam balik.
Mendengar pertanyaan itu, Antonio sedikit tersenyum. “Lahan kosong ya?”
Adam meleirik ke Antonio. “Hmm?” Adam tidak mengerti apa yang dibicarakan Antonio.
“Yah… Setelah kejadian gila semalam, aku hanya menenangkan pikiranku disini.” Jawab Antonio.
“Jangan bilang kau belum tidur sama sekali.” Tanya Adam.
“Hey Adam, tadi kau bilang ini lahan kosong ya?” Ucap Antonio.
“Memangnya kenapa?” Tanya Adam balik.
“Kau tidak salah jika kalau menganggap ini hanyalah sebuah lahan kosong.”
Adam semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya Antonio bicarakan sekarang ini.
“Menurutku tempat ini penuh dengan kenangan.”
“Kenangan?” Tanya Adam yang masih tidak mengerti dengan pembicaraan Antonio
“Begitu banyak kenangan yang tersimpan disini. Dari mulai kita pertama bertemu disini, samapi saat ini.”
(Pertemuan Adam dan Antonio diawali ketika mereka masih berumur 5 tahun.
Ketika itu Adam dan Amalia sedang bermain bersama, ditemani oleh Jason (Ayahnya Adam) yang mengawasi mereka berdua sambil menjaga kudanya.
Adam dan Amalia bermain kejar-kejaran, mereka bermain melepas tawa dan canda riang gembira.
Dan ketika mereka sedang bermain, Adam melihat sebuah tempat kosong dan luas ditambah Adam melihat ada segerombolan anak disana, dan berpikir kalau bermain disana akan lebih menyenangkan.
“Hey Amalia, ayo kita bermain di sana.” Ucap Adam.
“Ayo.” Jawab Amlia dengan riang.
“Ok! Yang duluan sampai disana dia yang menang.” Ucap Adam yang langsung berlari kencang menuju lahan kosong tersebut.
“Adam kamu curang!” Teriak Amalia yang juga langsung berlari menyusul Adam.
Jason yang sedang sibuk dengan kudanya, mendengar teriakkan amalia. “Hey kalian mainnya jangan jauh-jauh.” Ucap Jason.
“Tidak kok ayah. Aku mau main di lahan kosong disana.” Jawab Adam.
Sementara itu, dilahan kosong tersebut ada 3 orang anak yang sedang berdiri mengitari seorang anak yang terlihat lebih kecil dan berbeda dengan mereka.
Salah satu dari mereka menggunakan sebuah kupluk berwarna hijau, satu lainnya bertubuh kurus dengan tahi lalat dipipi, dan satunya bertubuh besar serta kepala plontos.
Anak yang menggunakna kupluk menyentuh rambut seorang anak yang dia kerumuni. “Kau ini berbeda ya. Seluruh tubuhmu itu putih semua.” Ucapnya sambil menjambak rambut anak itu.
“Hey coba buka bajunya. Aku penasaran apakah benar seluruh tubuhnya itu benar-benar putih.” Ucap seorang anak bertubuh kurus.
“Tidaak! Hentikaan!” Teriak anak kecil itu sambil menangis dan memohon.
Tetapi mereka tidak mempedulikan ucapan permohonan itu dan tetap melanjutkannya.
Mereka mulai menarik-narik baju Anak itu sampai akhirnya sobek dan membuatnya terjatuh.
“Hentikaan!!” Ucap anak kecil berkulit putih dengan tangisannya makin menjadi.
Dan disaat itu juga Adam datang. “HEY HENTIKAAN.!!!” Teriak Adam dari kejauhan dan berlari ke anak yang sedang dibully itu.
Ke 3 anak itu teralihkan dengan suara teriakkan Adam. “Huh?” Mereka menoleh kearah sumber suara yang berada dibeakang mereka.
Adam mengerem langkahnya. “Kalian tidak seharusnya melakukan itu kepada anak kecil.” Ucap Adam.
Ke 3 anak itu melirik satu sama lain. “Siapa dia?” Ucap anak dengan kupluk hijau.
“Entah lah.” Jawab anak yang bertubuh kurus sambil mengangkat kedua bahunya.
