
Aura sihir merah mulai meluap-luap pada tubuh Antonio. Dia merasa kesal karena Pharsa secara tidak langsung menghina Amalia.
Marco yang sangat khawatir dengan Antonio yang bisa membuat masalah akan menjadi lebih besar, dia berusaha untuk menenangkan Antonio. “Su-Sudah Antonio. Kita masih ada ujian yang harus diselesaikan.” Ucap Marco.
Antonio langsung menurutinya, aura sihir Antonio perlahan mulai hilang, dan Antonio kembali mundur dan kembali ke teman-temannya.
Ketika suasana sudah kondusif, Lewis melanjutkan ujian seleksi ke tahap ke 2. “Baiklah ujian seleksi tahap ke 2 akademi khusus.” Ucap Lewis.
“Adam, Antonio, Marco, Clara, dan Tristian.”
Suasana menjadi penuh tekanan, yang dimana ini adalah ujian terkhir mereka, dan selangkah lagi menuju akademi khusus.
“Kalian akan bertarung melawan Pharsa.”
***
Adam, Antonio, Tristrian, Marco, dan Clara terdiam untuk beberapa saat.
Aura sihir Antonio yang sudah hilang, kini muncul kembali. Tetapi auranya lebih merah dan panas dari sebelumnya. Antonio menyeringai lebar “Hehe. Ini yang aku suka.” Ucapnya.
Tetapi Amalia tidak bergeming sama sekali, melihat aura yang dikeluarkan oleh Antonio.
“Apa?” Ucap Marco dalam hati. “Ini sungguhan?”
*Set*
Tiba-tiba Clara mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Kak Lewis. Aku ingin mengundurkan diri juga. Sama dengan Amalia.”
Pernyataan Clara membuat teman-temannya terkejut, begitu juga dengan Marco. Dia sangat terkejut sampai membuka mulutnya.
“Mengundurkan diri? Kenapa?” Balas Lewis.
“Aku tidak sanggup jika harus melawan dia.” Balas Clara yang berdiri kaku.
“banyak sekali yang ingin mengundurkan diri.” Lewis kemudian menatap murid yang lain. “Ada lagi yang ingin mengundurkan diri?”
Keraguan dalam diri Marco kini muncul kembali. “Ba-Bagaimana ini.” Marco juga merasa kalau dia tidak akan bisa menang jika harus melawan Pharsa, yang mengeluarkan kilatan petir besar, sementara kekuatan sihirnya hanya sebatas untuk memberikan energi ke mesin penggiling gandum.
Marco melihat kearah Adam. “Adam, apakah kau akan lanjut juga? Bukankah sihirrmu juga sangatlah lemah.”
“Tetapi kenapa kau tidak mundur?”
“Jika tidak ada, maka ujiannya akan dilanjutkan.” Ucap Lewis.
Marco berpikir dengan keras, keringat mulai keluar dari keningnya. “AAAKH SIAL!” Ucap Marco dalam hatinya.
“Baiklah.” Ucap Lewis. “Sepertinya ada satu lagi yang mengundurkan diri.”
Kemudian Marco, Clara bergabung dengan Amalia dan berpisah dengan Adam dan yang lainnya yang akan melanjutkan ujian selanjutnya. Marco dan Clara tertunduk malu.
Pharsa tersenyum, “Sepertinya ini akan mudah.” Ucapnya dalam hati.
“Baiklah, aku akan menjelaskan peraturannya terlebih dahulu.”
“Para siswa seleksi akan bertarung 1 melawan 1 dengan Pha-”
“Sekaligus saja.”
Tiba-tiba Pharsa memotong penjelasan Lewis.
“Semakin cepat, semakin baik.” Ucapnya sambil tersenyum percaya diri.
“Apa kau yakin.” Tanya Lewis.
“iya.”
“Ok, Adam, Antonio, dan Tristian. Kalian akan bertarung melawan Pharsa. Dalam pertarungan, kalian dibebaskan menggunakan seluruh kemampuan kalian hingga lawan menyerah atau tidak dapat bertarung kembali. Dan jika kalian merasa tidak sanggup utnuk bertarung lagi, berikan isyarat dengan mengangkat tangan kalian, maka kalian akan dinyatakan menyerah dan gagal dalam ujian seleksi.”
Suasana menjadi tegang, Adam mulai merasakan pancaran energi kuat yang terbendung didalam diri Pharsa. Ini pertama kalinya Adam merasakan tekanan energi sihir sekuat ini.
Begitu juga dengan Marco, Clara dan Amalia yang merasakan juga aura sihir Pharsa.
“Ini gila, apakah tubuhnya sanggup membendung kekuatan sebesar itu?” Ucap Marco.
“Jika aku melawannya, sudah pasti aku akan kalah telak.” Ucap Clara.
Amalia sangat mengkhawatirkan teman-temannya yang akan bertarung melawaan Pharsa, terutama Adam. Yang dimana Adam saja selalu kalah ketika berlatih dengan Antonio.
