The Great Sorcerer

The Great Sorcerer
Karael #4



(Dari kejauhan, Lewis mulai menyadari kalau tindakan adiknya sudah melewati batas. "Sepertinya ini harus segera dihentikan."


Dan dengan berat hati dia harus menghentikan pertarungan itu. Dan sesuai dengan dugaannya kalau siswa yang bernama Antonio dapat membuatnya terkesima.


Tetapi dia juga tidak menyangka kalau akan ada banyak siswa yang tertarik oleh sihirnya, yang dimana Lewis berniat hanya membawa Antonio untuk melaksanakan ujian khusus ini.


Dengan kata lain mereka semua sama hebatnya dengan Antonio tetapi mereka belum dapat menguasai sihir mereka dengan maksimal.


Namun ketika Lewis ingin menghentikan pertarungan itu, tiba-tiba Lewis tersentak, dia merasakan sesuatu yang tidak biasa yang muncul entah dari mana.


"Apa itu?" Ucapnya dalam hati.)


Ketika tangan Pharsa mengangkat tubuh Adam,seketika Adam terbangun dari pingsannya.


"HAGH?!" Adam sangat sulit untuk bernafas.


Pharsa sedikit terkejut ketika Adam tiba-tiba tersadar didepannya.


"Eeeh... Akhirnya sang putri tidur bangun juga." Ucap Pharsa.


"Namun sayang, sekarang teman-temanmu yang pingsan."


Adam terkejut melihat semua teman-temannya terbaring tak sadarkan diri ditanah.


melihat itu semua, Adam mulai merasa kesal, terlihat dari mimik wajahnya yang menjadi seram.


*GRIP*


Adam meraih pergelangan tangan Pharsa yang mengangkatnya, dan mencengkramnya dengan sangat keras. "GRRR."


Pharsa sedikit terkejut dengan tenaga yang dimiliki Adam, itu sangat keras dan mau tidak mau Pharsa harus melepaskan tangannya dari Adam.


"Sial." Ucap Pharsa kesal sambil mengusap-usap pergelangan tangannya.


Adam sangat marah dan tidak terima melihat teman-temannya itu, Adampun bersiap untuk menyerang.


Begitu juga dengan Pharsa yang siap memberikan serangan balasan kepada Adam jika dia maju.


"HEAAAGH!." Adam melesat cepat kearah Pharsa dengan kepalan tangan kosongnya.


*ZRAAASH*


Sebuah kilatan petir yang muncul pada kaki Pharsa. "Lightning Cutter."


*BAAAK*


Sebuah tendangan mendarat tepat pada ulu hati Adam, dan seketika Adam terjatuh ditanah.


"Haaah... Haaah..." Pharsa merasa sedikit lelah karena terlalu banyak menggunakan mana sihirnya.


"Sepertinya sudah berakhir." Ucap Pharsa.


Tiba-tiba Pharsa kepikaran dengan Adam, sebelumnya Pharsa merasakan kalau Adam tidak memiliki energi sihir.


Namun saat dia bangun tadi, Pharsa merasakan lonjakan energi sihir yang mencul pada Adam.


Dan Pharsa ingin memastikan sesuatu, dia meraih kerah baju Adam dan mengangkatnya.


Namun tidak ada yang terjadi, Pharsa juga tidak merasakan lonjakan energi sihir seperti sebelumnya.


"Sepertinya itu hanya perasaanku saja." Gumam Pharsa.


Tiba-tiba.


*GRIP*


"AAAKKH!" Rintih Pharsa.


“LE-PAS!” Teriak Pharsa sambil berusaha menarik tangannya.


Tetapi cengkraman tangan Adam sangat kuat, membuat Pharsa tidak dapat bergerak kemanapun.


Dengan mimik wajah yang sangat kesal, Pharsa kembali menyeringai. “Baiklah.” Ucapnya.


*ZRAASH*


Kaki Pharsa diselimuti kilatan petir.


Setelah itu, Pharsa sedikit melompatkan tubuhnya. "Lightning Cutter."


*BUAK*


Sebuah tendangan keras menghantam bagian kiri dada Adam dengan sangat keras.


Pharsa merasakan cengkraman Adam menjadi lemah, dengan segera, Pharsa menarik tangannya, dan bergerak sedikit menjauh dari Adam.


“Apa!?” Pharsa kembali terkejut, melihat Adam masih berdiri disana sambil menepuk-nepuk bekas tendangan Pharsa seperti tidak terjadi apa-apa.


