
Antonio menoleh kearah Lewis yang hanya sibuk menonton mereka. "Hey, tidak apa-apa kan jika kita ganti pemain?"
Lewis sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Antonio.
Antonio menyeringai. "Maka akan kuanggap itu sebagai 'iya'." Lanjut Antonio.
Pharsa kemudian memasang kuda-kuda merenggangkan kedua kakinya dengan menempatkan kaki kanannya didepan selebar bahunya dengan kaki kiri dibelakang, dengan menyilangkan kedua tangannya di dada untuk bersiap menyerang Antonio, Tristian, dan Marco.
Tristian menepakan kedua telapak tangannya. "Magic of Earth-Stone Hands!" Tangannya kembali diselimuti lingkaran sihir miliknya.
Dilanjut dengan Antonio, dia membuat segel segitiga dengan jarinya (menyatukan ujung jari telunjuk, tengah, dan ibu jari.) didepan dadanya. "Magic of Flame- Fire Cloack"
Antonio menggunakan kemampuan regenarasi untuk mempercepat regenerasinya, tetapi kekuatan jubah api itu tidak hanya untuk regenerasi, tetapi juga bisa untuk meningkatkan kerusakan dari serangannya.
Antonio berniat menyembuhkan lukanya sekaligus menyerah Pharsa secara bersamaan, walau akan menguras mana lebih cepat tetapi dia harus membalas pengorbanan Adam.
Dan kemudian Marco, dia menempelkan semua ujung jari kedua tangannya, lalu muncul lingkaran sihir kecil berwarna ungu pada setiap jarinya.
Sambil menyeringai. "Magic of Lightning-Stinging Trap." Kemudian dia melempar ke 10 lingkaran sihir itu sekitar Pharsa.
"Sekarang giliranku" Pharsa menghentakan kaki kirinya dan langsung bergerak dengan sangat cepat kearah mereka.
Tepat sebelum melancarkan serangannya, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang menyengat kakinya.
*BZZZT*
Sengatan itu menjalar keseluruh tubuhnya dan mampu membuat Pharsa terdiam menahan sakit beberapa saat.
"Walau aku tidak secerdik Adam, tetapi seranganku lebih kuat darinya." Ucap Marco dengan senyuman percaya dirinya.
*BGOOOM*
Pukulan keras pada pipinya dilancarkan Tristian. Namun Pharsa sempat mengangakat tangannya untuk menahan pukulan itu sehingga dapat meredam pukulan Tristian.
Tetapi walau sudah meredamnya, pukulan itu mampu menyeret Pharsa sejauh 1 meter.
"Bagus Tristian." Ucap Marco.
Kepala Pharsa tertunduk beberapa saat ketika terseret serangan Tristian.
"Haaah... Orang-orang seperti kalian tidak akan mengerti..." Ucap Pharsa sembari mengangkat kepalanya secara perlahan.
Pecrikan listrik kembali merambat disekujur tubuh Pharsa. "...Akan kuperlihatkan. Kekuatan bangsawan yang sesungguhnya." Ucap Pharsa sambil menatap Antonio, Marco, dan Tristian dengan mimik wajah yang seperti ingin membunuh mereka semua.
Ucapan Pharsa sontak membuat Antonio dan yang lainnya sedikit bergeming. Marco yang pada awalnya sangat percaya diri, langsung dibuat takut.
Tubuh Marco sedikit gemetar mendengar itu. "Tenanglah, kau tidak sendirian." Ucapnya dalam hati utnuk menyemangati dirinya.
Pharsa kemudian melemaskan seluruh tubuhnya, dia menatap kelangit sembari menutup matanya. "Sniiif...Huuuft..." Pharsa menarik nafas dalam-dalam dengan hidungnya dan membuangnya melalui mulut.
*Set*
Pharsa seketika membuka matanya dan-
*KRAAK*
Pharsa melangkahkan kakinya, membuat tanah yang dia pijak langsung retak, dan retakannya terlempar keudara.
*ZRAAASH*
Pharsa melesat dengan sangat cepat, diikuti dengan sambaran petir yang mengekor pada kakinya.
"Magic of Lightning - Sky Breaker"
(Magic of Lightning - Sky Breaker adalah tingkat lanjutan dari Magic of Lightning - Lightning Crash membuat penggunanya dapat bergerak lebih cepat. Sama seperti Anotnio yang membuat Magic of Flame - The Great Fire Ball)
*DUAR! DUAR! DUAR!*
Beberapa jebakan sihir Marco meledak, tetapi ledakan itu tidak sempat mengenai Pharsa.