Amalia kemudian menggenggam kedua tangannya ke dada dan memejamkan matanya, dia berdoa untuk keselamatan Adam dan yang lainnya.
“Tenanglah, kau pasti bisa Adam.” Ucap Adam dalam hati untuk menyemangatinya. “Ingat semua teori yang sudah kau pelajari selama ini.
Antonio yang awalnya sangat bersemangat, dia kini dia terlihat sangat berhati-hati. “Siaal, kekuatannya sangat berbeda dari pak tua itu.” (Jesper Eryk) “Apakah ini kekuatan bangsawan sesungguhnya.”
Dan Triastian yang sudah memasang kuda-kudanya agar siap menghindari serangan Pharsa.
“Hey Albino, kenapa kau terlihat panik begitu? Kemana semangatmu tadi?” Tanya Pharsa.
Kemudian Lewis mengangkat tangannya.
*Set*
“Ujian terakhir seleksi akademi khusus. Dimulai.” Sambil mengayunkan tangannya kebawah.
***
Ujian telah dimulai, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang bergerak untuk menyerang.
Adam dan yang lainnya, terlihat sangat waspada, padangan mereka sangat terpaku kepada Pharsa yang ada didepan mereka.
“Kalian kenapa diam?” Ucap Pharsa. “Cepatlah kalian maju, jangan membuang-buang waktu berhargaku.”
Namun tetap, tidak ada dari mereka yang berani maju untuk menyerang Pharsa.
“Haaah…” Kesabaran Pharsa mulai habis. “Jika tidak ada yang maju, maka aku yang akan maju.”
*BRZZZ*
Sebuah kilatan muncul dari tubuh pharsa. Dan dengan cepat kilatan itu membesar.
Tubuh Pharsa kini diselimuti oleh petir, dan dengan sekejap-. “Magic of Lightning - Lightning Crash”
Pharsa langsung menerjang Adam, Antonio, dan Tristian dengan sihir petirnya.
Tetapi tidak ada dari mereka yang siap untuk menghindari serangan Pharsa.
“Sial cepat sekali.” Ucap Antonio.
*ZRRAASSHH*
Tetapi Serangan Pharsa meleset dan membuat Pharsa melesat jauh kedalam hutan.
Ternyata Adam sudah mensiasati serangan Pharsa lebih awal, Adam tahu kalau pengguna sihir petir sangat mengandalkan dari kecepatan mereka untuk menyerang, sehingga Adam menggunakan sihir lumpurnya, untuk membuat tanah disekitarnya menjadi sedikit basah.
“Kerja bagus Adam.” Teriak Antonio.
“Whoaaa!.” Teriak Clara.
Dan tiba-tiba. “Dia kembali.” Ucap Adam.
*ZRRRAAASSSHHH*
Pharsa kembali melesat dengan teknik sihir Lightning Crashnya “Heaaaagh.” Pharsa melanjutkan serangannya kembali.
*Tap*
Kali ini Tristian menghentakkan kedua telapak tangannya.
*Ngung*
Dan sebuah lingkaran sihir berwarna coklat muncul di kedua pergelangan tangannya.
“Magic of Earth-Primal Wall” Tristian kemudian menghentakkan tangannya ketanah.
Dan dalam sekejap muncul sebuah dinding tanah besar dihadapannya, dan menghalangi seragnan Pharsa.
*DUUAAAR*
Dan tabrakan yang sangat besar terjadi, antara Primal Wall milik Tristian dengan Lihtning Crash milik Pharsa. Dan tembik Tristian hancur lebur dengan sangat cepat.
Asap dan debu berterbangan diudara sehingga penglihatan Pharsa menjadi terbatas. “Sial aku tidak bisa melihat.” Ucap Pharsa.
Kemudian tanah pijakan Pharsa menjadi basah, Pharsa berada di area sihir milik Adam yang lainnya, dan perlahan menghisapnya kedalam. “Apa?”
*Cring*
Tiba-tiba banyak lingkaran sihir berwarna merah terang muncul dari kebulan debu dan asap.
*Duar Duar Duar *
Serangan bola api milik Antonio terus menyerang membabi buta kedalam kebulan asap.
“Aaaaakkhhh… Seharusnya aku ikut bertarung juga.” Ucap Marco. “Aku lupa kalau Antonio adalah murid terkuat diakademi.”
“Kombinasi serangan mereka sangat bagus. Terlebih Adam dengan sangat cerdik sudah memasang jebakan sihirnya sebelum pertarungan.” Ucap Clara.
Tristian kemudian menunduk dan menyentuh tanah. “Magic of Earth-The Gripper” Dan kemudian keluar sebuah batu-batu tajam dan mengunci pergerakan Pharsa.
Dan Pharsa sudah tidak bisa bergerak sama sekali, kaki yang terhisap lumpur milik Adam, dan batu tajam milik Tristian yang mengunci pergerakannya.
“Haah… Pertarungan ini sangatlah mudah.” Ucap Antonio.