Dan Pharsa mulai merasakan sesuatu yang janggal. “Siapa kau?” Tanya Pharsa.


*Puk Puk Puk*


Adam menepuk-nepuk cetakan sepatu Pharsa yang menempel pada bajunya.


Pharsa bergeming terdiam, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Aaah... Ibu pasti marah.” Ucap Adam.


Setelah bekas tapak sepatu Pharsa hilang, Adam kembali menatap Pharsa namun dengan mata yang tertutup.


Nafas Pharsa menjadi sedikit terengah-engah. "Kau!” Ucap Pharsa dengan kesal.


Adam sama sekali tidak mengeksprikan apapun diwajahnya.


Pharsa merasa sedikit bingung dengan apa yang terjadi, dan dia tidak menyangka kalau tendangan miliknya seperti tidak memberikan efek apapun kepada Adam, dna itu membuat Pharsa sedikit kesal.


“Kau membuatku kesal.” Pharsa menyeringai tipis.


Tiba-tiba, petir mulai menyambar dari langit.


*ZRRRRAAASSSSHHH*


Tubuh Pharsa kembali diselimuti oleh kilatan petir.


"Magic of Lightning - Sky Breaker"


*ZWOOOSSSH*


Pharsa menerjang sangat cepat menuju Adam, dengan kepalan tangan yang siap menghantam wajah Adam.


“HEAAAGH!!!”


Adam sama sekali tidak berusaha untuk menghindar ataupun menggunakan sihirnya untuk mengubah arah pergerakan Pharsa seperti yang dia lakukan sebelumnya. Adam tetap berdiam diri ditempat tanpa melakukan apapun.


Pharsa sudah berada tepat didepannya, kemudian Pharsa menarik tangan kanannya dan langsung memukul wajah Adam.


*Set*


Seperti telah membaca pikiran Pharsa. Adam dengan mudahnya pukulan Pharsa.


Menyadari serangannya berhasil dihindari, Pharsa melancarkan serangan lanjutan. "HEAAGH!"


Tetapi pukulan demi pukulan hingga tendangannya dapat dihindari dengan mudah oleh Adam.


"Magic of Lightning- Lightning Cutter."


*BUAK*


Akhirnya tendangan Pharsa mengenai dada bagian kiri Adam.


dan sekita Pharsa merasa gembira, akhirnya dia dapat mengenai Adam. Tetapi sebuah perasaan aneh muncul.


Dan benar, Pharsa menyadari kalau dia telah mengalami kejadian yang sama kembali, seperti sebelumnya.


*Puk Puk Puk*


Adam menepuk-nepuk cetakan sepatu Pharsa yang menempel pada bajunya.


“Aaah... Ibu pasti marah.” Ucap Adam.


Tubuh Pharsa sedikit gemetar menyadari itu, dia belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya.


Pharsa menjadi sangat bingung. “Apa yang terjadi. Apakah ini kekuatan sihir milikinya?” Tanya Pharsa pada dirinya sendiri.


Seperti halnya seorang petarung, jika merasa tidak yakin untuk memenangkan sebuah pertarungan, terdapat 2 hal untuk dapat membalikan keadaan. Pertama adalah mencari informasi kekuatan dan kelemahan lawan. “Bocah! Sihirmu sangat unik, aku bahkan belum pernah melihat sihir seperti ini.” Ucap Pharsa.


“...” Adam sama sekali tidak merespon.


“Aku tidak begitu yakin, tetapi setiap kali aku menyerangmu aku merasa seperti deja vu.”


“Atau mungkin ini hanyalah sebuah ilusi?” Lanjut Pharsa.


“...” Adam sama sekali tidak membuaka mulutnya, seakan kalau mulutnya telah dijahit.


Hal yang kedua adalah memprovokasi musuh, paling mudah adalah dengan membuatnya marah sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi dan akhirnya lengah.


“Kau sangat kuat, pantas mereka mau nurut kepadamu...” Ucap Pharsa sambil melirik kearah teman-teman Adam.


“...Yaah memang begitu, mereka yang lemah pasti akan berlutut kepada dia yang kuat.”


“Seperti seekor anjing.”


“Heh, mereka bahkan rela menjilati kaki majikannya. Selama mereka mendapat perlindungan dari kami”


Dan Adam tetap menutup mulutnya.