Adam sangat marah dengan perbuatan mereka bertiga kepada anak kecil itu. “Tidak boleh kalian seharusnya tidak memperlakukannya seperti itu.” Ucap Adam.
Dan akhirnya perkataan Adam membuat seorang anak dengan tubuh besar menjadi kesal. “Apa kau ingin menjadi jagoan bocah?” Ucapnya.
“Kalian walaupun bertubuh lebih besar, tetapi sifat kalian seperti anak kecil.” Ucap adam.
Mendengar ucapan Adam, ke 3 anak itu terlihat sangat kesal “APA?”
mereka berjalan mendekati Adam “Jadi kau juga ingin dihajar hah? Bocah!” Ucap salah satu anak berbadan besar dan kepala plontos, sambil mengangkat dagunya dan melototi Adam.
Dan ketika ke 3 anak itu ingin menyerang adam. Amalia datang bersama Ayah Adam.
“Hey! apa yang kau lakukan!” Teriak ayahnya Adam.
Dengan badan yang tinggi dan besar ditambah janggut yang menutupi lehernya, membuat ke 3 anak yang ingin menyerang Adam ketakutan. Ditambah lagi dia berlari menuju kearah mereka.
Anak dengan tubuh kurus sudah ketakutan melihat Jason berlari mendekatinya. “Si-Siapa itu? Di-Dia sangat seram.” Ucapnya dengan gagap.
“Ti-tidak tau.” Jawab anak dengan kupluk hijau.
“Hey berhentilah mendorongku” Ucap anak bertubuh besar yang kesal karena tubuhnya terus didorong-dorong kedepan oleh ke 2 temannya.
“Lebih baik kita lari saja.” Bisik anak dengan kupluk hijau.
Kemudian dia melirik ketemannya bertubuh kurus.
“Aaaaa!!!” dia sudah lari meninggalinya.
Anak dengan kupluk hijau terkejut dengan temannya yang sudah berlari meninggalinya. “Heeey tunggu aku!” Dan dia ikut berlari menyusulnya.
“Eh?” Anak bertubuh besar yang mengetahui ke 2 temannya sudah lari terlebih dahulu, dia akhirnya ikut berlari juga setelah melihat rupa Jason. “Kalian ber 2 tunggu aku!!!”
*Sniff*Sniif*
Anak bertubuh albino itu masih menangis.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Adam sambil mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.
“Te- *sniff* Te-rima-kasih” Ucapnya sambil tersedu-sedu, dan menghapus air matanya.
Kemudia dia meraih tangan Adam. Lalu Adam menariknya untuk membantu dia bangun.
Jason menghampiri Adam. “Adam, siapa mereka?” Tanya Jason.
“Tidak tau yah, tapi mereka anak yang nakal.” Jawab Adam.
“Me-mereka anak dari rekan kerja ayahku.”
“Ooh… Jadi kau anak Pak Kenrick yah, kepala desa baru.” Ucap Jason.
Anak itu menggangguk sambil menghisap ingusnya. “Mmm” jawab Anak itu.
Kemudian Jason membungkukkan badannya. “Siapa namamu?” Tanya ayah Adam sambil menghapus air mata anak itu dengan tangannya.
“An-Antonio Br-ute.” Jawabnya dengan tersedu-sedu.
“Antonio yaa, Nama yang bagus.” Balas Jason.
“Aku Jason Brute. Dan ini-” Jason menepuk Pundak Adam. “Nak perkenalkan dirimu.” Suruh ayahnya Adam.
Lalu kemudia Adam memperkenalkan dirinya “Aku Adam Gritz salam kenal.” Ucap Adam sambil tersenyum lebar kepadanya.
“Ah iya ini Amalia emerald. Dia teman ku.” Lanjut Adam.
“Sa- salam kenal” ucap Amalia dengan malu-malu.
“Ha-Hallo.” Balas Amalia yang mengumpat dibelakang kaki Jason karena malu.)
“Oh iya, waktu itu kau dibully karena kau albino kan?” Ledek Adam. “Aku tidak percaya kalau kau bisa seperti itu, Hahahaha.”
“Hey waktu itu aku belum terlalu mengerti tentang sihir!” Balas Antonio.
“Hahaha, aku Bercanda” Ucap Adam.