Tanpa disadari, Pharsa sudah berada tepat didepan Tristian.
"Kau yang pertama." Ucap Pharsa.
Petir yang mengekor pada Pharsa kemudian berkumpul pada kaki kanannya. "Magic of Lightning- Lightning Cutter"
*BUAK*
Tendangan sabit mendarat dengan sangat keras pada perut Tristian.
*DRRRRRRR*
Tristian terpental menyeret ditanah sekitar 3 meter.
*DRAAK*
Dan menabrak sebuah pohon, hingga membuat pohon itu tumbang.
"Hoeek..." Darah menyembur keluar dari mulutnya.
Marco dan Tristian dibuat seakan membatu ditempat, karena kejadian itu terjadi sangat cepat. "TRISTIAAAN!" Teriak Marco.
*ZRAAASH*
Pharsa kembali melesat, kali ini dia mengincar Marco.
Marco Yang masih mengkhawatirkan Tristian tidak sempat berbuat apa-apa, dan tiba-tiba sebuah kepalan tangan sudah tepat didepan wajahnya.
*BAK*
Pukulan keras mendarat di pipinya membuat Marco sedikit terlempar, tetapi Marco masih dapat tanahan pukulan itu.
*BAK BUK*
Tiba-tiba sebuah pukulan uppercut pada dagu dan lutut yang menghantam perut Marco, kini membuat Marco tidak sadarkan diri ditanah.
Lagi-lagi Antonio hanya bisa mematung ditempat, Antonio seperti orang ling-lung, dia tidak dapat mengimbangi kecepatan Pharsa, bahkan matanya tidak dapat menangkap keberadaan Pharsa.
"A-paan ini.." Tubuh Antonio bergetar hebat setelah melihat teman-temannya tumbang satu persatu. "...Apakah ini kekuatan seorang bangsawan yang sebenarnya." Ucapnya dalam hati.
Antonio merasakan perbedaan yang sangat besar ketika dia melawan Jesper (Chapter 3) dan Pharsa.
Jubah api milik Antonio perlahan mulai redup.
Keringat mulai membasahi wajah Antonio, dan tanpa disadari Antonio mulai melangkah mundur menjauhi Pharsa.
Dengan kaki yang bergetar Antonio melangkah mundur. "HAHAHAHAHA!" Pharsa tertawa lepas melihat tingkah Antonio yang seperti anak kecil.
"Haha-Hau ma-mau kemanahaha?" Ucap Pharsa sambil tertawa.
Antonio tidak menjawab pertanyaan Pharsa, mulutnya terasa berat untuk digerakan.
"Hehee...Tenanglah, kau akan kusisakan terakhir." Tiba-tiba Pharsa melirik ke Adam yang masih tak sadarkan diri. "Aku ingin menghabisi boca sialan itu." Mimik wajah Pharsa kembali sinis.
Pharsa masih sangat kesal kepada Adam yang memukul cukup keras wajahnya. Pharsa merasa dirinya telah dihina, karena seorang dari daerah yang menurutnya kumuh berani menyentuh wajahnya.
Antonio juga menyadari kalau Pharsa kini mengincar Adam. Tetapi Antonio benar-benar tidak dapat bergerak, baru kali ini Antonio dibuat ketakutan dengan perbandingan kekuatan miliknya.
Pharsa kemudian memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melesat menuju Adam.
Amalia yang sudah mulai sedikit tenang dan sedang fokus untuk menyembuhkan Adam, seketika merasakan kekuatan besar dan akan menuju kearahnya.
Amalia kemudian menengok kearah Clara yang tepat berada didepannya, namun ternyata dia sudah tidak ada disana.
"Khhuuk."
Terdengar suara erangan samar-samar, Amalia kemudian mencari suara sumber itu.
Ternyata Pharsa sudah tepat disebelahnya, bersama dengan Clara yang sedang dicekik dan diangkat olehnya.
"Khhuuk...Khhuuk." Rintih Clara dengan kaki yang menggeliat mencari pijakan untuk kakinya.
"AAAKKKHHH!" Amalia teriak sejadi-jadinya.
Antonio yang masih mematung ditempat seketika tersadar saat mendengar teriakan Amalia.