Jika kedua hal tersebut tidak berhasil, maka jika ingin memenangkan sebuah pertarungan adalah dengan mengerahkan seleruh kemampuan yang dimiliki, hingga tak tersisa.


*ZRAAASH*


“Kalau begitu kita akhir saja ini.” Ucap Pharsa.


*Set*


“Eh?”


*BUAAAK*


Seperti kilatan cahaya, tiba-tiba Adam sudah berada tepat didepan Pharsa dan langsung memukul keras keperut Pharsa, hingga membuatnya terbungkuk.


*DUAK*


Dilanjut dengan sebuah lutut yang menghantam kepalanya, Membuat tubuh Pharsa sedikit terangkat keudara.


*BGOOOM*


Dan langsung menendang tubuh Pharsa dengan sangat keras.


*DRRRR*


Pharsa terpental jauh masuk kedalam hutan, dan tak terhitung berapa pohon yang tumbang karena tidak kuat menahan laju tubuh Pharsa yang sangat cepat.


*BRAAAAAAK*


Tubuh Pharsa menabrak sebuah batu raksasa, membuat tubuhnya berhenti melaju.


“HOOOEEK!!!” Pharsa muntah darah dengan hebat, dan darah yang dikeluarkan tidak biasa, berwarna merah gelap.


Seluruh tubuh Pharsa seketika mati rasa, wajahnya memerah dan tubuhnya bergetar hebat pasca Dipukul keras oleh Adam.


“Apa itu barusan? Aku kenapa?” Pikir Pharsa.


Sebenarnya setelah Adam berada didepannya, Pharsa sama sekali tidak sadar dengan apa yang terjadi, karena kejadian itu berlangsung sangat cepat.


Pharsa berusaha menggerakan tangannya, dan mencoba meraih saku yang ada pada celananya.


Dan diambilah sebuah botol kaca yang berisi cairan berwarna biru terang (Potion).


*Krrit Krrit*


Walau tangannya sangat susah untuk digerakan, Pharsa membuka tutup pada botol kaca itu dan kemudian meminum cairan itu.


*Glup Glup*


Dan tak lama, sebuah lingkaran sihir berwarna biru mirip dengan "Magic of Water-Holy Healing" milik Amalia muncul diatas tubuh Pharsa.


Setelah beberapa saat, tubuh Pharsa sudah bisa kembali untuk digerakan walau tubuhnya masih sedikit mati rasa, Pharsa mencoba untuk kembali keluar dari hutan.


“HEAAGH!” Pharsa mencoba mengeluarkan sihirnya.


*Zraaash*


Namun sihirnya sangat lemah, seperti mana yang dimilikinya telah terkuras habis.


“Sial manaku tinggal sedikit.” Gerutu Pharsa.


Pharsa kembali mengambil sesuatu dari sakunya, dia kembali mengambil botol potion miliknya, tetapi potionnya berwarna merah.


Pharsa kembali meminum potion itu, dan seketika...


*ZRAAASSSHHH*


Mana yang dimilikinya terisi kembali.


*ZWOOOOSSH*


Pharsa melesat dengan sangat cepat. Dan sesampainya disana tubuh Pharsa seketika langsung bergetar hebat dan keringat mulai membasahi tubuhnya.


*Bruk*


Kakinya sudah tidak kuat untuk menopang tubuhnya utnuk berdiri, Pharsa berlutut lemas ketanah. Matanya melotot tajam keara Adam, serta mimik wajah terlihat sangat ketakutan.


“A-pa yang ter-jadi?” Ucap Pharsa ketika melihat Antonio, Marco, dan Tristian yang siap untuk bertarung melawannya.


Dan Clara serta Amalia yang berusaha utnuk memulihkan Adam yang sedang tak sadarkan diri.


Melihat Pharsa yang tiba-tiba berlutut, Antonio, Marco, dan Tristian terlihat sangat bingung dengan apa yang terjadi.


“Hah?” Ucap Marco.


“Apa yang terjadi?” Balas Antonio sambil menatap kearah Tristian dan Marco.


Sementara Tristian hanya diam, namun wajahnya terlihat kebingungan.


*Tap Tap Tap*


Lewis berjalan menghampiri Pharsa kemudian menatap adiknya yang berlutut tak berdaya dengan wajah yang masih terkejut tak percaya dengan apa yang dia alami barusan.


Lewispun tersenyum, kemudian berbalik kearah Antonio dan yang lainnya. “Baiklah, ujian seleksi akademi khusus telah selesai.” Ucap Lewis.