Antonio kemudian menoleh kearah Amalia. "CLARAAA! AMALIAAA!!!" Teriak Antonio.
Pharsa melerik ke Antonio yang sedang melesat kearahnya.
Lingkaran sihir menyelimuti kaki Antonio, Antonio melesat dengan cepat dan siap utnuk memukul Pharsa.
*Set*
Pharsa sedikit membungkukkan badannya, dan pukulan Antonio melesat melewati pundak Pharsa.
*Bak Buk Bak Buk*
Pharsa melancarkan tendangan ke tubuh Antonio, membuat Antonio tersungkur ke tanah.
Kemudian Pharsa tersenyum tipis. "Haaah..." Pharsa menghela nafasnya. "Padahal aku ingin menjadikanmu makanan penutup, tetapi kau tidak sabaran ya."
Antonio seketika merasa kesal. "HEAAAGH." Antonio kembali melesat dengan kepalan tangan yang siap untuk menghantam wajah Pharsa.
*BRAK*
Pharsa melempar tubuh Clara dengan keras ke Antonio, hingga membuat mereka terpental cukup jauh.
Clara seketika langsung pingsan, begitu juga dengan Antonio yang tertiban oleh tubuh Clara.
Dan tersisa hanyalah Amalia dengan Adam yang masih terbaring ditanah.
Tetapi Pharsa sama sekali tidka menghiraukan Amlia.
*Tap Tap Tap*
Dan Pharsa mulai melangkahkan kakinya menuju Adam.
*ZRRRSSH*
Pharsa mengangkatkan telapak tangannya, dan muncul sambaran petir pada telapak tangannya itu yang menyerupai seperti pisau.
Tiba-tiba langkah kaki Pharsa terhenti melihat Amalia yang berusaha menghalangi jalannya.
Amalia sendiri tidak memiliki kemampuan sihir untuk bertarung, namun dia berdiri tegap membentangi kedua tangannya membadani Adam.
Pharsa merasa sedikit kesal. "Minggir." Ucap Pharsa.
Tubuh Amalia seketika bergetar mendengar ucapan Pharsa, tetapi Amalia sama sekali tidak ingin pergi meninggalkan Adam.
Perasaan kesal Pharsa semakin menjadi. "Jangan buat aku mengulangi perkataanku!" Lanjut Pharsa.
Tetapi Amalia tetap bersikukuh untuk tetapi melindungi Adam, Amalia mengepalkan kedua tangannya dan menguatkan kedua kakinya untuk mengurangi rasa takut pada dirinya.
Mengingat sudah seberapa banyak Adam telah membantu, menemani, dan bahkan menyelamatkan hidupnya.
"TCHH!" Pharsa mengeratkan gigi-giginya, dan rasa kesal Pharsa sudah tidak dapat dibendung.
"HAAAHHHHH!!!!" Teriak Pharsa.
*BAK*
"Magic of Lightning- Lightning Cutter" Pharsa menendang sisi kiri perut Amalia, dan membuatnya terpental kearah yang tidak jauh dengan Tristian.
"ADA APA DENGAN KALIAN INI! KENAPA KALIAN ITU SANGAT KERSA KEPALA!" Teriak Pharsa yang meluapkan seluruh emosinya.
Pharsa kemudian melirik kearah Adam. "KAU..." Dan mulai melangkah dengan cepat kearah Adam.
"... PASTI KAU YANG MEMBUAT TEMAN-TEMAN MU SEPERTI INI."
*Grip*
Pharsa kemudian mencekik leher Adam dan mengangkat tubuhnya keudara.
"LIHATLAH PERBUATANMU INI, KAU MEMBUAT TEMAN-TEMAN MU SEKARAT, DAN MUNGKIN MEREKA AKAN MATI."
Sebuah senyuman terbentuk pada wajah Pharsa, melihat Adam yang sama sekali tidak bereaksi.
"INI SEMUA TERJADI KARENA MEREKA MENDENGARKAN UCAPANMU." Lanjut Pharsa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Adam diudara.
Pharsa kemudian menghunuskan tangannya dan kembali menyelimuti tangannya dengan pisau petir miliknya, yang sempat padam ketika menendang Amalia sebelumnya.
"TETAPI TENANG, AKAN KUBUAT KAU BERKUMPUL DENGAN TEMAN-TEMANMU LAGI DISANA."
Dan ketika tangan Pharsa menempel pada dada Adam, Adam seketika langsung terbangun dari pingsannya.